Thursday, December 8, 2011

Kimchi

Hellloooowww..... loowww... loooww... lowww...

*bersih-bersih debu

Saking lamanya gak ditengok, sampe berdebu gini blog gue. Makanya, sekarang gue kasih warna-warni nge-JRENG supaya tetap segar. (kedengeran kayak tempat fitness yah?)

Tulisan ini gue bikin di sela-sela penulisan Bab 4 skripsi gue, iseng aja pingin cerita tentang Kimchi.

Kimchi bukan acar korea yang terbuat dari sawi itu loh ya, tapi kucing Ragdoll kesayangan gue. Meski cerita ini agak tragis, dia layak untuk diceritakan disini.

Kimchi gue dapet dari seorang kawan lama, si Gimo namanya. Katanya Kimchi kucing nyasar. Bulunya lebat, hitam, abu-abu dan putih. Ekornya panjang dan badannya gemuk. Tapi yang paling gue suka, hidungnya warna PINK! Hehee

Gue langsung gendong Kimchi pulang, dibonceng motor oleh kawan gue yang lain, Apit Steven (namanya emang gak matching, ya. Sebenernya nama aslinya adalah Apit Susanto ;p). Kami berdua bawa Kimchi dari daerah Buaran sampe ke rumah gue di Bekasi.

Sesampainya di rumah, si Kimchi hanya butuh waktu 1 hari saja untuk adaptasi, lalu mulai terbiasa di rumah. Sempet terjadi pedebatan panjang. Si Kimchi cewek/cowok. Saking lebatnya bulu-bulu itu, anu-nya gak keliatan. Akhirnya kita menilai Kimchi dari wajahnya yang imut itu, dengan hidung pink yang gemesin. Kimchi pasti cewek. Hehe

Hidup gue sekeluarga makin semarak dan bahagia sejak ada Kimchi.

Tapi ternyata gak seperti yang gue bayangkan, dia itu kayanya keseringan nonton Dora the Explorer deh.. doyan banget kabur! Semuaaaaanya pengin di explore.

Walhasil Bokap ngedandanin rumah ala penjara buat kucing, supaya dia gak bisa kemana-mana. Semua pintu keluar senantiasa ditutup, makan-minum teratur.. sampe dibikinin kandang buat kos-kosan si Kimchi.

Naas, Kimchi masih aja pengin kabur. Dia seneng main di genteng rumah tetangga, main di jalanan, di lapangan... Dia penasaran banget sama dunia luar dan pantang menyerah untuk keluar.

Akhirnya Kimchi lenyap, pada percobaan kaburnya yang kesekian kali. Di malam hari ketika semua orang tengah tertidur, dia berhasil manjat pohon, dan kabur lewat genteng rumah.

Gue nangis-nangisan, sedih banget Kimchi ilang gitu aja.

Biarpun cuma sebentar, kamu akan selalu ada di hatiku ya, Kim... Dimanapun kamu sekarang berada, semoga kamu baik-baik saja. Makan yang banyak biar makin gemuk ya. Love you!

Take Care :)



Saturday, April 23, 2011

Sally Suka Sekali...

Pengen punya favourite list seperti di panduan main Harvest Moon, tiap karakter punya kesukaannya masing-masing.. Jadii....
Di bawah ini adalah hal yang paling Sally suka!

  1. Q
  2. Doraemon
  3. Sailormoon dan Tuxedo Bertopeng
  4. Facebook
  5. Blogger
  6. Yahoomail
  7. Gmail
  8. David Beckham
  9. Drama "Kamisama mou Sukoshi Dake"
  10. Warna Ungu
  11. Bunga matahari
  12. Bulan sabit
  13. Udang
  14. Pizza
  15. Bacang
  16. Risoles
  17. Keyboard empuk
  18. Microsoft Word
  19. Egg mouse
  20. Gadget Touch screen
  21. Laptop
  22. Timid dan Bobbi
  23. Hujan
  24. Pelangi
  25. Mie Ayam
  26. Sosis
  27. After Hour Parfume by Oriflame
  28. Acnes

Tuesday, April 19, 2011

Butterflies in My Head

Belakangan ini aku merasa sudah gila.

