Friday, March 24, 2017

Cerita Persalinan

Setiap ibu pasti punya pengalaman melahirkan yang unik. Saya sendiri ingin berbagi pengalaman melahirkan yang emosional dan tak terlupakan dalam hidup saya. Pengalaman pertama kali menjadi Ibu :D

Kontraksi


Pada usia kehamilan 37 minggu, adalah saat dimana harap-harap cemas. Ketika kontraksi palsu bolak-balik melanda, dan kontraksi sebenarnya bisa datang sewaktu-waktu. 


Melahirkan normal, adalah satu-satunya harapan saya. Untuk di operasi cesar, saya takut setengah mati, harus tiduran dan perut dibedah. Saya selalu berdoa bisa melahirkan normal. Harapan saya ini juga bukan tanpa usaha, yang bisa saya lakukan adalah banyak-banyak jalan kaki, terutama di pagi hari. Menambah waktu sujud lebih lama ketika sholat, berdoa dan mengaji. Pendekatan spiritual itu penting menurut saya, dapat menenangkan hati yang gundah gulana. Kondisi kehamilan saya saat itu sehat, posisi kepala bayi sudah bagus walaupun ada 1x lilitan tali pusat. Tapi dokter masih yakin saya bisa melahirkan secara normal.


Saya ingat, waktu itu kehamilan saya memasuki usia 38 minggu, dan seperti biasa pas weekend suami ngajak jalan keluar. Waktu itu saya diajak ikut ngumpul bareng teman-temannya di FX mall trus lanjut nengokin temannya yang lagi sakit di RS. Seharian itu saya banyak jalan kaki. Malamnya, dari daerah Sudirman Jakarta saya ngajak suami makan di bilangan Tebet, mendadak kepengin makan angkringan langganan kita berdua. Jauh memang, tapi suami langsung setuju aja. Padahal kita naik motor loh.


Entah karena kecapean atau apa ya, baru selesai makan, perut saya tiba-tiba sakit. Saya pikir ini kontraksi palsu, tapi kok susah banget mau berdiri. Akhirnya saya duduk dulu sampai sakitnya hilang. Ketika sakitnya hilang, saya dan suami langsung meluncur pulang. Di perjalanan  perut saya sakit-sakitan terus, akhirnya saya minta dibawa ke rumah sakit aja langsung.


Sesampainya di Rumah Sakit, langsung ke ruang bersalin. Saya diperiksa dalam oleh Bidan, ternyata saya sudah pembukaan 1. Kami disuruh pulang dan saya disuruh banyak gerak. Sepulangnya dari RS saya langsung istirahat dan tidur.


Besoknya, saya habiskan waktu kerja di rumah. Menyikat kamar mandi, cuci piring, cuci baju, jemur, setrika. Hari itu Papa dan Iyo adik bungsu saya datang untuk stand by dengan mobil kalau sewaktu-waktu harus diantar ke Rumah Sakit.


Berkutat dengan Pembukaan


27 Desember 2016. Sekitar jam 10 malam, ketika semua orang di rumah sudah tidur, saya malah gak bisa tidur. Perut cenut-cenut. Awalnya saya masih tahan, tapi kok sakitnya gak hilang-hilang. Capek dan kesakitan saya akhirnya terpaksa bangunin suami dan Papa. 


Jam 12 malam lewat, berganti hari memasuki tanggal 28 Desember 2016. Dini hari saya di bawa ke RS. Ketika diperiksa, saya sudah pembukaan 2. Hasil pemeriksaan CTG (rekam jantung) bayi saya kurang bagus, mungkin penyebabnya karena lilitan tali pusat itu, sehingga saya harus bedrest dan dipasang selang oksigen di Rumah Sakit. Ini yang membuat pembukaan saya tak kunjung bertambah.



Paginya perut saya terasa baik-baik saja, kontraksi memang berasa tapi belum terlalu sering. Setelah mendapat izin dari Dokter dan Bidan, saya boleh berjalan-jalan di sekitar RS untuk mempercepat pembukaan secara alami. Saya excited sekali karena sebentar lagi akan bertemu dengan bayi yang saya kandung selama 9 bulan lebih.

Sampai sore hari, saya merasa bosan sekali menunggu pembukaan yg tak juga bertambah, kondisi saya juga tidak diperbolehkan pulang. Berkali-kali saya di CTG dan keluarga juga sudah berdatangan ke RS. Akhirnya sore itu saya habiskan dengan makan mie ayam di kantin RS sambil santai dan ketawa-tawa.


