Wednesday, November 27, 2019

Tentang Menyusui

Dari sekian banyak cerita serunya menjadi orang tua baru, mungkin "menyusui" adalah tema yang paling menarik.

Sejak Rumi berusia 5 bulan dalam kandungan, itulah pertama kali ASI saya keluar dan saya pun harus bisa menyesuaikan perubahan-perubahan pada diri saya.

Ketika Rumi lahir, secara keseluruhan bayi Rumi sehat. Saya pun bisa belajar menggendong dan menyusuinya di awal kehidupannya.

Pertama kali menyusui rasanya sakit bukan main, ketika aliran susu menjalar keluar dari salurannya sampai ke mulut mungil yang kehausan. Sementara saat itu produksi ASI saya masih sedikiiit sekali.

Alhamdulillah saya sudah belajar sebelum melahirkan, bahwa memang ASI diproduksi sesuai perkembangan kapasitas perut bayi, tergantung supply and demand. Jadi saya tidak khawatir dan tetap optimis bahwa semakin lama ASI saya akan bertambah banyak.

Disini saya merasa betapa pentingnya mencari ilmu dan mengedukasi diri sebagai "ibu baru". Supaya kita gak jadi ibu yang hanya modal ilmu "katanya-katanya" atau berdasar mitos yg beredar di lingkungan sekitar.

Tapi kala itu dokter bilang kalau minumnya kurang, dia berpotensi "kuning" dan harus dirawat lebih lama di RS. Waktu itu yang ada di pikiran kami hanya bagaimana caranya saya harus bisa menyusui Rumi lebih sering, lebih banyak. Dokter menyarankan sebaiknya disusui per 2 jam sekali, dijemur dan jangan lupa pompa ASI lalu suapi dengan cup feeder.

Bagi saya segalanya terasa baru, exciting, challenging, sekaligus melelahkan dan merepotkan. Kurang tidur, badan sakit dan ngilu jahitan pasca melahirkan normal gak dirasa demi bayi Rumi sehat. Alhamdulillah, segalanya berjalan baik-baik saja berkat dukungan suami, mama, mama mertua dan orang-orang terdekat.

Memberikan ASI (terutama yang eksklusif 6 bulan) sambil bekerja adalah tentang perjuangan dan komitmen. Banyak sahabat saya yang menyerah di tengah jalan karena berbagai hal, kebanyakan faktor kesehatan atau ASI-nya sudah gak keluar. Jadi betapa saya mensyukuri nikmat ini, Allah mencukupkan ASI saya untuk memenuhi hak Rumi.

Selama 1 tahun 6 bulan saya tidak pernah absen memompa ASI demi kebutuhan stok nutrisinya di rumah, karena waktu itu saya masih bekerja. Saya ingat setiap hari harus bawa cooler bag dan botol-botol kaca ke kantor naik KRL. Harus sembunyi-sembunyi mompa ASI di balik meja karena memang kantor saya waktu itu belum punya nursery.

Saya ingat ketika pekerjaan mengharuskan ada aktivitas outdoor seharian, saya harus tetap memanage ASIP dan hanya mengandalkan 2 balok ice cube karena gak nemu kulkas. Buru-buru pulang demi kualitas ASIP tetap terjaga.

Ketika sudah resign dari kantor dan full mengurus Rumi, tantangan paling terasa ya ketika Rumi minta menyusu di tempat-tempat umum.

Saya ingat sering harus cari tempat persembunyian untuk menyusui, karena ga semua tempat punya nursery yg proper. Paling sedih itu waktu lagi belanja bulanan di sebuah mall, Rumi rewel minta nenen, nangis tak berhenti jadi terpaksa saya ngumpet di lorong yang cukup sepi karena tokonya tutup, saya duduk melantai, menghadap tembok dan menyusuinya. Ada sih beberapa orang yg lewat, melihat, biarlah.. Saya harus pasang muka tembok demi anak. Yang penting gak ngumbar aurat. Itulah sebabnya alat bantu seperti apron menyusui tak pernah ketinggalan dibawa kemanapun.

Menginjak usia 2 tahun, kami berniat menyapih Rumi dengan metode #weaningwithlove.

Kenapa disapih?
Supaya dia lebih mandiri.
Supaya pola makannya lebih baik lagi.
Supaya gak nyusu sepanjang malam jadi pencernaannya bisa istirahat.
Supaya bisa bersosialisasi lebih baik.
Supaya bisa belajar hal baru.
Supaya kuat dan berani.

Karena ASI sudah seperti candu baginya, dikit-dikit minta nenen. Sudah bukan kebutuhan utama dan lebih kepada rasa nyaman dan ngempeng aja. Produksi ASI saya pun sudah berkurang jauh, jadi rasanya sering sakit dan sudah tidak nyaman lagi bagi saya untuk tetap menyusuinya.

Target lepas ASI di bulan Januari 2019, tapi usaha kami gagal karena hati belum mantap dan mental belum kuat menghadapi tantrumnya. Bulan Maret 2019, Rumi harus dirawat karena DBD dan akhirnya jadwal sapih pun mundur lagi.

Menjelang Ramadhan, target kami adalah Rumi sudah lepas ASI di bulan Ramadhan supaya saya bisa lebih nyaman berpuasa, Rumi juga bisa belajar mandiri.

Mengurangi frekuensi menyusu bertahap, lalu mulai benar-benar berhenti menyusuinya di tanggal 3 Mei 2019. Tantrum? Pastinya. Kami melewati malam-malam dimana dia terbangun tengah malam, ngamuk minta disusui, tapi sudah tidak saya kasih lagi. Kami terus menerus memberinya pengertian dan sounding dengan kalimat positif.

"Rumi sudah besar sayang.
Maafin Mama, kalau Rumi haus kita minum air putih atau susu ya?
Kita belajar sama-sama ya.
Rumi sudah besar, sudah gak perlu nenen lagi.
Mama sayang Rumi."

Menyusui adalah momen yang penting, krusial dan lekang dalam hati dan pikiran saya. Suka dukanya mendewasakan saya. Saya bersyukur masih diberi nikmat menyusui selama 2 tahun 4 bulan. Saya bersyukur Rumi tumbuh sehat dan ceria.

Berhenti menyusui adalah momen patah hati bukan hanya bagi Rumi, tapi bagi saya. Ini proses yang harus dijalani untuk tumbuh lebih baik lagi.

Ternyata rasanya sepedih ini, sesedih ini, melepaskan sesuatu yg bisa memberi Rumi kenyamanan selama hidupnya.