Pernah lihat kupu-kupu yang sedang beterbangan kesana kemari? Sudah pernah lihat bagaimana sayap mereka mengepak dengan cepatnya? Pernahkah kau membayangkan, sekawanan kupu-kupu itu terbang di dalam kepalamu, menganggap bahwa otakmu adalah lahan bunga mekar kaya madu?

Karena bayangan itu, aku jadi sedikit alergi pada serangga itu.

Aku sedang bertarung menghadapi mereka, sulit sekali memaksa mereka keluar dari rongga kepalaku. Aku sulit untuk fokus. Tubuhku tidak menunjang peperangan ini. Aku menjadi sering sakit, dan ini tidak bagus.

Kupu-kupu nomor 1, namanya SKRIPSI.
Aku, mahasiswi semester akhir jurusan Ekonomi. sedang menyusun Skripsi. Jangan pikir ini menyenangkan atau apa. Ini membuatku gila. Ditambah lagi pertanyaan para pembaca yang tidak sabar menunggu novel kedua terbit. OH GOD! Kumohon dengan sangat, bersabarlah...
Deadline skripsiku adalah bulan Juli tahun ini, dan aku baru selesai mengerjakan draft outline beberapa menit yang lalu. Yup, tolong jangan ingatkan lagi bahwa ini sudah pertengahan April. Aku lebih suka menulis apa yang ada dipikiranku, mengeluarkan satu demi satu kupu-kupu ini dari sana, dan melihat mereka terbang dengan sendirinya. Tapi kupu-kupu yang satu ini, SKRIPSI, tidak mau keluar begitu saja. Dia ingin diteliti dulu jauuuuh lebih dalam lagi, sebelum dia bisa sekedar terbang melewati pintu keluar. Parahnya, kupu-kupu SKRIPSI berjumlah paling banyak dan mayoritas di dalam kepalaku.

Kupu-kupu nomor 2, namanya Daily Work
Aku bekerja sebagai Asisten Eksekutif Junior sekaligus Receptionist Front Desk di kantor Transparency International Indonesia, sebenarnya aku menikmatinya. Sangat. Aku belajar banyak disana, belajar mencari apa yang belum kupelajari di bangku kuliah. Namun proses pembelajaran itu juga sama sulitnya keluar dari kepalaku, karena dia butuh ekstra fokus. Sulit untuk fokus ketika siapapun BERHAK meletakkan dokumennya sembarangan di meja saya, dan memindahkan buku-buku catatan saya seenaknya, menginterupsi saya dengan kegiatan dan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang seharusnya tidak harus dijawab oleh saya.
Fuih, kupu-kupu ini butuh perhatian khusus rupanya.

Kupu-kupu nomor 3, namanya Homesick
Aku benci mengakuinya, namun aku memang merasakannya.
Aku sendiri yang ngotot kepingin kost untuk menghemat tenaga dalam rangka penulisan SKRIPSI.
Tapi, ternyata jauh dari Mama dan Papa itu sama sekali tidak enak.
Apalagi tiap kali pulang ke rumah, keadaan rumah selalu bagaikan DISASTER.
Kesibukan SEMUA anggota keluarga, ditambah lenggak lenggok si putih Timid memebuat semuanya sangat pas disebut PARAH.
Aku rasanya ingin kembali tinggal disana, membenahi semuanya. Hai Kupu-kupu HomeSick, akan kuhadapi kau setiap akhir pekan.

Ketiga jenis kupu-kupu itu saling berkaitan di kepalaku. Menari-nari tidak mau tahu. Tapi aku tidak akan menyerah. Seperti Spongebob yang siap dengan jaring ubur-ubur, aku pun akan memburu mereka satu per satu.

Hanya butuh satu kata kunci, SEMANGAT.


Senyum terus,

Sally.
© Sally Ayumi
Maira Gall