Rain, Virus dan Black Mocca...
Satu dari sejuta mimpiku yang akhirnya terwujud. Alhamdulillah.
Inti dari mimpiku ini cuma satu ; aku ingin berbagi cerita.
Terima kasih, ya Allah. Engkau bukakan jalan untukku.
Hwaahh, senangnyaa....
Satu tahun bukan waktu yang sebentar dalam menanti penerbitan buku ini. Aku sabar menunggu datangnya "trend" yang menjadi alasan mereka mencetak RVBM. Namun tidak bagi kawan dan keluargaku. Mereka haus berita gembira. Mereka tidak sabar membaca ceritanya.
Aku belum pernah tahu, sebangga apa orang tuaku terhadapku. Tapi, ketika buku ini benar-benar terwujudkan, mereka memberiku ucapan selamat.
Aku tidak pernah mengharapkan kalimat itu sebelumnya. Sebab keluarga kami memang jauh dari formalitas sinetron macam itu. Kami keluarga yang terlalu santai.
Jadi hatiku bergetar mendengarnya.
Seperti ketika Q pertama kalinya membisikkan kata "Makasih ya, Nii.." di atas motor tempo hari.
Seperti ketika mendengar bunyi dentang lift setelah beberapa lama menunggu.
Aku bahagia. Terima kasih, Ma.. Pa..
You guys always be the best for me.
Terima kasih juga untuk sepupuku tersayang, Rachma. Orang yang pertama kali dan selalu menjadi fans RVBM. This book is dedicated for you, Siz!
Thans to Mbak Nia dan Mbak Lya yang selalu membantu share info lebih cepat dari pada yang lain.
Terima kasih ya...
Warm regards,
Sally.
3 comments
cerita nya ok banget.. :)
aku sampai jatuh cinta.. hehe
i Like it Very mUch..
Terima kasih semuanya udah baca RVBM.. seneeng x)
Post a Comment