Terima kasih Rumi. Karena Rumi, Mama jadi belajar banyak tentang bagaimana menjadi seorang Ibu. Yuk kita belajar lagi hal yang baru, walaupun gak minum ASI lagi tapi seluruh jiwa raga ini akan selalu siap sedia untukmu.

Tangan ini siap menggandeng dan membelaimu..
Telinga ini siap mendengarmu..
Hati ini selalu terbuka untukmu..
Mata ini akan selalu menjagamu..

Semoga Allah selalu melindungimu, menjagamu dan menyempurnakan tumbuh kembangmu.

Mama menyusuimu karena cinta, dan Mama menyapihmu karena cinta juga.

I love you.



Wednesday, May 16, 2018

Belajar Ikhlas

Kebaikan kepada manusia belum tentu berbalas kebaikan pula.
Tapi kebaikan kepada Allah, pasti tercatat sebagai pahala.

Amal baik dan buruk walau sekecil apapun tidak akan ada yang luput terhitung, karena Roqib dan Aatid tidak pernah absen.

Coba dihitung lagi dan syukuri nikmat yang kita terima. Pastilah nikmat Allah terlalu banyak, terlalu luas dan tak akan pernah selesai hitungannya. 

Bersyukur dan merasa cukup adalah upaya kita supaya ikhlas.

Orang kaya sebenarnya bukanlah mereka yang banyak hartanya, tapi mereka yang selalu merasa cukup.

Penghargaan terbaik bukanlah dari manusia. Penghargaan sesungguhnya datangnya dari Sang Maha Kaya.

This statement is dedicated as lesson learned of this week, just for myself....







Tuesday, March 20, 2018

Prioritas dan Pilihan

Gambar dari Google, bukan punya saya


Sejak akhir bulan Februari, kami sekeluarga diuji lagi oleh Allah. Rumi putriku sakit mulai dari radang tenggorokan, batu pilek, sampai alergi bentol sebadan yang masih belum diketahui dari mana pemicunya.

Rumi kehilangan nafsu makan drastis, sehari mungkin hanya masuk 4 sendok makanan.Tapi layaknya balita, dia tetap ceria dan main tak ada habisnya. Alhamdulillah saya masih diberi kemampuan untuk menyusui di usia Rumi yang menginjak 15 bulan, langsung maupun tidak langsung. Jadi setidaknya Rumi masih dapat asupan nutrisi dari ASI.

Setelah bolak-balik berobat ke Dokter, Alhamdulillah kondisi Rumi membaik. Saat ini Rumi masih suka pilah-pilih makanan, tapi setidaknya sudah lebih banyak yang masuk dibanding sebelumnya. Kami masih lanjutkan pengobatan sesuai anjuran dokter. Semoga ke depannya, Rumi bisa kembali sehat seperti sedia kala. Aamiiin Yaa Rabbal Alaamiiin.

Karena kondisi anak sakit, absensi saya di kantor pun kena imbasnya. Kadang capek dan malu sendiri harus bolak balik minta izin sama atasan. Alhamdulillah, atasan saya ini adalah termasuk orang-orang paling bijaksana yang pernah saya kenal. Walaupun mungkin ada juga yang melihat "kelakuan" saya di kantor, yang sering izin datang siang atau tidak masuk kerja, kemudian nyinyir..  "Enak banget dia bisa kerja seenak udelnya, sementara kita harus datang pagi." Yaah, pasti ada laah yang begitu walaupun bukan di depan saya ngomongnya.

Tapi ngomong-ngomong soal nyinyir atau julid (kata anak jaman now), apapun yang kita lakukan,  baik buruknya pasti ada aja kok yang gak suka dan kemudian nyinyir. Kalo saya pun tetap disiplin di kantor sementara anak sakit di rumah,  tetangga yang mulai nyinyir, "Ibunya kemana? Kerja? Lagi sakit kok ditinggal?"

Saya percaya dalam setiap kondisi, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup. Saya dan suami memilih untuk punya anak, artinya kami berani memilih untuk bertanggung jawab seumur hidup.

Saya masih bekerja dan menitipkan anak pada ibu mertua dan kadang ibu saya sendiri. Kedua neneknya itu bergantian mengasuh Rumi, itulah mengapa saya memilih untuk tinggal dekat dengan ibu saya. Berhasil untuk sementara ini, tapi makin berjalannya waktu supporting system saya dalam pengasuhan Rumi mulai njomplang.

Saya sadar, kedua ibu saya ini punya tanggung jawabnya masing-masing. Masih punya kegiatan dan aktivitas yang menunggu untuk diselesaikan. Ora iso kalau harus stay di rumah terus untuk jagain cucu.

Hello, Rumi is my child. My daughter.
Salah kalau saya marah atau kecewa pada kedua ibu saya yang sering gak ada waktu jaga Rumi yang artinya saya harus izin ngantor lagi. Again and again.

Saya maklum pada kedua ibu saya, karena jagain anak balita di rumah itu gak sesimpel kalimatnya. Kerjanya literally jungkir balik, mulai dari masak, nyuapin, mandiin, bebenah, ngelonin, ngedidik, ngajak main, kadang kaki ga sengaja nginjek lego atau kadang ke toilet ga bisa nutup pintu karena sambil diliatin dan ditungguin bocah. Yang paling gak boleh dilupakan, dalam segala aktivitas di rumah, kita harus terus menanamkan nilai-nilai baik mulai dari baca doa sebelum makan, sampai jadi orang penyabar ketika kartunnya dipotong iklan dia gak boleh ngamuk.

Some people say, "Cari pengasuh dong!"

Oh No, Big No No.
Selain karena biayanya terlalu mahal, ga ada jaminan khusus pengasuh bakalan 100% care sama anak kita. Gak keitung lagi kasus pengasuh jahatin anak majikan. Oh No, better not than be sorry.

Some people say (lagi) "Yah, wanita itu emang fitrahnya jadi ibu gak usah ngeluh laah. Kalo mau jadi ibu bekerja itu ya emang pasti ada double burden.

Hmm, saya agak kurang setuju sih kalo dibilang double burdens. Disitu ada kata burden.
Burden = Beban.

My child is not a burden. Anak bagi saya sama sekali bukan beban. Anak adalah generasi penerus kami. Dititipkan Allah kepada saya mulai dari dia tumbuh di rahim saya, lahir ke dunia dan sampai seumur hidup kami nanti wajib menyayangi dia. Kami bahkan berdoa siang malam untuk diberi anak. Tentu dalam hal ini kami bukan meminta apa yang mereka sebut beban. Kami minta keturunan dan kebahagiaan.

Anak adalah penyejuk hati kami dan pemberi cahaya di keluarga kami. Suka dukanya dalam mengurus anak itu adalah bentuk tanggung jawab dan cinta kami, ladang pahala dan abdi kami sebagai orang tua. Tugas utama.

