Monday, January 16, 2012

Brighter than The Sky


Siang itu begitu kering. Ruki mengayuh sepedanya dengan payah. Titik-titik air keringat keluar dari pori-pori dahi dan pelipisnya, turun ke pipi dan akhirnya menetes ke jalan aspal yang membara. Aku duduk termangu di jok belakang, memeluk pinggang Ruki erat-erat. Menahan sakit yang kurasa makin menyengat di kaki kananku. Perban yang membalutnya sudah ada yang terlepas, berkibar-kibar tertiup angin. Aku khawatir kain perban itu bisa menyangkut di jari-jari roda sepeda, apalagi ban sepeda yang berputar rasanya sudah oleng tak kuat menahan beban kami berdua. Tapi bagaimanapun aku memang sudah celaka.

 “Kamu haus, Yuna?” Tanya Ruki di sela nafasnya yang tak beraturan. Memang, matahari telah membakar kami sampai ke tenggorokan. Rasanya segelas air putih dingin akan membawa kami segera ke surga.
  
“Tidak juga, kecuali kamu yang haus.” Jawabku. Aku meringis lagi, menggigit bibir bawahku. Tulang kaki kananku rasanya ngilu dan berdenyut-denyut. Hanya kebohongan itu yang bisa kuberikan padanya, supaya dia bisa lebih cepat membawaku pergi.
  
“Nanti kalau ada penjual minuman kita berhenti dulu ya…” kata Ruki. Rambutnya yang dipotong pendek seperti lelaki, jabrik tertiup angin. Ruki menoleh sebentar, menengok padaku untuk melempar senyum. “Bertahanlah, Yuna.”
Sebuah padang rumput membentang asri menyambut kami. Ruki menghentikan sepedanya, mengacungkan telunjuknya pada sebuah pohon yang amat besar. “Kita istirahat dulu di sana.”

Ruki menggendongku di punggungnya, berjalan terseok sampai ke bawah pohon rindang itu. Aku duduk, menahan tangis. Menghirup udara bersih sebanyak mungkin yang bisa masuk ke paru-paru. Ruki belum juga duduk. Sambil berlari menjauh dia berkata, “Aku akan cari minuman dulu!”

Mataku mengantar Ruki yang semakin menghilang di ujung jalan. Entah telah berapa jauh kami kabur.
  
Aku berbaring di atas rumput lembab itu, merasakan sedikit rasa nyaman ketika punggung akhirnya bisa lurus lagi setelah beberapa lama bersepeda. Angin menemaniku, mengurangi rasa sakitku.

                                                               ***
  
Ruki adalah sahabat terbaik dalam hidupku. Kami sama-sama berusia tiga belas tahun. Tapi nasib kami sangat jauh berbeda. Aku tidak pernah tahu siapa Ibu dan Ayahku. Aku besar di panti asuhan. Aku terbiasa memiliki saudara-saudara angkat, hidup disiplin dan teratur. Aku menyukai keindahan dan sangat suka tampil cantik. Tapi tidak bagi Ruki. Dia adalah anak tunggal yang tadinya, sangat manja dan nakal. Orang tuanya adalah petani yang kaya di desa kami. Ruki tomboy dan membenci warna pink. Ia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya dengan mudah, sehingga dia sangat keras kepala.
  
Kami bertemu di sekolah. Bu Guru memasangkan aku dengannya di penataan tempat duduk yang baru. Kami jadi dekat dan mulai bersahabat sejak duduk sebangku. Ruki sering menginap di asramaku, begitupun aku yang sering menginap di rumahnya. Semua orang heran kenapa dua pribadi yang bertolak belakang seperti kami bisa sangat akur. Mungkin karena itulah kami saling melengkapi.
  
