Setiap ibu pasti punya pengalaman melahirkan yang unik. Saya sendiri ingin berbagi pengalaman melahirkan yang emosional dan tak terlupakan dalam hidup saya. Pengalaman pertama kali menjadi Ibu :D
Kontraksi
Pada usia kehamilan 37 minggu, adalah saat dimana harap-harap cemas. Ketika kontraksi palsu bolak-balik melanda, dan kontraksi sebenarnya bisa datang sewaktu-waktu.
Melahirkan normal, adalah satu-satunya harapan saya. Untuk di operasi cesar, saya takut setengah mati, harus tiduran dan perut dibedah. Saya selalu berdoa bisa melahirkan normal. Harapan saya ini juga bukan tanpa usaha, yang bisa saya lakukan adalah banyak-banyak jalan kaki, terutama di pagi hari. Menambah waktu sujud lebih lama ketika sholat, berdoa dan mengaji. Pendekatan spiritual itu penting menurut saya, dapat menenangkan hati yang gundah gulana. Kondisi kehamilan saya saat itu sehat, posisi kepala bayi sudah bagus walaupun ada 1x lilitan tali pusat. Tapi dokter masih yakin saya bisa melahirkan secara normal.
Saya ingat, waktu itu kehamilan saya memasuki usia 38 minggu, dan seperti biasa pas weekend suami ngajak jalan keluar. Waktu itu saya diajak ikut ngumpul bareng teman-temannya di FX mall trus lanjut nengokin temannya yang lagi sakit di RS. Seharian itu saya banyak jalan kaki. Malamnya, dari daerah Sudirman Jakarta saya ngajak suami makan di bilangan Tebet, mendadak kepengin makan angkringan langganan kita berdua. Jauh memang, tapi suami langsung setuju aja. Padahal kita naik motor loh.
Entah karena kecapean atau apa ya, baru selesai makan, perut saya tiba-tiba sakit. Saya pikir ini kontraksi palsu, tapi kok susah banget mau berdiri. Akhirnya saya duduk dulu sampai sakitnya hilang. Ketika sakitnya hilang, saya dan suami langsung meluncur pulang. Di perjalanan perut saya sakit-sakitan terus, akhirnya saya minta dibawa ke rumah sakit aja langsung.
Sesampainya di Rumah Sakit, langsung ke ruang bersalin. Saya diperiksa dalam oleh Bidan, ternyata saya sudah pembukaan 1. Kami disuruh pulang dan saya disuruh banyak gerak. Sepulangnya dari RS saya langsung istirahat dan tidur.
Besoknya, saya habiskan waktu kerja di rumah. Menyikat kamar mandi, cuci piring, cuci baju, jemur, setrika. Hari itu Papa dan Iyo adik bungsu saya datang untuk stand by dengan mobil kalau sewaktu-waktu harus diantar ke Rumah Sakit.
Berkutat dengan Pembukaan
27 Desember 2016. Sekitar jam 10 malam, ketika semua orang di rumah sudah tidur, saya malah gak bisa tidur. Perut cenut-cenut. Awalnya saya masih tahan, tapi kok sakitnya gak hilang-hilang. Capek dan kesakitan saya akhirnya terpaksa bangunin suami dan Papa.
Jam 12 malam lewat, berganti hari memasuki tanggal 28 Desember 2016. Dini hari saya di bawa ke RS. Ketika diperiksa, saya sudah pembukaan 2. Hasil pemeriksaan CTG (rekam jantung) bayi saya kurang bagus, mungkin penyebabnya karena lilitan tali pusat itu, sehingga saya harus bedrest dan dipasang selang oksigen di Rumah Sakit. Ini yang membuat pembukaan saya tak kunjung bertambah.
Paginya perut saya terasa baik-baik saja, kontraksi memang berasa tapi belum terlalu sering. Setelah mendapat izin dari Dokter dan Bidan, saya boleh berjalan-jalan di sekitar RS untuk mempercepat pembukaan secara alami. Saya excited sekali karena sebentar lagi akan bertemu dengan bayi yang saya kandung selama 9 bulan lebih.
