Wednesday, January 26, 2011

Opa Puri

Puri, anak perempuan kampung dengan rambut sebahu itu masuk melewati pagar rumah, melemparkan sepatu dan tas sekolahnya di teras, lalu mengambil segelas air putih dan meminumnya sampai habis. Seragam putih merahnya agak dekil karena debu jalanan. Sayup-sayup terdengar suara siulan dari kamar kakeknya. ”Assalamualaikum!” sahutnya keras.

”Waalaikumsalam!” Jawab Opa. Puri meletakkan gelasnya di atas meja, lalu masuk ke kamar Opa. ”Sedang apa Opa?” tanya Puri. Dia melihat pria tua itu duduk di tepi ranjangnya sambil mengelap sesuatu dengan kain putih.

“Opa sedang membersihkan ini lho, jam antik kesayangan Opa. Lihatlah, bagus kan?” Opa menjawab dengan wajah berseri. Puri mencium tangan Opa, lalu melihat ke benda yang dimaksud. Puri mengangguk. Gadis kecil itu tak bisa berkata apa-apa lagi, dia terpukau dengan benda itu. Warna keemasan dan angkanya menyilaukan mata bulatnya. Dia tersenyum, ”Mahal ya Opa?”


”Yaa kalau sekarang sih mahal, Pur. Ini peninggalan orang tua Opa.” Kenangnya. Puri kembali mengangguk, ”Oo, dari Opa Buyut ya?”

”Iya.” Opa mengembangkan senyum di wajah keriputnya. Jam itu kemudian dimasukkan lagi ke dalam sakunya. Puri kemudian terbayang betapa cantiknya dia jika bisa mengenakan jam itu di lehernya.

”Puri boleh pinjam jamnya Opa?” Tanya Puri kemudian. ”Boleh saja.” Opa langsung menjawab, ”tapi ingat, jangan sampai rusak ya...?”

Opa mengalungkan jam itu di leher Puri. Gadis itu senang bukan main, ia kemudian pergi ke depan cermin untuk mematut diri. Ia segera berganti baju. Baginya, jam itu adalah sesuatu yang mewah. Dia seketika merasa seperti seorang putri.

Puri dan Opa hanya tinggal berdua di sebuah rumah kecil di atas bukit pinggiran jalan tol. Mereka berdua sering memandangi mobil-mobil yang lewat dan berlomba menghitung jumlah truk merah yang lewat, atau apapun yang menarik perhatian mereka.

Tidak seperti bocah 10 tahun yang lain, Puri tidak tinggal dengan ayah dan ibunya. Ayahnya meninggal karena sakit, dua bulan sebelum kelahirannya. Sedangkan Ibunya merantau ke Arab Saudi menjadi TKW, beliau hanya pulang setahun sekali.

Puri masih menari-nari, berpura-pura menjadi putri, ketika Uyan memanggilnya dengan lantang dari depan pagar rumah. ”Purii... main yuuukk...???”

Gadis itu tersentak, dan langsung berlari ke belakang rumah dimana Opa sedang menyemir sepatunya sambil menikmati pemandangan tol. ”Opa, Puri mau main sama Uyan, yaa?” katanya memohon izin.

”Iya, Pur. Hati-hati ya mainnya.” Jawab Opa tanpa ragu. Uyan adalah bocah lelaki anak tetangga sebelah, badannya agak gempal, kulitnya cokelat gelap dan di lehernya selalu terikat kalung tali berwarna hitam. Si Imut Puri hampir tiap hari bermain dengannya. Setiap jam pulang sekolah seperti sekarang.


Puri menunjukkan jam saku milik Opa. Uyan ikut terpesona, ”Waah, bagus ya?” pujinya. Puri tersenyum menang. “Hari ini aku adalah Putri Puri!”


“Huu, mana ada Putri ingusan seperti kamu! Huh…” cibir Uyan. “Iih, aku nggakingusaaan!” Mereka berkejaran di titian sawah, mengejar angsa-angsa dan mencuri telurnya. Puri baru saja mendapatkan telur pertamanya, ketika dia mendengar suara kicau anak angsa di tepi jurang.