Satu hal yang menjadi kekhawatiran saya adalah, dokter kandungan saya dr. Triani Ismelia, Spog sedang cuti akhir tahun berlibur ke China. Kabarnya, hari itu dia baru akan mendarat di Jakarta. Jadi selama saya menunggu di RS, saya belum bertemu dokter saya sama sekali.


Malam harinya, perut saya belum juga bertambah mules. Sampai akhirnya jam 10 malam Bidan mengajak saya bertemu dokter kandungan yang sedang praktek malam itu, dr. Arju Anita Spog. Saya diperiksa dokter Arju, dia melihat kondisi bayi saya bagus, walaupun ada lilitan. Ketika sedang melakukan pemeriksaan dalam alias memasukkan jari ke vagina saya, Saya bertanya kenapa saya tidak juga nambah mules, dia jawab, "Ini sudah bukaan 3 Bu. Jadi Ibu mau mules? Biar cepet ya, saya bikin mules ya."


Tiba2.. srekk... terasa banget jarinya seperti "menyogrok" saya. Gak ngerti lagi deh apa yang dr.Arju lakukan, tapi abis itu saya langsung merasa kesakitan.


Assalamualaikum, Rumi





Tanggal 29 Desember 2016, dini hari tepatnya pukul 2 pagi, perut saya mulai kontraksi hebat. Sudah gak bisa ketawa lagi, saat itu cuma ada Mama yang nemenin di RS. Saya kesakitan sampai air mata keluar, tapi gak ada yang bisa dilakukan. Saya tidak berhenti berdzikir dan memohon kekuatan dari Allah supaya bisa melahirkan dengan lancar.


Semalaman saya tidak tidur, mulut saya sampai kering karena berdzikir dengan keras, "Laa hawla wa laa quwwata illa billah” berbagai posisi saya coba, tapi sakitnya tak kunjung reda. Saya terus menghirup oksigen dari selang dan menahan sakit yang makin lama makin menjadi. Bidan datang entah jam berapa, dan melakukan pemeriksaan dalam untuk kesekian kalinya. Sudah bukaan 4.


Saya memang paling payah menahan sakit. Tapi saya masih diberikan kesadaran, bahwa daripada menjerit, lebih baik saya mengalihkannya menjadi dzikir dan takbir. Saya terus menyebut nama Allah, dengan segala kepasrahan saya sebagai hamba-Nya. Apapun yang Allah kehendaki, saya pasrah.


Pagi hari jam 6, suami saya datang membawa pakaian dan keperluan lain. Dia sigap memijit kaki dan tangan saya. Saya terus memohon supaya tidak ditinggal. Pagi itu suami dan Mama memaksa saya untuk sarapan. Tapi sakit yang luar biasa membuat nafsu makan hilang. Saya ingat sekali, hanya 2 sendok bubur yang bisa saya telan. Selain itu hanya susu beruang 1 kaleng, sari kurma beberapa sendok, madu beberapa sendok, dan air putih. 


Kepanikan mulai muncul ketika badan saya semakin lemah dan lemas diserang rasa sakit yang menjalar ke punggung dan kaki saya. Telapak kaki saya rasanya dingin sekali dan saya meminta dipakaikan kaus kaki.


Dokter Triani belum tiba juga di RS, dan saya pasrah dengan siapa saya akan melahirkan. Harapan saya cuma satu, bayi ini segera keluar dengan selamat.


Saya ingat, sekitar jam 11 pagi, bukaan 5. Vagina rasanya seperti didorong-dorong dengan kuat sekali dari dalam. Bayi saya rasanya mau lompat keluar. Ada refleks untuk ngeden. Tapi semua melarang untuk ngeden sampai bukaan lengkap. Saya panik dan ketakutan karena selalu refleks ngeden ketika bayi mendorong.



Kemudian, Bidan memindahkan saya ke ruang bersalin yang ruangannya tepat di samping ruang observasi dimana selama ini saya dirawat. Saya digantikan baju dengan baju bersalin warna pink, dan dipasang selang oksigen lagi. Tangan kanan saya dipasang jarum infus untuk berjaga-jaga apakah ada perlu obat yang dimasukkan lewat infus.

Sakit, saya salah tingkah. Semua gerakan saya coba, termasuk cara menahan ngeden yang diajarkan di kelas senam hamil. Tidak berhasil. Refleks ngeden terlalu kuat dan saya sangat lelah dan kewalahan. Tapi dalam hati ini, tidak ada sedikitpun niat untuk menyerah dan dioperasi cesar. Saya ingin melahirkan normal dan saya pasti bisa. Kesakitan ini akan segera berlalu apapun akhirnya.