Sampai sore hari, saya merasa bosan sekali menunggu pembukaan yg tak juga bertambah, kondisi saya juga tidak diperbolehkan pulang. Berkali-kali saya di CTG dan keluarga juga sudah berdatangan ke RS. Akhirnya sore itu saya habiskan dengan makan mie ayam di kantin RS sambil santai dan ketawa-tawa.
Satu hal yang menjadi kekhawatiran saya adalah, dokter kandungan saya dr. Triani Ismelia, Spog sedang cuti akhir tahun berlibur ke China. Kabarnya, hari itu dia baru akan mendarat di Jakarta. Jadi selama saya menunggu di RS, saya belum bertemu dokter saya sama sekali.
Malam harinya, perut saya belum juga bertambah mules. Sampai akhirnya jam 10 malam Bidan mengajak saya bertemu dokter kandungan yang sedang praktek malam itu, dr. Arju Anita Spog. Saya diperiksa dokter Arju, dia melihat kondisi bayi saya bagus, walaupun ada lilitan. Ketika sedang melakukan pemeriksaan dalam alias memasukkan jari ke vagina saya, Saya bertanya kenapa saya tidak juga nambah mules, dia jawab, "Ini sudah bukaan 3 Bu. Jadi Ibu mau mules? Biar cepet ya, saya bikin mules ya."
Tiba2.. srekk... terasa banget jarinya seperti "menyogrok" saya. Gak ngerti lagi deh apa yang dr.Arju lakukan, tapi abis itu saya langsung merasa kesakitan.
Assalamualaikum, Rumi
Tanggal 29 Desember 2016, dini hari tepatnya pukul 2 pagi, perut saya mulai kontraksi hebat. Sudah gak bisa ketawa lagi, saat itu cuma ada Mama yang nemenin di RS. Saya kesakitan sampai air mata keluar, tapi gak ada yang bisa dilakukan. Saya tidak berhenti berdzikir dan memohon kekuatan dari Allah supaya bisa melahirkan dengan lancar.
Semalaman saya tidak tidur, mulut saya sampai kering karena berdzikir dengan keras, "Laa hawla wa laa quwwata illa billah” berbagai posisi saya coba, tapi sakitnya tak kunjung reda. Saya terus menghirup oksigen dari selang dan menahan sakit yang makin lama makin menjadi. Bidan datang entah jam berapa, dan melakukan pemeriksaan dalam untuk kesekian kalinya. Sudah bukaan 4.
Saya memang paling payah menahan sakit. Tapi saya masih diberikan kesadaran, bahwa daripada menjerit, lebih baik saya mengalihkannya menjadi dzikir dan takbir. Saya terus menyebut nama Allah, dengan segala kepasrahan saya sebagai hamba-Nya. Apapun yang Allah kehendaki, saya pasrah.
Pagi hari jam 6, suami saya datang membawa pakaian dan keperluan lain. Dia sigap memijit kaki dan tangan saya. Saya terus memohon supaya tidak ditinggal. Pagi itu suami dan Mama memaksa saya untuk sarapan. Tapi sakit yang luar biasa membuat nafsu makan hilang. Saya ingat sekali, hanya 2 sendok bubur yang bisa saya telan. Selain itu hanya susu beruang 1 kaleng, sari kurma beberapa sendok, madu beberapa sendok, dan air putih.
Kepanikan mulai muncul ketika badan saya semakin lemah dan lemas diserang rasa sakit yang menjalar ke punggung dan kaki saya. Telapak kaki saya rasanya dingin sekali dan saya meminta dipakaikan kaus kaki.
Dokter Triani belum tiba juga di RS, dan saya pasrah dengan siapa saya akan melahirkan. Harapan saya cuma satu, bayi ini segera keluar dengan selamat.
Saya ingat, sekitar jam 11 pagi, bukaan 5. Vagina rasanya seperti didorong-dorong dengan kuat sekali dari dalam. Bayi saya rasanya mau lompat keluar. Ada refleks untuk ngeden. Tapi semua melarang untuk ngeden sampai bukaan lengkap. Saya panik dan ketakutan karena selalu refleks ngeden ketika bayi mendorong.
Kontraksi
Pada usia kehamilan 37 minggu, adalah saat dimana harap-harap cemas. Ketika kontraksi palsu bolak-balik melanda, dan kontraksi sebenarnya bisa datang sewaktu-waktu.