Seperti yang saya sebut di atas, hidup adalah pilihan. Jadi apa pilihan saya?
Saya memilih untuk meninggalkan pekerjaan saya di kantor untuk bekerja di rumah.

And again people say, "Sayang banget lo ninggalin kerjaan, terus di rumah doang."

Then, let people say what they want to say.

It's 2018 and you can do anything via internet and phone calls. Teknologi sudah maju, Buuu. Stay at home gak berarti kita gak bisa earn money. Gak percaya? Sok atuh google sendiri kerjaan apa aja yang bisa dikerjain dari rumah. Lagian cari nafkah itu kewajiban suami lho, Bu. Suaminya kerja gak Bu?

Bagaimana menentukan pilihan adalah tentang prioritas. Sejak saya hamil dan melahirkan, prioritas saya switch 180 derajat. Pikiran saya adalah tentang anak saya dan kesejahteraannya. Prioritas tiap orang bisa saja berbeda. Tapi kalau pilihanku tak sama denganmu, setidaknya saling menghormati saja,  gak usah nyinyir ya buu.

Diketik diatas gerbong kereta KRL Commuter Line Bekasi-Manggarai. 20 Maret 2018.



Tuesday, January 16, 2018

Skincare Routine untuk Kulit Berminyak (Updated)

Assalamualaikum, di siang hari yang mendung ini, saya mau berbagi skincare routine saya yang sudah saya jalani sekitar setahun lebih. Ini adalah yang saya jalani sekarang, skincare yang ini sudah nggak saya jalani lagi.

Kulit saya jenis yang berminyak dan gampang jerawatan. Dulu, sebelum hamil saya rutin pake krim dari klinik kecantikan. Modelnya paket krim pagi, krim malam, sabun dll. Gak perlu saya sebut disini lah ya apa nama kliniknya. Pokoknya lumayan populerlah di Bekasi dan sekitarnya. Sebut saja E***s Estetika.Setelah tau saya hamil, langsung konsul ke dokter di klinik kecantikan itu lagi kan, eh katanya di stop dulu aja krimnya karena takut mempengaruhi bayi. Loh?

Saya agak shock sih waktu denger itu gak aman, langsung bener-bener gak mau pake lagi deh. Awal berhenti krim dokter memang sempat jerawatan lagi dan muka semakin minyakan. Tapi seiring perubahan hormon hamil, yah dinikmati aja karena memang gak boleh pake produk sembarangan kan ya. Jadi saya cuma pake drugstore product.

Ternyata saya merasa lebih nyaman seperti itu, selain nyaman di muka nyaman juga di kantong. Produk yang akan saya share disini mungkin cocok di saya tapi belum tentu cocok di kulit kamu yah, silakan coba dan temukan sendiri yang cocok. Saya bukan ahli kecantikan ya, saya hanya konsumen biasa seperti kamu juga. Oke deh langsung aja yah ke skincare routine nya.

Pagi:

Cuci muka pake Wardah C Defense Creamy Wash. Saya suka banget facial foam ini soalnya pake sedikit sudah cukup buat seluruh wajah, kuping bahkan leher. Wanginya juga seperti aroma jeruk jadi makin kerasa sense vitamin C nya.. bikin nyaman dan hasilnya terasa bersih di muka. Minusnya, kadang facial foam ini bikin kulit saya kering juga. Sebenernya ke depan masih akan hunting facial foam yang lebih calm di wajah, sih. Will update later yah.



Selanjutnya saya pake serum dari The Body Shop yang Tea Tree. Ini serum enak banget saya beli bisa dipake setahun, awet banget sumpah. Nyaman di muka dan jelas banget bisa mengurangi jerawat. Fix bakal repurchaseHighly Recommended!
Gambar dari sini
Setelah serumnya meresap sempurna di wajah, baru deh kita templokin pelembab yang super duper luar biasa magic ajaib bermanfaat banget yaitu Wardah Hydrating Aloe Vera Gel. Kalo di kemasannya mungkin ini sebenernya bisa dipake seluruh badan, tapi saya pakai ini di muka, mata dan leher. Karena efeknya ini bener-bener bisa ngatasin kulit kemerahan akibat jerawat dan bekas jerawat lukanya jadi cepet sembuh. Hasil yang paling baiknya adalah ini bisa membuat kulit semakin kenyaal dan sehat. Aih, cinta banget lah sama produk ini. Highly Recommended! Entah sampai kapan aku akan pake aloe vera ini, maybe forever. Hahaha..

Gambar dari sini
Nah setelah aloe vera ini menyerap dan kering, baru deh saya pakai Wardah DD Cream sebagai foundation sebelum make up saya sehari-hari. Kalo dibaca dari ulasan produknya, DD cram Wardah ini Mengandung Hi-Grade vitamin C 10% yang akan bekerja sinergis dengan Vitamin B3, Vitamin E dan Allantoin untuk membantu mencerahkan kulit dari dalam dan melindungi kulit dari radikal bebas serta meningkatkan regenerasi kulit. Dengan SPF30, PA+++ memberikan perlindungan optimal dari bahaya sinar UV A dan UV B. Membantu meratakan rona kulit sehingga nampak lebih halus dan cerah.


Gambar dari sini

Selanjutnya pakai make up seperti biasanya. Biasanya setelah aktivitas seharian, malam harinya saya lanjutkan skincare dengan bebersih wajah alias angkat semua yang saya templokin di muka hehehe. Pembersih wajahnya tetep cinta sama Viva Milk Cleanser dan Toner. Kalo yang ini aja udah oke, kenapa harus cari yang lebih mahal? Hihihi..

Gambar dari sini


Khusus untuk angkat make up mata, gak usah repot-repot, saya pake baby oil anak saya ajah udah tuntas dan aman nyaman di kulit.

Ketika sudah bersih semua, lanjut cuci muka, serum dan aloe vera lagi terus tidur deh!

Oke deh sekian dulu sharing saya semoga bermanfaat buat yang lagi cari skincare atau perawatan untuk kulit berminyak yaa...

Salam,

Sally Ayumi

Monday, October 9, 2017

Our Baby is NOT a Public Figure (yet). She's just a baby!

"Why??"

Maybe that was the most of people asked when I said; "Please don't publish my child photos into social media."

Since I gave birth for Rumi, my Hubby is very straight and strict about it. We are not allowed publicly share Rumi's photos to any social media.

Friends and family are wondering why we do that.. even until now.

