Wednesday, September 29, 2010

When They Laugh Behind Me, I Know How Hurt It Will Be

Aku ingat ketika pertama kali aku bicara dengan mereka. Kami tidak langsung saling percaya. Dimulai dengan canda, sakit, air mata, amarah dan desas-desus ringan yang mengantarkan kami pada keakraban. Cerita bergulir sepanjang waktu berlari, kami pun memiliki sebuah ide bagus untuk melantik diri sebagai "sahabat".
Aku juga masih ingat betapa kita saling jujur dan bercanda. Bagiku, semuanya tidak akan pernah tergantikan oleh apapun juga.
Suatu waktu Papa pernah cerita, bahwa kalau kita memberi minum seekor anjing yang kehausan, sampai mati anjing itu tak akan pernah melupakan kita. Mungkin sebaiknya aku bersahabat dengannya, sebab ternyata manusia tidak seloyal itu. Termasuk aku.
Tulisan ini terinspirasi dari rasa kecewaku pada mereka, yang tertawa dibelakangku. Aku ketakutan setiap kali hendak bicara, bisa saja kalimatku menjadi bumerang bagi diriku sendiri. Aku waspada dalam tiap gerakku. Sebab mereka selalu bisa melihatku.
Aku mohon izin kepada mereka, untuk memilih sendiri apa yang aku inginkan. Aku ingin mereka menjaga perasaanku sebagaimana aku selalu berusaha untuk tetap tersenyum dalam setiap kesalahan yang terjadi diantara kami. Aku ingin mereka mendengarkan keluh kesahku tanpa mengutipnya untuk pembicaraan lain di belakangku. Tangisku tak sanggup menghentikan semua ini. Aku terluka.
Aku minta maaf karena bertindak bodoh di hadapan mereka. Aku sadar, meski mereka tak pernah tahu, diri ini juga sama seperti mereka. Jadi aku minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya. Sekarang aku mengerti bagaimana rasanya dikhianati. Aku akan tetap tertawa bersama mereka, tanpa sedikitpun tertawa di belakang mereka. Sebab ketika mereka tertawa di belakangku, aku tahu bagaimana sakitnya.


written on a lonely night,

_Sally Ayumi

Wednesday, September 1, 2010

Rain, Virus and Black Mocca

Rain, Virus dan Black Mocca...


Satu dari sejuta mimpiku yang akhirnya terwujud. Alhamdulillah.
Inti dari mimpiku ini cuma satu ; aku ingin berbagi cerita.
Terima kasih, ya Allah. Engkau bukakan jalan untukku.


Hwaahh, senangnyaa....

Satu tahun bukan waktu yang sebentar dalam menanti penerbitan buku ini. Aku sabar menunggu datangnya "trend" yang menjadi alasan mereka mencetak RVBM. Namun tidak bagi kawan dan keluargaku. Mereka haus berita gembira. Mereka tidak sabar membaca ceritanya.

Aku belum pernah tahu, sebangga apa orang tuaku terhadapku. Tapi, ketika buku ini benar-benar terwujudkan, mereka memberiku ucapan selamat.
Aku tidak pernah mengharapkan kalimat itu sebelumnya. Sebab keluarga kami memang jauh dari formalitas sinetron macam itu. Kami keluarga yang terlalu santai.
Jadi hatiku bergetar mendengarnya.
Seperti ketika Q pertama kalinya membisikkan kata "Makasih ya, Nii.." di atas motor tempo hari.
Seperti ketika mendengar bunyi dentang lift setelah beberapa lama menunggu.


Aku bahagia. Terima kasih, Ma.. Pa..

You guys always be the best for me.

Terima kasih juga untuk sepupuku tersayang, Rachma. Orang yang pertama kali dan selalu menjadi fans RVBM. This book is dedicated for you, Siz!

Thans to Mbak Nia dan Mbak Lya yang selalu membantu share info lebih cepat dari pada yang lain.

Terima kasih ya...

Warm regards,


Sally.
© Sally Ayumi
Maira Gall