Melahirkan normal, adalah satu-satunya harapan saya. Untuk di operasi cesar, saya takut setengah mati, harus tiduran dan perut dibedah. Saya selalu berdoa bisa melahirkan normal. Harapan saya ini juga bukan tanpa usaha, yang bisa saya lakukan adalah banyak-banyak jalan kaki, terutama di pagi hari. Menambah waktu sujud lebih lama ketika sholat, berdoa dan mengaji. Pendekatan spiritual itu penting menurut saya, dapat menenangkan hati yang gundah gulana. Kondisi kehamilan saya saat itu sehat, posisi kepala bayi sudah bagus walaupun ada 1x lilitan tali pusat. Tapi dokter masih yakin saya bisa melahirkan secara normal.
Saya ingat, waktu itu kehamilan saya memasuki usia 38 minggu, dan seperti biasa pas weekend suami ngajak jalan keluar. Waktu itu saya diajak ikut ngumpul bareng teman-temannya di FX mall trus lanjut nengokin temannya yang lagi sakit di RS. Seharian itu saya banyak jalan kaki. Malamnya, dari daerah Sudirman Jakarta saya ngajak suami makan di bilangan Tebet, mendadak kepengin makan angkringan langganan kita berdua. Jauh memang, tapi suami langsung setuju aja. Padahal kita naik motor loh.
Entah karena kecapean atau apa ya, baru selesai makan, perut saya tiba-tiba sakit. Saya pikir ini kontraksi palsu, tapi kok susah banget mau berdiri. Akhirnya saya duduk dulu sampai sakitnya hilang. Ketika sakitnya hilang, saya dan suami langsung meluncur pulang. Di perjalanan perut saya sakit-sakitan terus, akhirnya saya minta dibawa ke rumah sakit aja langsung.
Sesampainya di Rumah Sakit, langsung ke ruang bersalin. Saya diperiksa dalam oleh Bidan, ternyata saya sudah pembukaan 1. Kami disuruh pulang dan saya disuruh banyak gerak. Sepulangnya dari RS saya langsung istirahat dan tidur.
Besoknya, saya habiskan waktu kerja di rumah. Menyikat kamar mandi, cuci piring, cuci baju, jemur, setrika. Hari itu Papa dan Iyo adik bungsu saya datang untuk stand by dengan mobil kalau sewaktu-waktu harus diantar ke Rumah Sakit.
Berkutat dengan Pembukaan
27 Desember 2016. Sekitar jam 10 malam, ketika semua orang di rumah sudah tidur, saya malah gak bisa tidur. Perut cenut-cenut. Awalnya saya masih tahan, tapi kok sakitnya gak hilang-hilang. Capek dan kesakitan saya akhirnya terpaksa bangunin suami dan Papa.
Jam 12 malam lewat, berganti hari memasuki tanggal 28 Desember 2016. Dini hari saya di bawa ke RS. Ketika diperiksa, saya sudah pembukaan 2. Hasil pemeriksaan CTG (rekam jantung) bayi saya kurang bagus, mungkin penyebabnya karena lilitan tali pusat itu, sehingga saya harus bedrest dan dipasang selang oksigen di Rumah Sakit. Ini yang membuat pembukaan saya tak kunjung bertambah.
Paginya perut saya terasa baik-baik saja, kontraksi memang berasa tapi belum terlalu sering. Setelah mendapat izin dari Dokter dan Bidan, saya boleh berjalan-jalan di sekitar RS untuk mempercepat pembukaan secara alami. Saya excited sekali karena sebentar lagi akan bertemu dengan bayi yang saya kandung selama 9 bulan lebih.
Sampai sore hari, saya merasa bosan sekali menunggu pembukaan yg tak juga bertambah, kondisi saya juga tidak diperbolehkan pulang. Berkali-kali saya di CTG dan keluarga juga sudah berdatangan ke RS. Akhirnya sore itu saya habiskan dengan makan mie ayam di kantin RS sambil santai dan ketawa-tawa.
