Wednesday, January 26, 2011

Hidden Sister

Catatan harian Dabria:

“Mereka semua menuduhku, katanya aku pembunuh. Mereka bilang pisau dapur itu ada di tanganku, dan aku-lah yang berada di kamar Andreas pada waktu kejadian. Andreas adalah kekasihku. Seharusnya mereka tahu, bahwa aku tidak mungkin menyakitinya. Namun tak ada yang percaya. Mereka bilang aku tidak boleh mengelak lagi.

Namun aku bingung luar biasa. Aku tidak merasa pernah melakukannya. Aku percaya diri. Walaupun demikian, aku tetap saja merasa takut. Seragam cokelat polisi-polisi itu menakutkan bagiku. Sorot mata setiap manusia yang mengenalku, berubah. Itulah yang membuat aku takut. Maka aku lari.

Itu kejadian empat tahun lalu.”

“Jadi begitu ceritanya?” tanya Rasya. Pria itu kemudian tersenyum dan meraih jemariku, “Mereka semua bodoh. Mana mungkin tangan sehalus ini membunuh orang?”

Aku tersenyum. Dia adalah satu-satunya orang yang percaya padaku. Aku mengerling menatap cincin pertunangan kami, “Kurasa kau harus tahu, sebelum kau menikahi aku.”

“Tentu saja, Sayang. Aku percaya bahwa kau tidak bersalah. Mari kita lupakan kenangan kelam itu, dan jalani hari yang baru bersama-sama.” Rasya mengecup punggung tanganku.

Sepulang dari restoran itu, aku masuk ke kamarku. Aku duduk di belakang meja rias, menyisir rambutku.

“Dari mana saja kau?” tanya Daiyan.

“Pergi bertemu Rasya. Kami sudah sepakat akan menikah bulan depan.” Jawabku.

Gadis itu mengerutkan keningnya, “Bulan depan? Cepat sekali?”

“Sudah untung dia menerimaku.” Aku memelas, “Tadi aku sudah cerita tentang kasus Andreas. Kurasa tak ada lagi yang bisa menerimaku setulus Rasya. Aku akan mengabdikan hidupku untuknya.”

“Lihat saja kalau kau ingkar janji, aku yang akan bertindak lagi.” Daiyan memicingkan matanya.

Aku tidak tersenyum.

“Tidurlah, Dabria. Jangan lupa kalau kita ini saudara kembar. Wajahmu tak akan sama cantiknya denganku, jika kantung matamu sebesar itu.” Daiyan tertawa.

Tibalah malam pernikahan aku dan Rasya, aku mencoba-coba gaun putih panjang yang dibelikannya untukku. Acara ini tidak akan ramai, karena hanya keluarga Rasya yang akan datang. Orang tuaku sudah lama meninggal, hanya ada Daiyan yang mendampingiku. Selalu disebelahku.

Aku selesai memasang semua atribut pernikahanku, dan berlenggak-lenggok di depan cermin.

“Ingatlah janji kita, Dabria.” Tiba-tiba Daiyan bicara. Aku agak terkejut mendengarnya.

“Wajahmu itu, sungguh bahagia. Selamat ya, Dabria.”

“Terima kasih, Daiyan.”

Aku dan Rasya mengucap janji setia disaksikan keluarga dan orang-orang terdekat kami pagi itu. Cincin pertunangan itu kini digantikan dengan cincin pernikahan. Aku sangat bahagia. Rasya menciumku dan rasanya aku mampu terbang ke langit.

Hidupku dan Rasya sangat bahagia, kami saling mencintai. Kami tinggal di rumah baru yang dibeli Rasya lima bulan yang lalu. Rasya sehari-hari bekerja sebagai konsultan keuangan, sementara aku hanya menjadi istri yang baik untuknya.

Namun ada satu hal yang mengganggu pikiranku, sejak aku menikah, Daiyan jarang sekali mengunjungiku. Aku khawatir.

Tiba-tiba sekali, Daiyan datang ketika aku sedang membersihkan cermin di kamar mandi.. “Daiyan!” Panggilku senang.

Wajahnya pucat.