Sebelah kiri ada Ricky, suami saya yang terus mendampingi. Padahal dia takut, dia gugup dan salah tingkah juga. Tapi dia berkali-kali mengingatkan saya, "Ayo Nii, inget baju-bajunya dede bayi, sebentar lagi kita ketemu dede bayi Nii..." 

"Sumpah, kalau kamu selingkuh, aku bunuh kamu...!!" diantara kesakitan dan tenaga seadanya, sempet-sempetnya saya bilang begitu ke suami. Dia malah ketawa, katanya lebih baik saya gak usah ngomong macem-macem. Gak tahu juga kenapa saya bilang begitu, mungkin pengaruh emosi saat melahirkan itu ya.

Sebelah kanan ada Mama, yang berkali-kali mengingatkan supaya saya tidak tidur dan tidak ngeden sebelum waktunya. Rasanya lama betul sampai dengan pembukaan lengkap. Mama menyemangati saya dan berdoa terus supaya saya kuat.

Pembukaan lengkap akhirnya tiba jam 12 siang tengah hari, dan saya sekarang sudah harus mengejan (ngeden) sekuat-kuatnya. Saya ngeden sekuat tenaga, tapi kepala bayi tidak kunjung keluar.

Bidan berkali-kali periksa detak jantung bayi saya, dan saya juga berusaha mendorong. Tapi tidak juga berhasil. Saya lemas dan kesakitan, bahkan tidak lagi bisa bicara. Kaki dan paha saya sesekali merasa keram dan telapak kaki saya dingin seperti es. Yang bisa saya lakukan ya cuma itu, tarik nafas terus ngeden.

Bidan kemudian suruh saya pipis di pispot untuk membantu melancarkan jalan lahir. Tapi saya tidak bisa pipis di pispot, tidak mau keluar. Solusinya Bidan memasang selang ke saluran pipis dan perut bawah saya ditekan-tekan pelan, dan pipisnya pun akhirnya bisa keluar.

Saya coba ngeden terus menerus tapi gagal terus. Di tengah kepanikan, dokter Triani yang cantik muncul dan langsung bersiap-siap untuk membantu persalinan saya. Dia memakai apron, sepatu bot, masker dan sarung tangan.

"Bukan begitu posisinya bu. Ayo Bu! Lah, kok pake kaos kaki Bu???"

Walaupun sudah gak bisa menjawab, tapi semangat saya bangkit lagi. Ketika dokter Triani membetulkan posisi saya, saya disuruh memeluk kedua paha saya dan ngeden sekuat tenaga.

Kepala bayi sudah terlihat, tapi masuk lagi ketika saya menarik nafas. Berulang terus seperti itu. Ini gila, saya panik dan takut bayi saya kehabisan nafas.

"Bu, Ayo Bu! Ngeden yang kuat Bu! Ini kepala bayi Ibu yang ada di bawah sini bu! Kalau ibu gak bisa ngeden saya Vakum ya bu?!"

Kalau saja saya bisa jawab, saya tahu. Saya sadar. Saya juga ingin bayi saya lahir dengan cepat dan selamat. Tapi kalau tenaga sudah saya kerahkan semua, sementara bayi tidak juga terdorong... saya harus bagaimana?

Akhirnya dokter mengambil alat vakum dengan sigap dan vagina saya digunting sedikit di bagian kanan kiri. "Kalau saya vakum Ibu tetap harus ngeden. Ikuti aba-aba saya ya Bu!"

Percobaan vakum pertama, saya ngeden sesuai aba-aba. Gagal. Tetap saja dibilang ngeden saya salah. "Ya Allah ya Rabb, ngeden yang saya tahu ya begitu...saya harus bagaimana lagi Ya Allah?" Jerit saya dalam hati.

"Kalau divakum belum lahir juga, kita pindah ke ruang operasi ya Bu! Ini sudah terlalu lama Bu kepalanya di bawah!"

Astaghfirullah, saya panik, takut, sedih, kesakitan dan lemah. Saya tidak mau dioperasi.

Percobaan vakum kedua, saya ngeden sesuai aba-aba.

Tanpa saya sadari tiba2 sesuatu yang lembut, licin, lembut dan lembek keluar dari vagina saya. Ternyata itulah bayi saya. Lembut sekali. Terdengar tangis bayi pelan- dan putus-putus. Rasa sakit hilang sama sekali.