Kami sering membahas cita-cita kami jika sudah besar. Cita-citaku sederhana, aku ingin memiliki banyak anak dan menjadi ibu yang baik. Aku terobsesi pada sosok seorang Ibu yang tak pernah kumiliki, maka aku berniat menemukan laki-laki terbaik yang bisa menjadi ayah bagi anak-anakku, aku ingin menikah dengan gaun putih dan sepatu hak tinggi. Sementara Ruki  ingin menjadi pilot. Dia mengagumi langit, katanya satu-satunya tempat paling damai di bumi ini adalah langit. Tiap kali aku merasa sedih, Ruki membawaku ke padang rumput untuk berbaring memandang langit. Selalu ampuh. Hati kami menjadi jauh lebih lega. Katanya kelak dia akan mengajak keluarga besarku naik ke pesawatnya, berkeliling dunia.
  
Ah, Ruki. Bagaimana lagi aku menggambarkannya?

Jika ada bajak laut yang menyanderaku untuk diumpankan pada buaya, Ruki adalah tipe sahabat yang rela menggantikan posisiku. Dia rela berkorban demi aku.

Cerita ini mungkin adalah puncak dari semua pengorbanannya.

Waktu itu aku dan Ruki sedang berada di ruang toilet sekolah, mencuci tangan sehabis makan siang. Kami tidak langsung keluar, kami mengobrol dulu tentang Gio, anak baru dari kelas A yang sangat lucu dan tampan. Ketika asik bercakap-cakap, Ruki tiba-tiba berteriak, menunjuk asap yang mengepul dari balik pintu. Alarm kebakaran mulai terdengar, seketika itupun kami panik. Baru kali itu aku melihat si Tomboy Ruki ketakutan, namun dia masih mau menyelamatkan nyawa kami berdua. Dia tidak bisa berhenti berceloteh tentang mencari pintu keluar lain. Tapi nihil. Ah, kami tidak pernah tahu apa yang menyebabkan kebakaran itu. Kami terkunci ruangan itu, udara semakin panas dan berasap, kami kekurangan oksigen.

Kemudian ada seorang pemadam kebakaran berbaju kuning yang menyelamatkan kami. Tubuhnya besar, dia menyelimuti Ruki dengan kain seperti selimut basah dan menggendongnya keluar. Tapi Ruki malah berontak, di saat genting seperti itu dia malah berteriak, “TOLONG SELAMATKAN YUNA!!”

Aku merinding mendengar teriakan Ruki, tapi Paman pemadam itu tidak menggubrisnya. Diantara kepulan asap aku melihat Ruki dibawa keluar di antara kobaran api dan reruntuhan kayu yang membara.

Aku menunggu, menunggu dan menunggu. Aku tak kuasa lagi bernafas, aku panik. Sekelebat aku melihat Paman petugas itu kembali untukku, aku melihat jas kuningnya. Tapi kali ini dia terlihat sangat panik, dia berlari dan langsung memasang badannya di atasku.
Dia melindungi tubuhku, kecuali kaki kananku. Pintu yang terbakar jatuh menimpa kami berdua, dan membakar kaki kananku sampai ke betis. Aku tidak sadarkan lagi, kukira aku sudah mati.

Tapi ketika tersadar, aku tidak merasa senang sama sekali. Aku melihat kakiku terluka parah dan tidak bisa disembuhkan lagi. Dokter bilang kaki kananku harus diamputasi sampai ke betisnya.

Aku menangis, menangis dan menangis.

Sampai Ruki datang untuk mengingatkan aku pada keindahan langit. Waktu itu sudah malam, dan ada bulan purnama. Kami berdua melihat langit malam itu, mencoba mendapat pencerahan. Tangan Ruki selalu menggenggam tanganku lembut. Aku meliriknya, dia menangis untukku.

“Jangan menangis, Ruki.” Aku berkata.

“Tapi ini tidak adil, seandainya waktu itu kamu yang diselamatkan lebih dulu, ini tidak akan terjadi.” Isaknya.