“Sialan kau, Dabria.”

Aku tersentak, “Ada apa, Daiyan? Kenapa kamu baru datang? Aku sangat mengkhawatirkanmu.”

“Sejak menikah, kau lupa padaku. Iya kan? Kamu ingkar janji!” tuduh Daiyan.

Aku menggeleng, “Bagaimana bisa aku lupa?”

“Mungkin kau terlalu sibuk untuk menyadarinya. Tapi kau benar-benar telah melupakan aku. Aku bisa mati kalau kau membuangku begitu, Dabria!”

“Maafkan aku, tapi aku tidak bermaksud begitu.”

Aku merasa bersalah pada Daiyan. Setiap kami bertemu, kami selalu bertengkar. Daiyan iri pada kasih sayangku yang telah kucurahkan lebih banyak untuk Rasya. Dia tidak ingin aku meninggalkannya sendirian. Aku tidak tahu harus berbuat apa.

Pertengkaran itu semakin panas setiap harinya. Tapi aku tidak berani cerita pada Rasya. Aku takut membongkar kejelekan saudaraku sendiri.

“Aku harus bagaimana supaya kau tidak merasa kesepian, Daiyan? Sekarang aku menikah, harus mengabdi pada suamiku. Kamu harus mengerti. Kamu boleh mengunjungiku kapanpun kau mau. Kapan saja. Kita masih bisa saling cerita seperti dulu ‘kan? Aku masih disini untukmu, Daiyan...”

“Bohong! Sudah tak ada lagi perasaan sayangmu padaku. Aku ini saudara kembarmu! Kita berasal dari satu rahim yang sama! Tidakkah kau mengerti betapa cemburunya aku setiap kali Rasya memelukmu?”

“Tentu saja dia boleh memelukku, dia suamiku.” Aku menjawab. “Jangan seperti anak kecil, Daiyan. Bagaimanapun juga aku harus melanjutkan hidupku.”

Daiyan menangis, lalu dia pergi. Aku tidak merasa bersalah lagi. Perasaan itu telah berubah jadi kejengkelan padanya.

Kami sedang bertengkar, yang kesekian kalinya, ketika tiba2 Rasya datang. Daiyan buru-buru pergi. Aku menghapus airmata.

“Ada apa sayang? Bicara dengan siapa tadi?” tanya Rasya.

Aku tidak langsung menjawab.

“Dabria sayang?” Suamiku menagih jawaban.

“Aku tadi bicara dengan Daiyan.”

“Daiyan?” Rasya mengerutkan keningnya. “Siapa Daiyan?”

Aku menoleh, memandang mata suamiku dalam-dalam. “Dia saudara kembarku.”

Alis Rasya semakin berkerut, “Tapi tadi kau sendirian di ruangan ini.”

Aku berdiri, meletakkan cermin kecil di atas meja. “Dia sudah pergi ketika kau datang.”

Hari-hariku semakin kelabu. Daiyan semakin menjadi masalah di rumah tanggaku. Rasya tidak suka kalau aku berhubungan lagi dengan Daiyan. Aku berada dalam satu titik dilema yang parah.

Sampai suatu ketika, semuanya berubah.

Malam itu hujan deras dan Rasya belum pulang. Sudah terlalu larut. Aku tidak bisa menghubunginya, maka aku datang ke kantornya menggunakan jasa taksi. Sesampainya disana, kantor itu sepi. Semua karyawan sudah pulang. Kecuali beberapa satpam. Aku langsung menuju ke lantai dua. Pintu ruangan Rasya terkunci. Aku mengetuknya berkali-kali. Tidak ada jawaban. Maka aku membungkukkan badan untuk mengintip dari lubang kunci.

Disana, diatas sofa. Rasya dan Daiyan melakukan sesuatu hal yang gila. Hal yang seharusnya hanya boleh Rasya lakukan denganku. Bukan dengan wanita lain, termasuk Daiyan.

Aku menerjang pintu itu dengan kursi. Kenop pintu terbuka. Aku berhambur masuk dan mengamuk.



