Saturday, February 2, 2013

Perempuan, Ruang Publik dan Islam



Perempuan, Ruang Publik dan Islam

Ini adalah judul program yang lagi saya dan tim kerjakan di kantor. Tujuannya adalah untuk  meningkatkan partisipasi perempuan di ruang publik melalui penyelenggaraan seminar dan talkshow di 12 kota pilihan di seluruh nusantara. Hal ini dilakukan untuk melihat kondisi saat ini dan kendala apa yang berkaitan dengan partisipasi perempuan dan ruang publik. Karena tidak selamanya perempuan nyaman berada di ruang publik.


Seminar & Talkshow Perempuan dan Ruang Publik di STIE Indonesia Kayu Tangi, Banjarmasin


Ruang publik disini adalah semua tempat dimana manusia saling berinteraksi, berkarya, bertukar pikiran, bekerja dan aktivitas lainnya. Supaya dipersempit, partisipasi perempuan di  ruang publik maksudnya perempuan yang mau bekerja di luar rumah, berinteraksi langsung dengan masyarakat, memberikan kontribusi dan mengemukakan pendapatnya untuk menjadi solusi terhadap masalah-masalah tertentu. Dalam level tingginya, perempuan yang menduduki jabatan tertentu yang memungkinkannya untuk mengambil keputusan.

Sampai saat ini sudah 6 kota yang berhasil melaksanakannya yaitu Bandung, Makassar, Padang, Banjarmasin, Pontianak dan Medan. Saya sangat bangga dapat menjadi bagian dari kegiatan ini. Kondisi yang saya tangkap dalam pelaksanaan di 6 kota ini adalah masih banyak diskriminasi yang dialami oleh perempuan ketika bekerja di kantor.

Perempuan butuh kesetaraan dalam kesempatan kerja, berkarya dan berpendapat. Namun yang terjadi adalah masih banyak yang menganggap perempuan hanyalah mampu bekerja di dapur, tidak perlu di dengarkan, perempuan hanya makhluk lemah yang tidak bisa apa-apa dan bahkan segelintir orang masih melihat perempuan sebagai objek seks. Hal ini diperkuat dengan meningkatnya kasus perkosaan yang terjadi di tanah air. Miris.
pic :  http://2.bp.blogspot.com

Mengapa hal ini sampai terjadi? Itulah sebabnya kami mengangkat unsur "islam" dalam project ini. Islam sangatlah menghormati perempuan dan tidak pernah melarang perempuan untuk bekerja di ruang publik. Justru budaya/adat dari daerah tertentu yang sudah dianut oleh masyarakat selama turun temurunlah yang menjadi kendala bagi perempuan untuk berkarya di ruang publik. 



Sebagai contoh, di kampung-kampung tertentu banyak gadis remaja yang lulus SMA langsung dinikahkan oleh orang tuanya. Setelah menikah hidupnya akan dihabiskan dalam melayani suami dan menjadi ibu rumah tangga.
http://wallpaperswa.com
Memang tidak ada yang salah dengan itu. Namun alangkah baiknya jika perjalanan pendidikannya tidak berhenti sampai disitu. Saya rasa semua orang setuju bahwa pendidikan mampu menjadikan kita pribadi yang lebih baik dalam bersikap dan pengambilan keputusan. Apalagi pendidikan untuk perempuan. Perempuan yang sudah memiliki kodrat sebagai ibu dan menjadi sekolah pertama bagi generasi penerus bangsa nantinya.

Terdengar muluk, tapi ini fakta. Kejadiannya adalah Ibu yang terdidik memiliki pilihan yang lebih cerdas dalam merawat dan membesarkan anak-anaknya dibandingkan dengan Ibu yang kurang terdidik. Yang satu mengajarkan anaknya sikat gigi sebelum tidur, sementara yang lain membiarkan anaknya tidur di lantai dingin setengah telanjang.

Kesetaraan Gender dan Pandangan Sebagian Pria

Sebagian pria merasa, perempuan itu plin plan. Katanya perempuan koar koar menginginkan kesetaraan gender, tapi tetap minta para lelaki memberikan tempat duduk di bus kota. Katanya, kalau mau adil ya perempuan harus mau berdiri karena sama-sama bayar ongkos.  Belum lagi perempuan minta dibuatkan gerbong khusus di KRL atau di bus Trans Jakarta. Ehm, saya hanya tersenyum mendengarnya.

www.prochoiceproject.com
Menurut saya hal ini perlu diluruskan karena sudah terlalu berkembang di kalangan pria yang menyebabkan mereka semakin acuh pada perempuan di sekitarnya.

