Gemuruh suara genderang dan tabuh-tabuhan mengajak jantung Sinna ikut berdegup kencang. Gaun terindah dan kerudung tipis sewarna delima membalut tubuhnya. Ribut suara kerabat dan saudara yang sibuk mengurus segala hal kecil hingga tampak sangat besar, terdengar di luar kamar. Sinna mematut paras cantiknya di cermin berbingkai pualam. Belum pernah dia melihat wajahnya secantik ini.
Biasanya Sinna hanya menggunakan baju panjang dengan warna-warna pastel untuk tak menarik perhatian. Wajah itu tak kenal bedak ataupun pemulas bibir. Rambut hitamnya hanya dibiarkan terurai dengan tertutup kerudung satin yang selalu tersampir di kepalanya.
Namun kemolekannya pagi ini tak merangsang bibir tipisnya untuk tersenyum. Yang bereaksi justru matanya yang mengeluarkan cairan bening semurni embun. Sinna tak menghapusnya, malah menambah jumlahnya.
Seorang ibu masuk ke kamar itu, membawa harum mawar yang semerbak mengusik hidung Sinna.
“Anakku, apakah kau sudah siap?” tanya sang ibu.
“Bunuh saja aku, Bu. Sekarang juga.” Tangis Sinna sambil masih berkaca.
“Jangan bilang demikian, Nak. Kau tahu ayahmu. Lagipula ini masih acara lamaran, belum pernikahan.” Sang ibu membelai kerudung Sinna hingga rambutnya tersibak sedikit.
“Apa bedanya, Bu? Setelah dilamar, sebulan kemudian aku dinikahkan. Aku tak ingin menikah dengan Huda. Dia itu suka main perempuan, begitu kata teman-temanku.” Sinna memberi alasan.
“Ibu pernah dengar cerita itu. Tapi itu hanya gosip belaka. Semua bicara buruk tentangnya karena Huda anak saudagar kaya. Pemuda setenar dia pastilah jadi buah bibir.” Ibu menggandeng Sinna.
“Aku tak sudi mengabdi padanya, Bu. Aku tak cinta!” sergah Sinna.
Ibunya mengambil nafas panjang. Letih dengan perdebatan semacam itu. Dia berada di posisi yang terjepit. Entah harus membela kebahagiaan putri semata wayangnya atau mengabdi pada sang suami yang sangat dicintainya.
“Ini hanya acara lamaran, Putriku.”
Sinna menghapus airmatanya, bersiap keluar kamar. “Kalau begitu mengapa Ibu mengenakan minyak wangi sampai seharum ini? Ini acara sakral, penting. Ibu tahu itu.” Katanya.
Mereka berdua keluar dari kamar dan menemui tamu-tamu undangan yang berpakaian rapi dan bagus-bagus. Makanan tersedia melimpah di setiap meja di sisi ruangan, dengan perabot berwarna keemasan yang menandakan status tuan rumahnya.
Puluhan orang terdekat keluarga itu hadir disana, tari-tarian dan lagu cinta dipersembahkan. Musik bernada riang mengajak siapapun yang mendengar untuk bergoyang.
Kecuali Sinna.
Genderang kembali ditabuh, pintu masuk terbuka lebar. Sang ayah, yang merupakan pedagang batu mulia kaya dan terhormat memasuki ruangan dengan wajah bangga. Sinna mendesis marah melihat tampang ayahandanya sendiri.
Dibelakangnya diikuti rombongan dari keluarga Huda. Pemuda itu tampil bak pangeran raja. Dia membusungkan dada dengan pakaian mengkilat yang tak sebagus parasnya.
Kali ini Sinna menjerit dalam hati. Nasihat dari Nek Wijan terngiang kembali di telinganya. Janjinya pada Gharin masih digenggamnya erat.
***
“Aku ini punya kekasih, Yah!” jerit Sinna malam itu. Suasana di rumahnya yang tadinya ceria kembali menjadi tegang. Seluruh ajudan dan pelayan sudah masuk kamar sejak azhan Isya’ berkumandang. Suara Sinna dan Ayahnya yang sama-sama keras memantul di lantai marmer.
“Cih! Si Gharin cecunguk itu maksudmu? Najis hukumnya kalau keluarga kita bersatu dengan keluarga jongos itu! Kamu ‘kan tahu sendiri, bapaknya itu dulu kacung kita sendiri! Tukang cabut rumput!”
