Sunday, December 16, 2012

Mamahnya Orang Gila

Kejadian ini gw alami ketika dalam perjalanan pulang kantor. Badan gw udah capek banget karena berdiri selama setengah jam di bus Mayasari Bakti, setelah turun di tol Bekasi Timur gw langsung naik angkot yang akan membawa gw mendekati komplek rumah.

Di dalam angkot yang sudah hampir penuh, di sebelah kanan gw duduklah seorang nenek dan cucu perempuannya yang kira-kira berusia tiga tahun. Gadis kecil itu bermata sipit, pipinya tembem dan rambutnya dikuncir dua. Imut banget. 

Tapi kejadian sebenarnya ketika kita berada di dalem angkot, yang ada semua orang akan  berlaku jaim-sejaim-jaimnya karena nggak saling kenal. Termasuk gw, yang memilih untuk diam bersandar dan memeluk tas gw erat-erat. Yah, waspada dong kali aja Bapak sebelah kiri gw ternyata copet.

Ketika angkot mulai berjalan, si cucu mulai berkata "Nek, kemaren kita liat orang gila dimana ya?"

Sang Nenek menjawab dengan wajah datar "Itu di jembatan depan sana."

Si cucu mulai mendelik, melongok dan berusaha memastikan jembatan yang dimaksud sang Nenek. Akhirnya angkot kami melewati jembatan itu. Mata gadis itu menyusuri sepanjang jembatan sampai selesai dilewati, kemudian wajahnya terlihat kecewa. "Mana Orang gilanya, Neek???"

Sambil malas-malasan sang Nenek menanggapi, "Sudah pulang kali."

"Pulang kemana?" tanya sang cucu.

Sang Nenek nyeletuk asal, "Ke rumah Mamahnya."

"Emangnya Orang gila punya Mamah juga?" tanya si cucu polos. Pertanyaan ini cukup membuat semua penumpang angkot tersenyum geli, termasuk gw.

Si Nenek tampaknya gak mau ambil pusing, "Ya punyalah. Orang gila kan Orang juga."

"Emangnya Mamahnya gak marah anaknya suka main di jembatan?" gadis kecil itu  kembali menuntut jawaban. Saat itu semua penumpang semakin geli mendengarnya, tapi  masih bertahan menahan tawa.

Si Nenek mengusap wajahnya, sedikit jengkel tapi masih mau menanggapi cucunya "Mamahnya kan kerja, jadinya nggak tau."

"Emangnya Mamahnya kerja cari uang juga Nek? Emangnya buat beli apa, Nek?" Tangan kecil gadis itu memilin-milin ikatan rambutnya. Ia menunggu jawaban dari sang Nenek.

"Iya kerjaaa....cari uang, buat beli macam-macam. Beli makan, beli minum, beli obat..." Jawab si Nenek.

"Beli obat buat apa Nek?" Tanya si cucu lagi. Gw berusaha sekuat tenaga menahan tawa.

Tanpa pikir panjang si Nenek langsung menyahut, "Ya obat buat anaknya dong. Anaknya kan GILAAA!!!"

Spontan tawa meledak dari para penumpang termasuk supirnya. Hilang sudah pertahanan jaga image masing-masing orang.

Sang cucu tersipu malu melihat reaksi para penumpang dan memilih untuk bersembunyi dipelukan Neneknya. Sementara sang Nenek hanya bisa tertawa bersama kami semua.

Sepertinya penumpang yang lain juga merasa sangat terhibur dengan kelakuan si Cucu dan Neneknya ini.  

gambar: http://lovenstyle.com/wp-content/uploads/2012/08/smiling-kitten.jpg
@SallyAyumi



Thanks God I Met My Dentist

I was a bad girl before who freak out when I see dentist and her tools. The result is my teeth didn't stand correctly, where a front tooth was a one step ahead than the others. It's really embarrassing and I couldn't smile so right for YEARS. My parents started to worry about my teeth arrangement, maybe the most worrying thing is their daughter won't get a nice husband without my nice teeth. Lol.

Yes, finally I had enough courage to meet a dentist, at 23rd years old. Very embarrassing. I regret this so much. Technology oh technology, thanks God I met my dentist who are very clever and nice. She takes care of me really carefully and gives me more advice than my mother. She put braces in my teeth, to fix the problem.

I'm sure you'll ask me how it felt before. So let me tell you:

  • At first, you'll feel a really annoying feeling in your whole mouth. The pain is all day and all night, as if your every tooth is moving from their place. 
  • You won't be able to eat anything except porridge and water. Get ready for a starve!
  • The main problem is whatever you eat, they will stuck between your braces. That means say NO to snacking!
  • TOOTHBRUSH is the most important thing in your life. Even more than your boyfriend. Really.
  • No matter how cute the colors you chose for your braces, at first week you will HATE them. Trust me.


This is NOT me. Just a shot from google ;p

But don't worry, after a few weeks, everything will get to normal and you will be back to yourself again. My dentist said that people wears braces for 2 years in average. We'll see later how long I should wear this.

In my case, after 3 months I already get that little tooth retreat! It's a very very quick improvements and I'm so guilty of my old self. There will still need some repairs, tough. My bottom teeth should be repaired too. I still have to see my dentist at lease once a month to check up.

Well at least now I CAN smile nicely. More beautiful than before! I regret why didn't put this braces so early, maybe I'll have different past. *dream*

Anyway, what I can say is...

We SHOULD have more courage to improve ourselves.

Best,

@sallyayumi





Monday, August 13, 2012

Ramadan I LOVE YOU

Assalamualaikum, all...

I should have been working at this hour, but let's just say I don't have any tasks to do.

So here I am, updating my blog post in English. Why so? Because I'm starting to freak out losing my english because of my lack practice.

Here I wanna share you about the beauty of Ramadan. It's awesomely making me grateful being just who I am right now.

Ramadan is just not about fasting and hunger. It is where we could get more reward from Allah azza wa jalla by doing good deeds and prayers.

And one more thing I realize, Ramadhan is just like gathering season!

I say this is very amazingly enjoyable.

I met my old friends to breakfasting together. It made me very excited just because they don't forget me as part of their life. We shared and reminisced great moments together. And yes, the best part is this kind of gathering will full of laughters where everybody happy.

Here are some photo I took from the gathering I attended in this year's Ramadan.


with my elementary school friends


with my colleague in ELP Bekasi :)

So many picture we took, so many thing to share!

There are still a LOT more picture I have, but I don't think to share them all here because they will make my blog post full :)

I am so grateful I have so many friends and they are all very nice to me. I wish we could be forever like this in harmony without any problem. Because friendship and networking is something valuable which couldn't be replaced by anything in the world!

Thank you all my friends, see you again soon!

Finally, I thank you guys for reading this post! *kiss bye*

Wassalam,


@sallyayumi

Wednesday, August 1, 2012

Nama Sally Ayumi dan Awal Mula Semuanya


Dulu sebelum aku lahir, Mama maunya namain aku Sally. Papa maunya namain aku Ayumi, maksudnya supaya bisa meng-ayomi anak2 dan keluargaku kelak.

