Monday, October 9, 2017
Our Baby is NOT a Public Figure (yet). She's just a baby!
Sunday, August 20, 2017
Resep MPASI Rumi❤ #4 Bubur Ayam Wortel
Sebentar lagi Rumi genap 8 bulan, Mamanya coba bikin bubur lembek tapi gak pake disaring/blender lg biar naik teksturnya pelan2.😊
Hasilnya? Rumi gak begitu suka tekstur kasar begini, maunya yg lembut.. jadinya makannya kurang lahap deh. Gapapa ya Rumi sayang pelan2 belajarnya.. 😅😅😅
Bubur Ayam Wortel
Bahan:
- Beras merah 2 sdm
- Beras Putih 2 sdm
- Wortel parut
- Ceker Ayam 1 buah
- Daging Ayam Fillet 1 sdm
- Unsalted Butter 1 sdm
- Bawang Putih 1 siung geprek
- Air 3 gelas
Cara Memasak:
Cemplung semua ke dalam rice cooker. Masak sampai matang. Aduk rata.
Done!
Saturday, August 12, 2017
Resep MPASI Rumi❤ #5 Bubur Salmon Merah Putih
Menu #MPASI Rumi hari ini:
Bubur Salmon Merah Putih🐇🐰
@mpasibayisehat @mpasidansikecil @mpasibayi @mpasibayii
Masak #mpasi pake rice cooker ternyata lebih praktis yo. Sambil nunggu mateng bisa nemenin si bayi main. 🐢🐢🐢
Bahan:
Beras Merah 1 sdm
Beras putih 2 sdm
Wortel 1/2 buah ➡ Parut halus
Unsalted butter 1 sdt
Daging Ikan Salmon ➡ suwir2 halus
Air secukupnya dikira2 cukup utk masak sampai jadi bubur.
Cara masak:
1. Cemplung semua bahan ke dalam panci rice cooker dan masak sampai matang. Ketika sudah matang aduk2 rata.. wanginya endeees banget... cek tekstur dan tambah air bila perlu.
2. Bila tekstur kurang halus, blender/saring bubur bayi. Ambil bagian yg sudah disaring.
3. Sajikan sesuai porsi makan bayi dengan kasih sayang😙
4. Simpan bubur yg tersisa dalam wadah tertutup rapat dan masukkan ke dalam magic com/rice cooker supaya keep warm.
Reaksi Rumi: suka makanannya tapi gak konsen makan karena sibuk main. Aduh.. ada tips gak supaya anak konsen ke makanan?
Thursday, August 3, 2017
ASI & SUFOR UNTUK RUMI
Hari ini saya mau cerita kisah yang bikin saya patah hati.
Seperti Ibu-ibu modern jaman sekarang, saya pun juga ikut ritual pumping dan storing ASI supaya Rumi tetap bisa konsumsi ASI walaupun saya tinggal kerja. Saya berhasil menyusui Rumi secara eksklusif sampai usianya 6 bulan.
Memasuki usia 7 bulan, freezer yg tadinya full ASI perah makin lama makin kosong. Kebutuhan Rumi minum ASI semakin banyak seiring pertumbuhannya. Dan saya gak bisa ngejar demand Rumi. Saya pompa 2 jam sekali tapi hasilnya tidak sebanyak bulan-bulan awal melahirkan.
Saya mulai panik, karena idealnya ASI tetap diberikan sampai usianya 2 tahun. Saya masih bisa menyusui Rumi, tapi kalau dipompa hasilnya tidak banyak lagi. Kurang.
Booster? Gak ngaruh banyak ya di saya. Tapi setelah saya introspeksi diri, memang saya banyak melakukan kesalahan:
1. Kalau di kantor, sibuk sama komputer sampai lupa minum. Di rumah juga minum kalau habis makan aja. Saya merasa kurang minum air putih.
2. Kurang makan sayuran hijau. Makan siang seketemunya aja. Kadang ya menunya kurang sehat mungkin. Contoh, makan ayam penyet atau pecel lele. Sayurannya cuma dari lalapan yg sedikit di pojokan piring.
