Monday, November 18, 2013

Pentingnya Mencari Second Opinion (Pendapat Kedua)

Ini adalah pengalaman saya waktu kemarin terkena masalah kesehatan.

Yap, mendadak bulan Oktober yang lalu kuping saya budek sebelah. Rasanya seperti berdengung, bergema ketika bicara dan rasanya amit-amit setiap denger suara ribut dan berisik. Seperti kemasukan air, tapi bukan. Bawaanya stres dan marah-marah. Uring-uringan gak jelas.

Beruntungnya punya Mama perawat, ya saya langsung bisa minum obat sesuai gejala. Tapi sampai obatnya habis dan udah 7 hari gak sembuh juga, akhirnya saya putuskan untuk ke dokter THT.

Pelayanan RS Swasta yang Mengecewakan!

Saya pun cuti dari kantor dan pergi ke Rumah Sakit berinisial BK di Bekasi. Tapi ternyata pilihan rumah sakit itu adalah keputusan yang salah.

Saya datang ke RS itu, mendaftar dan menunggu di depan Poli THT. Setelah lama menunggu akhirnya bisa juga ketemu sang Dokter (namanya gak usah di-publish ya..) Sang Dokter pria berkacamata yang doyan cengar-cengir itu mendengar keluhan saya dengan cepat sekali, kira-kira cuma 3 menit. Terus dia memeriksa telinga dan hidung gue dengan super kilat, cuma dilihat selewatan, kemudian memutuskan bahwa sumber punyakitnya adalah di hidung. Dengan yakin dia bilang bahwa saya sering pilek dan alergi debu hingga menyebabkan masalah ini. Padahal saya tidak pernah merasa demikian. Kemudian ia menyuruh saya melakukan rontgen.

Saya pun menunggu di depan ruang Rontgen, di depan pintunya ada tulisan "BILA LAMPU MENYALA ARTINYA ADA PASIEN". Dan benar saja, lampu bulat besar di atas pintu menyala merah. Saya menunggu lamaaaaa sekali. Padahal saya pernah di rontgen dan tidak sampai selama itu. Saya pun mulai resah sampai ada suster yang lewat, dan akhirnya saya tanyakan prosedur rontgen itu bagaimana. Dia cuma menjawab, "Tunggu aja Mbak, kalau lampunya nyala berari ada pasien, gak usah diketuk sabar aja." Oke. Akhirnya saya menyabarkan diri untuk menunggu. 

1 JAM KEMUDIAN....
Ada seorang Ibu dan anaknya yang berseragam SMU, tergesa-gesa dan langsung mengetuk pintu ruang Rontgen tersebut. Saya terkejut melihat tiba-tiba pintu itu langsung terbuka, dan Petugasnya terlihat santai melihat ke arah lampu yang menyala merah, dengan santai juga ia mematikan lampu itu dari dalam. Rupanya dari tadi TIDAK ADA PASIEN di dalam ruangan itu. Akhirnya si Ibu dan Anaknya bisa dilayani terlebih dahulu, padahal saya sudah menunggu 1 jam lebih. 

Saya semakin heran melihat Petugas itu yang sama sekali tidak terlihat seperti petugas kesehatan, lebih terlihat seperti Mbak-Mbak di ITC yang teriak "Boleh kakak... bajunya.. dilihat-lihat dulu.."

Ternyata sedari tadi mereka hanya ngobrol di dalam, entah sengaja menyalakan lampu supaya tidak ada pasien yang mengganggu, atau bagaimana. Entah, saya sudah terlalu kesal untuk menebak.

Singkat cerita setelah membayar mahal saya di rontgen juga dengan 2 Mbak-Mbak itu. Peralatannya juga meragukan sekali. Hasil Rontgennya juga baru keluar 2 hari kemudian.

Saya ingat betul, hari itu tanggal 14 Oktober 2013 saya kembali ke Sang Dokter THT dengan membawa hasil rontgen. Sang Dokter juga datang TERLAMBAT. Sehingga saya harus menunggu 1 setengah jam untuk bertemu dengan dia. Ketika akhirnya bisa bertemu, dengan secepat kilat dia membacakan hasil rontgen saya, berkata bahwa ada penebalan di hidung saya yang harus di-OPERASI. Dia bilang kalau saya tidak cepat dioperasi akan ada gangguan pendengaran yang semakin fatal. 

Saya diberitahu oleh bagian informasi RS itu bahwa biaya operasi bisa mencapat 8 juta Rupiah, belum termasuk biaya-biaya perawatan lain. Bayangkan bagaimana perasaan saya ketika itu.

Esok harinya, adalah hari raya Idul Adha 1434 H. Belum pernah saya sholat Ied dengan perasaan sesedih itu, memikirkan kengerian dioperasi dari lubang hidung dan juga memikirkan biaya operasi yang bagi saya tidak kecil.

Untungnya semua kerabat saya menyarankan untuk mencari SECOND OPINION dari Dokter lainnya. Meskipun dengan harapan yang kecil, saya tidak mau hanya pasrah dengan Dokter Kilat itu.

And The Second Opinion is...

Tanpa menunggu lama, esok harinya saya langsung ke Dokter lainnya di RSUD Bekasi. Hari itu adalah hari kesepuluh saya menderita gangguan telinga. Saya mendapatkan pelayanan yang lebih baik dari RS sebelumnya. Saya pun menemui Dokter THT disana, namanya dr. Satria. Dia memberikan pemeriksaan yang jauh lebih baik. Ia memeriksa telinga dan hidung saya dengan lebih seksama. Menanyakan hal-hal yang terkait dengan gejala penyakit dan bagaimana gaya hidup saya. Kali itu saya baru merasakan bahwa inilah yang namanya Konsultasi.

Dr. Satria akhirnya mengerti bagaimana kondisi saya, kemudian memeriksa hasil rontgen saya. Dia setuju bahwa memang ada penebalan yang akan menjadi bakal Polip, dan penebalan ini menggangu  sirkulasi udara di rongga THT. Tapi ia bilang, untuk kasus saya ini TIDAK PERLU DIOPERASI. Dia memberikan saya resep obat semprot hidung, dan menyarankan untuk olah raga teratur dan mengkompres belakang telinga dan leher dengan air hangat. Saya merasa sangat bersyukur dan tertolong.

Akhirnya setelah mengikuti saran dr. Satria, tiga hari kemudian saya SEMBUH. Sesekali ketika gangguan telinga datang, saya memang harus menggunakan obat itu lagi sebelum tidur, karena memang ini pengobatan jangka panjang.

Hikmah dari cerita ini, adalah...

Jangan langsung percaya kepada Dokter, apalagi dokter yang baru sekali memeriksa Anda dan menyuruh anda diberikan tindakan seperti operasi dan semacamnya. Saya tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa RSUD bisa lebih baik dari pada RS Swasta. Tapi sekali lagi ini kembali kepada Dokter yang menangani Anda. Ini adalah pelajaran bagi saya, tapi saya harap bisa bermanfaat juga untuk Anda.

Pernah mengalami hal serupa? Yuk Share di kolom comment di bawah...
Terima kasih ya sudah mampir di Blog saya..

Best Regards,


© Sally Ayumi
Maira Gall