Tapi pas hamil itu mama lagi dinas ngurus keberangkatan jemaah haji ke tanah suci, jadilah Mama ngotot pengen namain Suci.
Sedangkan, Ayuningtyas artinya kecantikan di dalam hati.

*BLUSHING

Pas udah gede dan seneng tulis menulis, somehow aku mau mengabulkan keinginan awal mereka berdua, memunculkan lagi nama Sally Ayumi di dalam karya-karyaku.

Tapi, pada kehidupan sehari-hari, aku kembali menjadi Suci Ayuningtyas.

            Aku suka menulis.
Writing is my life. Even when I’m sitting in the middle of crowded bus station, my mind can always make sentence.
Dari kecil sampe umur segini nulis udah jadi hobi. Let’s just say, I’ve been writing for a whole my life. Waktu SD, semangat nulis berkobar waktu ngeliat buku diary yang girly abis punya temen-temen ^,^. Mereka semua punya buku diary serupa. Tapi hanya beberapa yang bener-bener memanfaatkannya. Kebanyakan hanya disimpan buat dinikmati keindahannya karena sayang buat dicorat-coret (atau mungkin sebenarnya mereka juga gak tau beli buku itu buat apa, kecuali karena suka sama gambarnya aja). Too bad!
Awalnya aku juga gak kepingin, cuz it will waste my money. Tapi waktu anak baru yang ganteng plus ultra-lucu dateng pas kelas 3 SD, aku jadi bener-bener yakin butuh buku itu. Banget.
Bisa ketebak deh, nama si Lucu itu ada di setiap lembar buku harianku. Dan ternyata aku keranjingan buku diary. Abis, beli lagi. Abis lagi, beli lagi. Begitu terus karena gak pernah merasa cukup untuk curhat tentang hidupku.
Aku berhenti beberapa tahun yang lalu. Ketika udah terlalu capek buat nulis setiap malemnya. Mendingan tidur dari pada harus nulis dulu. Ngantuk. Bye-bye buku sampul lucu!
Aku jadi lebih suka nulis cerpen or novel dari pada kisah hidup sendiri. Soalnya aku gak sabar ngeliat ekspresi girang sahabat-sahabat yang suka banget sama alur dan karakter yang aku bikin. I was on fire, and believe that being an author is one of the coolest job in the world.
Percaya atau nggak, sekarang aku lagi kangen berat sama buku-buku harian gue. Aku bongkar lagi “peti rahasia”, dan baca tiap lembar curhatnya. Sumpah. Norak abis. Jangan sampe ada orang yang baca. Aku aja sampe ngakak plus guling-gulingan di kasur. Malu banget deh.
Jadi, sekarang karena teknologi juga udah maju ya aku mau merubah sedikit hobi itu. Let’s get online! Aku udah gak tertarik sama gambar-gambar beruang gendut atau boneka Barbie yang cengar-cengir di cover buku diary yang dijual di Gramed, toh harganya juga gak worth it.
Nulis di blog. Setidaknya dengan begini aku jadi termotivasi buat nulis hal-hal yang lebih berkualitas dari sebelumnya, karena bakalan ada orang yang baca. As I wish.
So, Welcome to my blog.
Mwah mwah,
Sally.

Tuesday, July 17, 2012

Ganjalan Bikin Geregetan

Dear Friends, apa kabar?

Syukur Alhamdulillah ya kalo baik2 semuanya.

Kabarku? Senang selalu, Alhamdulillah.

Tapi ada beberapa 'ganjalan' nih di hatiku belakangan. Apa aja ituu....??



Kepengen Beasiswa S2 Keluar Negeri



Ayo dong Friends, kalo ada yang punya info lowongan beasiswa S2 jurusan sosial, ekonomi atau bahasa aku mau banget loh..

Soalnya setelah lulus sarjana kayanya aku masih belum puas untuk membanggakan orang tua. Mumpung masih muda dan belum nikah.

Kenyataannya aku tuh orangnya moody, kebanyakan impian tapi jalaninnya pelan-pelan. Yah mendingan perlahan tapi pasti bukan? Dari pada mimpi doang tapi kerja nggak. Hehee


Nerbitin Novel Kedua Silly Little Sassy

Oh iya, aku lagi nyelesein final touch Bab2 akhir novel kedua Silly Litte Sassy. Ini juga jadi 'ganjalan' yang lumayan bikin ga bisa tidur. Sekalinya di kasur, harusnya tidur eh pas liat laptop hayuk aja aku ngetik lagi.

Abisnya setiap online Facebook, yang ada pada nanya "Kak Sally bukunya udah keluar belom?"

Selalu aja the same question everyday. Pertanyaan ini tuh seperti cambuk yang nyuruh aku cepet-cepet kerjain novel ini sampai selesai.

Nah, iya.. sehubungan dengan itu aku kayanya urung deh kirim naskah ke nulisbuku.com. Soalnya tetep pengen nyoba dulu ngejar Gagas Media. Memang sih waktu nunggunya bisa 4 bulan lebih, tapi it worth while koq. Sepadan dengan hasilnya kalo udah terbit, distribusi dahsyat merata ke seluruh penjuru tanah air.

Banyak juga sih yang bertanya kenapa ga balik lagi pake Masmedia Buana Pustaka, penerbit Rain, Virus and Black Mocca.
Alasannya lebih ke koordinasi dan distribusinya kurang oke aja sih.. under expectation. Apa karena aku penulis baru ya? Hmm.. Gak ngerti juga deh.

Jadi buat kamu yang udah amat sangat ga sabar nunggu Silly Little Sassy, yang bisa kamu lakukan ada tiga:
1. Rekomendasiin penerbit yang punya distribusi buku yahud di nusantara.
2. Kirim doa yang banyak supaya Silly Little Sassy bisa cepet terbit.
3. Boleh kok nanya terus terusan ke aku, tentang progress buku ini.

Nulis itu tantangannya adalah waktu, mood dan inspirasi, friends.
Semuanya saling berhubungan :)

Ada juga yang nagih-nagih cerpen..

Ga ada yang bisa kubilang selain minta kalian sabar. T________T

Perkembangan terbaru novel kedua ini bisa kalian pantau lewat hashtag #SillyLittleSassy di Twitter. Buat yang belum follow, ayo cepetan follow @SallyAyumi. Mungkin terkadang tweet nya nyampah, yah sabar aja ya. Saya juga manusia.

Ini aja aku sempetin update blog mumpung kerjaan kantor lagi 'lengang' bagai jalan protokol Jakarta ketika Hari Raya Idul Fitri ;)

Ngomong-ngomong soal Idul Fitri, sebentar lagi Ramadhan! Insya Allah ya kita dapet kesempatan untuk kembali singgah di bulan suci ini. Manfaatkan sebaik mungkin ya, Friends.

Sebelum berpuasa, aku juga mau menyucikan hati nih biar kaya di iklan2..

Mohon maaf lahir batin ya, Friends! Maafkan kalau ada kata-kata yang mungkin gk berkenan di hati.

Best Regards,

@SallyAyumi





Monday, June 11, 2012

Friend Request

Selamat malam, Friends...