Sinna menahan airmatanya.
“Harus berapa kali ayah meyakinkan kamu tentang kehebatan Huda. Banyak perawan merengek untuk jadi istrinya. Dari semuanya, dia memilih kamu!”
Sinna mendesis marah, “Apakah harta ini masih kurang bagi Ayah? Sudah cukup, Yah. Tak perlu lagi menjilat saudagar kaya itu. Mengapa ayah selalu menilai mereka dari keturunannya? Apakah ayah bisa tidur nyenyak bila aku tak bahagia bersama Huda?”
Ibunya menunduk dalam, tak berani menengahi pertengkaran dua belahan jiwanya. Tubuhnya yang sudah dimakan usia, gemetaran. Dia hanya bisa menangis dalam diam.
“Tahu apa kau tentang penilaian Ayah? Mustahil kau akan sengsara bersama Huda! Kau akan berkecukupan tujuh turunan. Tapi bersama Gharin, kau akan menderita dan anak-anakmu nanti akan mati kelaparan. Lihat saja apa pekerjaannya, mau menjadi pemusik katanya? Huh! Bisa apa dia?”
“Sekarang kau adalah tunangan Huda. Calon istrinya. Jangan permalukan Ayahmu. Berhenti menemui laki-laki itu.” Kata Ayahnya ketus.
Beliau meninggalkan Sinna yang menangis di ruangan itu sendirian. Sang ibu memilih mengikuti langkah suaminya. Dengan lirih gadis itu berbisik, “Lebih baik aku mati dari pada harus menikahinya.”
***
Gharin mendendangkan lagu cinta untuk pujaan hatinya. Di matanya, tak ada yang seindah Sinna. Wajahnya cerah dan tawanya membuai Gharin ke ujung langit. Dia menyukai kepolosan dan ketulusan Sinna. Meskipun ada bidadari turun dari khayangan meminta cintanya, Gharin tak akan luluh. Hatinya sudah jadi milik Sinna seutuhnya. Murni dan sejati.
Sinna mendengarkan dengan mata terpejam. Di hatinya kebahagiaan adalah Gharin. Jika bersamanya, meskipun ada angin topan atau banjir bandang Sinna akan tetap merasa aman.
Cinta mereka sama-sama bening. Mereka saling memiliki.
“Lihatlah cincin pertunangan ini, Gharin.” Kata Sinna.
Gharin menatap cincin dengan batu berlian yang melingkar di jari manis kekasihnya. “Indah sekali.”
“Tidak bagiku. Ibu memohon supaya aku selalu memakainya. Jadi demi ibu, cincin ini masih kupakai.
Meskipun sakit hatiku tiap kali melihatnya.” Sinna mengeluh.
“Kelak aku pasti bisa memberimu hadiah sebagus itu.” Gharin berkata.
“Entah masih adakah kelak bagiku. Bulan depan aku dinikahkan, Gharin. Apa yang harus kuperbuat?”
“Aku akan bicara pada Ayahmu.” Sahut Gharin mantap.
“Percuma. Telinga Ayah sudah tuli dan hatinya sudah terkunci oleh pertunangan ini. Baginya tak ada yang lebih pantas dari Huda. Aku sedih, Gharin.”
Gharin meletakkan gitarnya. Dia mendekat pada Sinna dan mencoba mencari jalan keluar. Dalam hati dia tahu bahwa tak ada yang bisa dilakukan. Hatinya remuk dan harga dirinya habis.
“Seandainya saja ada yang mampu kulakukan untukmu, Sinna sayang...”
“Berjanjilah padaku.” Tantang Sinna.
“Berjanjilah bahwa bila tak ada lagi aral yang merintangi cinta kita, kau akan menikahiku dan mencintaiku selama-lamanya.”
“Tentu saja, Sinna. Aku berjanji.”
Janji Gharin tentang cintanya yang tak akan lekang dimakan waktu membekali pikirannya. Sinna pun memantapkan hatinya untuk menemui Nek Wijan. Sebelum berangkat, Sinna datang kepada ibunya.