“Yaan, sini deh… Lihat itu!” tunjuk Puri. Uyan ikut memandang seekor anak angsa yang sedang berusaha keluar dari cangkang telurnya, di dalam lubang agak menjorok ke bawah di bukit yang curam. ”Dia nggak bisa keluar... tolongin yuk?” ajak Puri. Uyan langsung menggeleng, ”Nanti juga keluar sendiri, Pur. Aku takut terpeleset.” Jawab Uyan ragu.

”Nggak apa-apa kok. Nanti dia bisa mati terjepit cangkangnya sendiri. Sini biar akuaja deh yang turun ke bawah.” Puri memberanikan diri. Jam saku milik Opa terayun-ayun di lehernya, ketika dia mulai meniti tanah bukit yang berbatu.

”Pur! Jangan! Bahaya...!” Cegah Uyan. Terlambat, Puri terlalu keras kepala. Uyan berdebar-debar menyaksikan Puri yang semakin jauh ke bawah, kaki mungilnya berpijak pada batu-batu. Semalam hujan, tanah merah itu basah, Uyan takut Puri terpeleset.

Puri sangat bersemangat, sampai dia tidak lihat bahwa batu pijakan selanjutnya tidak cukup kokoh menahan bobot tubuhnya. Seiring tangisan si anak angsa, Puri pun ikut berteriak kencang. ”Aduuuhh....!!!!” Puri kecil terguling ke dasar yang becek. Tangisannya pecah.

”Tuh kaaan, apa Uyan bilang! Jatohh dehh!” Uyan berseru pasrah. Tapi bocah lelaki itu tidak berani ikut turun ke bawah, dia lalu kembali berseru ”Tunggu disitu, Uyan panggil Opa, ya?”

”Cepet ya Uyaaan!” Puri berteriak. Uyan segera berlari terbirit-birit pulang ke rumah Opa. Puri tak kuat memanjat lagi ke atas, kakinya luka dan mengeluarkan darah. Ia masih menangis. Puri berdiri dan membersihkan baju seadanya. Dia memegang jam saku milik Opa, dan menyadari sesuatu.

Kaca jam itu retak, jarumnya berhenti bergerak. Puri terperanjat dan panik. Dia buru-buru mengetuk jam itu ke telapak tangan kirinya. Tak ada yang berubah. Jam Opa rusak. Puri takut bukan kepalang, saat dia menyadari bahwa sebentar lagi Uyan datang bersama Opa. Kakeknya pasti marah mengetahui jamnya rusak. Puri teringat lagi wajah Opa yang berseri ketika membersihkan benda itu penuh dengan kasih sayang. Saking takutnya, dia tak mampu lagi menangis.

Puri melihat ke sekelilingnya dan berusaha mencari jalan keluar. Akhirnya dia menemukan celah kecil di bebatuan dan ia menyusup melewatinya. Puri berjalan terus menuju tempat yang ramai. Puri kenal jalan itu, dia menyusuri jalan sambil menahan sakit, menuju pasar. Jalan yang ditempuhnya cukup jauh, hampir setengah jam.

Ketika sampai di pasar, semua mata memandang bocah perempuan dekil yang belepotan tanah dengan lutut berdarah. Puri langsung menuju sebuah toko jam, dan bicara pada pria keturunan Chinese yang sedang merokok santai.

”Om, aku mau memperbaiki jam ini. Berapa ya harganya?” tanya Puri. Pria itu menyungging senyum, sambil melengos cuek, dia berkata, ”Hmm, ini jam antik, mahal sekali kalau mau diperbaiki. Bisa kena dua ratus ribu.”

Puri terkejut. Dia mengingat-ingat lagi lembaran dan koin-koin yang pernah dia masukkan ke celengan ayamnya di rumah. Hanya uang seribuan dan koin lima ratusan. Paling besar dia menabung sepuluh ribu perak. ”Tapi bisa bagus lagi ’kan Om?”

”Ya bisa, tapi besok baru selesai.”

Puri tertegun. Dia mengangguk, ”Ya sudah Om, ini jamnya aku tinggal yah. Besok aku datang lagi sambil bawa uangnya.”

Puri kembali ke rumahnya. Sepi. Opa tidak di rumah. Dia buru-buru masuk ke kamarnya lewat pintu belakang. Puri buru-buru mandi dan mengambil celengan ayamnya. Puri kembali kabur, di tengah perkebunan dia memecahkan benda itu. Puri menghitung uangnya.