***

Catatan harian Rasya:



Sejak pertama kali aku mengenal Dabria, dia tinggal sendirian di rumah kost di sudut kota. Tak jauh dari kantorku. Kami jatuh cinta pada pertemuan kami yang kesekian kalinya. Aku sangat mencintainya sampai bersedia menikahinya setelah enam bulan perkenalan.

Sebelum pernikahan, Dabria pernah cerita tentang kasus pembunuhan dimana semua orang menyalahkannya. Tapi aku selalu lebih percaya pada Dabria. Dia terlalu lembut untuk membunuh orang.

Hampir setahun aku menikah dengannya, semuanya berjalan lancar. Kami belum berencana memiliki anak, karena kami masih ingin menikmati saat-saat berdua. Namun belakangan, ada yang aneh padanya.

Dabria suka menangis di tengah malam, dia juga suka bicara dan marah-marah sendiri. Mulanya aku pikir dia hanya bergumam seperti istri lainnya yang lelah pada pekerjaan rumah.

Tapi semakin hari perilaku istriku semakin aneh. Setelah aku perhatikan, dia suka berbicara sendiri setiap kali melihat ke cermin. Aku tidak mengerti apa yang dilakukannya. Ketika ditanya, dia bilang dia sedang bicara dengan saudara kembarnya, Daiyan. Aku tidak pernah tahu menahu tentang Daiyan. Dabria tidak pernah mau menceritakannya padaku.

Ini aneh, karena kini aku suaminya. Seharusnya aku tahu jika Dabria masih memiliki saudara kandung. Apalagi kembar.

Maka aku pun menyelidikinya. Aku ingat, dabria pernah cerita tentang rumah susun di kota K tempat dia dibesarkan. Maka aku datang ke sana.

Disana aku bertemu dengan beberapa tetangga lamanya. Aku menunjukkan foto Dabria kecil. Mereka bilang sewaktu kecil Dabria memang tinggal disana. Ayahnya meninggal karena penyakit diabetes, sementara ibunya meninggal karena penyakit jantung.

Setahu mereka, Dabria memang dilahirkan kembar. Dabria terlahir sehat, sementara Daiyan terlahir dengan kelainan paru-paru. Daiyan kemudian meninggal ketika usianya lima tahun.

Fakta ini membuatku terkejut. Aku pikir istriku sudah stress berat. Dia masih mengira bahwa Daiyan masih hidup. Malam itu aku sengaja lembur. Aku sedang memikirkan cara untuk mengajaknya ke psikiater, ketika tiba-tiba Dabria datang ke kantorku sambil menangis.

Dia meminta maaf atas segala perilaku anehnya. Dia bilang dia sudah sadar dan tidak akan mengulanginya lagi. Maka masalahku terpecahkan begitu saja. Kami pun bermesraan di ruangan kantorku yang sepi. Aku telah menemukan istriku kembali.

***



“Kau telah membuatku melakukannya lagi, Daiyan.” Aku menangis sedih.

“Lupakan pernikahan, lupakan laki-laki itu. Kamu hanya boleh bersamaku selama-lamanya. Sampai kapanpun, kita akan selalu bersama. Hanya ada kita berdua. Pegang janji itu.” Daiyan tersenyum menang.

Aku menangisi Rasya yang berlumuran darah, tidak lagi bernyawa. Beling kaca berdarah itu ada di tanganku. Untuk kedua kalinya, di luar kesadaranku, Daiyan membuatku membunuh cintaku sendiri.

The End

Sally Ayumi

Opa Puri

Puri, anak perempuan kampung dengan rambut sebahu itu masuk melewati pagar rumah, melemparkan sepatu dan tas sekolahnya di teras, lalu mengambil segelas air putih dan meminumnya sampai habis. Seragam putih merahnya agak dekil karena debu jalanan. Sayup-sayup terdengar suara siulan dari kamar kakeknya. ”Assalamualaikum!” sahutnya keras.

”Waalaikumsalam!” Jawab Opa. Puri meletakkan gelasnya di atas meja, lalu masuk ke kamar Opa. ”Sedang apa Opa?” tanya Puri. Dia melihat pria tua itu duduk di tepi ranjangnya sambil mengelap sesuatu dengan kain putih.