I'm just a regular person. Not a public figure. I'm  not Andien, Chelsea Olivia or Gisel. I'm just me. The world doesn't need to know about my baby just yet. Maybe later when she get older, become someone important or doing something big in the future, people will recognize her by nature. But not now.

Actually, you can go Google yourself what are the negative impact for the publication of child's picture. So I won't tell about those impact here.

I write this post is just to give a clarification from my perspective as a Mommy.

I updated my timeline almost everyday. I snap pictures of my activities, my friends, my selfies, my lunchies, almost everything in my life. Super often. 

When I visited my friend's profile, I could see their life. It is so easy to find information about them. And it's all free. Easily accessible from anyone in the world. Literally, ANYONE.

Privacy setting option in any social media don't give much secure feeling to us. Because what's already published on internet is everlasting.

I love my daughter beyond too much, and she is beyond precious to me. So we only share to our closest family and relatives.

We don't want any stranger out there having an image of her. They could be a pedophile or criminal. Checking out my family picture. Stalking and obtaining "easy and free" information about my family.

More beside of those reasons, we are as parents, don't really get the approval from her to publish any of her pictures. Because she is still a baby and she is not able to tell and interrupt us.

You can say we are overprotective. 
You can say we are too much.
You can say we are paranoid.

But let me just tell you, better prevent than be sorry.

By writing this I don't mean to provoke you to do the same thing. You can do whatever you want and we won't stop you by any chance. Because everyone has their own reasons and different way about privacy. So let us protect our family in our very comfortable way.

 

Sunday, August 20, 2017

Resep MPASI Rumi❤ #4 Bubur Ayam Wortel

Sebentar lagi Rumi genap 8 bulan, Mamanya coba bikin bubur lembek tapi gak pake disaring/blender lg biar naik teksturnya pelan2.😊

Hasilnya? Rumi gak begitu suka tekstur kasar begini, maunya yg lembut.. jadinya makannya kurang lahap deh. Gapapa ya Rumi sayang pelan2 belajarnya.. 😅😅😅

Bubur Ayam Wortel
Bahan:
- Beras merah 2 sdm
- Beras Putih 2 sdm
- Wortel parut
- Ceker Ayam 1 buah
- Daging Ayam Fillet 1 sdm
- Unsalted Butter 1 sdm
- Bawang Putih 1 siung geprek
- Air 3 gelas

Cara Memasak:
Cemplung semua ke dalam rice cooker. Masak sampai matang. Aduk rata.
Done!

Saturday, August 12, 2017

Resep MPASI Rumi❤ #5 Bubur Salmon Merah Putih

Menu #MPASI Rumi hari ini:

Bubur Salmon Merah Putih🐇🐰

@mpasibayisehat @mpasidansikecil @mpasibayi @mpasibayii

Masak #mpasi pake rice cooker ternyata lebih praktis yo. Sambil nunggu mateng bisa nemenin si bayi main. 🐢🐢🐢

Bahan:
Beras Merah 1 sdm
Beras putih 2 sdm
Wortel 1/2 buah ➡ Parut halus
Unsalted butter 1 sdt
Daging Ikan Salmon ➡ suwir2 halus
Air secukupnya dikira2 cukup utk masak sampai jadi bubur.

Cara masak:
1. Cemplung semua bahan ke dalam panci rice cooker dan masak sampai matang. Ketika sudah matang aduk2 rata.. wanginya endeees banget... cek tekstur dan tambah air bila perlu.

2. Bila tekstur kurang halus, blender/saring bubur bayi. Ambil bagian yg sudah disaring.

3. Sajikan sesuai porsi makan bayi dengan kasih sayang😙

4. Simpan bubur yg tersisa dalam wadah tertutup rapat dan masukkan ke dalam magic com/rice cooker supaya keep warm.

Reaksi Rumi: suka makanannya tapi gak konsen makan karena sibuk main. Aduh.. ada tips gak supaya anak konsen ke makanan?

Thursday, August 3, 2017

ASI & SUFOR UNTUK RUMI

Hari ini saya mau cerita kisah yang bikin saya patah hati.

Seperti Ibu-ibu modern jaman sekarang,  saya pun juga ikut ritual pumping dan storing ASI supaya Rumi tetap bisa konsumsi ASI walaupun saya tinggal kerja. Saya berhasil menyusui Rumi secara eksklusif sampai usianya 6 bulan.

Memasuki usia 7 bulan, freezer yg tadinya full ASI perah makin lama makin kosong. Kebutuhan Rumi minum ASI semakin banyak seiring pertumbuhannya. Dan saya gak bisa ngejar demand Rumi. Saya pompa 2 jam sekali tapi hasilnya tidak sebanyak bulan-bulan awal melahirkan.

Saya mulai panik, karena idealnya ASI tetap diberikan sampai usianya 2 tahun. Saya masih bisa menyusui Rumi, tapi kalau dipompa hasilnya tidak banyak lagi. Kurang.

Booster? Gak ngaruh banyak ya di saya. Tapi setelah saya introspeksi diri, memang saya banyak melakukan kesalahan:

1. Kalau di kantor, sibuk sama komputer sampai lupa minum. Di rumah juga minum kalau habis makan aja. Saya merasa kurang minum air putih.

2. Kurang makan sayuran hijau. Makan siang seketemunya aja. Kadang ya menunya kurang sehat mungkin. Contoh, makan ayam penyet atau pecel lele. Sayurannya cuma dari lalapan yg sedikit di pojokan piring.

3. Gak bawa bekal dari rumah, karena most of everyday saya rempong gak sempet bikin-bikin bekal. Padahal kalau niat harusnya bisa. Siapin menu sehat dari rumah.

4. Beli susu soya dan obat pelancar ASI dari dokter, tapi gak rutin minumnya.

5. Masih suka skip jadwal pumping, misal gara2  saya meeting kelamaan di kantor, padahal sudah harus pumping. Atau karena macet di jalan, payudara sudah 'ngajak' ngeluarin ASI tapi tertunda.

6. Saya bekerja. Artinya frekuensi Rumi untuk menyusu langsung akan berkurang. Adahal stimulasi terbaik untuk produksi ASI ya dari hisapan bayi.

Kira-kira itulah beberapa kesalahan saya setelah saya evaluasi lagi ke belakang. Sekarang, Rumi yg harus menanggung akibatnya.

Sehari-hari Rumi diasuh Oma-nya, biasanya Rumi minum 5-6 botol @100ml ASIP selama seharian saya tinggal kerja.

Tapi kini saya hanya bisa menyediakan 3-4botol ASIP @100ml (bahkan kadang kurang dari itu) untuk seharian.

