Tuesday, December 13, 2011

2 Years Not-So-Romantic Relationship

Yes, it's been 2 years since we first stated that we are together.
I love Q, and he loves me too.


Awalnya gw sama sekali gak menyangka bakalan sselama ini pacaran sama dia. Dulu gw pikir, paling lama 1 tahun bisa betah sama dia.


Abis dia tuh sama sekali gak romantis. Bukan cowok yang gw idam-damkan. Dia pemalu dan gengsian bilang kata-kata manis dan melakukan hal-hal yang romantis.


Terus dia itu kadang kekanakan sekali, gw jadi ngerasa ngemong dia, bukan sebaliknya. Padahal cewek mana sih yang gak pingin bermanja-manja sama pacarnya??


Geregetan sekali saya jadinya.


Tapi dibalik semua kerumitan pribadinya, satu hal yang pasti ; DIA SERIUS MENYAYANGI SAYA.


Dia melakukan apa saja yang dia bisa buat gw. Dia adalah orang yang lebih baik berkata jujur dari pada bohong. Menurutnya lebih baik gw nangis-nangis karena mengetahui sebuah fakta, dibanding gw tertawa karena kebohongan. 


Q selalu menerima gw apa adanya.


Dia gak pernah menuntut gw untuk tampil sempurna, karena baginya gw ya gw. Baju awut-awutan, dekil, gak matching dan gak modis itu ya gw.


Tapi sekalinya gw dandan sok cute dikit buat dia, dia bakalan senyum-senyum sendiri. Terus pas kita udah sama-sama di rumah, dia kirim SMS bilang kalo hari ini dia suka dengan penampilan gw.


Aiiih.... Pacarku yang satu itu memang nyebelin tapi  ngangenin. Hehee


Kesetiaan dia, kesederhanaan dia, keseriusan dia, kepolosan dia, semuanya membuat gw betah sama dia. Dan semoga kisah ini akan lanjut ke happy ending.


Maafkan semua kesalahanku ya Hunny... aku yakin suatu hari nanti, dunia akan tersenyum merestui kita!


Selamat tanggal SEBELAS!!    <<<< (walau telat dua hari postingannya)


With Love,


Sally.

Thursday, December 8, 2011

Kimchi

Hellloooowww..... loowww... loooww... lowww...

*bersih-bersih debu

Saking lamanya gak ditengok, sampe berdebu gini blog gue. Makanya, sekarang gue kasih warna-warni nge-JRENG supaya tetap segar. (kedengeran kayak tempat fitness yah?)

Tulisan ini gue bikin di sela-sela penulisan Bab 4 skripsi gue, iseng aja pingin cerita tentang Kimchi.

Kimchi bukan acar korea yang terbuat dari sawi itu loh ya, tapi kucing Ragdoll kesayangan gue. Meski cerita ini agak tragis, dia layak untuk diceritakan disini.

Kimchi gue dapet dari seorang kawan lama, si Gimo namanya. Katanya Kimchi kucing nyasar. Bulunya lebat, hitam, abu-abu dan putih. Ekornya panjang dan badannya gemuk. Tapi yang paling gue suka, hidungnya warna PINK! Hehee

Gue langsung gendong Kimchi pulang, dibonceng motor oleh kawan gue yang lain, Apit Steven (namanya emang gak matching, ya. Sebenernya nama aslinya adalah Apit Susanto ;p). Kami berdua bawa Kimchi dari daerah Buaran sampe ke rumah gue di Bekasi.

Sesampainya di rumah, si Kimchi hanya butuh waktu 1 hari saja untuk adaptasi, lalu mulai terbiasa di rumah. Sempet terjadi pedebatan panjang. Si Kimchi cewek/cowok. Saking lebatnya bulu-bulu itu, anu-nya gak keliatan. Akhirnya kita menilai Kimchi dari wajahnya yang imut itu, dengan hidung pink yang gemesin. Kimchi pasti cewek. Hehe

Hidup gue sekeluarga makin semarak dan bahagia sejak ada Kimchi.

Tapi ternyata gak seperti yang gue bayangkan, dia itu kayanya keseringan nonton Dora the Explorer deh.. doyan banget kabur! Semuaaaaanya pengin di explore.

Walhasil Bokap ngedandanin rumah ala penjara buat kucing, supaya dia gak bisa kemana-mana. Semua pintu keluar senantiasa ditutup, makan-minum teratur.. sampe dibikinin kandang buat kos-kosan si Kimchi.

