Hi gorgeous..Thanks for the click to this page.
This is still me, of course; Sally.
Tonight is another night to remember. Why?
Selain karena hari ini adalah tepat sepuluh bulan <333
Malam ini gue memutuskan untuk meng-upgrade energi dan semangat baru!
Semangat untuk mulai merancang my future. How will it be?
Sebetulnya gue bukan orang yang selalu well-prepared. Gue termasuk orang yg spontan. Namun belakangan ini gue sering panik dan freak out sendiri setiap membayangkan skripsi, sidang, wisuda dan karir gue nanti. Lama-lama jadi horror dan penuh dengan tekanan batin. Imajinasi gue terlalu liar sampai takut untuk membayangkannya. you know what I mean :)
Jadilah sekarang mulai mencari-cari ide penulisan skripsi horror itu buat next semester. Ekonomi. Hummh, cakupannya terlalu luaaaas. I need to make it short and simple. Help! Anyone?
Pernah kebayang buat nulis tentang kompetisi usaha MNC di Indonesia, tentang penggunaan zat aditif di resto Fast Food, Penggunaan plastik organik yg katanya bisa hancur dlm 2 taun (aja), kemacetan dan visitasi wisatawan asing ke Indonesia, Limbah dan Pajaknya..... \(@_@)/ <<< still need help and guidance.
Lama-lama makin horror nih. Entah karena terlalu banyak ide, atau ide gue semua ga berbobot yah?
Pokoknya masih harus brainstorming dan konsultasi kesana kemari deh.
Terus, semester 7 ini dihiasi oleh indahnya kelap kelip magang. Bahasa kerennya sih internship. SOK!
How blessed I am... disaat bingung mau magang dimana,eh Mr.Kiky dosen idola gue menghubungi. Beliau nawarin magang di kantornya yang sempet tertunda di semester 6 kemarin. Waw.
kok pake Waw segala? Yaiyalah. kantornya Pak Kiky tuh TI (Transparency Internatinal) Indonesia. LSM yg bergerak khusus anti korupsi. Just like ICW gt deh.
Serunya, TI tuh punya organisasi utk pemuda yaitu SPEAK (Suara Pemuda Anti Korupsi) wedeh. Namanya aja udah ngajak perang gitu kan?
Nah, tugas gw adalah jadi salah satu volunteer utk ikut menyukseskan acara workshop orasi video anti korupsi yg digelar SPEAK. Workshop ini untuk anak muda. Jadi magang gw bakalan sparkling banget kan? ahaha.. Alhamdulillah.
Dikarenakan dua hal itu ; ketakutan gw atas skripsi dan sibuknya magang... gw mau memanggil semua energi gue yg tadinya pada berpencar kemana-mana. Sambil mengacungkan tinju tinggi-tinggi dan berseru, BERSATU !
Otak gue harus terus diajak kreatif nih. Karena kalo gw gak siaga, bisa-bisa lemot nih loadingnya (hal ini dibuktikan dengan kasus kekurung berduaan si Felice di kamar kosan sambil jerit2 minta tolong, padahal udah tau kalo kunci pintu itu bermasalah, masih aja dikunci segala).
Gak boleh males-malesan lagi. Harus terus dinamis! (dinamisnya juga bisa dengan cara baca buku dan facebookan sambil tengkurep di atas kasur sendirian di kamar kosan juga kaan? at least gw networking! hehe).
Next days will be so full and hectic for me.
Jadi, minta doanya yaaa...!!!!!!!
11102010_Sally
Wednesday, September 29, 2010
When They Laugh Behind Me, I Know How Hurt It Will Be
Aku ingat ketika pertama kali aku bicara dengan mereka. Kami tidak langsung saling percaya. Dimulai dengan canda, sakit, air mata, amarah dan desas-desus ringan yang mengantarkan kami pada keakraban. Cerita bergulir sepanjang waktu berlari, kami pun memiliki sebuah ide bagus untuk melantik diri sebagai "sahabat".
Aku juga masih ingat betapa kita saling jujur dan bercanda. Bagiku, semuanya tidak akan pernah tergantikan oleh apapun juga.
Aku juga masih ingat betapa kita saling jujur dan bercanda. Bagiku, semuanya tidak akan pernah tergantikan oleh apapun juga.
Suatu waktu Papa pernah cerita, bahwa kalau kita memberi minum seekor anjing yang kehausan, sampai mati anjing itu tak akan pernah melupakan kita. Mungkin sebaiknya aku bersahabat dengannya, sebab ternyata manusia tidak seloyal itu. Termasuk aku.