Satu hal yang menjadi kekhawatiran saya adalah, dokter kandungan saya dr. Triani Ismelia, Spog sedang cuti akhir tahun berlibur ke China. Kabarnya, hari itu dia baru akan mendarat di Jakarta. Jadi selama saya menunggu di RS, saya belum bertemu dokter saya sama sekali.
Malam harinya, perut saya belum juga bertambah mules. Sampai akhirnya jam 10 malam Bidan mengajak saya bertemu dokter kandungan yang sedang praktek malam itu, dr. Arju Anita Spog. Saya diperiksa dokter Arju, dia melihat kondisi bayi saya bagus, walaupun ada lilitan. Ketika sedang melakukan pemeriksaan dalam alias memasukkan jari ke vagina saya, Saya bertanya kenapa saya tidak juga nambah mules, dia jawab, "Ini sudah bukaan 3 Bu. Jadi Ibu mau mules? Biar cepet ya, saya bikin mules ya."
Tiba2.. srekk... terasa banget jarinya seperti "menyogrok" saya. Gak ngerti lagi deh apa yang dr.Arju lakukan, tapi abis itu saya langsung merasa kesakitan.
Assalamualaikum, Rumi
Tanggal 29 Desember 2016, dini hari tepatnya pukul 2 pagi, perut saya mulai kontraksi hebat. Sudah gak bisa ketawa lagi, saat itu cuma ada Mama yang nemenin di RS. Saya kesakitan sampai air mata keluar, tapi gak ada yang bisa dilakukan. Saya tidak berhenti berdzikir dan memohon kekuatan dari Allah supaya bisa melahirkan dengan lancar.
Semalaman saya tidak tidur, mulut saya sampai kering karena berdzikir dengan keras, "Laa hawla wa laa quwwata illa billah” berbagai posisi saya coba, tapi sakitnya tak kunjung reda. Saya terus menghirup oksigen dari selang dan menahan sakit yang makin lama makin menjadi. Bidan datang entah jam berapa, dan melakukan pemeriksaan dalam untuk kesekian kalinya. Sudah bukaan 4.
Saya memang paling payah menahan sakit. Tapi saya masih diberikan kesadaran, bahwa daripada menjerit, lebih baik saya mengalihkannya menjadi dzikir dan takbir. Saya terus menyebut nama Allah, dengan segala kepasrahan saya sebagai hamba-Nya. Apapun yang Allah kehendaki, saya pasrah.
Pagi hari jam 6, suami saya datang membawa pakaian dan keperluan lain. Dia sigap memijit kaki dan tangan saya. Saya terus memohon supaya tidak ditinggal. Pagi itu suami dan Mama memaksa saya untuk sarapan. Tapi sakit yang luar biasa membuat nafsu makan hilang. Saya ingat sekali, hanya 2 sendok bubur yang bisa saya telan. Selain itu hanya susu beruang 1 kaleng, sari kurma beberapa sendok, madu beberapa sendok, dan air putih.
Kepanikan mulai muncul ketika badan saya semakin lemah dan lemas diserang rasa sakit yang menjalar ke punggung dan kaki saya. Telapak kaki saya rasanya dingin sekali dan saya meminta dipakaikan kaus kaki.
Dokter Triani belum tiba juga di RS, dan saya pasrah dengan siapa saya akan melahirkan. Harapan saya cuma satu, bayi ini segera keluar dengan selamat.
Saya ingat, sekitar jam 11 pagi, bukaan 5. Vagina rasanya seperti didorong-dorong dengan kuat sekali dari dalam. Bayi saya rasanya mau lompat keluar. Ada refleks untuk ngeden. Tapi semua melarang untuk ngeden sampai bukaan lengkap. Saya panik dan ketakutan karena selalu refleks ngeden ketika bayi mendorong.
Kemudian, Bidan memindahkan saya ke ruang bersalin yang ruangannya tepat di samping ruang observasi dimana selama ini saya dirawat. Saya digantikan baju dengan baju bersalin warna pink, dan dipasang selang oksigen lagi. Tangan kanan saya dipasang jarum infus untuk berjaga-jaga apakah ada perlu obat yang dimasukkan lewat infus.
