Pernah lihat kupu-kupu yang sedang beterbangan kesana kemari? Sudah pernah lihat bagaimana sayap mereka mengepak dengan cepatnya? Pernahkah kau membayangkan, sekawanan kupu-kupu itu terbang di dalam kepalamu, menganggap bahwa otakmu adalah lahan bunga mekar kaya madu?
Karena bayangan itu, aku jadi sedikit alergi pada serangga itu.
Aku sedang bertarung menghadapi mereka, sulit sekali memaksa mereka keluar dari rongga kepalaku. Aku sulit untuk fokus. Tubuhku tidak menunjang peperangan ini. Aku menjadi sering sakit, dan ini tidak bagus.
Kupu-kupu nomor 1, namanya SKRIPSI.
Aku, mahasiswi semester akhir jurusan Ekonomi. sedang menyusun Skripsi. Jangan pikir ini menyenangkan atau apa. Ini membuatku gila. Ditambah lagi pertanyaan para pembaca yang tidak sabar menunggu novel kedua terbit. OH GOD! Kumohon dengan sangat, bersabarlah...
Deadline skripsiku adalah bulan Juli tahun ini, dan aku baru selesai mengerjakan draft outline beberapa menit yang lalu. Yup, tolong jangan ingatkan lagi bahwa ini sudah pertengahan April. Aku lebih suka menulis apa yang ada dipikiranku, mengeluarkan satu demi satu kupu-kupu ini dari sana, dan melihat mereka terbang dengan sendirinya. Tapi kupu-kupu yang satu ini, SKRIPSI, tidak mau keluar begitu saja. Dia ingin diteliti dulu jauuuuh lebih dalam lagi, sebelum dia bisa sekedar terbang melewati pintu keluar. Parahnya, kupu-kupu SKRIPSI berjumlah paling banyak dan mayoritas di dalam kepalaku.
Kupu-kupu nomor 2, namanya Daily Work
Aku bekerja sebagai Asisten Eksekutif Junior sekaligus Receptionist Front Desk di kantor Transparency International Indonesia, sebenarnya aku menikmatinya. Sangat. Aku belajar banyak disana, belajar mencari apa yang belum kupelajari di bangku kuliah. Namun proses pembelajaran itu juga sama sulitnya keluar dari kepalaku, karena dia butuh ekstra fokus. Sulit untuk fokus ketika siapapun BERHAK meletakkan dokumennya sembarangan di meja saya, dan memindahkan buku-buku catatan saya seenaknya, menginterupsi saya dengan kegiatan dan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang seharusnya tidak harus dijawab oleh saya.
Fuih, kupu-kupu ini butuh perhatian khusus rupanya.
Kupu-kupu nomor 3, namanya Homesick
Aku benci mengakuinya, namun aku memang merasakannya.
Aku sendiri yang ngotot kepingin kost untuk menghemat tenaga dalam rangka penulisan SKRIPSI.
Tapi, ternyata jauh dari Mama dan Papa itu sama sekali tidak enak.
Apalagi tiap kali pulang ke rumah, keadaan rumah selalu bagaikan DISASTER.
Kesibukan SEMUA anggota keluarga, ditambah lenggak lenggok si putih Timid memebuat semuanya sangat pas disebut PARAH.
Aku rasanya ingin kembali tinggal disana, membenahi semuanya. Hai Kupu-kupu HomeSick, akan kuhadapi kau setiap akhir pekan.
Ketiga jenis kupu-kupu itu saling berkaitan di kepalaku. Menari-nari tidak mau tahu. Tapi aku tidak akan menyerah. Seperti Spongebob yang siap dengan jaring ubur-ubur, aku pun akan memburu mereka satu per satu.
Hanya butuh satu kata kunci, SEMANGAT.
Senyum terus,
Sally.