3. Gak bawa bekal dari rumah, karena most of everyday saya rempong gak sempet bikin-bikin bekal. Padahal kalau niat harusnya bisa. Siapin menu sehat dari rumah.
4. Beli susu soya dan obat pelancar ASI dari dokter, tapi gak rutin minumnya.
5. Masih suka skip jadwal pumping, misal gara2 saya meeting kelamaan di kantor, padahal sudah harus pumping. Atau karena macet di jalan, payudara sudah 'ngajak' ngeluarin ASI tapi tertunda.
6. Saya bekerja. Artinya frekuensi Rumi untuk menyusu langsung akan berkurang. Adahal stimulasi terbaik untuk produksi ASI ya dari hisapan bayi.
Kira-kira itulah beberapa kesalahan saya setelah saya evaluasi lagi ke belakang. Sekarang, Rumi yg harus menanggung akibatnya.
Sehari-hari Rumi diasuh Oma-nya, biasanya Rumi minum 5-6 botol @100ml ASIP selama seharian saya tinggal kerja.
Tapi kini saya hanya bisa menyediakan 3-4botol ASIP @100ml (bahkan kadang kurang dari itu) untuk seharian.
Demi menghemat stok ASIP, Oma sering mengalihkan perhatian Rumi ketika dia mulai menangis minta ASI. Diajak jalan-jalan keluar rumah melihat kucing atau diajak main mainannya.
Memang awalnya berhasil, tapi sekarang tidak lagi. Rumi tetap menangis.
Saya sangat merasa bersalah pada Rumi, karena ASI adalah hak-nya. Saya juga takut Rumi kekurangan nutrisi ketika dia sedang masa pertumbuhan.
Sampai akhirnya, saya dan suami terpaksa beli sufor (susu formula) untuk memenuhi kebutuhan susunya.
Rutinitas pumping tetap saya lakukan, malah sekarang makin rajin. Dan sufor hanya diberikan ketika stok ASIP pada hari itu sudah habis. Hanya ketika keadaan 'darurat'.
Patah hati? Pasti. Sedih dan kecewa. Merasa amat sangat bersalah. Saya ini ibu macam apa.. kok gak mikirin hak anak..??
Miris sekali yang saya rasakan melihat Rumi kekurangan ASIP. Beruntung suami pengertian sekali. Dia tetap mendukung saya dengan segala perhatiannya dan bantuannya mengurus Rumi sehari-hari.
Kalau nanti Rumi besar dan baca tulisan ini, Mama mau minta maaf ya sayang. Mama masih harus banyak belajar. Mama masih banyak kekurangan. Mama tidak sempurna sebagai Ibu. Jadi, kita belajar sama-sama ya Nak...
Thursday, July 27, 2017
Resep MPASI Rumi❤ #3 Bubur Tofuto
Tuesday, July 25, 2017
Arti Nama Rumi
Waktu itu pernikahan kami menginjak usia 9 bulan tapi saya belum juga positif hamil. Kami berdoa bahwa kami ingin memiliki keturunan yang soleh atau solehah, yang bisa menjadi penyejuk hati kami, yang menjadi pengikat cinta kami.
Perjalanan di Turki sangat membekas di ingatan kami, sampai sepulangnya dari Turki saya akhirnya hamil. Subhanallah, Maha Besar Allah yang mengabulkan permintaan hamba-Nya. Yang Maha Tahu kapan kami siap, kapan kami pantas mendapatkan titipan ini.
Sunday, July 23, 2017
Resep MPASI Rumi❤ #2 Bubur Salmon Wortel Pokcoy
- Salmon
- Air
- Pokcoy (Atau Pakcoy?? Yaa itulah..)
- Wortel
- unsalted butter
Resep MPASI Rumi❤ #1 Bubur Kaldu Ceker
Bahan:
- Nasi
- Sepasang ceker ayam kampung (ga harus ayam kampung sih, ayam biasa juga boleh)
- Air
- Pokcoy (Atau Pakcoy?? Yaa itulah..)
- tempe
- unsalted butter
Cara membuat:
1. Cuci bersih cekernya, geprek dulu supaya sum-sum tulangnya lebih mudah keluar di kaldunya nanti.
2. Rebus dengan air secukupnya sampai jadi kaldu. Biasanya minyak2nya akan keluar dan ada gelembung kecil2... baunya jadi gurih. Kaldu siap!