Sakit, saya salah tingkah. Semua gerakan saya coba, termasuk cara menahan ngeden yang diajarkan di kelas senam hamil. Tidak berhasil. Refleks ngeden terlalu kuat dan saya sangat lelah dan kewalahan. Tapi dalam hati ini, tidak ada sedikitpun niat untuk menyerah dan dioperasi cesar. Saya ingin melahirkan normal dan saya pasti bisa. Kesakitan ini akan segera berlalu apapun akhirnya.
Sebelah kiri ada Ricky, suami saya yang terus mendampingi. Padahal dia takut, dia gugup dan salah tingkah juga. Tapi dia berkali-kali mengingatkan saya, "Ayo Nii, inget baju-bajunya dede bayi, sebentar lagi kita ketemu dede bayi Nii..."
"Sumpah, kalau kamu selingkuh, aku bunuh kamu...!!" diantara kesakitan dan tenaga seadanya, sempet-sempetnya saya bilang begitu ke suami. Dia malah ketawa, katanya lebih baik saya gak usah ngomong macem-macem. Gak tahu juga kenapa saya bilang begitu, mungkin pengaruh emosi saat melahirkan itu ya.
Sebelah kanan ada Mama, yang berkali-kali mengingatkan supaya saya tidak tidur dan tidak ngeden sebelum waktunya. Rasanya lama betul sampai dengan pembukaan lengkap. Mama menyemangati saya dan berdoa terus supaya saya kuat.
Pembukaan lengkap akhirnya tiba jam 12 siang tengah hari, dan saya sekarang sudah harus mengejan (ngeden) sekuat-kuatnya. Saya ngeden sekuat tenaga, tapi kepala bayi tidak kunjung keluar.
Bidan berkali-kali periksa detak jantung bayi saya, dan saya juga berusaha mendorong. Tapi tidak juga berhasil. Saya lemas dan kesakitan, bahkan tidak lagi bisa bicara. Kaki dan paha saya sesekali merasa keram dan telapak kaki saya dingin seperti es. Yang bisa saya lakukan ya cuma itu, tarik nafas terus ngeden.
Bidan kemudian suruh saya pipis di pispot untuk membantu melancarkan jalan lahir. Tapi saya tidak bisa pipis di pispot, tidak mau keluar. Solusinya Bidan memasang selang ke saluran pipis dan perut bawah saya ditekan-tekan pelan, dan pipisnya pun akhirnya bisa keluar.
Saya coba ngeden terus menerus tapi gagal terus. Di tengah kepanikan, dokter Triani yang cantik muncul dan langsung bersiap-siap untuk membantu persalinan saya. Dia memakai apron, sepatu bot, masker dan sarung tangan.
"Bukan begitu posisinya bu. Ayo Bu! Lah, kok pake kaos kaki Bu???"
Walaupun sudah gak bisa menjawab, tapi semangat saya bangkit lagi. Ketika dokter Triani membetulkan posisi saya, saya disuruh memeluk kedua paha saya dan ngeden sekuat tenaga.
Kepala bayi sudah terlihat, tapi masuk lagi ketika saya menarik nafas. Berulang terus seperti itu. Ini gila, saya panik dan takut bayi saya kehabisan nafas.
"Bu, Ayo Bu! Ngeden yang kuat Bu! Ini kepala bayi Ibu yang ada di bawah sini bu! Kalau ibu gak bisa ngeden saya Vakum ya bu?!"
Kalau saja saya bisa jawab, saya tahu. Saya sadar. Saya juga ingin bayi saya lahir dengan cepat dan selamat. Tapi kalau tenaga sudah saya kerahkan semua, sementara bayi tidak juga terdorong... saya harus bagaimana?
Akhirnya dokter mengambil alat vakum dengan sigap dan vagina saya digunting sedikit di bagian kanan kiri. "Kalau saya vakum Ibu tetap harus ngeden. Ikuti aba-aba saya ya Bu!"
Percobaan vakum pertama, saya ngeden sesuai aba-aba. Gagal. Tetap saja dibilang ngeden saya salah. "Ya Allah ya Rabb, ngeden yang saya tahu ya begitu...saya harus bagaimana lagi Ya Allah?" Jerit saya dalam hati.
"Kalau divakum belum lahir juga, kita pindah ke ruang operasi ya Bu! Ini sudah terlalu lama Bu kepalanya di bawah!"