Naas, Kimchi masih aja pengin kabur. Dia seneng main di genteng rumah tetangga, main di jalanan, di lapangan... Dia penasaran banget sama dunia luar dan pantang menyerah untuk keluar.

Akhirnya Kimchi lenyap, pada percobaan kaburnya yang kesekian kali. Di malam hari ketika semua orang tengah tertidur, dia berhasil manjat pohon, dan kabur lewat genteng rumah.

Gue nangis-nangisan, sedih banget Kimchi ilang gitu aja.

Biarpun cuma sebentar, kamu akan selalu ada di hatiku ya, Kim... Dimanapun kamu sekarang berada, semoga kamu baik-baik saja. Makan yang banyak biar makin gemuk ya. Love you!

Take Care :)



Saturday, April 23, 2011

Sally Suka Sekali...

Pengen punya favourite list seperti di panduan main Harvest Moon, tiap karakter punya kesukaannya masing-masing.. Jadii....
Di bawah ini adalah hal yang paling Sally suka!

  1. Q
  2. Doraemon
  3. Sailormoon dan Tuxedo Bertopeng
  4. Facebook
  5. Blogger
  6. Yahoomail
  7. Gmail
  8. David Beckham
  9. Drama "Kamisama mou Sukoshi Dake"
  10. Warna Ungu
  11. Bunga matahari
  12. Bulan sabit
  13. Udang
  14. Pizza
  15. Bacang
  16. Risoles
  17. Keyboard empuk
  18. Microsoft Word
  19. Egg mouse
  20. Gadget Touch screen
  21. Laptop
  22. Timid dan Bobbi
  23. Hujan
  24. Pelangi
  25. Mie Ayam
  26. Sosis
  27. After Hour Parfume by Oriflame
  28. Acnes

Tuesday, April 19, 2011

Butterflies in My Head

Belakangan ini aku merasa sudah gila.

Pernah lihat kupu-kupu yang sedang beterbangan kesana kemari? Sudah pernah lihat bagaimana sayap mereka mengepak dengan cepatnya? Pernahkah kau membayangkan, sekawanan kupu-kupu itu terbang di dalam kepalamu, menganggap bahwa otakmu adalah lahan bunga mekar kaya madu?

Karena bayangan itu, aku jadi sedikit alergi pada serangga itu.

Aku sedang bertarung menghadapi mereka, sulit sekali memaksa mereka keluar dari rongga kepalaku. Aku sulit untuk fokus. Tubuhku tidak menunjang peperangan ini. Aku menjadi sering sakit, dan ini tidak bagus.

Kupu-kupu nomor 1, namanya SKRIPSI.
Aku, mahasiswi semester akhir jurusan Ekonomi. sedang menyusun Skripsi. Jangan pikir ini menyenangkan atau apa. Ini membuatku gila. Ditambah lagi pertanyaan para pembaca yang tidak sabar menunggu novel kedua terbit. OH GOD! Kumohon dengan sangat, bersabarlah...
Deadline skripsiku adalah bulan Juli tahun ini, dan aku baru selesai mengerjakan draft outline beberapa menit yang lalu. Yup, tolong jangan ingatkan lagi bahwa ini sudah pertengahan April. Aku lebih suka menulis apa yang ada dipikiranku, mengeluarkan satu demi satu kupu-kupu ini dari sana, dan melihat mereka terbang dengan sendirinya. Tapi kupu-kupu yang satu ini, SKRIPSI, tidak mau keluar begitu saja. Dia ingin diteliti dulu jauuuuh lebih dalam lagi, sebelum dia bisa sekedar terbang melewati pintu keluar. Parahnya, kupu-kupu SKRIPSI berjumlah paling banyak dan mayoritas di dalam kepalaku.

Kupu-kupu nomor 2, namanya Daily Work
Aku bekerja sebagai Asisten Eksekutif Junior sekaligus Receptionist Front Desk di kantor Transparency International Indonesia, sebenarnya aku menikmatinya. Sangat. Aku belajar banyak disana, belajar mencari apa yang belum kupelajari di bangku kuliah. Namun proses pembelajaran itu juga sama sulitnya keluar dari kepalaku, karena dia butuh ekstra fokus. Sulit untuk fokus ketika siapapun BERHAK meletakkan dokumennya sembarangan di meja saya, dan memindahkan buku-buku catatan saya seenaknya, menginterupsi saya dengan kegiatan dan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang seharusnya tidak harus dijawab oleh saya.
Fuih, kupu-kupu ini butuh perhatian khusus rupanya.