”Sepuluh, empat belas, dua puluh...” Puri menggeleng-geleng ketika dia lagi-lagi melakukan kesalahan. Setelah beberapa lama menghitung, Puri mendapati dia punya uang seratus dua puluh ribu. Kurang delapan puluh ribu. Adzan magrib berkumandang dan Puri tidak tahu harus pergi kemana. Dia tidak berani pulang menemui Opa tanpa jam itu. Dia hanya memikirkan bagaimana mencari tambahan uang.

Puri pergi ke rumah Bu Maryam, tukang cuci yang tinggal jauh di dekat sungai. Puri meminta pekerjaan kepadanya, dia mau disuruh apa saja asal diberi uang. Awalnya Bu Maryam heran, mengapa bocah kecil itu datang malam-malam. Puri menceritakan semuanya dan Bu Maryam pun mau membantu. Bu Maryam memberi Puri makanan dan menyuruhnya merendam cucian yang akan dicuci esok pagi. Malam itu Puri menginap disana. Esok harinya, setelah lelah mencuci dan menjemur pakaian, Puri diberi uang dua puluh ribu rupiah.

Bocah itu kembali mencari akal. Dia pun pergi ke pasar, meskipun sekarang sudah waktunya sekolah. Di Pasar, Puri membantu ibu-ibu membawakan belanjaan. Selain itu, dia juga membantu Bu Ayu sang pemilik warteg, mencuci piring. Bu Ayu juga mau berbaik hati memberinya makan siang.

Hari semakin sore, tapi uang Puri masih kurang. Dengan lunglai, dia berjalan ke Toko Jam. ”Permisi, Om.”

Pria Chinese itu menengok, ”Oh, kau rupanya. Ini, jamnya sudah selesai.” Puri berjinjit di tepi etalase. Dia terkagum-kagum melihat jam Opa yang sudah kembali seperti sedia kala. Senyumnya terkembang melihat jarum jam yang kembali berdetik.

”Om, maaf ya. Tapi uangku kurang. Aku hanya punya seratus empat puluh tujuh ribu.” Puri menunduk sambil mengulurkan uangnya. Si Om segera tertawa kecil, dia memperhatikan Puri yang sudah kusut bukan main. Bajunya kotor semua dan rambutnya acak-acakan. ”Ya sudah, tidak apa-apa. Sana pulang.”

”Boleh, Om? Makasih! Om baik sekali! Aku doakan Om sukses, cepat kaya dan sehat tujuh turunan ya Om..!!”

Puri kembali pulang dengan wajah berseri. Sesampainya di rumah, Opa tidak juga berada disana. Badannya terasa sangat lelah. Puri kemudian langsung menuju bangku panjang di belakang rumah, tempatnya biasa menghitung mobil di jalan tol. Angin sepoi-sepoi membuat Puri semakin mengantuk. Dia merebahkan diri di sana, dan terlelap.

Opa pulang dengan hati sedih, sudah hampir putus asa mencari cucunya yang hilang. Uyan yang dari kemarin ikut mencari, menemani Opa masuk ke rumah. Opa menyadari sesuatu, ada sandal Puri di depan pintu. Lelaki enam puluh tujuh tahun itu berlari kecil, mencari di seisi rumah.

Opa menemukan Puri yang sedang tertidur lelap di belakang rumah. Langsung Puri dipeluknya dan dibelai-belai penuh kasih sayang. “Purii.... kemana saja kamu?”

Puri terbangun, “Opa... jamnya kemarin rusak. Tapi sekarang sudah betul lagi.” matanya masih terlalu berat.

”Opa sama sekali nggak khawatir pada jam itu, Opa takut kamu yang terluka, Pur.” Opa menahan haru. ”Jangan kabur lagi. Buat Opa, kamu adalah harta yang paling berharga.”

Puri cemberut. Sambil bertutur lugu, ”Yaaah, Opa bukannya bilang dari kemarin! Tau begitu, Puri ’kan nggak perlu cari uang untuk betulin jam Opa!”

”Waaah, hebat juga kamu betulin jam mahal begitu ya Pur? Dapat uang dari mana?” Uyan berkata.

”Celengan ayam, bantuin Bu Maryam nyuci, Ke pasar… Capek dehh!” Puri tersungut.

Mereka semua tertawa. ”Nanti Opa ganti ya uangnya.” Kata Opa.








The End.

No comments

© Sally Ayumi
Maira Gall