Seharusnya aku udah tidur, sudah larut malam dan besok harus kerja pagi.
Tapi mendadak iseng pengen sharing sesuatu yang sudah berminggu-minggu njelimet di pikiranku.
Ini soal Friend Request di Facebook. Jaman sekarang siapa sih yang nggak punya akun Facebook?
Sejak Rain, Virus and Black Mocca terbit, banyak banget hal baru yang terjadi.
Semua orang disekelilingku, termasuk akademisi kampus dan rekan kerja, makin percaya sama tulisanku. Nggak lagi dipandang sebelah mata. Jadi, royalti yang jumlahnya cuma cukup buat beli pulsa itu nggak bisa melunturkan semangat nulisku.
Salah satu hal baru yang ikutan terjadi adalah makin derasnya Friend Request yang masuk ke akun Facebook aku.
Sumpah seneeeeng banget dapet banyak temen baru. Apalagi pas tau mereka udah baca novelku berkali-kali, sampe nangis-nangis, bahkan ada yang mau jadi reseller segala. Alhamdulillah.


Apresiasi dari orang lain adalah hal yang paling berharga. Motivasi utama untukku berkarya.


Tapi ada juga beberapa orang asing yang ikutan nge-add.
Tanpa mutual friends, pake foto kartun/artis, pas dibuka temennya baru 50 atau paling banyak 200, dan selalu nge-poke dan nge-likes SEMUA post aku.


Awalnya seneng, tapi lama-lama takut juga. Setiap kali posting, gak sampe 5 menit kemudian ini mereka langsung beraksi.
PING! 
Notifikasi di hape langsung muncul, dan bener aja dari mereka. 
Mereka? Yap, orang yang model begini gak cuma satu doang. 
Giliran ketemu online, mereka cuma negor dengan kalimat-kalimat ANEH. Seperti:
*Hai Cantik
*Belum tidur, Say?
*Minta nomer Hape dong.
*PIN BB berapa?
*Hi Babe
*Rumahnya dimana? Boleh dong main.
*ae, cwe bgi no hpx donx <<< kalo aku nemu yg model begini langsung remove tanpa pikir panjang.haha #antiAL4Y


Sumpah ya mas-mas... ini ganggu banget loh. Belajar deh gimana cara menyapa orang yang belom kenal dengan sopan santun. Beberapa langsung aku remove karena bikin aku paranoid sendiri. Makin lama makin terasa seperti TEROR.


MAAF YA... tapi tolong bertindaklah sewajarnya. Tapi aku masih berTERIMA KASIH sebanyak-banyaknya atas perhatian kamu semua.


Dunia ini dipenuhi banyak banget manusia dengan beda karakter. Jadi aku harap kita semua bisa menghargai perbedaan dan privacy masing-masing.


Walau aku posting beginian, jangan kapok ya untuk add aku. Asal kalian sopan, aku pasti terima.


Sekian dulu deh, mata sudah mulai ngantuk.


Salam sayang,


@sallyayumi

Friday, June 8, 2012

Rain, Virus and Black Mocca



Terima kasiih bagi kamu yang sudah baca novel ini...

 
Rain, Virus and Black MOcca (RVBM) itu awalnya sebenarnya simple sekali looh?? awalnya aku cuma kebayang adegan seorang cewek yang naksir cowok yang lagi duduk di cofee shop. sekali, dua kali, tiga kali... dia selalu liat cowok itu disana. Selalu ada setiap kali dia lewat dan yang paling penting, cowok itu super ganteng!

Terus aku jadi kebayang, gimana susahnya ngedeketin cowok yang gak dikenal sama sekali itu. Apa lagi cowok itu sama sekali gak pernah tertawa.

Nah, itu dia awal mulanya tercipta RVBM...

tapi dari semua cerita cinta pasti wajib ada konfliknya kan?? Itu juga udah aku pikirin matang2... :)

aku bukannya senang kalo tokohku menderita, tapi aku pingin munculin makna dari cintanya Erick dan Amy yang cuma sebentar itu..

Intinya, waktu hubungan sama sekali gak perpengaruh pada kekuatan cinta. hubungan Erick dan Amy membuktikan bahwa cinta mereka tetap kokoh tak tergoyahkan sampai maut memisahkan...

Kalo diingat-ingat lagi, coba kita lihat kisahnya Jack dan Rose di Titanic. kalau kita simak baik2 ceritanya, Rose dan Jack baru berkenalan dan hanya berhubungan selama 3 hari!!! Parah kan??

Kekuatan cinta singkat itu yang mau aku angkat di kisah ini...

Rain, Virus and Black Mocca adalah karyaku yang pertama, semoga menjadi langkah awal persahabatan kita yaaa....

Banyak sekali komentar, saran dan kritik yang aku terima.. senang sekali membacanya!

Nah, menurut kamu RVBM itu bagaimana?

kamu boleh nanya apaa aja seputar RVBM dan seputar pembuatannya...

aku akan senang sekali ngejawabnya! bener dehh...

Sayangnya komen yang masuk tidak bisa diposting semua, maaf yaa...

Sampai jumpa di karya selanjutnya....


Cupkiss,

@SallyAyumi


Resensi dari pembaca untuk novel ini, bisa kamu baca disini:

Pernah bikin resensi novel Rain, Virus and Black Mocca juga? Silakan mention @Sallyayumi di twitter, supaya tulisan kamu juga muncul di daftar ini.

Baca gratis? Boleh kesini:


Belom punya?

Novel ini bisa kamu beli disini:


2. Email ke clickswithsally@gmail.com

Beli lewat fan page atau email bisa sekalian aku tanda tangani bukunya khusus buat kamu!




Info buat kamu yang mau daftar jadi Reseller, klik disini

 Komentar dari mereka yang udah baca:
(diambil dari Clicks With Sally Facebook Fan Page)

30 April 2011

"sumpah aku suka banget sama novel kamu :D

novel kamu udah sampai di batam :D"


"aku ngefans banget ama buku novel ini,

andai aku yang ada d keadaan aku,
kisahnya lucu , sedih banget , pokoknya campur aduk deh
mbak bagus banget deh karangannya"


29 April 2011
"kak....
  • banyak teman aku yang blang kalau RVBM tuh harus di layar lebarkan soalnya crita nya tuh membuat hati umat manusia pada terhanyu semua.... termasuk aku kak....
    aku sangat berharap kalau RVBM tuh jadi layar lebar kak...
    bakalan seru tuh pasti kalau uda di layar lebarkan....
    sampai sampai novel yang aku punya tuh kak jadi agak sedikit kusam karna tiap hari di baca.... wkwkwkwkwkwkwk.....
    malahan aku sampaek hafal crita nya kak...
    hehehehehehe"

    • 5 januari 2011

      "lam knal mbak.....nie q nabila....

      .mbak q cm mw bilang novelx mbak yang judulx RAIN VIRUS and BLACK MOCCA tu baguuuuuus bangt!!!!! .sedih n mghrukan bgt sih mbk crtax??? terinspirasi dari mn??? pa dri kisah nyata??? kalo kisah nyata,spa orgx??? .d bls yaa......q fans brux mbak......."