Kupu-kupu nomor 3, namanya Homesick
Aku benci mengakuinya, namun aku memang merasakannya.
Aku sendiri yang ngotot kepingin kost untuk menghemat tenaga dalam rangka penulisan SKRIPSI.
Tapi, ternyata jauh dari Mama dan Papa itu sama sekali tidak enak.
Apalagi tiap kali pulang ke rumah, keadaan rumah selalu bagaikan DISASTER.
Kesibukan SEMUA anggota keluarga, ditambah lenggak lenggok si putih Timid memebuat semuanya sangat pas disebut PARAH.
Aku rasanya ingin kembali tinggal disana, membenahi semuanya. Hai Kupu-kupu HomeSick, akan kuhadapi kau setiap akhir pekan.

Ketiga jenis kupu-kupu itu saling berkaitan di kepalaku. Menari-nari tidak mau tahu. Tapi aku tidak akan menyerah. Seperti Spongebob yang siap dengan jaring ubur-ubur, aku pun akan memburu mereka satu per satu.

Hanya butuh satu kata kunci, SEMANGAT.


Senyum terus,

Sally.

Wednesday, January 26, 2011

Hidden Sister

Catatan harian Dabria:

“Mereka semua menuduhku, katanya aku pembunuh. Mereka bilang pisau dapur itu ada di tanganku, dan aku-lah yang berada di kamar Andreas pada waktu kejadian. Andreas adalah kekasihku. Seharusnya mereka tahu, bahwa aku tidak mungkin menyakitinya. Namun tak ada yang percaya. Mereka bilang aku tidak boleh mengelak lagi.

Namun aku bingung luar biasa. Aku tidak merasa pernah melakukannya. Aku percaya diri. Walaupun demikian, aku tetap saja merasa takut. Seragam cokelat polisi-polisi itu menakutkan bagiku. Sorot mata setiap manusia yang mengenalku, berubah. Itulah yang membuat aku takut. Maka aku lari.

Itu kejadian empat tahun lalu.”

“Jadi begitu ceritanya?” tanya Rasya. Pria itu kemudian tersenyum dan meraih jemariku, “Mereka semua bodoh. Mana mungkin tangan sehalus ini membunuh orang?”

Aku tersenyum. Dia adalah satu-satunya orang yang percaya padaku. Aku mengerling menatap cincin pertunangan kami, “Kurasa kau harus tahu, sebelum kau menikahi aku.”

“Tentu saja, Sayang. Aku percaya bahwa kau tidak bersalah. Mari kita lupakan kenangan kelam itu, dan jalani hari yang baru bersama-sama.” Rasya mengecup punggung tanganku.

Sepulang dari restoran itu, aku masuk ke kamarku. Aku duduk di belakang meja rias, menyisir rambutku.

“Dari mana saja kau?” tanya Daiyan.

“Pergi bertemu Rasya. Kami sudah sepakat akan menikah bulan depan.” Jawabku.

Gadis itu mengerutkan keningnya, “Bulan depan? Cepat sekali?”

“Sudah untung dia menerimaku.” Aku memelas, “Tadi aku sudah cerita tentang kasus Andreas. Kurasa tak ada lagi yang bisa menerimaku setulus Rasya. Aku akan mengabdikan hidupku untuknya.”

“Lihat saja kalau kau ingkar janji, aku yang akan bertindak lagi.” Daiyan memicingkan matanya.

Aku tidak tersenyum.

“Tidurlah, Dabria. Jangan lupa kalau kita ini saudara kembar. Wajahmu tak akan sama cantiknya denganku, jika kantung matamu sebesar itu.” Daiyan tertawa.

Tibalah malam pernikahan aku dan Rasya, aku mencoba-coba gaun putih panjang yang dibelikannya untukku. Acara ini tidak akan ramai, karena hanya keluarga Rasya yang akan datang. Orang tuaku sudah lama meninggal, hanya ada Daiyan yang mendampingiku. Selalu disebelahku.

Aku selesai memasang semua atribut pernikahanku, dan berlenggak-lenggok di depan cermin.