Tulisan ini terinspirasi dari rasa kecewaku pada mereka, yang tertawa dibelakangku. Aku ketakutan setiap kali hendak bicara, bisa saja kalimatku menjadi bumerang bagi diriku sendiri. Aku waspada dalam tiap gerakku. Sebab mereka selalu bisa melihatku.
Aku mohon izin kepada mereka, untuk memilih sendiri apa yang aku inginkan. Aku ingin mereka menjaga perasaanku sebagaimana aku selalu berusaha untuk tetap tersenyum dalam setiap kesalahan yang terjadi diantara kami. Aku ingin mereka mendengarkan keluh kesahku tanpa mengutipnya untuk pembicaraan lain di belakangku. Tangisku tak sanggup menghentikan semua ini. Aku terluka.
Aku minta maaf karena bertindak bodoh di hadapan mereka. Aku sadar, meski mereka tak pernah tahu, diri ini juga sama seperti mereka. Jadi aku minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya. Sekarang aku mengerti bagaimana rasanya dikhianati. Aku akan tetap tertawa bersama mereka, tanpa sedikitpun tertawa di belakang mereka. Sebab ketika mereka tertawa di belakangku, aku tahu bagaimana sakitnya.
written on a lonely night,
_Sally Ayumi
Wednesday, September 1, 2010
Rain, Virus and Black Mocca
Rain, Virus dan Black Mocca...
Satu dari sejuta mimpiku yang akhirnya terwujud. Alhamdulillah.
Inti dari mimpiku ini cuma satu ; aku ingin berbagi cerita.
Terima kasih, ya Allah. Engkau bukakan jalan untukku.
Hwaahh, senangnyaa....
Satu tahun bukan waktu yang sebentar dalam menanti penerbitan buku ini. Aku sabar menunggu datangnya "trend" yang menjadi alasan mereka mencetak RVBM. Namun tidak bagi kawan dan keluargaku. Mereka haus berita gembira. Mereka tidak sabar membaca ceritanya.
Aku belum pernah tahu, sebangga apa orang tuaku terhadapku. Tapi, ketika buku ini benar-benar terwujudkan, mereka memberiku ucapan selamat.
Aku tidak pernah mengharapkan kalimat itu sebelumnya. Sebab keluarga kami memang jauh dari formalitas sinetron macam itu. Kami keluarga yang terlalu santai.
Jadi hatiku bergetar mendengarnya.
Seperti ketika Q pertama kalinya membisikkan kata "Makasih ya, Nii.." di atas motor tempo hari.
Seperti ketika mendengar bunyi dentang lift setelah beberapa lama menunggu.
Aku bahagia. Terima kasih, Ma.. Pa..
You guys always be the best for me.
Terima kasih juga untuk sepupuku tersayang, Rachma. Orang yang pertama kali dan selalu menjadi fans RVBM. This book is dedicated for you, Siz!
Thans to Mbak Nia dan Mbak Lya yang selalu membantu share info lebih cepat dari pada yang lain.
Terima kasih ya...
Warm regards,
Sally.
Satu dari sejuta mimpiku yang akhirnya terwujud. Alhamdulillah.
Inti dari mimpiku ini cuma satu ; aku ingin berbagi cerita.
Terima kasih, ya Allah. Engkau bukakan jalan untukku.
Hwaahh, senangnyaa....
Satu tahun bukan waktu yang sebentar dalam menanti penerbitan buku ini. Aku sabar menunggu datangnya "trend" yang menjadi alasan mereka mencetak RVBM. Namun tidak bagi kawan dan keluargaku. Mereka haus berita gembira. Mereka tidak sabar membaca ceritanya.
Aku belum pernah tahu, sebangga apa orang tuaku terhadapku. Tapi, ketika buku ini benar-benar terwujudkan, mereka memberiku ucapan selamat.
Aku tidak pernah mengharapkan kalimat itu sebelumnya. Sebab keluarga kami memang jauh dari formalitas sinetron macam itu. Kami keluarga yang terlalu santai.
Jadi hatiku bergetar mendengarnya.
Seperti ketika Q pertama kalinya membisikkan kata "Makasih ya, Nii.." di atas motor tempo hari.
Seperti ketika mendengar bunyi dentang lift setelah beberapa lama menunggu.
Aku bahagia. Terima kasih, Ma.. Pa..
You guys always be the best for me.
Terima kasih juga untuk sepupuku tersayang, Rachma. Orang yang pertama kali dan selalu menjadi fans RVBM. This book is dedicated for you, Siz!
Thans to Mbak Nia dan Mbak Lya yang selalu membantu share info lebih cepat dari pada yang lain.
Terima kasih ya...
Warm regards,
Sally.
Subscribe to:
Posts (Atom)