Demi menghemat stok ASIP, Oma sering mengalihkan perhatian Rumi ketika dia mulai menangis minta ASI. Diajak jalan-jalan keluar rumah melihat kucing atau diajak main mainannya.

Memang awalnya berhasil, tapi sekarang tidak lagi. Rumi tetap menangis.

Saya sangat merasa bersalah pada Rumi, karena ASI adalah hak-nya. Saya juga takut Rumi kekurangan nutrisi ketika dia sedang masa pertumbuhan.

Sampai akhirnya, saya dan suami terpaksa beli sufor (susu formula) untuk memenuhi kebutuhan susunya.

Rutinitas pumping tetap saya lakukan, malah sekarang makin rajin. Dan sufor hanya diberikan ketika stok ASIP pada hari itu sudah habis. Hanya ketika  keadaan 'darurat'.

Patah hati? Pasti. Sedih dan kecewa. Merasa amat sangat bersalah. Saya ini ibu macam apa.. kok gak mikirin hak anak..??

Miris sekali yang saya rasakan melihat Rumi kekurangan ASIP. Beruntung suami pengertian sekali. Dia tetap mendukung saya dengan segala perhatiannya dan bantuannya mengurus Rumi sehari-hari.

Kalau nanti Rumi besar dan baca tulisan ini, Mama mau minta maaf ya sayang. Mama masih harus banyak belajar.  Mama masih banyak kekurangan. Mama tidak sempurna sebagai Ibu. Jadi, kita belajar sama-sama ya Nak...

Thursday, July 27, 2017

Resep MPASI Rumi❤ #3 Bubur Tofuto

Aloha!

Kali ini saya mau sharing lagi resep makanan pendamping ASI-nya Baby Rumi.

Maaf bukan sok pinter masak.. tapi resep ini saya share di blog selain untuk berbagi juga untuk dokumentasi saya pribadi. Soalnya jadi working Mommy itu butuh perjuangan. Terutama perjuangan melawan panggilan kasur yang mengajak tidur di waktu luang. Jadi, bikin-bikin bubur mpasi buat saya adalah salah satu prestasi bentuk cinta saya buat Rumi, semoga bermanfaat.. Aamiiin...

Yuk mulai masak!

Bubur Tofuto (Tofu Tomato)
Bahan:
- Nasi
- Sepasang ceker ayam
- Air
- Tahu (tofu) goreng
- Tomat
- unsalted butter

Cara membuat:
1. Buat Kaldu ceker...cara buatnya tinggal rebus ceker dengan air sampe keluar minyaknya.
2. Masukkan nasi secukupnya ke dalam rebusan kaldu sampai jadi bubur (2 sendok makan bisa 3x porsi makan)
3. Campurkan tahu. Lebih baik tahu sutra. Kalo ga ada pake tahu putih biasa juga bisa, tapi goreng dulu terus kupas kulitnya, jadi yg dipakai bagian dalamnya saja.
4. Ketika sudah matang semua, campurkan 1 buah tomat. Masak sampai tomat matang.
5. Masukkan unsalted butter
6. Blend / Saring bubur dan atur tekstur dengan air/ kaldu. Cicipi dulu sebelum diberikan ke bayi ya Moms.. pastikan jangan terlalu panas..
7. Bubur siap disajikan!



Reaksi Rumi:
Tetep gak doyan tahu yaa anak mama... padahal mamanya doyan banget tahu.. kita coba lagi ya nak besok2.. (maksa ☺♥)
Rumi sama kaya Ayah, sukanya tempe! Hihihi
Tapi walaupun ga terlalu suka, Rumi makan sampai habis! Terima kasih sayangnya Mamaaah...
Cup cupp muah muah ♥♥♥

Tuesday, July 25, 2017

Arti Nama Rumi

Jika bicara tentang nama Rumi, maka teringat kembali liburan terakhir kami ke Istanbul, di dalam masjidnya yang terkenal, Blue Mosque, dimana kami berdoa dengan sungguh-sungguh.

Waktu itu pernikahan kami menginjak usia 9 bulan tapi saya belum juga positif hamil. Kami berdoa bahwa kami ingin memiliki keturunan yang soleh atau solehah, yang bisa menjadi penyejuk hati kami, yang menjadi pengikat cinta kami.





Perjalanan di Turki sangat membekas di ingatan kami, sampai sepulangnya dari Turki saya akhirnya hamil. Subhanallah, Maha Besar Allah yang mengabulkan permintaan hamba-Nya. Yang Maha Tahu kapan kami siap, kapan kami pantas mendapatkan titipan ini.






Rumi Syahida Azzahra

Rumi
Rumi adalah nama seorang filsuf terkenal asal Turki, Jalaluddin Rumi. Kata-katanya sering digunakan sebagai quotes dan terkenal akan kebijaksanaannya dan kecintaannya terhadap Allah. Dalam puisi-puisinya ia menyatakan bahwa Allah adalah satu, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai. Rumi berarti seseorang yang berkata indah tentang Tuhannya.

Syahida
Syahida adalah nama pilihan suamiku sejak ia menonton film Bajraangi Bhaijaan yang menceritakan gadis cilik Pakistan bernama Syahida, yang tersesat di negara musuh yaitu India. Sejak awal hamil, suami ingin anaknya dinamai Syahida. Setelah kami cari tahu lebih lanjut, Syahida berarti hadir, bersaksi, pintar dan syahid. Syahid adalah sebaik-baiknya cara pulang. Semoga kemanapun dia melangkah, selalu diridhoi Allah SWT.

Azzahra
Azzahra artinya luar biasa dan cerdas. Meskipun sudah banyak yang menggunakan nama ini, menurut saya nama ini cantik sekali untuk anak perempuan. Apalagi Kakeknya Rumi berpesan, kalau punya anak harus dinamai dengan arti "cerdas" karena kalau dia cerdas, dia bisa mengatasi masalah apapun yang dihadapinya kelak.

Jika dikombinasikan, Rumi Syahida Azzahra dapat kami artikan sebagai:

Anak perempuan yang beriman, selalu memuja Tuhannya, yang cerdas dalam bersaksi dan bijaksana dalam bertindak dan diridhoi Allah SWT.

Aamiin.

Begitulah kira-kira arti nama putri pertama kami, semoga Allah selalu meridhoi. Aamiin Allahuma Aamiiin....




