Thursday, August 3, 2017

ASI & SUFOR UNTUK RUMI

Hari ini saya mau cerita kisah yang bikin saya patah hati.

Seperti Ibu-ibu modern jaman sekarang,  saya pun juga ikut ritual pumping dan storing ASI supaya Rumi tetap bisa konsumsi ASI walaupun saya tinggal kerja. Saya berhasil menyusui Rumi secara eksklusif sampai usianya 6 bulan.

Memasuki usia 7 bulan, freezer yg tadinya full ASI perah makin lama makin kosong. Kebutuhan Rumi minum ASI semakin banyak seiring pertumbuhannya. Dan saya gak bisa ngejar demand Rumi. Saya pompa 2 jam sekali tapi hasilnya tidak sebanyak bulan-bulan awal melahirkan.

Saya mulai panik, karena idealnya ASI tetap diberikan sampai usianya 2 tahun. Saya masih bisa menyusui Rumi, tapi kalau dipompa hasilnya tidak banyak lagi. Kurang.

Booster? Gak ngaruh banyak ya di saya. Tapi setelah saya introspeksi diri, memang saya banyak melakukan kesalahan:

1. Kalau di kantor, sibuk sama komputer sampai lupa minum. Di rumah juga minum kalau habis makan aja. Saya merasa kurang minum air putih.

2. Kurang makan sayuran hijau. Makan siang seketemunya aja. Kadang ya menunya kurang sehat mungkin. Contoh, makan ayam penyet atau pecel lele. Sayurannya cuma dari lalapan yg sedikit di pojokan piring.

3. Gak bawa bekal dari rumah, karena most of everyday saya rempong gak sempet bikin-bikin bekal. Padahal kalau niat harusnya bisa. Siapin menu sehat dari rumah.

4. Beli susu soya dan obat pelancar ASI dari dokter, tapi gak rutin minumnya.

5. Masih suka skip jadwal pumping, misal gara2  saya meeting kelamaan di kantor, padahal sudah harus pumping. Atau karena macet di jalan, payudara sudah 'ngajak' ngeluarin ASI tapi tertunda.

6. Saya bekerja. Artinya frekuensi Rumi untuk menyusu langsung akan berkurang. Adahal stimulasi terbaik untuk produksi ASI ya dari hisapan bayi.

Kira-kira itulah beberapa kesalahan saya setelah saya evaluasi lagi ke belakang. Sekarang, Rumi yg harus menanggung akibatnya.

Sehari-hari Rumi diasuh Oma-nya, biasanya Rumi minum 5-6 botol @100ml ASIP selama seharian saya tinggal kerja.

Tapi kini saya hanya bisa menyediakan 3-4botol ASIP @100ml (bahkan kadang kurang dari itu) untuk seharian.

Demi menghemat stok ASIP, Oma sering mengalihkan perhatian Rumi ketika dia mulai menangis minta ASI. Diajak jalan-jalan keluar rumah melihat kucing atau diajak main mainannya.

Memang awalnya berhasil, tapi sekarang tidak lagi. Rumi tetap menangis.

Saya sangat merasa bersalah pada Rumi, karena ASI adalah hak-nya. Saya juga takut Rumi kekurangan nutrisi ketika dia sedang masa pertumbuhan.

Sampai akhirnya, saya dan suami terpaksa beli sufor (susu formula) untuk memenuhi kebutuhan susunya.

Rutinitas pumping tetap saya lakukan, malah sekarang makin rajin. Dan sufor hanya diberikan ketika stok ASIP pada hari itu sudah habis. Hanya ketika  keadaan 'darurat'.

Patah hati? Pasti. Sedih dan kecewa. Merasa amat sangat bersalah. Saya ini ibu macam apa.. kok gak mikirin hak anak..??

Miris sekali yang saya rasakan melihat Rumi kekurangan ASIP. Beruntung suami pengertian sekali. Dia tetap mendukung saya dengan segala perhatiannya dan bantuannya mengurus Rumi sehari-hari.

Kalau nanti Rumi besar dan baca tulisan ini, Mama mau minta maaf ya sayang. Mama masih harus banyak belajar.  Mama masih banyak kekurangan. Mama tidak sempurna sebagai Ibu. Jadi, kita belajar sama-sama ya Nak...

© Sally Ayumi
Maira Gall