Ketika saya sadari, mata saya melihat di dalam kotak kaca di sebelah kiri saya, sudah ada seorang bayi yang bersih, putih dan montok berisi. Dia cantik sekali, kulitnya berwarna putih pink dan rambutnya hitam tapi tidak terlalu lebat. Matanya terbuka lebar tapi tangisnya lemah. Ternyata cepat sekali Bidan sudah membersihkan dan memakaikan popok untuknya. Mama dan Ricky mendekati bayi kami, memandanginya dengan takjub. 

Namanya Rumi, bayi yang selama ini menendang di perut saya. Rumi sudah lahir ke dunia dengan selamat, lengkap dan sempurna. Alhamdulillah ya Allah, dalam hati saya bersyukur banyak-banyak.


Perawatan saya belum selesai. Saya mendapat suntikan anti pendarahan di paha. Dokter Triani masih sibuk mengeluarkan plasenta dan menjahit vagina saya. Karena dibius, saya tidak merasa apa-apa ketika dijahit, yang saya rasakan hanya lelah, lemas, capek luar biasa. Seperti tidak ada tenaga sama sekali. Bahkan untuk mengangkat tangan saja saya tidak kuat. Saya terus menghirup oksigen dari selang, dan Mama memberi saya minum air.


Karena saking hebohnya ngeden itu tadi, jarum infus di tangan kiri saya sampai lepas, sempat keluar darah agak banyak dari tangan kiri saya, menetes ke lantai. Jadi selesai menjahit, dr. Triani menangani tangan saya yang berdarah-darah.


Saya masih mendengar suara tangis Rumi yang sepotong-sepotong, saya lihat bidan juga berusaha menepuk-nepuk pantatnya supaya menangis lebih keras. Tapi dia terlalu lemah untuk itu. Bidan kemudian mengangkatnya dan meletakannya di dada saya untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Mulutnya ditempelkan ke puting susu saya, tapi sekali lagi, Rumi hanya bisa menangis terbata-bata tanpa bisa menghisap. Kegagalan IMD itu membuat saya patah hati. Saya merasa sedih dan sangat bersalah, karena saya tidak kuat ngeden dia terlalu lama di jalan lahir, kekurangan oksigen yang membuat dia lemah. Saya ingat Ricky buru-buru mengambil air wudhu dan mengadzani Rumi di dekat telinganya. Rumi  kemudian dipindahkan ke ruang perawatan bayi untuk dipasang selang oksigen dan dihangatkan dalam inkubator. 


Setelah semuanya selesai, dr. Triani menyelamati saya dan berpamitan. Saya disuruh beristirahat dan diobservasi selama 2 jam sebelum dipindahkan ke kamar rawat inap. Ketika semua orang keluar ruangan, saya menangis sejadi-jadinya. Saya merasa khawatir dan sangat amat bersalah dengan apa yang dialami Rumi.


Mama dan Mama Mertua datang untuk menghibur saya dan menenangkan saya. Ricky juga ada di sana, menghibur saya dengan leluconnya seperti biasa. Saya tidak akan pernah lupa, Ricky membisikkan ucapan terima kasih karena telah melahirkan putrinya dengan selamat. Saya masih menangis tanpa bisa menjawab. 3 hari kemudian, kondisi saya dan RUmi sudah stabil dan diizinkan pulang, tepatnya tanggal 1 Januari 2017.


Hari kelahiran Rumi tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Hadiah di awal tahun 2017. Memori di hari itu akan selalu menjadi motivasi bahwa ternyata saya cukup kuat menahan sakit. Bahwa saya adalah perempuan yang berani dan bisa melalui semuanya.


Ketika saya capek, atau sakit di masa depan nanti, saya akan mengingat lagi perjuangan hari itu supaya saya ingat, tidak ada yang tidak bisa saya lakukan di dunia ini. Supaya api semangat terus berkobar dalam hati, untuk mengabdikan hidup saya merawat dan mendidik Rumi sampai ia dewasa nanti. Amiin ya Rabb.


Assalamualaikum, Rumi! Terima kasih telah menjadi penyejuk hati kami, wahai anugerah terindah dari Allah SWT. 


Wednesday, November 30, 2016

Skin Care dan Kosmetik Selama Hamil

Saya percaya, hamil itu harus tetap cantik. Maksud saya, cantik itu bukan berarti harus gimana-gimana, tapi ya harus tetap merawat diri.