Astaghfirullah, saya panik, takut, sedih, kesakitan dan lemah. Saya tidak mau dioperasi.
Astaghfirullah, saya panik, takut, sedih, kesakitan dan lemah. Saya tidak mau dioperasi.
Percobaan vakum kedua, saya ngeden sesuai aba-aba.
Tanpa saya sadari tiba2 sesuatu yang lembut, licin, lembut dan lembek keluar dari vagina saya. Ternyata itulah bayi saya. Lembut sekali. Terdengar tangis bayi pelan- dan putus-putus. Rasa sakit hilang sama sekali.
Ketika saya sadari, mata saya melihat di dalam kotak kaca di sebelah kiri saya, sudah ada seorang bayi yang bersih, putih dan montok berisi. Dia cantik sekali, kulitnya berwarna putih pink dan rambutnya hitam tapi tidak terlalu lebat. Matanya terbuka lebar tapi tangisnya lemah. Ternyata cepat sekali Bidan sudah membersihkan dan memakaikan popok untuknya. Mama dan Ricky mendekati bayi kami, memandanginya dengan takjub.
Namanya Rumi, bayi yang selama ini menendang di perut saya. Rumi sudah lahir ke dunia dengan selamat, lengkap dan sempurna. Alhamdulillah ya Allah, dalam hati saya bersyukur banyak-banyak.
Perawatan saya belum selesai. Saya mendapat suntikan anti pendarahan di paha. Dokter Triani masih sibuk mengeluarkan plasenta dan menjahit vagina saya. Karena dibius, saya tidak merasa apa-apa ketika dijahit, yang saya rasakan hanya lelah, lemas, capek luar biasa. Seperti tidak ada tenaga sama sekali. Bahkan untuk mengangkat tangan saja saya tidak kuat. Saya terus menghirup oksigen dari selang, dan Mama memberi saya minum air.
Karena saking hebohnya ngeden itu tadi, jarum infus di tangan kiri saya sampai lepas, sempat keluar darah agak banyak dari tangan kiri saya, menetes ke lantai. Jadi selesai menjahit, dr. Triani menangani tangan saya yang berdarah-darah.
Saya masih mendengar suara tangis Rumi yang sepotong-sepotong, saya lihat bidan juga berusaha menepuk-nepuk pantatnya supaya menangis lebih keras. Tapi dia terlalu lemah untuk itu. Bidan kemudian mengangkatnya dan meletakannya di dada saya untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Mulutnya ditempelkan ke puting susu saya, tapi sekali lagi, Rumi hanya bisa menangis terbata-bata tanpa bisa menghisap. Kegagalan IMD itu membuat saya patah hati. Saya merasa sedih dan sangat bersalah, karena saya tidak kuat ngeden dia terlalu lama di jalan lahir, kekurangan oksigen yang membuat dia lemah. Saya ingat Ricky buru-buru mengambil air wudhu dan mengadzani Rumi di dekat telinganya. Rumi kemudian dipindahkan ke ruang perawatan bayi untuk dipasang selang oksigen dan dihangatkan dalam inkubator.
Setelah semuanya selesai, dr. Triani menyelamati saya dan berpamitan. Saya disuruh beristirahat dan diobservasi selama 2 jam sebelum dipindahkan ke kamar rawat inap. Ketika semua orang keluar ruangan, saya menangis sejadi-jadinya. Saya merasa khawatir dan sangat amat bersalah dengan apa yang dialami Rumi.
Mama dan Mama Mertua datang untuk menghibur saya dan menenangkan saya. Ricky juga ada di sana, menghibur saya dengan leluconnya seperti biasa. Saya tidak akan pernah lupa, Ricky membisikkan ucapan terima kasih karena telah melahirkan putrinya dengan selamat. Saya masih menangis tanpa bisa menjawab. 3 hari kemudian, kondisi saya dan RUmi sudah stabil dan diizinkan pulang, tepatnya tanggal 1 Januari 2017.
Hari kelahiran Rumi tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Hadiah di awal tahun 2017. Memori di hari itu akan selalu menjadi motivasi bahwa ternyata saya cukup kuat menahan sakit. Bahwa saya adalah perempuan yang berani dan bisa melalui semuanya.
