Orange Saltwater
By Sally Ayumi
“Lihatlah mereka, yang pria sangat rupawan dan yang wanita
sangat jelita.”
Kalimat itu yang sering aku dengar dari orang-orang
yang berkerumun, setiap kali aku berjalan berdampingan dengan Karina. Sebuah
anugrah yang luar biasa bagiku menjadi pria yang memenangkan hatinya.
Aku melirik cincin dengan batu rubi yang berkilat,
terpasang mantap di jari manis kirinya. Dia selalu menutup mulutnya dengan
tangan kiri tiap kali tertawa, secara tidak sengaja memamerkan lambang ikatan agung
cinta kami berdua. Tercium aroma jeruk dari tubuhnya, segar dan khas. Bulan
depan, aku akan meminangnya di Masjid Agung berkubah raksasa, menjadikannya
ratu dalam hidupku. Aku menghela nafas sedih, merindukan kedua orang tuaku yang
tak sempat menyaksikan kebahagiaan ini. Semoga mereka tenang di sisi-Nya.
Satu
hal yang membuatku berbangga hati, Karina bukan gadis biasa di Kampung kami,
Kampung Bulan Gemintang di pelosok Jawa Barat. Kecantikan Karina yang
membuatnya tersohor. Karina memiliki kulit yang putih mulus, sifatnya lembut
dan sangat sopan dan santun. Sekali pandang semua pria pasti tergoda. Orang
tuanya petani jeruk, sehingga sepanjang hari dia membantu orang tuanya di
kebun. Mungkin kebiasaan itu yang membuatnya wangi jeruk, atau memang dia punya
parfum aroma jeruk yang sangat kusuka.
Sedangkan
aku, aku juga bukan siapa-siapa. Namaku Dirga. Aku hanya seorang fotografer
lepas. Aku menjual karyaku kepada media-media nasional, kolektor atau pecinta
seni fotografi. Setahun yang lalu aku datang kemari bersama kawan-kawan dari
Jakarta, untuk hunting foto di kebun
jeruk milik Ayahnya. Namun aku malah terpesona dengan Karina. Aku memutuskan
menetap disini sejak setahun yang lalu.
Pagi
itu aku dipanggil oleh Pak Zainal calon mertuaku, untuk membantunya menimbang
jeruk. Kebetulan aku sedang tidak ada pekerjaan, jadi aku datang kesana.
Sementara Karina sedang pergi ke pasar untuk membeli keperluan dapur dan sayur
mayur.
Di
tengah hari, seorang gadis pekerja Pak
Zainal bekerja dengan sangat lambat. Namanya Tiwi. Dia bukan orang baru. Hari
itu, tugas Tiwi adalah membungkus setiap satu kilo jeruk yang sudah kutimbang,
dengan kardus kemasan khusus dengan logo perusahaan kecil Pak Zainal.
Dia tidak terlihat sakit, tapi gelagatnya menunjukkan
dia malas-malasan dan ceroboh. Dia terlalu banyak merenung, pikirannya seperti
melayang. Aku kesal dengan tingkahnya itu. Seandainya Karina sudah kembali dari
pasar, setidaknya ada yang bisa ‘menyegarkan’ pikiranku saat itu. Sayangnya
Karina masih berbelanja.
Aku sudah menimbang sampai sepuluh kilo jeruk, tapi Tiwi
baru berhasil membuat tiga dus bungkusan. Apalagi dia berkali-kali salah
menarik plastik dari kemasannya sehingga robek dan terbuang. Ketika dia
memasukkan jeruk ke dalam kardus, kadang kardusnya belum terpasang dengan baik
dan jeruk-jeruknya berjatuhan di lantai. Awalnya kubiarkan, namun lama kelamaan
aku marah juga dengan ulahnya. Pada puncak emosi, aku membentaknya, “Kamu niat
kerja atau tidak, sih?! Sudah hampir siang dan mana hasilnya??? Kamu jangan
melamun terus, payah hasilnya!”
Mendengar
suaraku, Pak Zainal keluar dan menyadari kelakuan Tiwi. Ternyata ini bukan kali
pertama dia begini. Kemarin dia juga salah memberi harga pada pembeli yang
menyebabkan Pak Zainal rugi.
Setelah
beberapa kesalahan lagi, seminggu kemudian Pak Zainal memecatnya. Meskipun
keputusan beliau itu sempat menjadi polemik di kampung. Tetangga sekitar
mengingatkan kami bahwa Tiwi adalah adik kandung dari Barong, preman kampung
yang bertubuh besar dan terkenal ganas. Barong biasanya marah terhadap semua
hal, apalagi yang ‘menggesek’ keluarganya. Waktu itu, Pak Zainal hanya bersikap
tegas. Bagai wasit yang bijak, beliau kukuh pada pendiriannya memecat Tiwi, dan
mempekerjakan seorang pemuda tanggung yang juga butuh pekerjaan.