“Ibu, kau adalah permata hatiku. Aku mencintaimu dengan seluruh hidupku. Bukannya aku tak berbakti lagi padamu, Ibundaku. Namun aku tahu kau berdoa untuk kebahagiaanku. Maka doakanlah aku sekali lagi, Ibu. Aku mencintaimu. Terima kasih telah melahirkan aku ke dunia ini. Semoga Allah selalu melindungimu.”
Ibunya kaget mendengar ucapan putrinya. Dia terharu dan memeluk Sinna penuh kasih.
Kemudian Sinna datang pada Ayahnya. Tanpa basa basi dia memeluk pria setengah abad itu. “Terima kasih, Ayah.” Bisik Sinna.
Sang Ayah yang pikirannya masih disibukkan dengan perdagangan dan bisnisnya sendiri itu, tak mau ambil pusing dengan sikap tak biasa putrinya.
Terakhir Sinna kembali ke rumah Gharin. Dia membangunkan Gharin dari tidurnya, lalu mengucapkan kata-kata yang mampu mengembalikan semangatnya. Mereka menyanyikan puisi cinta paling indah malam itu. Sinna berpamitan sambil mengingatkan Gharin lagi, “Peganglah janjimu kepadaku.”
Gharin mengangguk mantap. Tanpa dia tahu apa yang akan dilakukan Sinna untuk mencegah pernikahannya. Dalam hati Gharin berdoa demi kebahagiaan mereka.
Kembang desa itu sampai di gubuk Nek Wijan malam itu juga.
Nek Wijan tinggal sendirian di tengah hutan yang gelap. Tak ada seorangpun di desa itu yang mengenalnya kecuali Sinna. Dia mengenal Nenek tua itu ketika dia tersesat di hutan itu. Tadinya Sinna diajak ayahnya berburu rusa, dan tidak seharusnya dia keluar dari rombongan. Waktu itu Sinna masih berusia sepuluh tahun. Nek Wijan mengantarnya pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, Nek Wijan bercerita tentang danau dalam rimba itu.
Tapi sebagai gantinya, Sinna tak boleh menceritakan tentang danau itu maupun tentang Nek Wijan kepada orang lain. Sinna juga tak boleh melupakannya. Atau Nek Wijan akan mengembalikannya ke dalam hutan yang seram itu. Gadis itu menyanggupi.
Sinna ingat betul cerita Nek Wijan tentang danau sebelas tahun lalu itu. Kini dia datang untuk meminta bantuan wanita tua itu.
“Apa kau yakin?” Nek Wijan bertanya dengan suara parau.
“Aku yakin, Nek. Kalau tidak, aku tak akan berada disini.” Seru Sinna mantap.
“Tapi kau harus menunggu sampai dua kali purnama sebelum bisa kembali.” kata Nek Wijan.
“Di hatiku hanya ada Gharin, Nek. Aku akan melakukan apapun untuk bisa senantiasa bersamanya. Aku bisa menunggu.”
Nenek tua itu tak punya pertanyaan lagi. Dia melihat keyakinan Sinna dan keteguhan pendiriannya. Tak ada rasa takut di matanya.
“Kalau begitu, bukalah pakaianmu.”
***
Suasana di rumah itu kembali ramai. Ayah Sinna hampir mati berdiri ketika mendapati putrinya hilang ditelan bumi. Seluruh anak buahnya dikerahkan demi mendapatkan anaknya kembali.
Ibunya menangis siang dan malam. Kini dia tahu ucapan putrinya waktu itu adalah salam perpisahan untuknya. Saking cintanya pada Sinna, ibunya mengingkari kata hatinya sendiri. Dia tahu mengkin saja anaknya sudah pergi untuk selama-lamanya. Namun ia tetap berdoa supaya Sinna baik-baik saja.
Karena hilangnya Sinna, Gharin jadi kambing hitam. Dia ditangkap dan diadili. Di tanyai berjuta pertanyaan yang sebagian besar merendahkan dirinya.
Pemuda pujangga cinta itu disiksa siang dan malam. Gharin bersumpah demi Tuhan Yang Agung bahwa dia pun tak tahu dimana Sinna berada.
Tak ada bukti untuk menyalahkan Gharin, maka setelah dua belas hari dia dibebaskan. Hati Gharin sedih dan gelisah. Bukan karena siksaan yang diterimanya selama di penjara, melainkan dia takut terjadi sesuatu kepada Sinna.
