Friday, December 5, 2014

My Short Biography, Looking Back From Where I Stand Now




Suci Ayuningtyas, S.E.

Suci was born in June 1989. She finished her study in Business Economic Studies from UniSadhuGuna Business School Jakarta in 2012. Her first job is to be an English Teacher in English Language Program (ELP) in Bekasi, when she was 18 years old.

Suci has joined Paramadina University since 2012 as Project Officer. Currently, Suci is serving in Cooperation and Fellowship Department in Paramadina University as a Coordinator. She is responsible in managing every activities regarding to Paramadina Fellowship Program. It is an annual scholarship program given to Indonesian youth to continue their study in Paramadina University.

Besides that, Suci is also supporting the Department’s Program, Project and Events collaborating with local and international institutions. She was involved in organizing programs such as “Women Participation Program” in 12 cities in Indonesia collaborating with The Asia Foundation and The Royal Danish Embassy in 2012, “Anti-Corruption Clearing House Portal” Program collaborating with GIZ and Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) in 2013, and “Social Ecological Market Economy (Serial Workshop-(2013-2014))” collaborating with Konrad Adenauer Stiftung-Indonesia.

Previously, Suci served as an Junior Executive Secretary in Transparency International Indonesia. It is an Anti-Corruption NGO based in Jakarta. Besides arranging the executive’s daily schedules, she also participated in the NGO’s Anti-Corruption Youth Program, such as “My Dream, My Way, My Action Serial Workshop for Youth” working with Ashoka, MSI and USAID in 2011.

Monday, November 3, 2014

Menikah Bukan Akhir dari Segalanya

Oke.

Kenapa gue nulis judul kaya begitu?
Karena beberapa waktu yang lalu itulah yang gue pikirkan. Menikah berarti gak bisa lagi punya karir. Menikah berarti harus fokus urus suami dan anak. Menikah berarti gak bisa lagi hunting beasiswa keluar negeri. Entah kenapa kok ya gue bisa-bisanya stuck dengan pemikiran begitu.

Padahal kan gue pernah jalanin program Perempuan di Ruang Publik di 12 kota di Nusantara, yang membahas bagaimana seharusnya suami dan istri punya peran seimbang dalam rumah tangga, sehingga sang Istri tetap bisa melanjutkan karirnya meskipun sudah menikah. Ah, payah kok ya baru sadar sekarang.

Sebenarnya gue juga gak bisa pungkiri kalo hubungan gue dan Ricky ini udah tahap saling nyaman satu sama lain dan komunikasinya udah enak banget, udah tek tok, gak jamannya lagi tuh ngambek-ngambek menye-menye hanya karena chatting Whatsapp gak dibales. Kepercayaan ini sudah terbentuk, In Syaa Allah. Terus apa lagi yang kita cari?

Ketika masih pacaran, kita tuh ga bisa pergi jauh-jauh yang harus nginep segala. Harus jaga norma-norma agama karena kita punya rambu-rambu tertentu dalam masyarakat kita. Apalagi gue berhijab. Malu lagi berhijab tapi mesra-mesraan di mall. Malu sama jilbab!

 Beda kalo udah nikah, kita bisa tuh pacaran halal, mau ngapain aja sama dia udah boleh. Mau jalan-jalan ke luar kota juga hayukkk... Hal yang paling asik itu, tiap pagi nanti bisa sarapan bareng, dianter ke kantor, pulangnya juga dijemput. Pulang bareng ke rumah yang sama. Intinya, kebersamaan yang dijalani saat ini akan lebih extra setelah menikah. Uwuwuwuwu... mauuuu.... (ngebet amat ya ini cewe... maafkan!)

Lagian, nikah muda itu asiknya, adalah ketika kita punya anak nanti (Amiin), dan anak kita beranjak dewasa, kita masih enerjik dan masih bisa diajak jalan-jalan cantik ke salon atau ke mall bareng. Ketawa bareng, ngobrol bareng dan kita akan tumbuh dalam perkembangan teknologi yang gak terlalu jauh. Jadi masih bisa tuker-tukeran gadget, bonusnya kita bisa masuk ke dunia anak kita tanpa merasa asing. (Gak kaya bokap gue sekarang yang sama sekali bingung kalo disuruh make hape touchscreen. Ampun Papa!)