Tepat
dua hari kemudian, Karina kekasihku berubah. Dia tak ingin lagi menemui aku,
bahkan mengembalikan cincin rubi itu. Kami semua terkejut atas perubahan
sikapnya. Karina mengunci diri di dalam kamar bila ada aku di rumahnya. Dia tak
lagi bicara, apalagi tersenyum. Aku pun
sabar menanti apa yang menjadi penyebabnya. Aku berharap Karina tidak begitu
terus, apalagi sudah dekat waktu pernikahan kami. Setiap hari aku datang
mencarinya, namun aku hanya bisa bicara pada pintu kamarnya.
Kedua orang tuanya pun turut sedih, anaknya sudah
hampir empat hari membisu. Pada tengah malam mereka bisa mendengar tangis
Karina membuncah, membuat mereka makin sedih.
Pada malam kelima aku datang lagi ke rumahnya. Aku meminta
izin pada Pak Zainal untuk bicara dengannya. Beliau mengizinkan aku masuk, masih
optimis anaknya akan mau bekerja sama. Aku mendekati pintu kayu jati itu.
Telapak tanganku merabanya. Pak Zainal melangkah pergi menemui istrinya yang
sedang menangis terharu di teras depan.
“Karina, apa yang sedang meresahkanmu?” aku memulai
kalimatku. Kini aku mendekatkan telinga kiriku ke pintu. Kupejamkan mata,
berusaha mendengar suara di dalam, menantang imajinasiku untuk menerka apa yang
sedang dilakukannya.
Hening.
Aku termenung sedih. “Ini aku, Sayang. Ini Dirga-mu.
Kamu ingat pertama kali kamu memberiku jeruk? Kau mengambil jeruk itu dari
keranjangmu, memintaku untuk mencicipinya. Tapi tahukah kamu? Saat itu aku
hanya memandangi betapa lentiknya jemarimu, betapa indahnya senyummu.”
“Karina, bukalah pintunya. Sekali saja, izinkan aku
mencoba mengerti.”
Masih hening. Aku menggedor pintu itu. Perlahan,
kemudian menggila.
Tiba-tiba Bu Zainal menghentikan aku. Dia memaksa aku
untuk pulang. Saat itu tangisku sudah pecah. Aku tidak sanggup diselimuti
kesedihan seperti ini. Aku terus mencari dan menggali, tapi aku tak mampu
menemukan kesalahanku pada Karina. Aku terlalu mencintainya.
Selasa pagi, aku datang lagi. Tapi rumah itu kini
terkunci rapat. Entah kemana penghuninya. Aku kemudian bertanya-tanya kepada
tetangga, mereka bilang keluarga Zainal pergi tak lama setelah waktu Subuh.
Bahkan ketika pagi masih terlalu buta. Aku terkesiap dan mendadak merasa takut.
Aku terpaku di depan gerbang rumah itu.
Sudah tiga hari. Di rumah itu hanya ada lima orang
karyawan yang setia mengurus kebun, namun tidak ada petunjuk sama sekali
mengenai keberadaan Karina. Tak ada yang tahu kemana mereka pergi. Aku berjalan
terseok di kebun jeruk itu. Kakiku tidak sengaja menendang sebuah jeruk yang
sudah busuk. Aku berjongkok dan memungutnya. Kupandangi kulit jeruk yang
keriput dan menghitam, sarinya sudah kering terbuang percuma. Aku merinding.
Mungkin seperti inilah rupaku nanti, jika keadaan tidak kunjung berubah.
Ternyata yang kutakutkan terjadi. Aku dan keluargaku
meminta maaf kepada sanak saudara dan kerabat jauh mapun dekat, atas pembatalan
pernikahanku dengan Karina. Sudah hampir dua bulan aku tidak mendengar
suaranya. Aku sangat kehilangan, semangatku runtuh semuanya. Aku masih
bertanya-tanya mengapa mereka mencampakkan aku.
Bulan ketiga, aku hampir gila. Teman-temanku
mengajakku berlibur ke Bali. Disana, seperti sama saja. Bayangan Karina,
senyumnya, dan wangi jeruk itu masih ada. Tapi ada satu hal yang mengobatiku.