“Opa sedang membersihkan ini lho, jam antik kesayangan Opa. Lihatlah, bagus kan?” Opa menjawab dengan wajah berseri. Puri mencium tangan Opa, lalu melihat ke benda yang dimaksud. Puri mengangguk. Gadis kecil itu tak bisa berkata apa-apa lagi, dia terpukau dengan benda itu. Warna keemasan dan angkanya menyilaukan mata bulatnya. Dia tersenyum, ”Mahal ya Opa?”


”Yaa kalau sekarang sih mahal, Pur. Ini peninggalan orang tua Opa.” Kenangnya. Puri kembali mengangguk, ”Oo, dari Opa Buyut ya?”

”Iya.” Opa mengembangkan senyum di wajah keriputnya. Jam itu kemudian dimasukkan lagi ke dalam sakunya. Puri kemudian terbayang betapa cantiknya dia jika bisa mengenakan jam itu di lehernya.

”Puri boleh pinjam jamnya Opa?” Tanya Puri kemudian. ”Boleh saja.” Opa langsung menjawab, ”tapi ingat, jangan sampai rusak ya...?”

Opa mengalungkan jam itu di leher Puri. Gadis itu senang bukan main, ia kemudian pergi ke depan cermin untuk mematut diri. Ia segera berganti baju. Baginya, jam itu adalah sesuatu yang mewah. Dia seketika merasa seperti seorang putri.

Puri dan Opa hanya tinggal berdua di sebuah rumah kecil di atas bukit pinggiran jalan tol. Mereka berdua sering memandangi mobil-mobil yang lewat dan berlomba menghitung jumlah truk merah yang lewat, atau apapun yang menarik perhatian mereka.

Tidak seperti bocah 10 tahun yang lain, Puri tidak tinggal dengan ayah dan ibunya. Ayahnya meninggal karena sakit, dua bulan sebelum kelahirannya. Sedangkan Ibunya merantau ke Arab Saudi menjadi TKW, beliau hanya pulang setahun sekali.

Puri masih menari-nari, berpura-pura menjadi putri, ketika Uyan memanggilnya dengan lantang dari depan pagar rumah. ”Purii... main yuuukk...???”

Gadis itu tersentak, dan langsung berlari ke belakang rumah dimana Opa sedang menyemir sepatunya sambil menikmati pemandangan tol. ”Opa, Puri mau main sama Uyan, yaa?” katanya memohon izin.

”Iya, Pur. Hati-hati ya mainnya.” Jawab Opa tanpa ragu. Uyan adalah bocah lelaki anak tetangga sebelah, badannya agak gempal, kulitnya cokelat gelap dan di lehernya selalu terikat kalung tali berwarna hitam. Si Imut Puri hampir tiap hari bermain dengannya. Setiap jam pulang sekolah seperti sekarang.


Puri menunjukkan jam saku milik Opa. Uyan ikut terpesona, ”Waah, bagus ya?” pujinya. Puri tersenyum menang. “Hari ini aku adalah Putri Puri!”


“Huu, mana ada Putri ingusan seperti kamu! Huh…” cibir Uyan. “Iih, aku nggakingusaaan!” Mereka berkejaran di titian sawah, mengejar angsa-angsa dan mencuri telurnya. Puri baru saja mendapatkan telur pertamanya, ketika dia mendengar suara kicau anak angsa di tepi jurang.

“Yaan, sini deh… Lihat itu!” tunjuk Puri. Uyan ikut memandang seekor anak angsa yang sedang berusaha keluar dari cangkang telurnya, di dalam lubang agak menjorok ke bawah di bukit yang curam. ”Dia nggak bisa keluar... tolongin yuk?” ajak Puri. Uyan langsung menggeleng, ”Nanti juga keluar sendiri, Pur. Aku takut terpeleset.” Jawab Uyan ragu.

”Nggak apa-apa kok. Nanti dia bisa mati terjepit cangkangnya sendiri. Sini biar akuaja deh yang turun ke bawah.” Puri memberanikan diri. Jam saku milik Opa terayun-ayun di lehernya, ketika dia mulai meniti tanah bukit yang berbatu.