Ketika saya capek, atau sakit di masa depan nanti, saya akan mengingat lagi perjuangan hari itu supaya saya ingat, tidak ada yang tidak bisa saya lakukan di dunia ini. Supaya api semangat terus berkobar dalam hati, untuk mengabdikan hidup saya merawat dan mendidik Rumi sampai ia dewasa nanti. Amiin ya Rabb.
Assalamualaikum, Rumi! Terima kasih telah menjadi penyejuk hati kami, wahai anugerah terindah dari Allah SWT.
Namanya Rumi, bayi yang selama ini menendang di perut saya. Rumi sudah lahir ke dunia dengan selamat, lengkap dan sempurna. Alhamdulillah ya Allah, dalam hati saya bersyukur banyak-banyak.
Perawatan saya belum selesai. Saya mendapat suntikan anti pendarahan di paha. Dokter Triani masih sibuk mengeluarkan plasenta dan menjahit vagina saya. Karena dibius, saya tidak merasa apa-apa ketika dijahit, yang saya rasakan hanya lelah, lemas, capek luar biasa. Seperti tidak ada tenaga sama sekali. Bahkan untuk mengangkat tangan saja saya tidak kuat. Saya terus menghirup oksigen dari selang, dan Mama memberi saya minum air.
Karena saking hebohnya ngeden itu tadi, jarum infus di tangan kiri saya sampai lepas, sempat keluar darah agak banyak dari tangan kiri saya, menetes ke lantai. Jadi selesai menjahit, dr. Triani menangani tangan saya yang berdarah-darah.
Saya masih mendengar suara tangis Rumi yang sepotong-sepotong, saya lihat bidan juga berusaha menepuk-nepuk pantatnya supaya menangis lebih keras. Tapi dia terlalu lemah untuk itu. Bidan kemudian mengangkatnya dan meletakannya di dada saya untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Mulutnya ditempelkan ke puting susu saya, tapi sekali lagi, Rumi hanya bisa menangis terbata-bata tanpa bisa menghisap. Kegagalan IMD itu membuat saya patah hati. Saya merasa sedih dan sangat bersalah, karena saya tidak kuat ngeden dia terlalu lama di jalan lahir, kekurangan oksigen yang membuat dia lemah. Saya ingat Ricky buru-buru mengambil air wudhu dan mengadzani Rumi di dekat telinganya. Rumi kemudian dipindahkan ke ruang perawatan bayi untuk dipasang selang oksigen dan dihangatkan dalam inkubator.
Setelah semuanya selesai, dr. Triani menyelamati saya dan berpamitan. Saya disuruh beristirahat dan diobservasi selama 2 jam sebelum dipindahkan ke kamar rawat inap. Ketika semua orang keluar ruangan, saya menangis sejadi-jadinya. Saya merasa khawatir dan sangat amat bersalah dengan apa yang dialami Rumi.
Mama dan Mama Mertua datang untuk menghibur saya dan menenangkan saya. Ricky juga ada di sana, menghibur saya dengan leluconnya seperti biasa. Saya tidak akan pernah lupa, Ricky membisikkan ucapan terima kasih karena telah melahirkan putrinya dengan selamat. Saya masih menangis tanpa bisa menjawab. 3 hari kemudian, kondisi saya dan RUmi sudah stabil dan diizinkan pulang, tepatnya tanggal 1 Januari 2017.
Hari kelahiran Rumi tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Hadiah di awal tahun 2017. Memori di hari itu akan selalu menjadi motivasi bahwa ternyata saya cukup kuat menahan sakit. Bahwa saya adalah perempuan yang berani dan bisa melalui semuanya.
Ketika saya capek, atau sakit di masa depan nanti, saya akan mengingat lagi perjuangan hari itu supaya saya ingat, tidak ada yang tidak bisa saya lakukan di dunia ini. Supaya api semangat terus berkobar dalam hati, untuk mengabdikan hidup saya merawat dan mendidik Rumi sampai ia dewasa nanti. Amiin ya Rabb.
Assalamualaikum, Rumi! Terima kasih telah menjadi penyejuk hati kami, wahai anugerah terindah dari Allah SWT.
