
Catatan harian Dabria:
“Mereka semua menuduhku, katanya aku pembunuh. Mereka bilang pisau dapur itu ada di tanganku, dan aku-lah yang berada di kamar Andreas pada waktu kejadian. Andreas adalah kekasihku. Seharusnya mereka tahu, bahwa aku tidak mungkin menyakitinya. Namun tak ada yang percaya. Mereka bilang aku tidak boleh mengelak lagi.
Namun aku bingung luar biasa. Aku tidak merasa pernah melakukannya. Aku percaya diri. Walaupun demikian, aku tetap saja merasa takut. Seragam cokelat polisi-polisi itu menakutkan bagiku. Sorot mata setiap manusia yang mengenalku, berubah. Itulah yang membuat aku takut. Maka aku lari.
Itu kejadian empat tahun lalu.”
“Jadi begitu ceritanya?” tanya Rasya. Pria itu kemudian tersenyum dan meraih jemariku, “Mereka semua bodoh. Mana mungkin tangan sehalus ini membunuh orang?”
Aku tersenyum. Dia adalah satu-satunya orang yang percaya padaku. Aku mengerling menatap cincin pertunangan kami, “Kurasa kau harus tahu, sebelum kau menikahi aku.”
“Tentu saja, Sayang. Aku percaya bahwa kau tidak bersalah. Mari kita lupakan kenangan kelam itu, dan jalani hari yang baru bersama-sama.” Rasya mengecup punggung tanganku.
Sepulang dari restoran itu, aku masuk ke kamarku. Aku duduk di belakang meja rias, menyisir rambutku.
“Dari mana saja kau?” tanya Daiyan.
“Pergi bertemu Rasya. Kami sudah sepakat akan menikah bulan depan.” Jawabku.
Gadis itu mengerutkan keningnya, “Bulan depan? Cepat sekali?”
“Sudah untung dia menerimaku.” Aku memelas, “Tadi aku sudah cerita tentang kasus Andreas. Kurasa tak ada lagi yang bisa menerimaku setulus Rasya. Aku akan mengabdikan hidupku untuknya.”
“Lihat saja kalau kau ingkar janji, aku yang akan bertindak lagi.” Daiyan memicingkan matanya.
Aku tidak tersenyum.
“Tidurlah, Dabria. Jangan lupa kalau kita ini saudara kembar. Wajahmu tak akan sama cantiknya denganku, jika kantung matamu sebesar itu.” Daiyan tertawa.
Tibalah malam pernikahan aku dan Rasya, aku mencoba-coba gaun putih panjang yang dibelikannya untukku. Acara ini tidak akan ramai, karena hanya keluarga Rasya yang akan datang. Orang tuaku sudah lama meninggal, hanya ada Daiyan yang mendampingiku. Selalu disebelahku.
Aku selesai memasang semua atribut pernikahanku, dan berlenggak-lenggok di depan cermin.
“Ingatlah janji kita, Dabria.” Tiba-tiba Daiyan bicara. Aku agak terkejut mendengarnya.
“Wajahmu itu, sungguh bahagia. Selamat ya, Dabria.”
“Terima kasih, Daiyan.”
Aku dan Rasya mengucap janji setia disaksikan keluarga dan orang-orang terdekat kami pagi itu. Cincin pertunangan itu kini digantikan dengan cincin pernikahan. Aku sangat bahagia. Rasya menciumku dan rasanya aku mampu terbang ke langit.
Hidupku dan Rasya sangat bahagia, kami saling mencintai. Kami tinggal di rumah baru yang dibeli Rasya lima bulan yang lalu. Rasya sehari-hari bekerja sebagai konsultan keuangan, sementara aku hanya menjadi istri yang baik untuknya.
Namun ada satu hal yang mengganggu pikiranku, sejak aku menikah, Daiyan jarang sekali mengunjungiku. Aku khawatir.
Tiba-tiba sekali, Daiyan datang ketika aku sedang membersihkan cermin di kamar mandi.. “Daiyan!” Panggilku senang.
Wajahnya pucat.
“Sialan kau, Dabria.”
Aku tersentak, “Ada apa, Daiyan? Kenapa kamu baru datang? Aku sangat mengkhawatirkanmu.”
“Sejak menikah, kau lupa padaku. Iya kan? Kamu ingkar janji!” tuduh Daiyan.
Aku menggeleng, “Bagaimana bisa aku lupa?”
“Mungkin kau terlalu sibuk untuk menyadarinya. Tapi kau benar-benar telah melupakan aku. Aku bisa mati kalau kau membuangku begitu, Dabria!”
“Maafkan aku, tapi aku tidak bermaksud begitu.”
Aku merasa bersalah pada Daiyan. Setiap kami bertemu, kami selalu bertengkar. Daiyan iri pada kasih sayangku yang telah kucurahkan lebih banyak untuk Rasya. Dia tidak ingin aku meninggalkannya sendirian. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Pertengkaran itu semakin panas setiap harinya. Tapi aku tidak berani cerita pada Rasya. Aku takut membongkar kejelekan saudaraku sendiri.
“Aku harus bagaimana supaya kau tidak merasa kesepian, Daiyan? Sekarang aku menikah, harus mengabdi pada suamiku. Kamu harus mengerti. Kamu boleh mengunjungiku kapanpun kau mau. Kapan saja. Kita masih bisa saling cerita seperti dulu ‘kan? Aku masih disini untukmu, Daiyan...”
“Bohong! Sudah tak ada lagi perasaan sayangmu padaku. Aku ini saudara kembarmu! Kita berasal dari satu rahim yang sama! Tidakkah kau mengerti betapa cemburunya aku setiap kali Rasya memelukmu?”