Sunday, July 23, 2017

Resep MPASI Rumi❤ #2 Bubur Salmon Wortel Pokcoy

Bahan:
- Nasi
- Salmon
- Air
- Pokcoy (Atau Pakcoy?? Yaa itulah..)
- Wortel
- unsalted butter
Cara membuat:
1. Cuci bersih salmon sepotong. Secukupnya saja, disesuaikan dengan porsi makan anak.
2. Masak nasi secukupnya dengan air supaya jadi bubur, kira2 aja biasa anak makan berapa banyak. Saya selalu masak untuk 3x makan.
4. Campurkan salmon, pokcoy, unsalted butter dan wortel cincang. Masak sampai semua matang.
5. Blend/Saring bubur dan atur tekstur dengan air. Cicipi dulu sebelum diberikan ke bayi ya Moms.. pastikan jangan terlalu panas..
6. Bubur siap disajikan!

***

 

Resep MPASI Rumi❤ #1 Bubur Kaldu Ceker

Bahan:

- Nasi
- Sepasang ceker ayam kampung (ga harus ayam kampung sih, ayam biasa juga boleh)
- Air
- Pokcoy (Atau Pakcoy?? Yaa itulah..)
- tempe
- unsalted butter

Cara membuat:

1. Cuci bersih cekernya, geprek dulu supaya sum-sum tulangnya lebih mudah keluar di kaldunya nanti.

2. Rebus dengan air secukupnya sampai jadi kaldu. Biasanya minyak2nya akan keluar dan ada gelembung kecil2... baunya jadi gurih. Kaldu siap!

3. Masak nasi secukupnya dengan air supaya jadi bubur, kira2 aja biasa anak makan berapa banyak. Saya selalu masak untuk 3x makan.

4. Campurkan kaldu ceker, pokcoy, unsalted butter dan tempe. Masak sampai semua matang.

5. Blend / Saring bubur dan atur tekstur dengan air/ kaldu. Cicipi dulu sebelum diberikan ke bayi ya Moms.. pastikan jangan terlalu panas..

6. Bubur siap disajikan!

Wednesday, May 17, 2017

Makna Yang Tersirat

Suatu hari ceritanya gw minta dianter ke Stasiun Cawang.. tapi pas udah sampai stasiun dia malah jalan terus ga berhenti.
Gw: Bang, stop disini aja. Itu pintu stasiunnya kelewat..!!
Gojek: Ooh, Mbak mau dianter BENER-BENER ke stasiunnya?
Gw: Yaiyalah.. saya kan ordernya gitu.
Gojek : Ooh.. saya kira itu hanya MAKNA YANG TERSIRAT.

Rumit banget hidup abang ini..
Sekian 
#ceritagojek

Friday, March 24, 2017

Cerita Persalinan

Setiap ibu pasti punya pengalaman melahirkan yang unik. Saya sendiri ingin berbagi pengalaman melahirkan yang emosional dan tak terlupakan dalam hidup saya. Pengalaman pertama kali menjadi Ibu :D

Kontraksi


Pada usia kehamilan 37 minggu, adalah saat dimana harap-harap cemas. Ketika kontraksi palsu bolak-balik melanda, dan kontraksi sebenarnya bisa datang sewaktu-waktu. 


Melahirkan normal, adalah satu-satunya harapan saya. Untuk di operasi cesar, saya takut setengah mati, harus tiduran dan perut dibedah. Saya selalu berdoa bisa melahirkan normal. Harapan saya ini juga bukan tanpa usaha, yang bisa saya lakukan adalah banyak-banyak jalan kaki, terutama di pagi hari. Menambah waktu sujud lebih lama ketika sholat, berdoa dan mengaji. Pendekatan spiritual itu penting menurut saya, dapat menenangkan hati yang gundah gulana. Kondisi kehamilan saya saat itu sehat, posisi kepala bayi sudah bagus walaupun ada 1x lilitan tali pusat. Tapi dokter masih yakin saya bisa melahirkan secara normal.


Saya ingat, waktu itu kehamilan saya memasuki usia 38 minggu, dan seperti biasa pas weekend suami ngajak jalan keluar. Waktu itu saya diajak ikut ngumpul bareng teman-temannya di FX mall trus lanjut nengokin temannya yang lagi sakit di RS. Seharian itu saya banyak jalan kaki. Malamnya, dari daerah Sudirman Jakarta saya ngajak suami makan di bilangan Tebet, mendadak kepengin makan angkringan langganan kita berdua. Jauh memang, tapi suami langsung setuju aja. Padahal kita naik motor loh.


Entah karena kecapean atau apa ya, baru selesai makan, perut saya tiba-tiba sakit. Saya pikir ini kontraksi palsu, tapi kok susah banget mau berdiri. Akhirnya saya duduk dulu sampai sakitnya hilang. Ketika sakitnya hilang, saya dan suami langsung meluncur pulang. Di perjalanan  perut saya sakit-sakitan terus, akhirnya saya minta dibawa ke rumah sakit aja langsung.


Sesampainya di Rumah Sakit, langsung ke ruang bersalin. Saya diperiksa dalam oleh Bidan, ternyata saya sudah pembukaan 1. Kami disuruh pulang dan saya disuruh banyak gerak. Sepulangnya dari RS saya langsung istirahat dan tidur.


Besoknya, saya habiskan waktu kerja di rumah. Menyikat kamar mandi, cuci piring, cuci baju, jemur, setrika. Hari itu Papa dan Iyo adik bungsu saya datang untuk stand by dengan mobil kalau sewaktu-waktu harus diantar ke Rumah Sakit.


Berkutat dengan Pembukaan


27 Desember 2016. Sekitar jam 10 malam, ketika semua orang di rumah sudah tidur, saya malah gak bisa tidur. Perut cenut-cenut. Awalnya saya masih tahan, tapi kok sakitnya gak hilang-hilang. Capek dan kesakitan saya akhirnya terpaksa bangunin suami dan Papa. 


Jam 12 malam lewat, berganti hari memasuki tanggal 28 Desember 2016. Dini hari saya di bawa ke RS. Ketika diperiksa, saya sudah pembukaan 2. Hasil pemeriksaan CTG (rekam jantung) bayi saya kurang bagus, mungkin penyebabnya karena lilitan tali pusat itu, sehingga saya harus bedrest dan dipasang selang oksigen di Rumah Sakit. Ini yang membuat pembukaan saya tak kunjung bertambah.



Paginya perut saya terasa baik-baik saja, kontraksi memang berasa tapi belum terlalu sering. Setelah mendapat izin dari Dokter dan Bidan, saya boleh berjalan-jalan di sekitar RS untuk mempercepat pembukaan secara alami. Saya excited sekali karena sebentar lagi akan bertemu dengan bayi yang saya kandung selama 9 bulan lebih.

Sampai sore hari, saya merasa bosan sekali menunggu pembukaan yg tak juga bertambah, kondisi saya juga tidak diperbolehkan pulang. Berkali-kali saya di CTG dan keluarga juga sudah berdatangan ke RS. Akhirnya sore itu saya habiskan dengan makan mie ayam di kantin RS sambil santai dan ketawa-tawa.