“Ingatlah janji kita, Dabria.” Tiba-tiba Daiyan bicara. Aku agak terkejut mendengarnya.

“Wajahmu itu, sungguh bahagia. Selamat ya, Dabria.”

“Terima kasih, Daiyan.”

Aku dan Rasya mengucap janji setia disaksikan keluarga dan orang-orang terdekat kami pagi itu. Cincin pertunangan itu kini digantikan dengan cincin pernikahan. Aku sangat bahagia. Rasya menciumku dan rasanya aku mampu terbang ke langit.

Hidupku dan Rasya sangat bahagia, kami saling mencintai. Kami tinggal di rumah baru yang dibeli Rasya lima bulan yang lalu. Rasya sehari-hari bekerja sebagai konsultan keuangan, sementara aku hanya menjadi istri yang baik untuknya.

Namun ada satu hal yang mengganggu pikiranku, sejak aku menikah, Daiyan jarang sekali mengunjungiku. Aku khawatir.

Tiba-tiba sekali, Daiyan datang ketika aku sedang membersihkan cermin di kamar mandi.. “Daiyan!” Panggilku senang.

Wajahnya pucat.

“Sialan kau, Dabria.”

Aku tersentak, “Ada apa, Daiyan? Kenapa kamu baru datang? Aku sangat mengkhawatirkanmu.”

“Sejak menikah, kau lupa padaku. Iya kan? Kamu ingkar janji!” tuduh Daiyan.

Aku menggeleng, “Bagaimana bisa aku lupa?”

“Mungkin kau terlalu sibuk untuk menyadarinya. Tapi kau benar-benar telah melupakan aku. Aku bisa mati kalau kau membuangku begitu, Dabria!”

“Maafkan aku, tapi aku tidak bermaksud begitu.”

Aku merasa bersalah pada Daiyan. Setiap kami bertemu, kami selalu bertengkar. Daiyan iri pada kasih sayangku yang telah kucurahkan lebih banyak untuk Rasya. Dia tidak ingin aku meninggalkannya sendirian. Aku tidak tahu harus berbuat apa.

Pertengkaran itu semakin panas setiap harinya. Tapi aku tidak berani cerita pada Rasya. Aku takut membongkar kejelekan saudaraku sendiri.

“Aku harus bagaimana supaya kau tidak merasa kesepian, Daiyan? Sekarang aku menikah, harus mengabdi pada suamiku. Kamu harus mengerti. Kamu boleh mengunjungiku kapanpun kau mau. Kapan saja. Kita masih bisa saling cerita seperti dulu ‘kan? Aku masih disini untukmu, Daiyan...”

“Bohong! Sudah tak ada lagi perasaan sayangmu padaku. Aku ini saudara kembarmu! Kita berasal dari satu rahim yang sama! Tidakkah kau mengerti betapa cemburunya aku setiap kali Rasya memelukmu?”

“Tentu saja dia boleh memelukku, dia suamiku.” Aku menjawab. “Jangan seperti anak kecil, Daiyan. Bagaimanapun juga aku harus melanjutkan hidupku.”

Daiyan menangis, lalu dia pergi. Aku tidak merasa bersalah lagi. Perasaan itu telah berubah jadi kejengkelan padanya.

Kami sedang bertengkar, yang kesekian kalinya, ketika tiba2 Rasya datang. Daiyan buru-buru pergi. Aku menghapus airmata.

“Ada apa sayang? Bicara dengan siapa tadi?” tanya Rasya.

Aku tidak langsung menjawab.

“Dabria sayang?” Suamiku menagih jawaban.

“Aku tadi bicara dengan Daiyan.”

“Daiyan?” Rasya mengerutkan keningnya. “Siapa Daiyan?”

Aku menoleh, memandang mata suamiku dalam-dalam. “Dia saudara kembarku.”

Alis Rasya semakin berkerut, “Tapi tadi kau sendirian di ruangan ini.”

Aku berdiri, meletakkan cermin kecil di atas meja. “Dia sudah pergi ketika kau datang.”

Hari-hariku semakin kelabu. Daiyan semakin menjadi masalah di rumah tanggaku. Rasya tidak suka kalau aku berhubungan lagi dengan Daiyan. Aku berada dalam satu titik dilema yang parah.

Sampai suatu ketika, semuanya berubah.