    • 1 November 2010 
      "Iyaaa , udah ka . Hehe
      aku gak butuh waktu byk qo utk baca .
      Iyaa aku suka banget kaa .
      Yaa itu kisahny emang mengharukan , andaikan cerita di novel itu dijadiin film , pasti bnr2 ordinary . luarbiasa ka idenya :)
      okeoke, aku pasti ksh tau ke temen2 aku .
      Tadi pagi habis shlt subuh kbetulan aku baru slesai sampe akhir , wah tiba2 bener2 so sweet sampe nangis hihi . Wah , aku mau dong ditulis sbg opini pembaca xixixi .

      Wah oke , aku doain.
      Aku amat sangat menggemari novel , nanti promosiin ke aku lg ya ka yang ke 2.

      samasama , good job :)"

      • 25 October 2011

        "Rain virus n black mocca critax is perfect

        da ksah snang sdih lucu mengharukan
        wah bner log nie d sbut sribu stu ksah"

      • 22 October 2010
        "slm knl kak..
        novel ka2k kren abis..ak bca ampe nangis2..
        pkok.na top bete dhe ...hhhhhaaaaa
        Ak sk karakter Erick,mrip bgd dgn slh st tmn ak..
        Cma tmn ak it otak.na trlalu dangkal,ga kek Erick gtu..
        N novel u,membuat ak jd trngat tmn(cowk) baik yg meninggal 2 thn lalu,n dya jga bru tw ad gejala HIV,n dya jd drop,n konsumsi narkoba ampe Overdosis,,"







Tuesday, March 6, 2012

Tentang Erick


Hmm, Erick Westmorland.

Berhubung banyak banget pembaca yang nanya tentang Erick, maka disini aku coba cerita sedikit tentang si Mr. Ice ini.

Aku suka banget sama karakter ini. Dia adalah karakter favoritku.

Namanya sendiri terinspirasi dari berbagai macam hal. Waktu kecil aku pernah nonton film kartun The Little Mermaid. Kalau kalian juga pernah nonton, pasti udah tau kalo Ariel si Putri Duyung jatuh cinta sama Pangeran Tampan bernama Erick. Yap. Sesimpel itulah alasannya. Nama Erick di kepala gw selalu punya charming image yang bikin melting. Hahaha...

Ganteng, Atletis, Pemberani, Penuh Cinta. What else? xp



Sedangkan nama belakangnya itu aku ambil dari nama salah satu tokoh di serial Prison Break. Sebenernya nama tokohnya Charles Westmoreland, Jr. atau dalam serial itu sering disebut sebagai D.B Cooper. Tokoh ini dimainkan dengan baik oleh Muse Watson.

Si Westmorland ini pintar, sangat misterius dan susah dibaca pikirannya. Banyak dialognya yang absurd, melayang dan penuh makna yang 'dalem'. Meskipun di penjara, kemana-mana dia selalu menggendong kucing kesayangannya. Masih menyiratkan kepribadian yang hangat. Ke-misterius-an itulah yang pengen aku masukin ke Erick, sehingga aku menamainya; Erick Westmorland.



Tapi sejujurnya sih aku selalu membayangkan Erick seperti Edward Cullen... Hmm, mulai dari gaya berpakaiannya sampai dari sikap dinginnya.Walaupun gak mungkin banget dehh, Robert Pattinson mau main di novel qu ini. Lagipula, RVBM sudah selesai kutulis ketika Twilight pertama kali tayang di Bioskop. Jadi waktu aku pertama kali nonton Twilight dan ngeliat Edward, aku langsung ngejerit sama temenku si Molin yang duduk di sampingku... aku bilang, "Lin, Edward tuh Erick banget!"






Yaah, bukannya aku mau ngedompleng popularitas Twilight atau semacamnya yaa...

Aku juga setuju banget kalo film itu two thumbs up!


Tapi, bagaimana visualisasi Erick bisa berbeda-beda di setiap imajinasi para pembaca. Jadi kalau bayangan Erick di benak kamu nggak sesuai dengan gambaranku tadi, boleh aja kok kamu bayangkan Erick semau kamu :)


Silakan berimajinasi!

Aku selalu seneng banget setiap kali menulis dan mendeskripsikan karakter Erick. Aku suka membayangkan senyumnya yang jarang-jarang itu, dan wajahnya yang bahagia ketika mandi hujan.

Hmm, Tapi hidup Erick memang gak aku bikin terlalu bahagia... (maaf yaa)

Karena dia mengidap AIDS yang ditularkan dari ibunya sejak lahir, aku harus browsing sana sini untuk ngedapetin info sebanyak-banyaknya tentang virus ini.

Well, tapi yang ingin aku tunjukkin adalah Erick juga jatuh cinta pada Amy sejak pertama kali dia melihat cewek itu ngintip di seberang jalan Peanut Street.

Dan dalam sejarah cintanya, hanya ada Amy. Erick sebenarnya sangat sayang Amy dan gak mau nerima kenyataan bahwa hidupnya sebentar.

Kasihan banget yaaa (hiks... hiks...)

Namun pada akhirnya dia mulai mengerti rahasia Tuhan yang diberikan untuknya. Erick mulai mensyukuri takdirnya dan menjalani cinta singkatnya itu.

Dan dari hatinya yang paling dalam, Erick benar-benar gak mau ngeliat Amy menangisinya.

Erick, I'm very sorry...

but you're the best character in this story!!


"Don't ever remember me in two things, but three...
Rain, Virus and Black MOcca"
Erick Westmorland



Buat seluruh penggemar Erick, aku minta maaf yaa... terima kasih sudah membaca RVBM...

@Sally Ayumi


Thursday, March 1, 2012

A Whole New World

Sayonara.

Hanya satu kata itu saja yang bisa aku ucapkan sekarang.
Sekarang aku resmi keluar dari kantor yang mengajari aku banyak hal.

Disana aku belajar bekerja sama dalam tim, berkoordinasi, administrasi dan segala hal mengenai persahabatan dan kolega.

Sebenarnya ini mengejutkan, karena awalnya aku masih berniat mengabdi pada LSM itu selama setahun mendatang. Meskipun sudah lulus, aku pikir sebaiknya aku tidak langsung cari kerja di tempat yang lebih baik saja. Aku tak mau disebut sebagai kacang yang lupa pada kulitnya. Aku masih ingin mencari ilmu, pengalaman dan keterampilan di kantor itu.

Tapi kenyataan yang mengejutkan malah kuterima. Kontrakku diputus begitu saja. Aku bingung dan tidak mengerti kenapa bisa sampai begini.

Alasan yang aku terima juga kurang memuaskan rasa penasaranku.

Pekerjaan di kantor itu begitu padat, skill multi tasking sangat diperlukan. Belum lagi aku adalah sekretaris orang nomor satu di kantor, bukan main repotnya.

Namun pada kenyataannya, Managerku hanya melihat kinerjaku yang kerepotan sebagai seorang sekretaris. Sementara pekerjaan multi tasking sebagai admin program full schedule yang selama ini kukerjakan mati-matian tidak ada nilainya.