Kesetaraan gender dan contoh kasus tempat duduk di bus kota adalah 2 kasus yang sama sekali berbeda.

Kesetaraan gender yang diinginkan perempuan, adalah jangan sampai ada lagi diskriminasi dalam kesempatan kerja bagi perempuan. Contoh kasus; Perempuan berjilbab dilarang bekerja di hotel bintang lima, perempuan tidak diterima kerja di perusahaan minyak, perempuan tidak pantas jadi mekanik atau pilot. Masih banyak masalah yang timbul karena urusan budaya itu tadi. Kalimat-kalimat seperti "Ah, Pilot kan biasanya laki-laki. Kalau perempuan pantasnya jadi Pramugari." masih banyak digunakan masyarakat untuk alasan. Akhirnya banyak mimpi anak-perempuan yang "terbatas".

Selain itu, perempuan menginginkan kesetaraan dalam mengemukakan pendapatnya atau bahkan kepercayaan dalam pengambilan keputusan. Jadi kesetaraan ini maksudnya adalah para perempuan tidak ingin lagi dipandang sebelah mata.

Sedangkan kasus tempat duduk di Bus kota, itu soal etika dan moral. Secara fisik, jelas laki-laki lebih kuat dari pada perempuan. 

http://watatitainenglish.files.wordpress.com

Apakah jantan bila seorang laki-laki tertidur pulas dengan mulut mengaga lebar, sementara ada seorang gadis di sebelahnya berdiri menahan sakit yang terasa di pergelangan kaki karena sudah 1 jam berdiri di dalam bus yang terjebak kemacetan ibu kota?

Tidak ada peraturan yang mewajibkan lelaki memberikan tempat duduknya kepada perempuan. Tidak ada juga perempuan yang merengek minta diberikan tempat duduk (kecuali sakit). Namun hal ini tergantung dari kepekaan hati para pria itu sendiri. Bertanyalah pada diri sendiri, apakah saya jantan?

www.trust.org 
Seorang lelaki sejati, yang saya sebut Gentleman, adalah pria yang mampu menjunjung tinggi kehormatan perempuan yang notabene memang sudah terkodrat menjadi Ibu. Dia bahkan akan membukakan pintu untuk perempuannya. Saya dengar, di Eropa para bangsawan akan bangkit dari duduknya jika ada perempuan yang baru datang dan hendak duduk di meja yang sama.

Jadi buat para lelaki, hormatilah perempuan sebagaimana mestinya. Sesungguhnya kesuksesan laki-laki tidak bisa lepas dari perempuan yang mendukungnya. Perempuan adalah ibu nan lemah lembut, lewat rahimnya-lah Tuhan menciptakan manusia untuk dapat hadir ke dunia.




saratogaindecline.blogspot.com

STOP! Kekerasan terhadap perempuan.

Hit me on @sallyayumi





  

6 comments

Asri Alfa said...

Setuju mba, pendidikan itu membebaskan..:D

sunflower said...

Tolong komen saya jangan dihapus atau ditolak ya Mbak, biar adil. Saya cowok, menurt saya kesetaraan gender dan kesetaraan hak duduk adalah dua hal yang SAMA, gini lho perempuan lebih sering ditolak bekerja karena dianggap terlalu lemah, lah gimana mau dapet kesempatan kerja, klo baru berdiri di bus aja gak mau. Terus cewek2 muda yang kuat nonton konser 6 jam, masa merasa laki-laki (yang sudah datang lebih dulu), harus diusir demi kenyamanan mereka duduk. Yang diutamakan duduk adalah ibu hamil, lansia, gendong bayi dan orang cacat mbak. Kalau alasannya menghormati berarti ANDA TIDAK MENGHORMATI LAKI-LAKI DONG, kalau anda menghormati laki-laki berarti anda harus beri duduk dong, hayo. kalau siap berkompetisi di dunia kerja, ya siap berkompetisi dalam mencari tempat duduk di tempat umum. Kalau gak mau dianggap terlalu lemah untuk kerja, ya jangan terlalu lemah berdiri di bus (giliran jalan di mal berjam-jam kuat). Tolong komen saya tetap dimuat ya Mbak, saya akan mampir lagi untuk melihat sejauh mana Mbak bisa menghargai perbedaan pendapat. Terima kasih. Tambahan: ingat AREA KHUSUS WANITA MBAK, AREA BERDIRI LAKI-LAKI JUGA UDAH TERBATAS, MASA HARUS KASIH DUDUK UNTUK SEMUA PEREMPUAN, SEDANGKAN KITA KE BOLEH DEPAN.

sunflower said...

ralat: maksudnya kaum laki-laki tidka boleh ke depan, sudah cukup lah laki-laki ngalah dengan area khusus, ditambah lagi laki-laki lebih diwajibkan untuk penumpang prioritas, itu sudah cukup mbak. kalau perempuan muda merasa diri penumpang prioritas juga, pantesan aja di area atau gerbong khusus wanita, ibu hamil dan nenek suka gak dikasih duduk.

sunflower said...