Menikah itu memang sebaiknya datang dari keinginan dan kesepakatan berdua. Bukan karena orang tua pengen cucu, bukan karena dikejar umur, bukan karena malu dibandingin sama temen...pokoknya bukan karena alasan lain selain memang ingin membentuk sebuah keluarga dengan orang yang bener-bener kita cintai.

Tapi sebagai perempuan kan gue juga punya ego. Kalau mau menikah, pinginnya dia yg ngajak duluan.. hehehe... betul gak?? Jadi salah satu faktor kenapa gue gak berani umbar kapan nikah ya karena kemarin-kemarin belum ada rencana pasti dari Rickie buat lanjut ke pelaminan, walaupun niat awal hubungan ini ya memang udah serius. (uhuk..kasian deh gue...) Rickie dari awal memang sudah bilang kau dia mau menikah dengan gue, mau gue jadi istrinya. Sebenarnya ucapan di awal hubungan ini mungkin bagi laki-laki sudah cukup menegaskan keseriusannya. Tapi entah kenapa sebagai cewek, kita maunya harus ada konfirmasi ulang. Hehehe...

Sampai pada suatu hari, ketika kita lagi makan malem bareng Bokap gue, tiba-tiba tanpa ada aba-aba Rickie jelas bilang ke Bokap kalau dia mau serius sama gue. Dengan kata lain, minta izin untuk melamar. Jeng Jeng Jenggg... Kepala sama kaki ini berasa misah untuk sesaat. Kaget dan shock. Tapi seneeeng<3

Singkat cerita, setelah dapet restu dari orang tua untuk menikah (gak cuma pacaran), akhirnya pas Idul Adha 5 Oktober 2014 kemarin Rickie datang lagi sama Ibunya untuk perkenalan dengan orang tua gue. One step closer, Alhamdulillah.

Gue kagum dan respect banget sama Rickie yang udah punya tabungan buat menikah. Gak kaya gue yang kerjaannya muter-muterin duit mulu buat bisnis Sophie Martin dan keuntungannya bukannya ditabung malah buat belanja ini itu. Payah banget deh gue. (tepok jidat)

Setelah pertemuan itu, hari-hari gue dan Rickie ga ada habisnya bahas segala perintilan pernikahan. Udah browsing-browsing catering, venue, souvenir... busana pengantin.. halaahh... lamaran aja belom wooyy!! Hahahaha...

Ya gak apa-apa kan, lamaran resminya memang belom dilaksanakan, tapi yang penting udah diniatkan dan kita berdua sama-sama excited atas pernikahan ini. Jadi, doakan gue ya temaaan.... supaya langkah kami berdua dimudahkan dan dilancarkan menuju niat menikah tahun depan. Amiin..

Semoga sharing gue yang singkat dan rada gak jelas ini, cukup bermanfat dan menginspirasi kamu yang lagi galau gak kepengen nikah cepet-cepet.

Salam Sayang,

Monday, July 14, 2014

I'm not Wasting My Time while Missing You

Hello!

This is Monday, but it feels so much like Sunday.
The campus activities is less than before since it is academic holiday for the students.

I don't know, just getting bored in the middle of office hours and feels like to write.
I need to clear my mind so pardon me it this post will sound very mellow.

What I Do Without You
It's been 1 month and 5 days, since Rickie went to Bali for his duty trip.
I am sure this is the first time we are apart for so long since 4 years ago.
Goodbye movie dates, goodbye lovely dinners.... Goodbye sweet weekends!!!

But then I learned that I'm not THAT lonely, like I thought I would be. I thought my weekend would be such a boring time without him near me. Well, I am wrong. It's not that like I don't miss him. Of course I do! But I think, we can't waste our time just day dreaming and longing for fantasy of romance. Such a waste.

Eventually I had a lot to do in my weekend! I cleaned my home, cooked as a chef in my home, playing Hay Day, hung out with my besties, etc. I am doing a duty project also, which could only be done in the weekend because it takes all day to spread those questionnaire (I will tell about it later).

Bonus, I can get home early in my weekdays.

Yes, I am happy and excited about my activities, my new days!! And when my love come back later I would welcome him with my cheerful smile.




© Sally Ayumi
Maira Gall