Beberapa hari kemudian seorang suruhan Ayah Sinna menemukan pakaian dan kerudung Sinna yang sudah robek dan compang-camping di dalam hutan yang gelap dan sepi. Polisi memperkirakan Sinna diserang harimau atau beruang hutan.
Ayah dan ibu Sinna panik bukan main. Temuan itu bagai menjawab seluruh pertanyaan mereka. Satu bulan sudah berlalu, jasad putri mereka belum juga ditemukan. Dengan pasrah mereka mengumumkan bahwa putri mereka sudah meninggal.
Huda dan keluarganya merasa sangat kecewa sekaligus prihatin. Pernikahan mewah yang sudah direncanakan matang-matang kini harus dibatalkan. Dua keluarga itu menderita kerugian ratusan juta.
Ayah Sinna pun jadi sadar betapa salah keputusannya tempo hari. Dia bertaubat dan memohon maaf pada istri dan keluarga besarnya.
Ibunda Sinna belum bisa berhenti menangis.
Kedua orang tua itu memutuskan untuk pergi jauh dari desanya.
Lain lagi dengan Gharin. Dia tak ingin sekedar menunggu berita terbaru dari orang lain tentang pencarian kekasihnya. Gharin sendiri pun ikut mencari. Dia mencari dari pantai sampai ke gunung. Diteriakkannya nama gadis itu di seluruh pelosok desa. Tak juga ditemukan.
Setiap hari yang dilakukannya hanya merantau untuk menemukan Sinna. Ratusan orang ditanyainya dan cuaca buruk di tempuhnya tanpa menyerah.
Hampir dua bulan sudah pencarian dilakukan. Sampai suatu hari Gharin yang letih raganya pulang ke rumahnya di sudut desa. Dia mendorong pintu bobroknya itu dengan keras karena masalah engsel yang membuatnya selalu sulit membuka pintu.
Dia mandi dan melaksanakan shalat Isya’. Setelah itu, dengan bibir yang masih mengucap dzikir dan doa, Gharin tertidur di atas sajadah lusuhnya.
***
Suara azan Subuh membangunkan Gharin. Dia pun segera melaksanakan kewajibannya. Pemuda berbadan tegap itu berencana untuk kembali meneruskan pencariannya. Dia pun melangkah ke dapur untuk membuat sarapan.
“Gharin, silahkan dimakan.”
Betapa terkejutnya dia ketika mendapati Sinna di dapurnya. Dengan makanan yang tersaji lengkap di atas meja reyot itu. Gadis itu menggunakan kemeja milik Gharin, sabil tersenyum ramah di ajaknya lelaki itu untuk makan.
“Sinna?” suara Gharin tergagap. “Bagaimana kau bisa berada disini? Pintu dan jendela rumahku terkunci dan... Masya Allah, ini aneh sekali. Kemana saja kau selama ini?”
“Tidakkah kau senang bertemu denganku lagi? Sekarang yang penting aku sudah berada di hadapanmu. Aku masih cinta padamu. Gharin, kini pernikahanku sudah dibatalkan. Tak ada lagi yang merintangi kita. Sekarang bawalah aku sejauh mungkin, nikahilah aku. Tepati janjimu.”
Cintanya yang dicari kemana-mana ternyata kini sudah berada di depan hidungnya. Berkali-kali Gharin mengucap syukur. Mereka kemudian pergi diam-diam ke sebuah pulau di seberang laut dimana tak ada yang mengenal mereka berdua.
Disanalah mereka menikah.
Gharin dan Sinna hidup berdua di rumah kecil dalam sebuah desa bernama Asri Bumi. Desa itu memang asri dan hijau. Menyempurnakan cinta mereka berdua.
Tapi ada sesuatu yang mengusik pikiran Gharin. Sinna berubah sejak dia muncul tiba-tiba di dapurnya.
Sinna sekarang tak pernah lupa bersolek setiap pagi. Dia bilang kecantikan itu demi suami tercinta. Padahal yang dia tahu, kekasihnya bukanlah seorang pesolek yang mampu berdandan sendiri dengan lihainya.