Air laut. Aku kecanduan berenang di Nusa Dua, dan merasa tidak ingin pergi
lagi. Garam air laut seakan membiusku, melepaskan karina, merontokkan semua
tentangnya dari dalam kepalaku. Aku tidak mau kembali ke Jakarta, tidak juga ke
Kampung Bulan Gemintang.
Januari 2011, setahun dua bulan setelah tragedi itu.
Kuhadapi tahun baru dengan semangat baru. Aku sudah punya banyak teman di Bali,
menjalani kehidupan fotografi dan renangku dengan santai. Setiap hari serasa
liburan yang menyenangkan. Sekarang aku punya hobi baru selain renang; selancar.
Laut adalah tempat yang paling aku cintai sekarang.
Kamis siang itu mendung, kawanku Gilang dari Jakarta
sedang berlibur di Bali. Aku menjadi tour
guide-nya selama seminggu ini. Sore itu aku menemani Gilang pergi ke Pasar
Sukawati untuk membeli oleh-oleh yang murah meriah. Kami sedang tawar menawar
harga kaos Bali, ketika aku tidak sengaja melihat salah satu lukisan dari
jajaran karya dagangan di dekat situ. Lukisan gadis kampung yang sedang
menggendong keranjang berisi jeruk. Lukisan itu dipajang dan dijual seharga
tiga ratus ribu Rupiah.
Aku merinding dan merasa ada perasaan aneh di dadaku.
Perutku bergejolak, dan mendadak aku ingin mencicipi jeruk itu lagi. Aku ingin
melihat senyuman itu lagi, mendengar suaranya memanggil namaku dan aku ingin melihat
matanya mengerling ketika aku menyebut namanya. Aku merindukannya. Karina.
Mungkin aku butuh garam laut. Ternyata bukan. Aku
butuh jeruk itu lagi.
Beberapa hari kemudian aku sudah mengemasi barangku,
pulang ke kampung Bulan Gemintang. Aku mendadak cengeng, air laut sudah tak
mampu lagi membendung perasaanku. Aku merasa cemas dan khawatir selama di
perjalanan. Lagi-lagi imajinasiku terlalu liar, membuatku berpikir ke
awang-awang.
Kakiku berpijak di tanah kampung itu, semua orang
menyambutku rindu dan berkomentar bahwa kini kulitku tidak seputih dahulu. Tapi
bukan itu yang aku harapkan dari mereka, aku menunggu orang-orang kampung
menyebut nama Karina, atau Pak Zainal, kepadaku. Bercerita padaku tentang kabar
mereka.
Tidak sabar, hari itu juga aku datang ke perkebunan
jeruk. Ternyata semuanya berubah. Kini makin banyak saja pohonnya, makin banyak
karyawannya. Tempat itu lebih ramai dari pada dulu. Aku melangkah lebih jauh,
menuju rumah itu. Rumah dengan pintu kayu jati. Aku meremas saku celanaku,
gugup. Di dalamnya masih kusimpan cincin rubi Karina.
Aku terdiam di depan pintu ketika seorang perempuan
keluar dari rumah itu. Dia menggendong seorang bayi. Perempuan itu menunduk,
menyanyikan lagu “Nina Bobo” dengan merdu. Suaranya yang merdu membuatku ingin
menangis. Tapi aroma jeruk dari tubuhnya yang selalu ada, kini memudar,
berganti dengan aroma minyak telon. Perempuan itu mengangkat kepalanya,
pandangan mata kami beradu. Dia tampak terkejut ada laki-laki berkulit gelap di
depan rumahnya. Dan aku terkejut melihat dia menimang bayi.
“Karina?” aku menerka. Dia tambah gemuk sedikit, tapi
tetap cantik. Karina mengenakan selendang panjang untuk mengerudungi kepala
sekenanya, rambutnya diikat tinggi-tinggi. Seperti None Betawi. Kulitnya masih
mulus, kerlingan matanya masih sama cantiknya.
“Mas Dirga?” sahutnya. Ketika mengucapkan namaku,
nafasnya tertahan menahan emosi jiwa. Dia betul-betul Karina.
Kekakuan kami berlanjut. Kami duduk di kursi teras
rumah itu, berhadapan. Karina menunduk, diam dan hanya tersenyum pada bayi itu
saja.
“Apa kabarmu?” Tanyaku memecah kesunyian.
“Jangan tanya kabar.” Sahutnya dingin. Bibirnya
bergetar, matanya berkaca menatap nanar sang bayi.
“Dia anakmu?” aku bertanya lagi.
Karina mengangkat kepalanya, wajahnya sedih. “Mas
Dirga, kamu bau laut.”
“Kamu seharusnya bau jeruk.” Aku menjawab.
Kami berdua tersenyum. Namun kemudian hening lagi.
