Wednesday, May 16, 2018

Belajar Ikhlas

Kebaikan kepada manusia belum tentu berbalas kebaikan pula.
Tapi kebaikan kepada Allah, pasti tercatat sebagai pahala.

Amal baik dan buruk walau sekecil apapun tidak akan ada yang luput terhitung, karena Roqib dan Aatid tidak pernah absen.

Coba dihitung lagi dan syukuri nikmat yang kita terima. Pastilah nikmat Allah terlalu banyak, terlalu luas dan tak akan pernah selesai hitungannya. 

Bersyukur dan merasa cukup adalah upaya kita supaya ikhlas.

Orang kaya sebenarnya bukanlah mereka yang banyak hartanya, tapi mereka yang selalu merasa cukup.

Penghargaan terbaik bukanlah dari manusia. Penghargaan sesungguhnya datangnya dari Sang Maha Kaya.

This statement is dedicated as lesson learned of this week, just for myself....







Tuesday, March 20, 2018

Prioritas dan Pilihan

Gambar dari Google, bukan punya saya


Sejak akhir bulan Februari, kami sekeluarga diuji lagi oleh Allah. Rumi putriku sakit mulai dari radang tenggorokan, batu pilek, sampai alergi bentol sebadan yang masih belum diketahui dari mana pemicunya.

Rumi kehilangan nafsu makan drastis, sehari mungkin hanya masuk 4 sendok makanan.Tapi layaknya balita, dia tetap ceria dan main tak ada habisnya. Alhamdulillah saya masih diberi kemampuan untuk menyusui di usia Rumi yang menginjak 15 bulan, langsung maupun tidak langsung. Jadi setidaknya Rumi masih dapat asupan nutrisi dari ASI.

Setelah bolak-balik berobat ke Dokter, Alhamdulillah kondisi Rumi membaik. Saat ini Rumi masih suka pilah-pilih makanan, tapi setidaknya sudah lebih banyak yang masuk dibanding sebelumnya. Kami masih lanjutkan pengobatan sesuai anjuran dokter. Semoga ke depannya, Rumi bisa kembali sehat seperti sedia kala. Aamiiin Yaa Rabbal Alaamiiin.

Karena kondisi anak sakit, absensi saya di kantor pun kena imbasnya. Kadang capek dan malu sendiri harus bolak balik minta izin sama atasan. Alhamdulillah, atasan saya ini adalah termasuk orang-orang paling bijaksana yang pernah saya kenal. Walaupun mungkin ada juga yang melihat "kelakuan" saya di kantor, yang sering izin datang siang atau tidak masuk kerja, kemudian nyinyir..  "Enak banget dia bisa kerja seenak udelnya, sementara kita harus datang pagi." Yaah, pasti ada laah yang begitu walaupun bukan di depan saya ngomongnya.

Tapi ngomong-ngomong soal nyinyir atau julid (kata anak jaman now), apapun yang kita lakukan,  baik buruknya pasti ada aja kok yang gak suka dan kemudian nyinyir. Kalo saya pun tetap disiplin di kantor sementara anak sakit di rumah,  tetangga yang mulai nyinyir, "Ibunya kemana? Kerja? Lagi sakit kok ditinggal?"

Saya percaya dalam setiap kondisi, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup. Saya dan suami memilih untuk punya anak, artinya kami berani memilih untuk bertanggung jawab seumur hidup.

Saya masih bekerja dan menitipkan anak pada ibu mertua dan kadang ibu saya sendiri. Kedua neneknya itu bergantian mengasuh Rumi, itulah mengapa saya memilih untuk tinggal dekat dengan ibu saya. Berhasil untuk sementara ini, tapi makin berjalannya waktu supporting system saya dalam pengasuhan Rumi mulai njomplang.

Saya sadar, kedua ibu saya ini punya tanggung jawabnya masing-masing. Masih punya kegiatan dan aktivitas yang menunggu untuk diselesaikan. Ora iso kalau harus stay di rumah terus untuk jagain cucu.

Hello, Rumi is my child. My daughter.
Salah kalau saya marah atau kecewa pada kedua ibu saya yang sering gak ada waktu jaga Rumi yang artinya saya harus izin ngantor lagi. Again and again.