Satu hal yang menjadi kekhawatiran saya adalah, dokter kandungan saya dr. Triani Ismelia, Spog sedang cuti akhir tahun berlibur ke China. Kabarnya, hari itu dia baru akan mendarat di Jakarta. Jadi selama saya menunggu di RS, saya belum bertemu dokter saya sama sekali.


Malam harinya, perut saya belum juga bertambah mules. Sampai akhirnya jam 10 malam Bidan mengajak saya bertemu dokter kandungan yang sedang praktek malam itu, dr. Arju Anita Spog. Saya diperiksa dokter Arju, dia melihat kondisi bayi saya bagus, walaupun ada lilitan. Ketika sedang melakukan pemeriksaan dalam alias memasukkan jari ke vagina saya, Saya bertanya kenapa saya tidak juga nambah mules, dia jawab, "Ini sudah bukaan 3 Bu. Jadi Ibu mau mules? Biar cepet ya, saya bikin mules ya."


Tiba2.. srekk... terasa banget jarinya seperti "menyogrok" saya. Gak ngerti lagi deh apa yang dr.Arju lakukan, tapi abis itu saya langsung merasa kesakitan.


Assalamualaikum, Rumi





Tanggal 29 Desember 2016, dini hari tepatnya pukul 2 pagi, perut saya mulai kontraksi hebat. Sudah gak bisa ketawa lagi, saat itu cuma ada Mama yang nemenin di RS. Saya kesakitan sampai air mata keluar, tapi gak ada yang bisa dilakukan. Saya tidak berhenti berdzikir dan memohon kekuatan dari Allah supaya bisa melahirkan dengan lancar.


Semalaman saya tidak tidur, mulut saya sampai kering karena berdzikir dengan keras, "Laa hawla wa laa quwwata illa billah” berbagai posisi saya coba, tapi sakitnya tak kunjung reda. Saya terus menghirup oksigen dari selang dan menahan sakit yang makin lama makin menjadi. Bidan datang entah jam berapa, dan melakukan pemeriksaan dalam untuk kesekian kalinya. Sudah bukaan 4.


Saya memang paling payah menahan sakit. Tapi saya masih diberikan kesadaran, bahwa daripada menjerit, lebih baik saya mengalihkannya menjadi dzikir dan takbir. Saya terus menyebut nama Allah, dengan segala kepasrahan saya sebagai hamba-Nya. Apapun yang Allah kehendaki, saya pasrah.


Pagi hari jam 6, suami saya datang membawa pakaian dan keperluan lain. Dia sigap memijit kaki dan tangan saya. Saya terus memohon supaya tidak ditinggal. Pagi itu suami dan Mama memaksa saya untuk sarapan. Tapi sakit yang luar biasa membuat nafsu makan hilang. Saya ingat sekali, hanya 2 sendok bubur yang bisa saya telan. Selain itu hanya susu beruang 1 kaleng, sari kurma beberapa sendok, madu beberapa sendok, dan air putih. 


Kepanikan mulai muncul ketika badan saya semakin lemah dan lemas diserang rasa sakit yang menjalar ke punggung dan kaki saya. Telapak kaki saya rasanya dingin sekali dan saya meminta dipakaikan kaus kaki.


Dokter Triani belum tiba juga di RS, dan saya pasrah dengan siapa saya akan melahirkan. Harapan saya cuma satu, bayi ini segera keluar dengan selamat.


Saya ingat, sekitar jam 11 pagi, bukaan 5. Vagina rasanya seperti didorong-dorong dengan kuat sekali dari dalam. Bayi saya rasanya mau lompat keluar. Ada refleks untuk ngeden. Tapi semua melarang untuk ngeden sampai bukaan lengkap. Saya panik dan ketakutan karena selalu refleks ngeden ketika bayi mendorong.



Kemudian, Bidan memindahkan saya ke ruang bersalin yang ruangannya tepat di samping ruang observasi dimana selama ini saya dirawat. Saya digantikan baju dengan baju bersalin warna pink, dan dipasang selang oksigen lagi. Tangan kanan saya dipasang jarum infus untuk berjaga-jaga apakah ada perlu obat yang dimasukkan lewat infus.

Sakit, saya salah tingkah. Semua gerakan saya coba, termasuk cara menahan ngeden yang diajarkan di kelas senam hamil. Tidak berhasil. Refleks ngeden terlalu kuat dan saya sangat lelah dan kewalahan. Tapi dalam hati ini, tidak ada sedikitpun niat untuk menyerah dan dioperasi cesar. Saya ingin melahirkan normal dan saya pasti bisa. Kesakitan ini akan segera berlalu apapun akhirnya.

Sebelah kiri ada Ricky, suami saya yang terus mendampingi. Padahal dia takut, dia gugup dan salah tingkah juga. Tapi dia berkali-kali mengingatkan saya, "Ayo Nii, inget baju-bajunya dede bayi, sebentar lagi kita ketemu dede bayi Nii..." 

"Sumpah, kalau kamu selingkuh, aku bunuh kamu...!!" diantara kesakitan dan tenaga seadanya, sempet-sempetnya saya bilang begitu ke suami. Dia malah ketawa, katanya lebih baik saya gak usah ngomong macem-macem. Gak tahu juga kenapa saya bilang begitu, mungkin pengaruh emosi saat melahirkan itu ya.

Sebelah kanan ada Mama, yang berkali-kali mengingatkan supaya saya tidak tidur dan tidak ngeden sebelum waktunya. Rasanya lama betul sampai dengan pembukaan lengkap. Mama menyemangati saya dan berdoa terus supaya saya kuat.

Pembukaan lengkap akhirnya tiba jam 12 siang tengah hari, dan saya sekarang sudah harus mengejan (ngeden) sekuat-kuatnya. Saya ngeden sekuat tenaga, tapi kepala bayi tidak kunjung keluar.

Bidan berkali-kali periksa detak jantung bayi saya, dan saya juga berusaha mendorong. Tapi tidak juga berhasil. Saya lemas dan kesakitan, bahkan tidak lagi bisa bicara. Kaki dan paha saya sesekali merasa keram dan telapak kaki saya dingin seperti es. Yang bisa saya lakukan ya cuma itu, tarik nafas terus ngeden.

Bidan kemudian suruh saya pipis di pispot untuk membantu melancarkan jalan lahir. Tapi saya tidak bisa pipis di pispot, tidak mau keluar. Solusinya Bidan memasang selang ke saluran pipis dan perut bawah saya ditekan-tekan pelan, dan pipisnya pun akhirnya bisa keluar.