3. Masak nasi secukupnya dengan air supaya jadi bubur, kira2 aja biasa anak makan berapa banyak. Saya selalu masak untuk 3x makan.
4. Campurkan kaldu ceker, pokcoy, unsalted butter dan tempe. Masak sampai semua matang.
5. Blend / Saring bubur dan atur tekstur dengan air/ kaldu. Cicipi dulu sebelum diberikan ke bayi ya Moms.. pastikan jangan terlalu panas..
6. Bubur siap disajikan!
Wednesday, May 17, 2017
Makna Yang Tersirat
Friday, March 24, 2017
Cerita Persalinan
Kontraksi
Pada usia kehamilan 37 minggu, adalah saat dimana harap-harap cemas. Ketika kontraksi palsu bolak-balik melanda, dan kontraksi sebenarnya bisa datang sewaktu-waktu.
Melahirkan normal, adalah satu-satunya harapan saya. Untuk di operasi cesar, saya takut setengah mati, harus tiduran dan perut dibedah. Saya selalu berdoa bisa melahirkan normal. Harapan saya ini juga bukan tanpa usaha, yang bisa saya lakukan adalah banyak-banyak jalan kaki, terutama di pagi hari. Menambah waktu sujud lebih lama ketika sholat, berdoa dan mengaji. Pendekatan spiritual itu penting menurut saya, dapat menenangkan hati yang gundah gulana. Kondisi kehamilan saya saat itu sehat, posisi kepala bayi sudah bagus walaupun ada 1x lilitan tali pusat. Tapi dokter masih yakin saya bisa melahirkan secara normal.
Saya ingat, waktu itu kehamilan saya memasuki usia 38 minggu, dan seperti biasa pas weekend suami ngajak jalan keluar. Waktu itu saya diajak ikut ngumpul bareng teman-temannya di FX mall trus lanjut nengokin temannya yang lagi sakit di RS. Seharian itu saya banyak jalan kaki. Malamnya, dari daerah Sudirman Jakarta saya ngajak suami makan di bilangan Tebet, mendadak kepengin makan angkringan langganan kita berdua. Jauh memang, tapi suami langsung setuju aja. Padahal kita naik motor loh.
Entah karena kecapean atau apa ya, baru selesai makan, perut saya tiba-tiba sakit. Saya pikir ini kontraksi palsu, tapi kok susah banget mau berdiri. Akhirnya saya duduk dulu sampai sakitnya hilang. Ketika sakitnya hilang, saya dan suami langsung meluncur pulang. Di perjalanan perut saya sakit-sakitan terus, akhirnya saya minta dibawa ke rumah sakit aja langsung.
Sesampainya di Rumah Sakit, langsung ke ruang bersalin. Saya diperiksa dalam oleh Bidan, ternyata saya sudah pembukaan 1. Kami disuruh pulang dan saya disuruh banyak gerak. Sepulangnya dari RS saya langsung istirahat dan tidur.
Besoknya, saya habiskan waktu kerja di rumah. Menyikat kamar mandi, cuci piring, cuci baju, jemur, setrika. Hari itu Papa dan Iyo adik bungsu saya datang untuk stand by dengan mobil kalau sewaktu-waktu harus diantar ke Rumah Sakit.
Berkutat dengan Pembukaan
27 Desember 2016. Sekitar jam 10 malam, ketika semua orang di rumah sudah tidur, saya malah gak bisa tidur. Perut cenut-cenut. Awalnya saya masih tahan, tapi kok sakitnya gak hilang-hilang. Capek dan kesakitan saya akhirnya terpaksa bangunin suami dan Papa.
Jam 12 malam lewat, berganti hari memasuki tanggal 28 Desember 2016. Dini hari saya di bawa ke RS. Ketika diperiksa, saya sudah pembukaan 2. Hasil pemeriksaan CTG (rekam jantung) bayi saya kurang bagus, mungkin penyebabnya karena lilitan tali pusat itu, sehingga saya harus bedrest dan dipasang selang oksigen di Rumah Sakit. Ini yang membuat pembukaan saya tak kunjung bertambah.