”Pur! Jangan! Bahaya...!” Cegah Uyan. Terlambat, Puri terlalu keras kepala. Uyan berdebar-debar menyaksikan Puri yang semakin jauh ke bawah, kaki mungilnya berpijak pada batu-batu. Semalam hujan, tanah merah itu basah, Uyan takut Puri terpeleset.

Puri sangat bersemangat, sampai dia tidak lihat bahwa batu pijakan selanjutnya tidak cukup kokoh menahan bobot tubuhnya. Seiring tangisan si anak angsa, Puri pun ikut berteriak kencang. ”Aduuuhh....!!!!” Puri kecil terguling ke dasar yang becek. Tangisannya pecah.

”Tuh kaaan, apa Uyan bilang! Jatohh dehh!” Uyan berseru pasrah. Tapi bocah lelaki itu tidak berani ikut turun ke bawah, dia lalu kembali berseru ”Tunggu disitu, Uyan panggil Opa, ya?”

”Cepet ya Uyaaan!” Puri berteriak. Uyan segera berlari terbirit-birit pulang ke rumah Opa. Puri tak kuat memanjat lagi ke atas, kakinya luka dan mengeluarkan darah. Ia masih menangis. Puri berdiri dan membersihkan baju seadanya. Dia memegang jam saku milik Opa, dan menyadari sesuatu.

Kaca jam itu retak, jarumnya berhenti bergerak. Puri terperanjat dan panik. Dia buru-buru mengetuk jam itu ke telapak tangan kirinya. Tak ada yang berubah. Jam Opa rusak. Puri takut bukan kepalang, saat dia menyadari bahwa sebentar lagi Uyan datang bersama Opa. Kakeknya pasti marah mengetahui jamnya rusak. Puri teringat lagi wajah Opa yang berseri ketika membersihkan benda itu penuh dengan kasih sayang. Saking takutnya, dia tak mampu lagi menangis.

Puri melihat ke sekelilingnya dan berusaha mencari jalan keluar. Akhirnya dia menemukan celah kecil di bebatuan dan ia menyusup melewatinya. Puri berjalan terus menuju tempat yang ramai. Puri kenal jalan itu, dia menyusuri jalan sambil menahan sakit, menuju pasar. Jalan yang ditempuhnya cukup jauh, hampir setengah jam.

Ketika sampai di pasar, semua mata memandang bocah perempuan dekil yang belepotan tanah dengan lutut berdarah. Puri langsung menuju sebuah toko jam, dan bicara pada pria keturunan Chinese yang sedang merokok santai.

”Om, aku mau memperbaiki jam ini. Berapa ya harganya?” tanya Puri. Pria itu menyungging senyum, sambil melengos cuek, dia berkata, ”Hmm, ini jam antik, mahal sekali kalau mau diperbaiki. Bisa kena dua ratus ribu.”

Puri terkejut. Dia mengingat-ingat lagi lembaran dan koin-koin yang pernah dia masukkan ke celengan ayamnya di rumah. Hanya uang seribuan dan koin lima ratusan. Paling besar dia menabung sepuluh ribu perak. ”Tapi bisa bagus lagi ’kan Om?”

”Ya bisa, tapi besok baru selesai.”

Puri tertegun. Dia mengangguk, ”Ya sudah Om, ini jamnya aku tinggal yah. Besok aku datang lagi sambil bawa uangnya.”

Puri kembali ke rumahnya. Sepi. Opa tidak di rumah. Dia buru-buru masuk ke kamarnya lewat pintu belakang. Puri buru-buru mandi dan mengambil celengan ayamnya. Puri kembali kabur, di tengah perkebunan dia memecahkan benda itu. Puri menghitung uangnya.

”Sepuluh, empat belas, dua puluh...” Puri menggeleng-geleng ketika dia lagi-lagi melakukan kesalahan. Setelah beberapa lama menghitung, Puri mendapati dia punya uang seratus dua puluh ribu. Kurang delapan puluh ribu. Adzan magrib berkumandang dan Puri tidak tahu harus pergi kemana. Dia tidak berani pulang menemui Opa tanpa jam itu. Dia hanya memikirkan bagaimana mencari tambahan uang.