Istrinya itu tak pernah lupa menyiapkan makanan yang enak untuk dirinya, meski Gharin hanya bekerja sebagai pemusik dari kampung ke kampung. Tentu saja dia bingung bagaimana Sinna bisa menyediakan makanan sebanyak dan seenak itu dengan uang belanja yang mungkin hanya cukup untuk beli tekur ayam setengah kilo? Kalau ditanya, dia selalu punya alasan jitu sehingga Gharin tak dapat berkutik. Pemberian orang, pintar menawar, obral, dan lain-lain. Sinna memastikan bahwa semua itu halal.
Sinna menjadi istri paling sempurna baginya. Rambut dan tubuhnya selalu harum bunga-bungaan, senyumnya selalu merekah dan bicaranya santun tanpa cela. Seluruh waktu digunakan untuk mengabdi pada suami dan menjaga kehormatan diri dan suaminya.
Tapi Gharin masih saja gelisah. Kekasihnya Sinna dulu tidak seindah itu. Tidak sesempurna itu. Sinna yang dulu itu, dirasakan lebih menyenangkan dibanding sekarang setelah menikah.
Karena penasaran, Gharin membohongi Sinna dengan bilang bahwa dia hendak pergi bekerja. Tapi sebenarnya tidak. Dia menyelinap ke atas genting rumahnya dan membuat sedikit celah untuk mengintip.
Gharin memperhatikan tingkah istrinya di dalam rumah.
Setelah mengunci pintu, Sinna menutup semua jendela rumahnya rapat-rapat. Dia kemudian memasukkan uang belanja yang diberikan suaminya pagi ini ke dalam guci dan menyembunyikan guci itu di kolong lemari.
Dahi Gharin mengerut bingung.
Sekarang wanita itu beranjak ke sudut rumah yang mereka sebut dapur. Dia mengambil sebuah panci kosong beserta tutupnya. Diletakkannya panci itu di atas meja, lalu ia menutupnya.
Gharin tercengang melihat Sinna yang meletakkan telapak tangan kanannya di atas tutup panci dengan mata tertutup.
Beberapa saat kemudian Sinna membuka matanya sambil juga mengangkat tutup panci. Seperti disihir, kini di dalam panci itu ada semur daging yang masih mengepul. Sambil tersenyum ditaruhnya panci semur itu di atas kompor yang padam.
Gharin berkali-kali menyebut asma Allah, bertanya-tanya apa yang sedang dikerjakan istrinya.
Saat itu juga dia turun dari atap rumah dan mengetuk pintu depan.
Sinna terkejut karena suaminya pulang cepat sekali. Dia membuka pintu sambil menyambut hangat, “Suamiku, ada apa? Kenapa kau pulang cepat?”
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Gharin berang.
“Apa maksudmu?” Sinna tampak agak ketakutan. “Ini aku, Sinna. Istrimu.”
“Jangan berani-berani mengatasnamakan kekasihku! Kau bukan Sinna. Sekarang jawab aku, siapa kau sebenarnya?!” dengan galak Gharin membentak.
“Apa yang harus aku jawab, Suamiku? Sungguh benar adanya aku ini istrimu. Sungguh...”
Gharin mengunci pintu dan mendekat pada Sinna dengan wajah marah. “Sedikitpun pribadimu tak serupa dengan dirinya. Hanya fisikmu saja yang menyerupainya. Katakan siapa kau sebenarnya? Apa yang kau lakukan terhadap kekasihku?”
“Sinna... Aku ini Sinna, Gharin... tidakkah kau lihat sendiri?”
“Seribu malam lebih aku menjalin cinta dengannya. Sungguh aku mengenal dia. Sinna yang kukenal bukan pesolek. Dia masih suka bercanda dan mengeluh manja. Tapi kau, begitu mandiri dan menjaga kecantikanmu. Kau terlalu sempurna. Sinna kekasihku lebih manusiawi dari pada dirimu!” amarah Gharin tak terbendung.
Wanita itu menangis tersedu-sedu. Dia bersimpuh di kaki Gharin.
“Cintaku, ini aku... Sinna.”
“Sinna kekasihku juga bukan seorang penyihir! Aku lihat kau menyulap panci kosong menjadi penuh dengan makanan enak. Begitukan caramu menyiapkan makanan untukku? Katakan yang sejujurnya atau aku akan memukulmu!”
Gharin mengayunkan tangannya, mengancam.
Sinna menjerit dan menangis, “Baiklah... akan kukatakan...”