“Waktu itu…” aku bersuara lagi.
“Jangan tanya masa lalu.” Cegahnya.
Aku kemudian mendapat gambaran bahwa kini dia sudah
menikah dan memiliki anak itu. Dia pasti bingung menghadapi aku dan hanya ingin
berlaku sopan. Terluka perih hati ini. Maka aku bangun dari kursi itu.
“Aku pergi dulu.” Pamitku, menahan luka hati.
Karina tidak menjawab. Dia tetap bermain mata dengan
bayi lelaki itu. Aku beranjak melangkah.
“Jangan pergi lagi.” Karina bersuara kecil. Aku
berhenti.
“Aku senang kamu baik-baik saja. Aku sangat
mencemaskanmu. Sampai detik ini, aku hanya cinta Mas Dirga.” Gumamnya.
Aku menoleh, kesal. Aku mengeluarkan cincin rubi dari
saku, meletakkannya di atas meja.
“Kalimat selanjutnya, pasti diawali dengan kata
‘tapi’.” Aku menebak. Aku mengatur nafasku, berusaha mempraktekkan seni yoga.
Aku ingin terlihat tenang, meski dadaku bergemuruh.
“Karina, siapa nama anak itu?” Terpancing juga rasa
penasaranku.
Karina ikut berdiri menghadapi aku, “Kudengar dari
tetanggamu, kamu pergi ke Bali. Aku jadi terobsesi dengan tempat itu. Maka
kunamai dia Bali.”
Aku merengut, “Apa sebenarnya maksudmu? Bagaimana
dengan suamimu?”
Karina melirik ke kebun jeruk, “Selama ini aku selalu
sendirian. Aku merindukanmu. Waktu itu aku tidak sabar menjadi istrimu. Sampai
takdir berkata lain.”
Sesuatu meyakinkan aku, bahwa dugaanku salah. Hatinya
tidak terbagi dua. Ada alasan lain.
“Kenapa kamu pergi meninggalkan aku?” tanyaku
akhirnya.
Ia mendesah, menimang Bali dan memberanikan diri
menatapku. “Karena cintamu terlalu suci untukku, aku yang sudah terhina.”
Jawabnya.
Aku merengut tidak mengerti.
“Waktu itu
menjelang maghrib, aku sedang berjalan pulang dari pasar. Barong ada disana.
Membabi buta. Marah karena adiknya, Tiwi, dipecat disaat anaknya sakit keras.
Dia membenciku. Dia, menginggalkan luka yang teramat dalam.”
Aku terbelalak.
“Meskipun aku terhina, tapi Bali tidak berdosa. Maka
aku akan tetap menjadi ibu dan ayah baginya.”
Aku menangis. Tak kuasa lagi aku bendung. “Karina…
bodohnya aku. Oh, Sayang… Aku akan membunuhnya!”
“Tidak perlu, dia sudah mati.” Karina menjawab datar.
“Dia jatuh ke jurang, waktu sedang balapan motor di gunung.”
Tangisku semakin pecah. Aku tidak tahu lagi apa yang
kurasakan. Seperti mimpi, seperti semuanya ini tidak nyata.
Aku memeluknya dan Bali, sambil sesungukan aku
mengambil cincin rubi itu dan berlutut dihadapannya.
“Tidak ada yang bisa menghinakanmu di mataku.” Kataku.
“Tetaplah menjadi Karina-ku, akan kujaga kau dan Bali
dengan segenap tenaga. Terimalah aku lagi untuk menjadi suami bagimu.”
Karina diam saja. Berjalan menjauh, tapi ikut
menangis, memeluk Bali. Ada sedikit senyum di wajahnya. Ada kebahagiaan yang
terpancar disana.
Karina lalu ikut berlutut, matanya menatap langsung
menembus korneaku.
Jemari mungil milik bayi Bali menggapai-gapai, aku
menyambut dan mencium tangan kecil itu. Wangi telon. Aku memandangi bayi itu,
matanya besar dan polos. Dia tersenyum melihatku. Aku mendadak sayang padanya.
Hatiku bergetar.
Karina melepaskan kain selendang di kepalanya,
membasuh airmatanya, mengusap pipiku yang juga basah dengan kain itu.
“Ketika aku sudah yakin untuk berdiri sendiri, Tuhan
mengembalikanmu padaku.” Dia berkata lirih.
Tangan Karina menjulur, aku pun tahu apa yang harus
kulakukan.
Cincin rubi itu kini kembali tersemat di jari
manisnya, seperti sedia kala. Selamanya akan kujaga, tidak akan terlepas lagi.
The end

No comments
Post a Comment