Saya sendiri pernah ngalamin rasanya males banget dandan di awal kehamilan, muka polos ke kantor cuek aja, sampe dikira sakit sama orang-orang kantor.

Tapi seiring berjalannya waktu, kehamilan semakin membesar dan mulailah saat-saat tubuh kita makin 'menyesuaikan' dengan kondisi kehamilan. Hormon merajalela. Cermin makin jadi musuh kita.

Apa sih yang terjadi? Ya, saya mengalami apa yang dialami juga oleh kebanyakan ibu-ibu hamil. Ketika hormon membuat lipatan2 kulit menghitam, seperti ketiak, leher, selangkangan, payudara, perut dll. Stretchmark makin jelas terlihat, perut seperti dicakar macan. Juga kondisi kulit yang semakin 'meregang' dan 'melebar' sehingga rasanya permukaan kulit jadi kering, kasar dan gatel-gatel. Pada usia kehamilan 8 bulan, saya juga merasa beberapa jerawat mulai muncul. Padahal, saya sudah berusaha merawat diri. Nah, apalagi kalau tidak dirawat sama sekali? Pasti bakalan lebih kusam, buluk, dekil... ihh..nggak banget deh. Yang ada kita malah dijauhi sama suami dan temen-temen kita.

Sebenarnya apapun yang terjadi pada tubuh kita selama hamil, itu pertanda penyesuaian diri kita terhadap kehamilan itu sendiri. Jadi, mau dirawat seperti gimanapun juga, hal itu akan tetap terjadi dan akan normal kembali setelah melahirkan (katanya sih gitu, I hope so! Karena saya juga belum melahirkan, saat ini hamil 34 minggu).

Saya membuat tulisan ini bukan untuk mengeluh, tapi disini saya ingin mengajak ibu-ibu hamil untuk gak nurutin rasa malesnya terhadap perawatan diri. Setidaknya kita harus tetap tampil cantik, bersih, wangi. Baik di rumah atau di kantor supaya kita tetap percaya diri. Kepercayaan diri akan berpengaruh positif terhadap otak dan membantu kita merasa bahagia terhadap kehamilan kita.

Nah, sekarang saya mau share skin care apa saja yang saya gunakan selama hamil sampai 8 bulan lebih nih ya..hampir semuanya yang saya pakai bukan berasal dari klinik kecantikan atau dokter. Hampir semuanya adalah skin care atau kosmetik over the counter yang bisa ditemukan di supermarket mana saja. Tapi, saya gak bilang mereka semua aman buat siapapun. Saya share ini juga bukan iklan atau endorse. Saya gak menjamin juga hasilnya akan sama di setiap orang.

Fyi, kulit saya kombinasi cenderung berminyak dan gampang berjerawat.

Wajah

Skin care:
- Milk cleanser Viva Green Tea
- Toner Viva Green Tea
- Clean & Clear foaming facial wash
- Clean & Clear daily pore cleanser (seminggu sekali utk scrubbing)
- Clean & Clear moisturizer SPF 15

Kosmetik:
- Wardah BB Cream Everyday
- Pensil alis Viva
- Eyeliner Maybelinne Master Liner waterproof
- Lipstick dan Lip Balm (Macem-macem, ganti-ganti tiap hari tergantung mood aja, mulai dari Purbasari, Maybelinne, Oriflame, Revlon, Sophie Paris, Silky Girl, dll)
- Bedak Maybelline


Badan
- Sabun apa aja yang mengandung moisturizer ekstra (asal bukan whitening)
- Body lotion Nivea (apa aja asal bukan yang whitening)
- Deodorant Nivea
- Body cologne (apa aja asal disemprot ke baju)
- Minyak telon/kayu putih (kalo lagi ngerasa kembung)
- Minyak kelapa murni (buat dioles ke perut untuk ngurangin strecth mark)

Payudara
- Baby oil dan Kapas (buat bersihin daerah areola dan puting payudara. Percayalah kamu harus rajin bersihin setiap hari apalagi pas lagi hamil tua menjelang melahirkan!)

Rambut
- Pantene Shampoo Anti dandruff
- Good Creambath Aloe Vera (seminggu sekali)

Untuk perawatan ibu hamil, perhatikan semua kemasan produk yang kita pake, pokoknya jangan pilih yang whitening! Itu gak bagus buat janin kita. Oke, saya ngerti betapa menghitamnya ketek dan pantat kita, tapi sudahlah, produk-produk whitening gak akan membuatnya lebih baik, toh bagian-bagian itu ga keliatan ini kan ya. hahahahaa... 'pasrah 

Udah sih, itu aja. Karena keterbatasan ilmu saya, kalau ada yang tahu, misalnya produk yang saya share disini ternyata mengandung bahan berbahaya atau gimana gitu, tolong dong plis dikasih tau ya.