Saya coba ngeden terus menerus tapi gagal terus. Di tengah kepanikan, dokter Triani yang cantik muncul dan langsung bersiap-siap untuk membantu persalinan saya. Dia memakai apron, sepatu bot, masker dan sarung tangan.

"Bukan begitu posisinya bu. Ayo Bu! Lah, kok pake kaos kaki Bu???"

Walaupun sudah gak bisa menjawab, tapi semangat saya bangkit lagi. Ketika dokter Triani membetulkan posisi saya, saya disuruh memeluk kedua paha saya dan ngeden sekuat tenaga.

Kepala bayi sudah terlihat, tapi masuk lagi ketika saya menarik nafas. Berulang terus seperti itu. Ini gila, saya panik dan takut bayi saya kehabisan nafas.

"Bu, Ayo Bu! Ngeden yang kuat Bu! Ini kepala bayi Ibu yang ada di bawah sini bu! Kalau ibu gak bisa ngeden saya Vakum ya bu?!"

Kalau saja saya bisa jawab, saya tahu. Saya sadar. Saya juga ingin bayi saya lahir dengan cepat dan selamat. Tapi kalau tenaga sudah saya kerahkan semua, sementara bayi tidak juga terdorong... saya harus bagaimana?

Akhirnya dokter mengambil alat vakum dengan sigap dan vagina saya digunting sedikit di bagian kanan kiri. "Kalau saya vakum Ibu tetap harus ngeden. Ikuti aba-aba saya ya Bu!"

Percobaan vakum pertama, saya ngeden sesuai aba-aba. Gagal. Tetap saja dibilang ngeden saya salah. "Ya Allah ya Rabb, ngeden yang saya tahu ya begitu...saya harus bagaimana lagi Ya Allah?" Jerit saya dalam hati.

"Kalau divakum belum lahir juga, kita pindah ke ruang operasi ya Bu! Ini sudah terlalu lama Bu kepalanya di bawah!"

Astaghfirullah, saya panik, takut, sedih, kesakitan dan lemah. Saya tidak mau dioperasi.

Percobaan vakum kedua, saya ngeden sesuai aba-aba.

Tanpa saya sadari tiba2 sesuatu yang lembut, licin, lembut dan lembek keluar dari vagina saya. Ternyata itulah bayi saya. Lembut sekali. Terdengar tangis bayi pelan- dan putus-putus. Rasa sakit hilang sama sekali.

Ketika saya sadari, mata saya melihat di dalam kotak kaca di sebelah kiri saya, sudah ada seorang bayi yang bersih, putih dan montok berisi. Dia cantik sekali, kulitnya berwarna putih pink dan rambutnya hitam tapi tidak terlalu lebat. Matanya terbuka lebar tapi tangisnya lemah. Ternyata cepat sekali Bidan sudah membersihkan dan memakaikan popok untuknya. Mama dan Ricky mendekati bayi kami, memandanginya dengan takjub. 

Namanya Rumi, bayi yang selama ini menendang di perut saya. Rumi sudah lahir ke dunia dengan selamat, lengkap dan sempurna. Alhamdulillah ya Allah, dalam hati saya bersyukur banyak-banyak.


Perawatan saya belum selesai. Saya mendapat suntikan anti pendarahan di paha. Dokter Triani masih sibuk mengeluarkan plasenta dan menjahit vagina saya. Karena dibius, saya tidak merasa apa-apa ketika dijahit, yang saya rasakan hanya lelah, lemas, capek luar biasa. Seperti tidak ada tenaga sama sekali. Bahkan untuk mengangkat tangan saja saya tidak kuat. Saya terus menghirup oksigen dari selang, dan Mama memberi saya minum air.


Karena saking hebohnya ngeden itu tadi, jarum infus di tangan kiri saya sampai lepas, sempat keluar darah agak banyak dari tangan kiri saya, menetes ke lantai. Jadi selesai menjahit, dr. Triani menangani tangan saya yang berdarah-darah.


Saya masih mendengar suara tangis Rumi yang sepotong-sepotong, saya lihat bidan juga berusaha menepuk-nepuk pantatnya supaya menangis lebih keras. Tapi dia terlalu lemah untuk itu. Bidan kemudian mengangkatnya dan meletakannya di dada saya untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Mulutnya ditempelkan ke puting susu saya, tapi sekali lagi, Rumi hanya bisa menangis terbata-bata tanpa bisa menghisap. Kegagalan IMD itu membuat saya patah hati. Saya merasa sedih dan sangat bersalah, karena saya tidak kuat ngeden dia terlalu lama di jalan lahir, kekurangan oksigen yang membuat dia lemah. Saya ingat Ricky buru-buru mengambil air wudhu dan mengadzani Rumi di dekat telinganya. Rumi  kemudian dipindahkan ke ruang perawatan bayi untuk dipasang selang oksigen dan dihangatkan dalam inkubator. 


Setelah semuanya selesai, dr. Triani menyelamati saya dan berpamitan. Saya disuruh beristirahat dan diobservasi selama 2 jam sebelum dipindahkan ke kamar rawat inap. Ketika semua orang keluar ruangan, saya menangis sejadi-jadinya. Saya merasa khawatir dan sangat amat bersalah dengan apa yang dialami Rumi.


Mama dan Mama Mertua datang untuk menghibur saya dan menenangkan saya. Ricky juga ada di sana, menghibur saya dengan leluconnya seperti biasa. Saya tidak akan pernah lupa, Ricky membisikkan ucapan terima kasih karena telah melahirkan putrinya dengan selamat. Saya masih menangis tanpa bisa menjawab. 3 hari kemudian, kondisi saya dan RUmi sudah stabil dan diizinkan pulang, tepatnya tanggal 1 Januari 2017.


Hari kelahiran Rumi tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Hadiah di awal tahun 2017. Memori di hari itu akan selalu menjadi motivasi bahwa ternyata saya cukup kuat menahan sakit. Bahwa saya adalah perempuan yang berani dan bisa melalui semuanya.


Ketika saya capek, atau sakit di masa depan nanti, saya akan mengingat lagi perjuangan hari itu supaya saya ingat, tidak ada yang tidak bisa saya lakukan di dunia ini. Supaya api semangat terus berkobar dalam hati, untuk mengabdikan hidup saya merawat dan mendidik Rumi sampai ia dewasa nanti. Amiin ya Rabb.


Assalamualaikum, Rumi! Terima kasih telah menjadi penyejuk hati kami, wahai anugerah terindah dari Allah SWT. 


© Sally Ayumi
Maira Gall