Puri pergi ke rumah Bu Maryam, tukang cuci yang tinggal jauh di dekat sungai. Puri meminta pekerjaan kepadanya, dia mau disuruh apa saja asal diberi uang. Awalnya Bu Maryam heran, mengapa bocah kecil itu datang malam-malam. Puri menceritakan semuanya dan Bu Maryam pun mau membantu. Bu Maryam memberi Puri makanan dan menyuruhnya merendam cucian yang akan dicuci esok pagi. Malam itu Puri menginap disana. Esok harinya, setelah lelah mencuci dan menjemur pakaian, Puri diberi uang dua puluh ribu rupiah.

Bocah itu kembali mencari akal. Dia pun pergi ke pasar, meskipun sekarang sudah waktunya sekolah. Di Pasar, Puri membantu ibu-ibu membawakan belanjaan. Selain itu, dia juga membantu Bu Ayu sang pemilik warteg, mencuci piring. Bu Ayu juga mau berbaik hati memberinya makan siang.

Hari semakin sore, tapi uang Puri masih kurang. Dengan lunglai, dia berjalan ke Toko Jam. ”Permisi, Om.”

Pria Chinese itu menengok, ”Oh, kau rupanya. Ini, jamnya sudah selesai.” Puri berjinjit di tepi etalase. Dia terkagum-kagum melihat jam Opa yang sudah kembali seperti sedia kala. Senyumnya terkembang melihat jarum jam yang kembali berdetik.

”Om, maaf ya. Tapi uangku kurang. Aku hanya punya seratus empat puluh tujuh ribu.” Puri menunduk sambil mengulurkan uangnya. Si Om segera tertawa kecil, dia memperhatikan Puri yang sudah kusut bukan main. Bajunya kotor semua dan rambutnya acak-acakan. ”Ya sudah, tidak apa-apa. Sana pulang.”

”Boleh, Om? Makasih! Om baik sekali! Aku doakan Om sukses, cepat kaya dan sehat tujuh turunan ya Om..!!”

Puri kembali pulang dengan wajah berseri. Sesampainya di rumah, Opa tidak juga berada disana. Badannya terasa sangat lelah. Puri kemudian langsung menuju bangku panjang di belakang rumah, tempatnya biasa menghitung mobil di jalan tol. Angin sepoi-sepoi membuat Puri semakin mengantuk. Dia merebahkan diri di sana, dan terlelap.

Opa pulang dengan hati sedih, sudah hampir putus asa mencari cucunya yang hilang. Uyan yang dari kemarin ikut mencari, menemani Opa masuk ke rumah. Opa menyadari sesuatu, ada sandal Puri di depan pintu. Lelaki enam puluh tujuh tahun itu berlari kecil, mencari di seisi rumah.

Opa menemukan Puri yang sedang tertidur lelap di belakang rumah. Langsung Puri dipeluknya dan dibelai-belai penuh kasih sayang. “Purii.... kemana saja kamu?”

Puri terbangun, “Opa... jamnya kemarin rusak. Tapi sekarang sudah betul lagi.” matanya masih terlalu berat.

”Opa sama sekali nggak khawatir pada jam itu, Opa takut kamu yang terluka, Pur.” Opa menahan haru. ”Jangan kabur lagi. Buat Opa, kamu adalah harta yang paling berharga.”

Puri cemberut. Sambil bertutur lugu, ”Yaaah, Opa bukannya bilang dari kemarin! Tau begitu, Puri ’kan nggak perlu cari uang untuk betulin jam Opa!”

”Waaah, hebat juga kamu betulin jam mahal begitu ya Pur? Dapat uang dari mana?” Uyan berkata.

”Celengan ayam, bantuin Bu Maryam nyuci, Ke pasar… Capek dehh!” Puri tersungut.

Mereka semua tertawa. ”Nanti Opa ganti ya uangnya.” Kata Opa.








The End.
© Sally Ayumi
Maira Gall