Paginya perut saya terasa baik-baik saja, kontraksi memang berasa tapi belum terlalu sering. Setelah mendapat izin dari Dokter dan Bidan, saya boleh berjalan-jalan di sekitar RS untuk mempercepat pembukaan secara alami. Saya excited sekali karena sebentar lagi akan bertemu dengan bayi yang saya kandung selama 9 bulan lebih.
Sampai sore hari, saya merasa bosan sekali menunggu pembukaan yg tak juga bertambah, kondisi saya juga tidak diperbolehkan pulang. Berkali-kali saya di CTG dan keluarga juga sudah berdatangan ke RS. Akhirnya sore itu saya habiskan dengan makan mie ayam di kantin RS sambil santai dan ketawa-tawa.
Satu hal yang menjadi kekhawatiran saya adalah, dokter kandungan saya dr. Triani Ismelia, Spog sedang cuti akhir tahun berlibur ke China. Kabarnya, hari itu dia baru akan mendarat di Jakarta. Jadi selama saya menunggu di RS, saya belum bertemu dokter saya sama sekali.
Malam harinya, perut saya belum juga bertambah mules. Sampai akhirnya jam 10 malam Bidan mengajak saya bertemu dokter kandungan yang sedang praktek malam itu, dr. Arju Anita Spog. Saya diperiksa dokter Arju, dia melihat kondisi bayi saya bagus, walaupun ada lilitan. Ketika sedang melakukan pemeriksaan dalam alias memasukkan jari ke vagina saya, Saya bertanya kenapa saya tidak juga nambah mules, dia jawab, "Ini sudah bukaan 3 Bu. Jadi Ibu mau mules? Biar cepet ya, saya bikin mules ya."
Tiba2.. srekk... terasa banget jarinya seperti "menyogrok" saya. Gak ngerti lagi deh apa yang dr.Arju lakukan, tapi abis itu saya langsung merasa kesakitan.
Assalamualaikum, Rumi
Tanggal 29 Desember 2016, dini hari tepatnya pukul 2 pagi, perut saya mulai kontraksi hebat. Sudah gak bisa ketawa lagi, saat itu cuma ada Mama yang nemenin di RS. Saya kesakitan sampai air mata keluar, tapi gak ada yang bisa dilakukan. Saya tidak berhenti berdzikir dan memohon kekuatan dari Allah supaya bisa melahirkan dengan lancar.
Semalaman saya tidak tidur, mulut saya sampai kering karena berdzikir dengan keras, "Laa hawla wa laa quwwata illa billah” berbagai posisi saya coba, tapi sakitnya tak kunjung reda. Saya terus menghirup oksigen dari selang dan menahan sakit yang makin lama makin menjadi. Bidan datang entah jam berapa, dan melakukan pemeriksaan dalam untuk kesekian kalinya. Sudah bukaan 4.
Saya memang paling payah menahan sakit. Tapi saya masih diberikan kesadaran, bahwa daripada menjerit, lebih baik saya mengalihkannya menjadi dzikir dan takbir. Saya terus menyebut nama Allah, dengan segala kepasrahan saya sebagai hamba-Nya. Apapun yang Allah kehendaki, saya pasrah.
Pagi hari jam 6, suami saya datang membawa pakaian dan keperluan lain. Dia sigap memijit kaki dan tangan saya. Saya terus memohon supaya tidak ditinggal. Pagi itu suami dan Mama memaksa saya untuk sarapan. Tapi sakit yang luar biasa membuat nafsu makan hilang. Saya ingat sekali, hanya 2 sendok bubur yang bisa saya telan. Selain itu hanya susu beruang 1 kaleng, sari kurma beberapa sendok, madu beberapa sendok, dan air putih.
Kepanikan mulai muncul ketika badan saya semakin lemah dan lemas diserang rasa sakit yang menjalar ke punggung dan kaki saya. Telapak kaki saya rasanya dingin sekali dan saya meminta dipakaikan kaus kaki.
Dokter Triani belum tiba juga di RS, dan saya pasrah dengan siapa saya akan melahirkan. Harapan saya cuma satu, bayi ini segera keluar dengan selamat.