Saya maklum pada kedua ibu saya, karena jagain anak balita di rumah itu gak sesimpel kalimatnya. Kerjanya literally jungkir balik, mulai dari masak, nyuapin, mandiin, bebenah, ngelonin, ngedidik, ngajak main, kadang kaki ga sengaja nginjek lego atau kadang ke toilet ga bisa nutup pintu karena sambil diliatin dan ditungguin bocah. Yang paling gak boleh dilupakan, dalam segala aktivitas di rumah, kita harus terus menanamkan nilai-nilai baik mulai dari baca doa sebelum makan, sampai jadi orang penyabar ketika kartunnya dipotong iklan dia gak boleh ngamuk.

Some people say, "Cari pengasuh dong!"

Oh No, Big No No.
Selain karena biayanya terlalu mahal, ga ada jaminan khusus pengasuh bakalan 100% care sama anak kita. Gak keitung lagi kasus pengasuh jahatin anak majikan. Oh No, better not than be sorry.

Some people say (lagi) "Yah, wanita itu emang fitrahnya jadi ibu gak usah ngeluh laah. Kalo mau jadi ibu bekerja itu ya emang pasti ada double burden.

Hmm, saya agak kurang setuju sih kalo dibilang double burdens. Disitu ada kata burden.
Burden = Beban.

My child is not a burden. Anak bagi saya sama sekali bukan beban. Anak adalah generasi penerus kami. Dititipkan Allah kepada saya mulai dari dia tumbuh di rahim saya, lahir ke dunia dan sampai seumur hidup kami nanti wajib menyayangi dia. Kami bahkan berdoa siang malam untuk diberi anak. Tentu dalam hal ini kami bukan meminta apa yang mereka sebut beban. Kami minta keturunan dan kebahagiaan.

Anak adalah penyejuk hati kami dan pemberi cahaya di keluarga kami. Suka dukanya dalam mengurus anak itu adalah bentuk tanggung jawab dan cinta kami, ladang pahala dan abdi kami sebagai orang tua. Tugas utama.

Seperti yang saya sebut di atas, hidup adalah pilihan. Jadi apa pilihan saya?
Saya memilih untuk meninggalkan pekerjaan saya di kantor untuk bekerja di rumah.

And again people say, "Sayang banget lo ninggalin kerjaan, terus di rumah doang."

Then, let people say what they want to say.

It's 2018 and you can do anything via internet and phone calls. Teknologi sudah maju, Buuu. Stay at home gak berarti kita gak bisa earn money. Gak percaya? Sok atuh google sendiri kerjaan apa aja yang bisa dikerjain dari rumah. Lagian cari nafkah itu kewajiban suami lho, Bu. Suaminya kerja gak Bu?

Bagaimana menentukan pilihan adalah tentang prioritas. Sejak saya hamil dan melahirkan, prioritas saya switch 180 derajat. Pikiran saya adalah tentang anak saya dan kesejahteraannya. Prioritas tiap orang bisa saja berbeda. Tapi kalau pilihanku tak sama denganmu, setidaknya saling menghormati saja,  gak usah nyinyir ya buu.

Diketik diatas gerbong kereta KRL Commuter Line Bekasi-Manggarai. 20 Maret 2018.



Tuesday, January 16, 2018

Skincare Routine untuk Kulit Berminyak (Updated)

Assalamualaikum, di siang hari yang mendung ini, saya mau berbagi skincare routine saya yang sudah saya jalani sekitar setahun lebih. Ini adalah yang saya jalani sekarang, skincare yang ini sudah nggak saya jalani lagi.

Kulit saya jenis yang berminyak dan gampang jerawatan. Dulu, sebelum hamil saya rutin pake krim dari klinik kecantikan. Modelnya paket krim pagi, krim malam, sabun dll. Gak perlu saya sebut disini lah ya apa nama kliniknya. Pokoknya lumayan populerlah di Bekasi dan sekitarnya. Sebut saja E***s Estetika.Setelah tau saya hamil, langsung konsul ke dokter di klinik kecantikan itu lagi kan, eh katanya di stop dulu aja krimnya karena takut mempengaruhi bayi. Loh?

