 |
| Gambar dari Google, bukan punya saya |
Sejak akhir bulan Februari, kami sekeluarga diuji lagi oleh Allah. Rumi putriku sakit mulai dari radang tenggorokan, batu pilek, sampai alergi bentol sebadan yang masih belum diketahui dari mana pemicunya.
Rumi kehilangan nafsu makan drastis, sehari mungkin hanya masuk 4 sendok makanan.Tapi layaknya balita, dia tetap ceria dan main tak ada habisnya. Alhamdulillah saya masih diberi kemampuan untuk menyusui di usia Rumi yang menginjak 15 bulan, langsung maupun tidak langsung. Jadi setidaknya Rumi masih dapat asupan nutrisi dari ASI.
Setelah bolak-balik berobat ke Dokter, Alhamdulillah kondisi Rumi membaik. Saat ini Rumi masih suka pilah-pilih makanan, tapi setidaknya sudah lebih banyak yang masuk dibanding sebelumnya. Kami masih lanjutkan pengobatan sesuai anjuran dokter. Semoga ke depannya, Rumi bisa kembali sehat seperti sedia kala. Aamiiin Yaa Rabbal Alaamiiin.
Karena kondisi anak sakit, absensi saya di kantor pun kena imbasnya. Kadang capek dan malu sendiri harus bolak balik minta izin sama atasan. Alhamdulillah, atasan saya ini adalah termasuk orang-orang paling bijaksana yang pernah saya kenal. Walaupun mungkin ada juga yang melihat "kelakuan" saya di kantor, yang sering izin datang siang atau tidak masuk kerja, kemudian nyinyir.. "Enak banget dia bisa kerja seenak udelnya, sementara kita harus datang pagi." Yaah, pasti ada laah yang begitu walaupun bukan di depan saya ngomongnya.
Tapi ngomong-ngomong soal nyinyir atau julid (kata anak jaman now), apapun yang kita lakukan, baik buruknya pasti ada aja kok yang gak suka dan kemudian nyinyir. Kalo saya pun tetap disiplin di kantor sementara anak sakit di rumah, tetangga yang mulai nyinyir, "Ibunya kemana? Kerja? Lagi sakit kok ditinggal?"
Saya percaya dalam setiap kondisi, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup. Saya dan suami memilih untuk punya anak, artinya kami berani memilih untuk bertanggung jawab seumur hidup.
Saya masih bekerja dan menitipkan anak pada ibu mertua dan kadang ibu saya sendiri. Kedua neneknya itu bergantian mengasuh Rumi, itulah mengapa saya memilih untuk tinggal dekat dengan ibu saya. Berhasil untuk sementara ini, tapi makin berjalannya waktu supporting system saya dalam pengasuhan Rumi mulai njomplang.
Saya sadar, kedua ibu saya ini punya tanggung jawabnya masing-masing. Masih punya kegiatan dan aktivitas yang menunggu untuk diselesaikan. Ora iso kalau harus stay di rumah terus untuk jagain cucu.
Hello, Rumi is my child. My daughter.
Salah kalau saya marah atau kecewa pada kedua ibu saya yang sering gak ada waktu jaga Rumi yang artinya saya harus izin ngantor lagi. Again and again.
Saya maklum pada kedua ibu saya, karena jagain anak balita di rumah itu gak sesimpel kalimatnya. Kerjanya literally jungkir balik, mulai dari masak, nyuapin, mandiin, bebenah, ngelonin, ngedidik, ngajak main, kadang kaki ga sengaja nginjek lego atau kadang ke toilet ga bisa nutup pintu karena sambil diliatin dan ditungguin bocah. Yang paling gak boleh dilupakan, dalam segala aktivitas di rumah, kita harus terus menanamkan nilai-nilai baik mulai dari baca doa sebelum makan, sampai jadi orang penyabar ketika kartunnya dipotong iklan dia gak boleh ngamuk.
Some people say, "Cari pengasuh dong!"
Oh No, Big No No.
Selain karena biayanya terlalu mahal, ga ada jaminan khusus pengasuh bakalan 100% care sama anak kita. Gak keitung lagi kasus pengasuh jahatin anak majikan. Oh No, better not than be sorry.
Some people say (lagi) "Yah, wanita itu emang fitrahnya jadi ibu gak usah ngeluh laah. Kalo mau jadi ibu bekerja itu ya emang pasti ada double burden.
Hmm, saya agak kurang setuju sih kalo dibilang double burdens. Disitu ada kata burden.
Burden = Beban.
My child is not a burden. Anak bagi saya sama sekali bukan beban. Anak adalah generasi penerus kami. Dititipkan Allah kepada saya mulai dari dia tumbuh di rahim saya, lahir ke dunia dan sampai seumur hidup kami nanti wajib menyayangi dia. Kami bahkan berdoa siang malam untuk diberi anak. Tentu dalam hal ini kami bukan meminta apa yang mereka sebut beban. Kami minta keturunan dan kebahagiaan.
Anak adalah penyejuk hati kami dan pemberi cahaya di keluarga kami. Suka dukanya dalam mengurus anak itu adalah bentuk tanggung jawab dan cinta kami, ladang pahala dan abdi kami sebagai orang tua. Tugas utama.
Seperti yang saya sebut di atas, hidup adalah pilihan. Jadi apa pilihan saya?
Saya memilih untuk meninggalkan pekerjaan saya di kantor untuk bekerja di rumah.
And again people say, "Sayang banget lo ninggalin kerjaan, terus di rumah doang."
Then, let people say what they want to say.
It's 2018 and you can do anything via internet and phone calls. Teknologi sudah maju, Buuu. Stay at home gak berarti kita gak bisa earn money. Gak percaya? Sok atuh google sendiri kerjaan apa aja yang bisa dikerjain dari rumah. Lagian cari nafkah itu kewajiban suami lho, Bu. Suaminya kerja gak Bu?
Bagaimana menentukan pilihan adalah tentang prioritas. Sejak saya hamil dan melahirkan, prioritas saya switch 180 derajat. Pikiran saya adalah tentang anak saya dan kesejahteraannya. Prioritas tiap orang bisa saja berbeda. Tapi kalau pilihanku tak sama denganmu, setidaknya saling menghormati saja, gak usah nyinyir ya buu.
Diketik diatas gerbong kereta KRL Commuter Line Bekasi-Manggarai. 20 Maret 2018.