Oke sekian dulu sharingnya hari ini. Selamat berbahagia dalam kehamilanmu yaa... 

Kiss Kiss






Friday, October 21, 2016

Trimester Kedua

Memasuki usia kehamilan 4 bulan, mual berangsur-angsur menghilang. Indera penciuman gak terlalu sensitif lagi, jadi masih bisa toleran sama bumbu-bumbu masak dan bau-bau aneh lain di sekitar. Hal ini yang saya syukuri banget, karena menjalani hari-hari kehamilan menjadi lebih mudah karena udah bisa makan dengan nyaman.

Yang saya alami lainnya adalah munculnya stretchmark yang semakin jelas, garis-garis merah kehitaman di perut bagian bawah. Stretchmarks ini muncul karena perut melar secara drastis sehingga pembuluh darah di bawah kulit pecah. (Kalo ga salah gitu) Tapi Stretchmark ini kata orang sih akan menghilang setelah melahirkan (hopefully ya). Karena garis-garis ini gak keliatan juga, jadi saya gak begitu masalah. Perawatannya diolesin minyak telon atau minyak kelapa aja yang rajin, untuk menjaga elastisitas kulit, supaya seiring membesarnya perut kita nanti, strecthmark gak makin parah.

Di Trimester Kedua ini, Alhamdulillah saya gak mengalami banyak keluhan. Bisa kerja dengan santai. 

Kendala muncul ketika periksa kandungan, berat janin sempat kurang. Akhirnya harus makan banyak protein hewani dan mengurangi karbohidrat. Saya akui sih, susah banget makan makanan sehat kalau sambil kerja kantoran gini. Makan 3x sehari semuanya beli karena gak sempet masak. Tantangan banget deh kerja kantoran, hamil dan makan sehat. Uugh, rasanya pengen resign aja demi anak. Alhamdulillah sampai sekarang janin masih dinyatakan sehat.

https://www.pinterest.com/explore/pregnancy-silhouette/

Memasuki Trimester Ketiga ini, keluhan yang makin menjadi adalah sakit pinggang dan punggung. Alamak, kalau mau tidur harus dielus-elus punggungnya dan rasanya pegel banget tiap bangun tidur. Awalnya cuma terasa pas malam hari, eh makin kesini makin sering sakit punggungnya dan berlangsung selama hampir 24 jam! Wajar aja sih sakit punggung ini terjadi karena berat bayi yang semakin bertambah jadi tulang punggung harus menahan beban berlebih, dan tulangnya kurang kuat karena bayi juga menyerap asupan kalsium dari ibunya. 

Pas periksa ke Dokter, disarankan kalau sudah terlalu nyeri ya diminum suplemen kalsiumnya (Ossoral) tapi kalau sudahgak sakit, minumnya sehari sekali aja sesuai dosis awal. Trus dapet kabar lagi bahwa posisi Dede Bayi sungsang, kepalanya belum di posisi bawah. Dokter menyuruh saya untuk sering-sering knee chest position (posisi mirip sujud) supaya bayi bisa bergerak muter. Kalau dia begini terus, bisa-bisa nanti gak bisa lahiran secara normal. Sebenernya Dokter Triani gak bermaksud nakutin, tapi memang itulah resiko yang harus kita ketahui sebagai pasien. Sempet down banget sih, nangis malem-malem karena khawatir yang berlebihan.

Di awal kehamilan bulan ketujuh ini, saya cuma bisa berdoa dan berusaha, semoga kehamilan ini tetap lancar tanpa banyak keluhan dan lancar bersalin secara normal. Supaya saya dan suami bisa ketemu Dede Bayi dengan selamat dan sempurna. Amiin.

Intinya sih kalau hamil jangan malas kontrol ke dokter ya. Harus selalu tahu perkembangan janin setiap bulannya. Kalau ada apa-apa bisa segera ditangani. Jangan lupa juga harus rajin minum susu hamil untuk tambahan kalsium dan asam folat, juga vitamin hamil yang dari dokter.

Buat kamu yang lagi hamil, semangat terus yuk!

© Sally Ayumi
Maira Gall