“Tentu saja dia boleh memelukku, dia suamiku.” Aku menjawab. “Jangan seperti anak kecil, Daiyan. Bagaimanapun juga aku harus melanjutkan hidupku.”
Daiyan menangis, lalu dia pergi. Aku tidak merasa bersalah lagi. Perasaan itu telah berubah jadi kejengkelan padanya.
Kami sedang bertengkar, yang kesekian kalinya, ketika tiba2 Rasya datang. Daiyan buru-buru pergi. Aku menghapus airmata.
“Ada apa sayang? Bicara dengan siapa tadi?” tanya Rasya.
Aku tidak langsung menjawab.
“Dabria sayang?” Suamiku menagih jawaban.
“Aku tadi bicara dengan Daiyan.”
“Daiyan?” Rasya mengerutkan keningnya. “Siapa Daiyan?”
Aku menoleh, memandang mata suamiku dalam-dalam. “Dia saudara kembarku.”
Alis Rasya semakin berkerut, “Tapi tadi kau sendirian di ruangan ini.”
Aku berdiri, meletakkan cermin kecil di atas meja. “Dia sudah pergi ketika kau datang.”
Hari-hariku semakin kelabu. Daiyan semakin menjadi masalah di rumah tanggaku. Rasya tidak suka kalau aku berhubungan lagi dengan Daiyan. Aku berada dalam satu titik dilema yang parah.
Sampai suatu ketika, semuanya berubah.
Malam itu hujan deras dan Rasya belum pulang. Sudah terlalu larut. Aku tidak bisa menghubunginya, maka aku datang ke kantornya menggunakan jasa taksi. Sesampainya disana, kantor itu sepi. Semua karyawan sudah pulang. Kecuali beberapa satpam. Aku langsung menuju ke lantai dua. Pintu ruangan Rasya terkunci. Aku mengetuknya berkali-kali. Tidak ada jawaban. Maka aku membungkukkan badan untuk mengintip dari lubang kunci.
Disana, diatas sofa. Rasya dan Daiyan melakukan sesuatu hal yang gila. Hal yang seharusnya hanya boleh Rasya lakukan denganku. Bukan dengan wanita lain, termasuk Daiyan.
Aku menerjang pintu itu dengan kursi. Kenop pintu terbuka. Aku berhambur masuk dan mengamuk.
***
Catatan harian Rasya:
Sejak pertama kali aku mengenal Dabria, dia tinggal sendirian di rumah kost di sudut kota. Tak jauh dari kantorku. Kami jatuh cinta pada pertemuan kami yang kesekian kalinya. Aku sangat mencintainya sampai bersedia menikahinya setelah enam bulan perkenalan.
Sebelum pernikahan, Dabria pernah cerita tentang kasus pembunuhan dimana semua orang menyalahkannya. Tapi aku selalu lebih percaya pada Dabria. Dia terlalu lembut untuk membunuh orang.
Hampir setahun aku menikah dengannya, semuanya berjalan lancar. Kami belum berencana memiliki anak, karena kami masih ingin menikmati saat-saat berdua. Namun belakangan, ada yang aneh padanya.
Dabria suka menangis di tengah malam, dia juga suka bicara dan marah-marah sendiri. Mulanya aku pikir dia hanya bergumam seperti istri lainnya yang lelah pada pekerjaan rumah.
Tapi semakin hari perilaku istriku semakin aneh. Setelah aku perhatikan, dia suka berbicara sendiri setiap kali melihat ke cermin. Aku tidak mengerti apa yang dilakukannya. Ketika ditanya, dia bilang dia sedang bicara dengan saudara kembarnya, Daiyan. Aku tidak pernah tahu menahu tentang Daiyan. Dabria tidak pernah mau menceritakannya padaku.
Ini aneh, karena kini aku suaminya. Seharusnya aku tahu jika Dabria masih memiliki saudara kandung. Apalagi kembar.
Maka aku pun menyelidikinya. Aku ingat, dabria pernah cerita tentang rumah susun di kota K tempat dia dibesarkan. Maka aku datang ke sana.
Disana aku bertemu dengan beberapa tetangga lamanya. Aku menunjukkan foto Dabria kecil. Mereka bilang sewaktu kecil Dabria memang tinggal disana. Ayahnya meninggal karena penyakit diabetes, sementara ibunya meninggal karena penyakit jantung.
Setahu mereka, Dabria memang dilahirkan kembar. Dabria terlahir sehat, sementara Daiyan terlahir dengan kelainan paru-paru. Daiyan kemudian meninggal ketika usianya lima tahun.
Fakta ini membuatku terkejut. Aku pikir istriku sudah stress berat. Dia masih mengira bahwa Daiyan masih hidup. Malam itu aku sengaja lembur. Aku sedang memikirkan cara untuk mengajaknya ke psikiater, ketika tiba-tiba Dabria datang ke kantorku sambil menangis.
Dia meminta maaf atas segala perilaku anehnya. Dia bilang dia sudah sadar dan tidak akan mengulanginya lagi. Maka masalahku terpecahkan begitu saja. Kami pun bermesraan di ruangan kantorku yang sepi. Aku telah menemukan istriku kembali.
***
“Kau telah membuatku melakukannya lagi, Daiyan.” Aku menangis sedih.
“Lupakan pernikahan, lupakan laki-laki itu. Kamu hanya boleh bersamaku selama-lamanya. Sampai kapanpun, kita akan selalu bersama. Hanya ada kita berdua. Pegang janji itu.” Daiyan tersenyum menang.
Aku menangisi Rasya yang berlumuran darah, tidak lagi bernyawa. Beling kaca berdarah itu ada di tanganku. Untuk kedua kalinya, di luar kesadaranku, Daiyan membuatku membunuh cintaku sendiri.
The End
Sally Ayumi