Kecewa? Tentu saja. Marah malah. Wajar kan? Aku juga manusia.

Tetapi sudahlah, semua itu sudah berlalu. Toh akhirnya aku bisa keluar tanpa disebut kacang yang lupa kulitnya.

Kini waktunya memulai hari-hariku yang baru, yang luar biasa.

Waktunya menulis lagi, waktunya berkarya.

Semangat berjuang di dunia yang baru!!

A WHOLE NEW WORLD


@Sallyayumi



Friday, February 10, 2012

Jumping for Joy

Postingan kali ini gw buka dengan mengucap: Alhamdulillahirabbilalamiin....


Bersyukur banget soalnya.


"Bahagia adalah ketika perjuangan kita membuahkan hasil. Semangat, doa, usaha dan rasa syukur itu dinilai oleh Allah SWT. Alhamdulillah, semoga Papa Mama ikut bahagia. Setelah ini apa yaa..?? Semangat sambut tantangan baru...!!!"



Kuliah ekonomi itu akhirnya berhasil gw taklukkan.

Ini semua gak lepas dari dukungan dan doa Mama, Papa, Abang, Ade, Pembimbing yang ajaib, Pak Kiky... Pacar yg rela dan tulus, Q, dan teman-teman semuanya.

Allah Maha Melihat.

Awalnya gw gak yakin bisa berhasil jadi sarjana ekonomi karena matematika gw lemah banget.... tapi ternyata kelulusan ujian skripsi ini berhasil membuat gw yakin, kalo ada kemauan pasti ada jalan...

Hal yang terpenting, semoga gw udah cukup kasih kebahagiaan kecil ini buat Mama dan Papa...

Waktunya memulai lembaran baru. Nulis novel lagi, Main The Sims, Bikin Clay lagi dan semua hal yang tertunda karena ngurus skripsi.

Besok, gw udah mulai kerja lagi. Masuk kantor dengan semangat baru setelah 2 bulan lebih cuti. Waktunya berhasil juga gw manfaatkan dengan efektif. Alhamdulillah.

Terima kasih, ya Allah... karena Engkau masih mau memeluk mimpiku :)


Fenomena ini membuat gw sadar juga, kalo Q benar-benar mencintai gw.


Dia teliti, pintar, berani, sopan, bisa baca situasi, sabar, pengertian, perhatian dan peduli.
Gw pengen banget, bisa ngenalin dia ke Mama Papa..
Semoga bisa dapet restu.


Sambil dengerin Abang Chris Martin nyanyiin album Mylo Xyloto yang super duper recommended... #kasih2jempol

ALLAH MAHA BESAR, terima kasih banyak atas rizki dan anugrahmu. Lindungilah aku setiap waktu.

_Sally

Monday, January 16, 2012

Danau Perawan





Gemuruh suara genderang dan tabuh-tabuhan mengajak jantung Sinna ikut berdegup kencang. Gaun terindah dan kerudung tipis sewarna delima membalut tubuhnya. Ribut suara kerabat dan saudara yang sibuk mengurus segala hal kecil hingga tampak sangat besar, terdengar di luar kamar. Sinna mematut paras cantiknya di cermin berbingkai pualam. Belum pernah dia melihat wajahnya secantik ini.

Biasanya Sinna hanya menggunakan baju panjang dengan warna-warna pastel untuk tak menarik perhatian. Wajah itu tak kenal bedak ataupun pemulas bibir. Rambut hitamnya hanya dibiarkan terurai dengan tertutup kerudung satin yang selalu tersampir di kepalanya.
Namun kemolekannya pagi ini tak merangsang bibir tipisnya untuk tersenyum. Yang bereaksi justru matanya yang mengeluarkan cairan bening semurni embun. Sinna tak menghapusnya, malah menambah jumlahnya.

Seorang ibu masuk ke kamar itu, membawa harum mawar yang semerbak mengusik hidung Sinna.
“Anakku, apakah kau sudah siap?” tanya sang ibu.

“Bunuh saja aku, Bu. Sekarang juga.” Tangis Sinna sambil masih berkaca.

“Jangan bilang demikian, Nak. Kau tahu ayahmu. Lagipula ini masih acara lamaran, belum pernikahan.” Sang ibu membelai kerudung Sinna hingga rambutnya tersibak sedikit.

“Apa bedanya, Bu? Setelah dilamar, sebulan kemudian aku dinikahkan. Aku tak ingin menikah dengan Huda. Dia itu suka main perempuan, begitu kata teman-temanku.” Sinna memberi alasan.

“Ibu pernah dengar cerita itu. Tapi itu hanya gosip belaka. Semua bicara buruk tentangnya karena Huda anak saudagar kaya. Pemuda setenar dia pastilah jadi buah bibir.” Ibu menggandeng Sinna.

“Aku tak sudi mengabdi padanya, Bu. Aku tak cinta!” sergah Sinna.
Ibunya mengambil nafas panjang. Letih dengan perdebatan semacam itu. Dia berada di posisi yang terjepit. Entah harus membela kebahagiaan putri semata wayangnya atau mengabdi pada sang suami yang sangat dicintainya.

“Ini hanya acara lamaran, Putriku.”
Sinna menghapus airmatanya, bersiap keluar kamar. “Kalau begitu mengapa Ibu mengenakan minyak wangi sampai seharum ini? Ini acara sakral, penting. Ibu tahu itu.” Katanya.

Mereka berdua keluar dari kamar dan menemui tamu-tamu undangan yang berpakaian rapi dan bagus-bagus. Makanan tersedia melimpah di setiap meja di sisi ruangan, dengan perabot berwarna keemasan yang menandakan status tuan rumahnya.

Puluhan orang terdekat keluarga itu hadir disana, tari-tarian dan lagu cinta dipersembahkan. Musik bernada riang mengajak siapapun yang mendengar untuk bergoyang.
Kecuali Sinna.

Genderang kembali ditabuh, pintu masuk terbuka lebar. Sang ayah, yang merupakan pedagang batu mulia kaya dan terhormat memasuki ruangan dengan wajah bangga. Sinna mendesis marah melihat tampang ayahandanya sendiri.

Dibelakangnya diikuti rombongan dari keluarga Huda. Pemuda itu tampil bak pangeran raja. Dia membusungkan dada dengan pakaian mengkilat yang tak sebagus parasnya.
Kali ini Sinna menjerit dalam hati. Nasihat dari Nek Wijan terngiang kembali di telinganya. Janjinya pada Gharin masih digenggamnya erat.

                                                                              ***

“Aku ini punya kekasih, Yah!” jerit Sinna malam itu. Suasana di rumahnya yang tadinya ceria kembali menjadi tegang. Seluruh ajudan dan pelayan sudah masuk kamar sejak azhan Isya’ berkumandang. Suara Sinna dan Ayahnya yang sama-sama keras memantul di lantai marmer.

“Cih! Si Gharin cecunguk itu maksudmu? Najis hukumnya kalau keluarga kita bersatu dengan keluarga jongos itu! Kamu ‘kan tahu sendiri, bapaknya itu dulu kacung kita sendiri! Tukang cabut rumput!”
Sinna menahan airmatanya.