“Paman itu tidak bisa menggendong kita berdua, ‘kan?” aku mencoba tersenyum.
Ruki meringis, “Mengapa harus Yuna?? Mengapa harus Yuna sahabatku, ya Tuhan?” Dia menangis sangat deras. Aku ikut menangis bersamanya. Tidak ada yang bisa kukatakan.

“Padahal kau ingin memakai baju pengantin dan sepatu hak tinggi….” Isak Ruki lagi.

Semalaman kami menangisi takdir.

Kicau burung esok paginya, tidak menghibur sama sekali. Ini adalah hari dimana kakiku akan diamputasi, dipotong, dibuang. Dan Ibu Panti-ku sudah menyetujuinya, karena jaringan organku sudah rusak, kalau tidak dibuang akan membusuk. Begitu perihnya derita ini, dan aku masih tidak ingin menerima kenyataan.

“Yuna… apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanya Ruki.

Aku menggenggam tangan Ruki.

“Kumohon, bawa aku pergi dari sini. Aku tidak ingin kehilangan kakiku…. Tidak mau..” Aku berkata.

                                                             ***


Keringat dingin mulai keluar, angin terasa semakin menusuk kulit. Rumput yang tadinya sejuk berubah menyiksa. Kepalaku pusing dan rasa sakit di kakiku tidak tertahankan. Aku menjerit dan menangis.
        
Lama sekali sampai akhirnya Ruki kembali. Pandanganku buram dan badanku bergetar, tapi aku bisa melihat dia membawa keranjang besar menghampiriku.
        
Ruki memberiku minum, terasa sekali mengalir di tenggorokanku. Dia tahu infeksi lukaku semakin parah.  Badanku lemas luar biasa, kaki kananku seperti mau copot.
       
“Yuna, Yuna… sadarlah.” Panggilnya. Aku terlalu lemas untuk menjawab. Ruki mengeluarkan sesuatu dari keranjang itu.
        
Selendang putih. Ruki membantuku duduk dan menyampirkan selendang itu di bahuku. Dia mengeluarkan lagi sekuntum mawar putih dan disematkan di atas telinga kiriku.
        
Terakhir, Ruki mengeluarkan sepatu hak tinggi. Dia memasangkan sepatu itu di kaki kiriku saja. Sambil mena
han beban tubuhku, Ruki berbisik.
       
"Yuna, jika aku bisa menukar tubuh, akan kulakukan. Jika aku bisa memutar waktu, akan kulakukan. Namun kenyataannya kita hanyalah makhluk lemah. Aku tahu kamu sedih. Maka aku akan mewujudkan mimpimu. Hari ini kamu sudah menjadi pengantin.”
         
Aku menarik nafas panjang sambil tersenyum haru.
         
“Ruki… kalau kaki ini tidak dipotong, aku bisa mati.” Bisikku lirih.
         
Ruki memeluk tubuhku semakin erat.
         
“Aku memang sangat takut menghadapi hari esok. Tapi…”
         
“Aku lebih baik kehilangan sebelah kakiku, dari pada meninggalkan sahabat sepertimu, Ruki. Aku akan bertahan hidup, meski cacat. Aku ingin terus bersama-sama denganmu, Ruki.”
        
“Yuna…” Ruki menangis.
         
“Ketahuilah, meskipun tubuhmu tidak sempurna, hati dan jiwamu tetap utuh bagiku. Aku akan menggendongmu jika kau tak sanggup berjalan. Meski ke ujung langit sekalipun.”
         
“Ruki, kamu lebih terang dari pada cahaya langit itu.”
          
Ruki menggendongku, kembali memboncengku dengan sepedanya. Kami kembali ke rumah sakit dengan tergopoh-gopoh.

“Terima kasih, Ruki.” Kataku.

Angin menampar wajahku, aku tersenyum pahit.

Selamat tinggal kaki kananku.

                                                          ***

2 comments

Devi Rouli said...

bagus, ini yang di page fb kan...

Sally Ayumi said...

Yupz.. bener banget Devi xD

Makasih udah mampir....

© Sally Ayumi
Maira Gall