“Suamiku, Gharin... aku memintamu berjanji padaku untuk menikahi aku ketika tiada lagi aral melintang bukan? Dan kau pun menyanggupinya. Aku pun pergi ke danau perawan dan menenggelamkan diriku sendiri. Aku tahu danau itu dari seorang nenek bernama Nek Wijan yang tinggal di hutan kampung halaman kita. Danau itu ajaib bukan kepalang. Dalam dua bulan aku hidup kembali. Sejak saat kubuka mata lagi, aku menjadi lebih bahagia dari sebelumnya. Kini aku memiliki kekuatan untuk membahagiakanmu juga, Cintaku... kulakukan ini semua untuk kita.”
“Astaghfirullah...” Gharin memegang kepalanya yang terasa berat.
“Jadi sesungguhnya Sinna-ku sudah meninggal?” desisnya.
Wanita itu menggelengkan kepalanya empat kali, lalu berdiri di hadapan Gharin dengan wajah marah.
“Meninggal? Ini aku, Gharin. Aku memang meninggal, tapi aku sudah hidup kembali!”
“Makhluk yang sudah mati tak dapat hidup lagi. Kau mempermainkan nyawamu sendiri. Kini aku yakin kau bukan Sinna Wimala kekasihku dulu. Kau adalah wanita siluman!” pekik Gharin.
Sinna meraung marah. “Siluman? Aku korbankan nyawaku demi untuk bersamamu selama-lamanya. Sekarang begini perlakuanmu padaku? Jika bukan karena aku kita tak dapat menikah!”
“Maafkan aku. Aku memang mencintai Sinna. Namun lebih baik aku membujang seumur hidup dari pada menikah dengan siluman sepertimu. Sinna-ku sudah mati karena bisikan setan sepertimu yang telah menjerumuskan dia. Sekarang pergilah. Enyah sejauh mungkin dariku.”
Mendengar ucapan Gharin tadi Sinna berang. Dia mendekat dan mencekik leher Gharin. Lelaki itu tak melawan, sementara jari-jari Sinna makin kuat mencengkeram lehernya.
Nafas Gharin sesak bukan main. Ia terbatuk-batuk tapi tetap tak ingin melawan. Pasokan udara semakin menipis bagi paru-parunya. Di saat matanya mulai terpejam pasrah, tiba-tiba Sinna melepaskan cekikannya. Dia langsung menangis keras, menjerit dan berteriak.
“Mengapa kau tak melawan?” tanyanya lirih.
“Jika kekasihku telah mati, untuk apa lagi aku hidup?” jawab Gharin serak.
Mata Sinna terbelalak.
“Kau benar. Aku bukan lagi Sinna-mu yang dulu. Aku sudah dirasuki setan. Aku ini siluman...” dia berlari ke dapur dan mengambil sebuah pisau. Diberikannya pisau itu pada Gharin. “Setan ini sudah menguasaiku... maafkan aku karena telah bertindak bodoh, Gharin-ku sayang. Aku hanya ingin kau tahu bahwa cintaku padamu tak akan pernah surut meski nafasku telah terhenti. Selamat tinggal kekasihku. Kini akhirilah kebodohanku ini.”
Mereka berpelukan. Mata mereka terpejam. Sinna menarik tangan Gharin yang menggenggam pisau ke arah perutnya.
Kedua mata Gharin basah. Badannya bergetar hebat. Dia menangis tersedu-sedu sampai susah untuk bernafas. Dipeluknya tubuh itu erat-erat dengan tangan yang berlumuran darah. Tubuh yang dicintainya sepenuh jiwa.
Perlahan dia berbisik, “Aku akan selalu mencintaimu selama-lamanya, Sinna. Pergilah dengan tenang.”
***
Nek Wijan berkata, danau itu adalah danau perawan.
Danau itu tersembunyi dari pandangan manusia biasa. Hanya seorang yang memiliki kekuatan batin yang bisa menemukannya. Dan dia-lah Nek Wijan. Penjaga setia Danau Perawan supaya tidak disalahgunakan orang.
Jika seorang perempuan yang masih perawan mati di danau itu, dalam dua kali purnama dia akan hidup kembali dan permohonannya akan terkabul. Keajaiban danau itu adalah memberinya kesempatan kedua untuk menjalani kehidupan yang bahagia.
Namun apalah arti dari kebahagiaan itu sendiri?