Saya ingat, sekitar jam 11 pagi, bukaan 5. Vagina rasanya seperti didorong-dorong dengan kuat sekali dari dalam. Bayi saya rasanya mau lompat keluar. Ada refleks untuk ngeden. Tapi semua melarang untuk ngeden sampai bukaan lengkap. Saya panik dan ketakutan karena selalu refleks ngeden ketika bayi mendorong.
Astaghfirullah, saya panik, takut, sedih, kesakitan dan lemah. Saya tidak mau dioperasi.
Namanya Rumi, bayi yang selama ini menendang di perut saya. Rumi sudah lahir ke dunia dengan selamat, lengkap dan sempurna. Alhamdulillah ya Allah, dalam hati saya bersyukur banyak-banyak.
Perawatan saya belum selesai. Saya mendapat suntikan anti pendarahan di paha. Dokter Triani masih sibuk mengeluarkan plasenta dan menjahit vagina saya. Karena dibius, saya tidak merasa apa-apa ketika dijahit, yang saya rasakan hanya lelah, lemas, capek luar biasa. Seperti tidak ada tenaga sama sekali. Bahkan untuk mengangkat tangan saja saya tidak kuat. Saya terus menghirup oksigen dari selang, dan Mama memberi saya minum air.
Karena saking hebohnya ngeden itu tadi, jarum infus di tangan kiri saya sampai lepas, sempat keluar darah agak banyak dari tangan kiri saya, menetes ke lantai. Jadi selesai menjahit, dr. Triani menangani tangan saya yang berdarah-darah.
Saya masih mendengar suara tangis Rumi yang sepotong-sepotong, saya lihat bidan juga berusaha menepuk-nepuk pantatnya supaya menangis lebih keras. Tapi dia terlalu lemah untuk itu. Bidan kemudian mengangkatnya dan meletakannya di dada saya untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Mulutnya ditempelkan ke puting susu saya, tapi sekali lagi, Rumi hanya bisa menangis terbata-bata tanpa bisa menghisap. Kegagalan IMD itu membuat saya patah hati. Saya merasa sedih dan sangat bersalah, karena saya tidak kuat ngeden dia terlalu lama di jalan lahir, kekurangan oksigen yang membuat dia lemah. Saya ingat Ricky buru-buru mengambil air wudhu dan mengadzani Rumi di dekat telinganya. Rumi kemudian dipindahkan ke ruang perawatan bayi untuk dipasang selang oksigen dan dihangatkan dalam inkubator.
Setelah semuanya selesai, dr. Triani menyelamati saya dan berpamitan. Saya disuruh beristirahat dan diobservasi selama 2 jam sebelum dipindahkan ke kamar rawat inap. Ketika semua orang keluar ruangan, saya menangis sejadi-jadinya. Saya merasa khawatir dan sangat amat bersalah dengan apa yang dialami Rumi.
Mama dan Mama Mertua datang untuk menghibur saya dan menenangkan saya. Ricky juga ada di sana, menghibur saya dengan leluconnya seperti biasa. Saya tidak akan pernah lupa, Ricky membisikkan ucapan terima kasih karena telah melahirkan putrinya dengan selamat. Saya masih menangis tanpa bisa menjawab. 3 hari kemudian, kondisi saya dan RUmi sudah stabil dan diizinkan pulang, tepatnya tanggal 1 Januari 2017.
Hari kelahiran Rumi tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Hadiah di awal tahun 2017. Memori di hari itu akan selalu menjadi motivasi bahwa ternyata saya cukup kuat menahan sakit. Bahwa saya adalah perempuan yang berani dan bisa melalui semuanya.
Ketika saya capek, atau sakit di masa depan nanti, saya akan mengingat lagi perjuangan hari itu supaya saya ingat, tidak ada yang tidak bisa saya lakukan di dunia ini. Supaya api semangat terus berkobar dalam hati, untuk mengabdikan hidup saya merawat dan mendidik Rumi sampai ia dewasa nanti. Amiin ya Rabb.
Assalamualaikum, Rumi! Terima kasih telah menjadi penyejuk hati kami, wahai anugerah terindah dari Allah SWT.