“Harus berapa kali ayah meyakinkan kamu tentang kehebatan Huda. Banyak perawan merengek untuk jadi istrinya. Dari semuanya, dia memilih kamu!”

Sinna mendesis marah, “Apakah harta ini masih kurang bagi Ayah? Sudah cukup, Yah. Tak perlu lagi menjilat saudagar kaya itu. Mengapa ayah selalu menilai mereka dari keturunannya? Apakah ayah bisa tidur nyenyak bila aku tak bahagia bersama Huda?”

Ibunya menunduk dalam, tak berani menengahi pertengkaran dua belahan jiwanya. Tubuhnya yang sudah dimakan usia, gemetaran. Dia hanya bisa menangis dalam diam.

“Tahu apa kau tentang penilaian Ayah? Mustahil kau akan sengsara bersama Huda! Kau akan berkecukupan tujuh turunan. Tapi bersama Gharin, kau akan menderita dan anak-anakmu nanti akan mati kelaparan. Lihat saja apa pekerjaannya, mau menjadi pemusik katanya? Huh! Bisa apa dia?”

“Sekarang kau adalah tunangan Huda. Calon istrinya. Jangan permalukan Ayahmu. Berhenti menemui laki-laki itu.” Kata Ayahnya ketus.

Beliau meninggalkan Sinna yang menangis di ruangan itu sendirian. Sang ibu memilih mengikuti langkah suaminya. Dengan lirih gadis itu berbisik, “Lebih baik aku mati dari pada harus menikahinya.”

                                                                             ***

Gharin mendendangkan lagu cinta untuk pujaan hatinya. Di matanya, tak ada yang seindah Sinna. Wajahnya cerah dan tawanya membuai Gharin ke ujung langit. Dia menyukai kepolosan dan ketulusan Sinna. Meskipun ada bidadari turun dari khayangan meminta cintanya, Gharin tak akan luluh. Hatinya sudah jadi milik Sinna seutuhnya. Murni dan sejati.

Sinna mendengarkan dengan mata terpejam. Di hatinya kebahagiaan adalah Gharin. Jika bersamanya, meskipun ada angin topan atau banjir bandang Sinna akan tetap merasa aman.
Cinta mereka sama-sama bening. Mereka saling memiliki.

“Lihatlah cincin pertunangan ini, Gharin.” Kata Sinna.

Gharin menatap cincin dengan batu berlian yang melingkar di jari manis kekasihnya. “Indah sekali.”
“Tidak bagiku. Ibu memohon supaya aku selalu memakainya. Jadi demi ibu, cincin ini masih kupakai. 
Meskipun sakit hatiku tiap kali melihatnya.” Sinna mengeluh.

“Kelak aku pasti bisa memberimu hadiah sebagus itu.” Gharin berkata.
“Entah masih adakah kelak bagiku. Bulan depan aku dinikahkan, Gharin. Apa yang harus kuperbuat?”

“Aku akan bicara pada Ayahmu.” Sahut Gharin mantap.

“Percuma. Telinga Ayah sudah tuli dan hatinya sudah terkunci oleh pertunangan ini. Baginya tak ada yang lebih pantas dari Huda. Aku sedih, Gharin.”

Gharin meletakkan gitarnya. Dia mendekat pada Sinna dan mencoba mencari jalan keluar. Dalam hati dia tahu bahwa tak ada yang bisa dilakukan. Hatinya remuk dan harga dirinya habis.
“Seandainya saja ada yang mampu kulakukan untukmu, Sinna sayang...”

“Berjanjilah padaku.” Tantang Sinna.
“Berjanjilah bahwa bila tak ada lagi aral yang merintangi cinta kita, kau akan menikahiku dan mencintaiku selama-lamanya.”

“Tentu saja, Sinna. Aku berjanji.”

Janji Gharin tentang cintanya yang tak akan lekang dimakan waktu membekali pikirannya. Sinna pun memantapkan hatinya untuk menemui Nek Wijan. Sebelum berangkat, Sinna datang kepada ibunya.
“Ibu, kau adalah permata hatiku. Aku mencintaimu dengan seluruh hidupku. Bukannya aku tak berbakti lagi padamu, Ibundaku. Namun aku tahu kau berdoa untuk kebahagiaanku. Maka doakanlah aku sekali lagi, Ibu. Aku mencintaimu. Terima kasih telah melahirkan aku ke dunia ini. Semoga Allah selalu melindungimu.”

Ibunya kaget mendengar ucapan putrinya. Dia terharu dan memeluk Sinna penuh kasih.
Kemudian Sinna datang pada Ayahnya. Tanpa basa basi dia memeluk pria setengah abad itu. “Terima kasih, Ayah.” Bisik Sinna.

Sang Ayah yang pikirannya masih disibukkan dengan perdagangan dan bisnisnya sendiri itu, tak mau ambil pusing dengan sikap tak biasa putrinya.

Terakhir Sinna kembali ke rumah Gharin. Dia membangunkan Gharin dari tidurnya, lalu mengucapkan kata-kata yang mampu mengembalikan semangatnya. Mereka menyanyikan puisi cinta paling indah malam itu. Sinna berpamitan sambil mengingatkan Gharin lagi, “Peganglah janjimu kepadaku.”

Gharin mengangguk mantap. Tanpa dia tahu apa yang akan dilakukan Sinna untuk mencegah pernikahannya. Dalam hati Gharin berdoa demi kebahagiaan mereka.
Kembang desa itu sampai di gubuk Nek Wijan malam itu juga.

Nek Wijan tinggal sendirian di tengah hutan yang gelap. Tak ada seorangpun di desa itu yang mengenalnya kecuali Sinna. Dia mengenal Nenek tua itu ketika dia tersesat di hutan itu. Tadinya Sinna diajak ayahnya berburu rusa, dan tidak seharusnya dia keluar dari rombongan. Waktu itu Sinna masih berusia sepuluh tahun. Nek Wijan mengantarnya pulang.

Sepanjang perjalanan pulang, Nek Wijan bercerita tentang danau dalam rimba itu.
Tapi sebagai gantinya, Sinna tak boleh menceritakan tentang danau itu maupun tentang Nek Wijan kepada orang lain. Sinna juga tak boleh melupakannya. Atau Nek Wijan akan mengembalikannya ke dalam hutan yang seram itu. Gadis itu menyanggupi.

Sinna ingat betul cerita Nek Wijan tentang danau sebelas tahun lalu itu. Kini dia datang untuk meminta bantuan wanita tua itu.

“Apa kau yakin?” Nek Wijan bertanya dengan suara parau.

“Aku yakin, Nek. Kalau tidak, aku tak akan berada disini.” Seru Sinna mantap.

“Tapi kau harus menunggu sampai dua kali purnama sebelum bisa kembali.” kata Nek Wijan.

“Di hatiku hanya ada Gharin, Nek. Aku akan melakukan apapun untuk bisa senantiasa bersamanya. Aku bisa menunggu.”

Nenek tua itu tak punya pertanyaan lagi. Dia melihat keyakinan Sinna dan keteguhan pendiriannya. Tak ada rasa takut di matanya.