Malam itu hujan deras dan Rasya belum pulang. Sudah terlalu larut. Aku tidak bisa menghubunginya, maka aku datang ke kantornya menggunakan jasa taksi. Sesampainya disana, kantor itu sepi. Semua karyawan sudah pulang. Kecuali beberapa satpam. Aku langsung menuju ke lantai dua. Pintu ruangan Rasya terkunci. Aku mengetuknya berkali-kali. Tidak ada jawaban. Maka aku membungkukkan badan untuk mengintip dari lubang kunci.

Disana, diatas sofa. Rasya dan Daiyan melakukan sesuatu hal yang gila. Hal yang seharusnya hanya boleh Rasya lakukan denganku. Bukan dengan wanita lain, termasuk Daiyan.

Aku menerjang pintu itu dengan kursi. Kenop pintu terbuka. Aku berhambur masuk dan mengamuk.



***

Catatan harian Rasya:



Sejak pertama kali aku mengenal Dabria, dia tinggal sendirian di rumah kost di sudut kota. Tak jauh dari kantorku. Kami jatuh cinta pada pertemuan kami yang kesekian kalinya. Aku sangat mencintainya sampai bersedia menikahinya setelah enam bulan perkenalan.

Sebelum pernikahan, Dabria pernah cerita tentang kasus pembunuhan dimana semua orang menyalahkannya. Tapi aku selalu lebih percaya pada Dabria. Dia terlalu lembut untuk membunuh orang.

Hampir setahun aku menikah dengannya, semuanya berjalan lancar. Kami belum berencana memiliki anak, karena kami masih ingin menikmati saat-saat berdua. Namun belakangan, ada yang aneh padanya.

Dabria suka menangis di tengah malam, dia juga suka bicara dan marah-marah sendiri. Mulanya aku pikir dia hanya bergumam seperti istri lainnya yang lelah pada pekerjaan rumah.

Tapi semakin hari perilaku istriku semakin aneh. Setelah aku perhatikan, dia suka berbicara sendiri setiap kali melihat ke cermin. Aku tidak mengerti apa yang dilakukannya. Ketika ditanya, dia bilang dia sedang bicara dengan saudara kembarnya, Daiyan. Aku tidak pernah tahu menahu tentang Daiyan. Dabria tidak pernah mau menceritakannya padaku.

Ini aneh, karena kini aku suaminya. Seharusnya aku tahu jika Dabria masih memiliki saudara kandung. Apalagi kembar.

Maka aku pun menyelidikinya. Aku ingat, dabria pernah cerita tentang rumah susun di kota K tempat dia dibesarkan. Maka aku datang ke sana.

Disana aku bertemu dengan beberapa tetangga lamanya. Aku menunjukkan foto Dabria kecil. Mereka bilang sewaktu kecil Dabria memang tinggal disana. Ayahnya meninggal karena penyakit diabetes, sementara ibunya meninggal karena penyakit jantung.

Setahu mereka, Dabria memang dilahirkan kembar. Dabria terlahir sehat, sementara Daiyan terlahir dengan kelainan paru-paru. Daiyan kemudian meninggal ketika usianya lima tahun.

Fakta ini membuatku terkejut. Aku pikir istriku sudah stress berat. Dia masih mengira bahwa Daiyan masih hidup. Malam itu aku sengaja lembur. Aku sedang memikirkan cara untuk mengajaknya ke psikiater, ketika tiba-tiba Dabria datang ke kantorku sambil menangis.

Dia meminta maaf atas segala perilaku anehnya. Dia bilang dia sudah sadar dan tidak akan mengulanginya lagi. Maka masalahku terpecahkan begitu saja. Kami pun bermesraan di ruangan kantorku yang sepi. Aku telah menemukan istriku kembali.

***



“Kau telah membuatku melakukannya lagi, Daiyan.” Aku menangis sedih.

“Lupakan pernikahan, lupakan laki-laki itu. Kamu hanya boleh bersamaku selama-lamanya. Sampai kapanpun, kita akan selalu bersama. Hanya ada kita berdua. Pegang janji itu.” Daiyan tersenyum menang.

Aku menangisi Rasya yang berlumuran darah, tidak lagi bernyawa. Beling kaca berdarah itu ada di tanganku. Untuk kedua kalinya, di luar kesadaranku, Daiyan membuatku membunuh cintaku sendiri.

The End

Sally Ayumi
© Sally Ayumi
Maira Gall