Tambahan lagi gak ada hubungannya kejantanan dengan duduk. seorang pria jantan bukan berarti harus menganggap wanita tidak kuat berdiri. apalagi sering cewek2 muda nyerobot pas saya mau kasih duduk untuk ibu hamil/ gendong bayi, jadi wajar kalau pria jantan hanya beri untuk wanita HAMIL, gendong bayi, orang cacat, dan lansia. supaya cewek2 yang kuat berdiri nonton konser 4 jam, jangan merasa diri selalu berhak mengusir laki-laki yang sudah datang duluan.

Sally Ayumi said...

Hai, Mr.Sunflower

Terima kasih ya sudah mampir dan membaca tulisan saya.

Tulisan saya di atas adalah bentuk kemarahan saya atas kenyataan yang saya lihat, alami dan rasakan setiap hari, dalam perjalanan pulang pergi kantor Bekasi - Jakarta.

Mungkin anda adalah pengecualian, mungkin anda bukanlah orang yang saya maksud.

Namun saya adalah pengguna bus umum, dan masih sering melihat lansia, ibu gendong bayi dan ibu hamil yang tidak diberikan tempat duduk di dalam bus. Tadi pagi, misalnya. Seorang ibu kewalahan ketika bayinya rewel minta menyusu, sampai akhirnya ada ibu lain yang memberinya tempat duduk. Sesama perempuan yang mengerti benar, bagaimana sulitnya menyusui di tempat umum sambil berdiri.

Mengapa hanya sedikit dari kita yang PEKA terhadap keadaan sekitar?

Okelah kalau ada perempuan2 muda yang masih egois dan mementingkan dirinya sendiri. Artinya mereka juga belum bisa peka. Lain kali biarlah gadis muda itu berdiri. mereka belum bisa memahami etika dan moral yang sebenarnya. Ini semua soal kepekaan.

Beberapa kali saya memberikan duduk kepada lansia, sementara pria yang duduk di sebelah saya tak bergeming dan malah pura-pura tidur.

Beberapa kali juga naik bus Trans Jakarta dan berdiri di area khusus wanita, bersama empat pria di sekeliling saya.

Kereta api? Main-mainlah ke stasiun, ke area gerbong wanita. Hitunglah ada berapa pria di dalamnya.

Inilah kenyataannya. Kita harus mau melihat fakta bahwa para pihak yang jelas-jelas harus diutamakan saja, masih diabaikan.

Apalagi yang lain?

Tapi tak semua pria seburuk itu,kok. Saya masih menghormati pria. Mulai dari Ayah, Dosen, sampai ke Satpam kantor saya yang selalu menyalami saya selamat pagi setiap hari.

Waktu itu juga pernah ada seorang pria gentle di bus kota yang tidak mau duduk, malah beberapa kali memberikan kesempatan duduk kepada perempuan. Tak pandang perempuan tua atau muda, lansia atau bukan. Pria itu sekitar usia 25 tahunan berbadan kurus dengan jaket lusuh, tapi di mata saya dia lebih keren dari pada pria yang berseragam tentara tapi berpura-pura tidur.

Miris.

Saya menerima perbedaan pendapat kita. Namun saya masih melihat kesempatan kerja dan kesempatan duduk di tempat umum, adalah hal yang berbeda.

Lihatlah ibu yang bekerja, dibandingkan ibu yang tidak bekerja di kalangan menengah. Keduanya masih memiliki kewajiban sama di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Setelah berdiri selama 3 jam di bus kota, beliau harus segera mengurus anak dan suaminya, mengurus rumah dan menyiapkan makanan.

Sementara lihat para suami yang bekerja pada umumnya, sampai rumah minta disiapkan air panas untuk mandi, minta dibuatkan makanan dan dapat langsung santai beristirahat menonton TV. Ketika larut malam minta dilayani nafsu seksnya.