“Kalau begitu, bukalah pakaianmu.”

                                                                               ***
Suasana di rumah itu kembali ramai. Ayah Sinna hampir mati berdiri ketika mendapati putrinya hilang ditelan bumi. Seluruh anak buahnya dikerahkan demi mendapatkan anaknya kembali.

Ibunya menangis siang dan malam. Kini dia tahu ucapan putrinya waktu itu adalah salam perpisahan untuknya. Saking cintanya pada Sinna, ibunya mengingkari kata hatinya sendiri. Dia tahu mengkin saja anaknya sudah pergi untuk selama-lamanya. Namun ia tetap berdoa supaya Sinna baik-baik saja.

Karena hilangnya Sinna, Gharin jadi kambing hitam. Dia ditangkap dan diadili. Di tanyai berjuta pertanyaan yang sebagian besar merendahkan dirinya. 

Pemuda pujangga cinta itu disiksa siang dan malam. Gharin bersumpah demi Tuhan Yang Agung bahwa dia pun tak tahu dimana Sinna berada. 

Tak ada bukti untuk menyalahkan Gharin, maka setelah dua belas hari dia dibebaskan. Hati Gharin sedih dan gelisah. Bukan karena siksaan yang diterimanya selama di penjara, melainkan dia takut terjadi sesuatu kepada Sinna.

Beberapa hari kemudian seorang suruhan Ayah Sinna menemukan pakaian dan kerudung Sinna yang sudah robek dan compang-camping di dalam hutan yang gelap dan sepi. Polisi memperkirakan Sinna diserang harimau atau beruang hutan.

Ayah dan ibu Sinna panik bukan main. Temuan itu bagai menjawab seluruh pertanyaan mereka. Satu bulan sudah berlalu, jasad putri mereka belum juga ditemukan. Dengan pasrah mereka mengumumkan bahwa putri mereka sudah meninggal.

Huda dan keluarganya merasa sangat kecewa sekaligus prihatin. Pernikahan mewah yang sudah direncanakan matang-matang kini harus dibatalkan. Dua keluarga itu menderita kerugian ratusan juta.

Ayah Sinna pun jadi sadar betapa salah keputusannya tempo hari. Dia bertaubat dan memohon maaf pada istri dan keluarga besarnya.

Ibunda Sinna belum bisa berhenti menangis.

Kedua orang tua itu memutuskan untuk pergi jauh dari desanya.

Lain lagi dengan Gharin. Dia tak ingin sekedar menunggu berita terbaru dari orang lain tentang pencarian kekasihnya. Gharin sendiri pun ikut mencari. Dia mencari dari pantai sampai ke gunung. Diteriakkannya nama gadis itu di seluruh pelosok desa. Tak juga ditemukan.

Setiap hari yang dilakukannya hanya merantau untuk menemukan Sinna. Ratusan orang ditanyainya dan cuaca buruk di tempuhnya tanpa menyerah.

Hampir dua bulan sudah pencarian dilakukan. Sampai suatu hari Gharin yang letih raganya pulang ke rumahnya di sudut desa. Dia mendorong pintu bobroknya itu dengan keras karena masalah engsel yang membuatnya selalu sulit membuka pintu.

Dia mandi dan melaksanakan shalat Isya’. Setelah itu, dengan bibir yang masih mengucap dzikir dan doa, Gharin tertidur di atas sajadah lusuhnya.

                                                                          ***

Suara azan Subuh membangunkan Gharin. Dia pun segera melaksanakan kewajibannya. Pemuda berbadan tegap itu berencana untuk kembali meneruskan pencariannya. Dia pun melangkah ke dapur untuk membuat sarapan.

“Gharin, silahkan dimakan.”

Betapa terkejutnya dia ketika mendapati Sinna di dapurnya. Dengan makanan yang tersaji lengkap di atas meja reyot itu. Gadis itu menggunakan kemeja milik Gharin, sabil tersenyum ramah di ajaknya lelaki itu untuk makan.

“Sinna?” suara Gharin tergagap. “Bagaimana kau bisa berada disini? Pintu dan jendela rumahku terkunci dan... Masya Allah, ini aneh sekali. Kemana saja kau selama ini?”

“Tidakkah kau senang bertemu denganku lagi? Sekarang yang penting aku sudah berada di hadapanmu. Aku masih cinta padamu. Gharin, kini pernikahanku sudah dibatalkan. Tak ada lagi yang merintangi kita. Sekarang bawalah aku sejauh mungkin, nikahilah aku. Tepati janjimu.”

Cintanya yang dicari kemana-mana ternyata kini sudah berada di depan hidungnya. Berkali-kali Gharin mengucap syukur. Mereka kemudian pergi diam-diam ke sebuah pulau di seberang laut dimana tak ada yang mengenal mereka berdua.

Disanalah mereka menikah.

Gharin dan Sinna hidup berdua di rumah kecil dalam sebuah desa bernama Asri Bumi. Desa itu memang asri dan hijau. Menyempurnakan cinta mereka berdua.

Tapi ada sesuatu yang mengusik pikiran Gharin. Sinna berubah sejak dia muncul tiba-tiba di dapurnya.

Sinna sekarang tak pernah lupa bersolek setiap pagi. Dia bilang kecantikan itu demi suami tercinta. Padahal yang dia tahu, kekasihnya bukanlah seorang pesolek yang mampu berdandan sendiri dengan lihainya.

Istrinya itu tak pernah lupa menyiapkan makanan yang enak untuk dirinya, meski Gharin hanya bekerja sebagai pemusik dari kampung ke kampung. Tentu saja dia bingung bagaimana Sinna bisa menyediakan makanan sebanyak dan seenak itu dengan uang belanja yang mungkin hanya cukup untuk beli tekur ayam setengah kilo? Kalau ditanya, dia selalu punya alasan jitu sehingga Gharin tak dapat berkutik. Pemberian orang, pintar menawar, obral, dan lain-lain. Sinna memastikan bahwa semua itu halal.

Sinna menjadi istri paling sempurna baginya. Rambut dan tubuhnya selalu harum bunga-bungaan, senyumnya selalu merekah dan bicaranya santun tanpa cela. Seluruh waktu digunakan untuk mengabdi pada suami dan menjaga kehormatan diri dan suaminya.

Tapi Gharin masih saja gelisah. Kekasihnya Sinna dulu tidak seindah itu. Tidak sesempurna itu. Sinna yang dulu itu, dirasakan lebih menyenangkan dibanding sekarang setelah menikah.

Karena penasaran, Gharin membohongi Sinna dengan bilang bahwa dia hendak pergi bekerja. Tapi sebenarnya tidak. Dia menyelinap ke atas genting rumahnya dan membuat sedikit celah untuk mengintip.

Gharin memperhatikan tingkah istrinya di dalam rumah.

Setelah mengunci pintu, Sinna menutup semua jendela rumahnya rapat-rapat. Dia kemudian memasukkan uang belanja yang diberikan suaminya pagi ini ke dalam guci dan menyembunyikan guci itu di kolong lemari.

Dahi Gharin mengerut bingung.