Saya agak shock sih waktu denger itu gak aman, langsung bener-bener gak mau pake lagi deh. Awal berhenti krim dokter memang sempat jerawatan lagi dan muka semakin minyakan. Tapi seiring perubahan hormon hamil, yah dinikmati aja karena memang gak boleh pake produk sembarangan kan ya. Jadi saya cuma pake drugstore product.

Ternyata saya merasa lebih nyaman seperti itu, selain nyaman di muka nyaman juga di kantong. Produk yang akan saya share disini mungkin cocok di saya tapi belum tentu cocok di kulit kamu yah, silakan coba dan temukan sendiri yang cocok. Saya bukan ahli kecantikan ya, saya hanya konsumen biasa seperti kamu juga. Oke deh langsung aja yah ke skincare routine nya.

Pagi:

Cuci muka pake Wardah C Defense Creamy Wash. Saya suka banget facial foam ini soalnya pake sedikit sudah cukup buat seluruh wajah, kuping bahkan leher. Wanginya juga seperti aroma jeruk jadi makin kerasa sense vitamin C nya.. bikin nyaman dan hasilnya terasa bersih di muka. Minusnya, kadang facial foam ini bikin kulit saya kering juga. Sebenernya ke depan masih akan hunting facial foam yang lebih calm di wajah, sih. Will update later yah.



Selanjutnya saya pake serum dari The Body Shop yang Tea Tree. Ini serum enak banget saya beli bisa dipake setahun, awet banget sumpah. Nyaman di muka dan jelas banget bisa mengurangi jerawat. Fix bakal repurchaseHighly Recommended!
Gambar dari sini
Setelah serumnya meresap sempurna di wajah, baru deh kita templokin pelembab yang super duper luar biasa magic ajaib bermanfaat banget yaitu Wardah Hydrating Aloe Vera Gel. Kalo di kemasannya mungkin ini sebenernya bisa dipake seluruh badan, tapi saya pakai ini di muka, mata dan leher. Karena efeknya ini bener-bener bisa ngatasin kulit kemerahan akibat jerawat dan bekas jerawat lukanya jadi cepet sembuh. Hasil yang paling baiknya adalah ini bisa membuat kulit semakin kenyaal dan sehat. Aih, cinta banget lah sama produk ini. Highly Recommended! Entah sampai kapan aku akan pake aloe vera ini, maybe forever. Hahaha..

Gambar dari sini
Nah setelah aloe vera ini menyerap dan kering, baru deh saya pakai Wardah DD Cream sebagai foundation sebelum make up saya sehari-hari. Kalo dibaca dari ulasan produknya, DD cram Wardah ini Mengandung Hi-Grade vitamin C 10% yang akan bekerja sinergis dengan Vitamin B3, Vitamin E dan Allantoin untuk membantu mencerahkan kulit dari dalam dan melindungi kulit dari radikal bebas serta meningkatkan regenerasi kulit. Dengan SPF30, PA+++ memberikan perlindungan optimal dari bahaya sinar UV A dan UV B. Membantu meratakan rona kulit sehingga nampak lebih halus dan cerah.


Gambar dari sini

Selanjutnya pakai make up seperti biasanya. Biasanya setelah aktivitas seharian, malam harinya saya lanjutkan skincare dengan bebersih wajah alias angkat semua yang saya templokin di muka hehehe. Pembersih wajahnya tetep cinta sama Viva Milk Cleanser dan Toner. Kalo yang ini aja udah oke, kenapa harus cari yang lebih mahal? Hihihi..

Gambar dari sini


Khusus untuk angkat make up mata, gak usah repot-repot, saya pake baby oil anak saya ajah udah tuntas dan aman nyaman di kulit.

Ketika sudah bersih semua, lanjut cuci muka, serum dan aloe vera lagi terus tidur deh!

Oke deh sekian dulu sharing saya semoga bermanfaat buat yang lagi cari skincare atau perawatan untuk kulit berminyak yaa...

Salam,

Sally Ayumi
© Sally Ayumi
Maira Gall