Beban seorang istri yang bekerja, itu berat. Selain lansia, ibu dan bayi, penyandang disabilitas, anak-anak, ibu yang bekerja juga patut diberi perhatian.

Ini kenyataan bung, dan hal ini masih terjadi di sekitar kita.

Intinya, sebagai manusia kita harus peka terhadap tanggung jawab dan beban orang lain, di sekitar kita. Laki-laki atau perempuan.

Terima kasih atas perhatiannya kepada blog saya.

Salam.

Anonymous said...

Sependapat dengan mbak Sally, dimana kesempatan kerja dan kesempatan duduk di dalam moda angkutan umum adalah dua hal yang berbeda dan tidak bisa dijadikan analogi.

Perkara ada orang (laki-laki) yang memberikan tempat duduknya kepada seorang perempuan muda, saya rasa itu adalah sebagai BONUS dari laki-laki tersebut sebagai cerminan bagaimana dia memperlakukan seorang perempuan. Demikian sebaliknya, bila orang tersebut tidak memberikan tempat duduknya kepada perempuan muda itu, maka tidak terlalu jadi masalah. Ini hanya masalah ETIKA dan KEPEKAAN seorang laki-laki saja dalam memperlakukan wanita tersebut.

Namun lain halnya bila itu adalah perempuan lansia, bumil atau menyusui/menggendong anak. Disini bukan hanya masalah kepekaan dan etika saja, tapi ini juga menyangkut hati nurani seorang laki-laki. Sampai saat ini saya percaya bahwa seorang laki-laki yang memperlakukan Ibunya dengan baik, maka dia akan memperlakukan wanita lain dengan baik.

Saya rasa bila mas sunflower mengalami hal tersebut (memberi tempat duduk kepada lansia, bumil/menyusui namun di serobot oleh perempuan muda) maka hal kongkret yang dapat mas Sunflower lakukan adalah MENEGURNYA dan JANGAN DIAM SAJA. Hal ini perlu dilakukan agar mereka malu hingga sadar akan tindakannya.

Saya rasa cukup adil bila kata JANTAN disematkan kepada laki-laki yang rela memberikan tempat duduknya kepada perempuan. Kenapa? karena sekali lagi ini masalah etika dan kepekaan terlepas kita sebagai laki-laki dalam memperlakukan seorang wanita. Meskipun pada dasarnya tidak ada peraturan di dalam angkutan untuk memberi tempat duduk kepada perempuan muda. Namun dari segi agama dianjurkan untuk menolong sesama tanpa melihat latar belakang. Akh saya jadi ingat sebuah quote dari salah satu karakter detektive favorit saya, gini bunyinya, "Saya tidak tahu mengapa orang lain saling menyakiti, tapi perlukah alasan yang logis untuk membantu orang lain?".

Banyak kok memang perempuan muda yang egois memperebutkan tempat duduk dengan perempuan lain bahkan lansia, bumil dll seperti yang mas sunflower bilang. Namun tidak semua perempuan muda seperti itu, diantara mereka ada pula yang baik. Mungkin saja perempuan muda yang pernah berdiri di depan mas sunflower duduk santai dalam angkutan adalah salah satu dari mereka (yang baik, tidak cengeng, kuat dll) namun sebenarnya mereka menahan rasa sakit (entah sakit pada bagian kaki, ataupun menahan sakit karena sedang "period"). Nah pada saat itu pernahkah mas Sunflower peka terhadap kondisi yang mereka rasakan? Nah sekali lagi ini masalah kepekaan dan etika, ada baiknya perlakukan mereka sebaik mungkin sebagaimana memperlakukan Ibu mu. Karena kita tidak tahu, barang kali perempuan yang mas Sunflower perlakukan tidak baik akan menjadi pendamping mu kelak. :)

Lalu bagaimana dengan kesempatan kerja? Saya rasa sudah dijelaskan dengan baik oleh Mbak Sally. Membaca komen mas Sunflower yang pertama sangat naif rasanya. Saya rasa dalam dunia kerja hal yang paling utama adalah skills dan attitude. Kesempatan kerja akan lebih terbuka bila orang memiliki kedua hal tersebut. Nah dari yang saya baca di blog mbak Sally ini adalah ingin mengangkat isu perempuan, dimana mereka juga bisa memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja berdasarkan skills mereka, selama mereka juga tidak dibatasi, terutama dalam aspek pendidikan tertinggi.

Terima kasih

Salam.

© Sally Ayumi
Maira Gall