Sekarang wanita itu beranjak ke sudut rumah yang mereka sebut dapur. Dia mengambil sebuah panci kosong beserta tutupnya. Diletakkannya panci itu di atas meja, lalu ia menutupnya.

Gharin tercengang melihat Sinna yang meletakkan telapak tangan kanannya di atas tutup panci dengan mata tertutup.

Beberapa saat kemudian Sinna membuka matanya sambil juga mengangkat tutup panci. Seperti disihir, kini di dalam panci itu ada semur daging yang masih mengepul. Sambil tersenyum ditaruhnya panci semur itu di atas kompor yang padam.

Gharin berkali-kali menyebut asma Allah, bertanya-tanya apa yang sedang dikerjakan istrinya.

Saat itu juga dia turun dari atap rumah dan mengetuk pintu depan.

Sinna terkejut karena suaminya pulang cepat sekali. Dia membuka pintu sambil menyambut hangat, “Suamiku, ada apa? Kenapa kau pulang cepat?”

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Gharin berang.

“Apa maksudmu?” Sinna tampak agak ketakutan. “Ini aku, Sinna. Istrimu.”

“Jangan berani-berani mengatasnamakan kekasihku! Kau bukan Sinna. Sekarang jawab aku, siapa kau sebenarnya?!” dengan galak Gharin membentak.

“Apa yang harus aku jawab, Suamiku? Sungguh benar adanya aku ini istrimu. Sungguh...”

Gharin mengunci pintu dan mendekat pada Sinna dengan wajah marah. “Sedikitpun pribadimu tak serupa dengan dirinya. Hanya fisikmu saja yang menyerupainya. Katakan siapa kau sebenarnya? Apa yang kau lakukan terhadap kekasihku?”

“Sinna... Aku ini Sinna, Gharin... tidakkah kau lihat sendiri?”

“Seribu malam lebih aku menjalin cinta dengannya. Sungguh aku mengenal dia. Sinna yang kukenal bukan pesolek. Dia masih suka bercanda dan mengeluh manja. Tapi kau, begitu mandiri dan menjaga kecantikanmu. Kau terlalu sempurna. Sinna kekasihku lebih manusiawi dari pada dirimu!” amarah Gharin tak terbendung.

Wanita itu menangis tersedu-sedu. Dia bersimpuh di kaki Gharin.

“Cintaku, ini aku... Sinna.”

“Sinna kekasihku juga bukan seorang penyihir! Aku lihat kau menyulap panci kosong menjadi penuh dengan makanan enak. Begitukan caramu menyiapkan makanan untukku? Katakan yang sejujurnya atau aku akan memukulmu!”

Gharin mengayunkan tangannya, mengancam.

Sinna menjerit dan menangis, “Baiklah... akan kukatakan...”

“Suamiku, Gharin... aku memintamu berjanji padaku untuk menikahi aku ketika tiada lagi aral melintang bukan? Dan kau pun menyanggupinya. Aku pun pergi ke danau perawan dan menenggelamkan diriku sendiri. Aku tahu danau itu dari seorang nenek bernama Nek Wijan yang tinggal di hutan kampung halaman kita. Danau itu ajaib bukan kepalang. Dalam dua bulan aku hidup kembali. Sejak saat kubuka mata lagi, aku menjadi lebih bahagia dari sebelumnya. Kini aku memiliki kekuatan untuk membahagiakanmu juga, Cintaku... kulakukan ini semua untuk kita.”

“Astaghfirullah...” Gharin memegang kepalanya yang terasa berat.

“Jadi sesungguhnya Sinna-ku sudah meninggal?” desisnya.

Wanita itu menggelengkan kepalanya empat kali, lalu berdiri di hadapan Gharin dengan wajah marah.

“Meninggal? Ini aku, Gharin. Aku memang meninggal, tapi aku sudah hidup kembali!”

“Makhluk yang sudah mati tak dapat hidup lagi. Kau mempermainkan nyawamu sendiri. Kini aku yakin kau bukan Sinna Wimala kekasihku dulu. Kau adalah wanita siluman!” pekik Gharin.

Sinna meraung marah. “Siluman? Aku korbankan nyawaku demi untuk bersamamu selama-lamanya. Sekarang begini perlakuanmu padaku? Jika bukan karena aku kita tak dapat menikah!”

“Maafkan aku. Aku memang mencintai Sinna. Namun lebih baik aku membujang seumur hidup dari pada menikah dengan siluman sepertimu. Sinna-ku sudah mati karena bisikan setan sepertimu yang telah menjerumuskan dia. Sekarang pergilah. Enyah sejauh mungkin dariku.”

Mendengar ucapan Gharin tadi Sinna berang. Dia mendekat dan mencekik leher Gharin. Lelaki itu tak melawan, sementara jari-jari Sinna makin kuat mencengkeram lehernya.

Nafas Gharin sesak bukan main. Ia terbatuk-batuk tapi tetap tak ingin melawan. Pasokan udara semakin menipis bagi paru-parunya. Di saat matanya mulai terpejam pasrah, tiba-tiba Sinna melepaskan cekikannya. Dia langsung menangis keras, menjerit dan berteriak.

“Mengapa kau tak melawan?” tanyanya lirih.

“Jika kekasihku telah mati, untuk apa lagi aku hidup?” jawab Gharin serak.

Mata Sinna terbelalak.

“Kau benar. Aku bukan lagi Sinna-mu yang dulu. Aku sudah dirasuki setan. Aku ini siluman...” dia berlari ke dapur dan mengambil sebuah pisau. Diberikannya pisau itu pada Gharin. “Setan ini sudah menguasaiku... maafkan aku karena telah bertindak bodoh, Gharin-ku sayang. Aku hanya ingin kau tahu bahwa cintaku padamu tak akan pernah surut meski nafasku telah terhenti. Selamat tinggal kekasihku. Kini akhirilah kebodohanku ini.”

Mereka berpelukan. Mata mereka terpejam. Sinna menarik tangan Gharin yang menggenggam pisau ke arah perutnya.

Kedua mata Gharin basah. Badannya bergetar hebat. Dia menangis tersedu-sedu sampai susah untuk bernafas. Dipeluknya tubuh itu erat-erat dengan tangan yang berlumuran darah. Tubuh yang dicintainya sepenuh jiwa.

Perlahan dia berbisik, “Aku akan selalu mencintaimu selama-lamanya, Sinna. Pergilah dengan tenang.”


                                                                              ***

Nek Wijan berkata, danau itu adalah danau perawan.

Danau itu tersembunyi dari pandangan manusia biasa. Hanya seorang yang memiliki kekuatan batin yang bisa menemukannya. Dan dia-lah Nek Wijan. Penjaga setia Danau Perawan supaya tidak disalahgunakan orang.

Jika seorang perempuan yang masih perawan mati di danau itu, dalam dua kali purnama dia akan hidup kembali dan permohonannya akan terkabul. Keajaiban danau itu adalah memberinya kesempatan kedua untuk menjalani kehidupan yang bahagia.

Namun apalah arti dari kebahagiaan itu sendiri?
© Sally Ayumi
Maira Gall