Monday, January 16, 2012

Ramadhan


“Mari kita menikah di bulan Ramadhan, sesuai dengan namaku.”

Bagi Kak Kinan, kalimat itulah yang selalu teringat setiap kali dia mendengar nama Ramadhan. Sampai kini aku belum pernah melihat cinta sebesar milik Kak Kinan kepada Ramadhan.


Kak Kinan merencanakan pernikahannya tepat pada hari kedelapan di bulan suci tahun lalu. Pernikahan itu hanya akad nikah sederhana yang dilangsungkan di kediaman kami di selatan kota Jakarta.

Tak banyak tamu yang diundang, hanya keluarga terdekat dari kedua mempelai saja. Kak Kinan bilang, resepsinya diselenggarakan sehabis Lebaran saja, supaya bisa tambah meriah. Kami sebagai keluarga hanya mengikuti kemauannya saja, karena waktu itu tak ada yang sanggup merenggut senyum Kak Kinan.

Selama bulan puasa itu Kak Kinan tak pernah absen untuk menyiapkan makanan sahur untuk lima orang. Ayah, Ibu, aku, dia dan suaminya. Ayah dan Ibu kaget dengan perubahan yang terjadi pada anak tertuanya itu. Biasanya, untuk shalat subuh saja dia susah sekali dibangunkan, apa lagi sahur?

Kak Kinan yang dulu cerewet kini lebih banyak diam. Setiap bangun pagi, dia langsung merapikan tempat tidurnya. Dia menyetrika semua pakaiannya dan mencuci sendiri baju-bajunya.

Awalnya, Ibu menganggap perubahan itu adalah perubahan yang positif pada diri anaknya. Kami semua belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada diri Kak Kinan.
Bulan Ramadhan berlalu, dan Kak Kinan berkata pada semua orang bahwa dia dan suaminya akan berbulan madu setelah resepsi digelar.

Hari Raya itu menjadi kelabu bagi Kakakku itu, karena Ayah dan Ibu menolak untuk mengadakan resepsi. Mereka bilang itu percuma dan sia-sia. Tapi Kak Kinan tidak menangis, dia menghadap pada Ayah menyetujui bahwa tak akan ada resepsi ataupun pesta.

Seminggu kemudian Kak Kinan berpamitan untuk pergi berbulan madu di Bali. Walau berat, Ayah dan Ibu tak mampu lagi melarangnya. Mereka pikir mungkin kepergian Kak Kinan akan menjadikannya lebih dewasa lagi.

Selama sebulan penuh handphone-ku dipenuhi SMS dari Kak Kinan. Semua menceritakan betapa gembiranya hari-hari mereka di Bali. Dia bilang suaminya itu sangat romantis dan memujanya bagai ratu. Aku hanya bisa tersenyum pahit sambil memberi selamat padanya.

Tak lama setelah pulang dari Bali, Kak Kinan memutuskan untuk berhenti kerja. Katanya suaminya tak suka kalau dia terlalu sibuk di kantor. Kontan Ayah dan Ibu meledak lagi. Karir yang dibangun Kak Kinan selama enam tahun itu ditinggalkan begitu saja tanpa pemikiran yang lebih matang. Padahal belum ada setahun sejak promosinya tahun lalu sebagai Public Relation yang baru.

Kak Kinan bersikeras, katanya hidupnya kini hanya diabdikan untuk suaminya saja. Aku tertegun melihat wajah kakakku yang cantik itu. Wajah itu berseri-seri, tak ada guratan kesedihan sama sekali.

Kali ini aku yang menangis.

Malam hari, aku mengunjungi kamar Kak Kinan. Dia sedang menyisir rambut panjangnya. Pilu hati ini melihatnya yang ceria tanpa beban sedikitpun.

“Kamila, mengapa kau menangis?” tanyanya ketika melihat pantulan diriku di cermin.

“Aku khawatir pada Kakak.” Jawabku.

“Kenapa harus khawatir? Hidupku begitu sempurna sekarang. Aku punya suami yang mencintaiku dan keluarga yang sangat aku sayangi. Apa lagi yang kurang?” katanya.

“Kakak harus sadar, menjadi Public Relation adalah cita-cita kakak dari SMA. Aku mohon Kak, hentikan sikap kakak ini.”

“Oh, soal itu.” Kak Kinan malah tersenyum cuek. “Kamila, Kau mau tahu sebuah rahasia? Tapi berjanjilah jangan cerita pada Ayah dan Ibu dulu, aku ingin membuat kejutan.”

“Apa, Kak?”

“Alasan sebenarnya aku berhenti kerja adalah, aku dan Ramadhan berencana memiliki bayi!”

Air mataku membanjir.

“Ha ha ha, sudah kuduga kau akan terharu mendengarnya. Tapi ini waktu yang tepat, semoga saja bayiku sudah lahir Ramadhan tahun depan, supaya kami bisa merayakannya dengan lebih meriah lagi!”

Aku kabur dari sana. Berlari ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Kak Kinan, apakah kau sudah gila?


Hari-hari berikutnya dilalui kakakku seperti ibu rumah tangga kebanyakan. Pagi hari bersih-bersih rumah, mencuci, belanja ke pasar, memasak, menyetrika sampai sore sambil menonton televisi.

Setiap makan malam, di meja makan dia menyiapkan sebuah piring kosong. Untuk suaminya, katanya. Aku melihat ekspresi wajah ibu yang terluka setiap kali Kak Kinan melakukannya. Bukan hanya ibu, tapi kami semua begitu.

Suatu hari Kak Kinan merasa sakit dan muntah-muntah. Dia pergi sendiri ke apotik membeli sesuatu. Beberapa jam kemudian dia masuk ke kamarku sambil melonjak girang.

“Aku hamil! Kamila, aku hamil!”

Lidahku kaku. Hatiku remuk. Semua ini harus berakhir.

Aku mengajak Kak Kinan pergi ke suatu tempat. Awalnya dia menolak. Katanya sebentar lagi suaminya pulang. Lalu aku bilang saja bahwa ini penting sekali, menyangkut hubungannya dengan Ramadhan. Kak Kinan pun langsung setuju.

Aku pergi dengannya naik mobil. Di perjalanan dia tak berhenti bilang bahwa dia ngidam makan es campur. Tapi aku tak peduli, aku tak berhenti.

Kami sampai disana, di sebuah bukit luas yang ditumbuhi rumput. Aku menggamit tangan kakakku dan membawanya ke bawah pohon terbesar di bukit itu.

“Kakak ingat sekarang?” tanyaku.

“Ingat apa?” dia balik bertanya.

“Lihat itu, Kak!” aku menunjuk sebuah makam di hadapan kami. “Itu Ramadhan. Disanalah dia berbaring selama ini. Dia meninggal pada hari pernikahan kalian. Sesaat setelah turun dari mobil, dia terjatuh. Serangan jantung. Kakak belum menikah dengannya. Kakak belum jadi istrinya! Yang Kakak lakukan selama ini adalah gila! Kakak pergi bulan madu sendirian, berhenti kerja, menjadi ibu rumah tangga, dan sekarang Kakak mengaku hamil? Mustahil!”

Kak Kinan terpaku. Matanya tak lepas dari batu nisan itu dan tangannya tak berhenti mengelus-elus perutnya. Padahal tadi dia merasakan ada bayi di dalam sana, tapi sekarang perutnya terasa kosong. Sejak kematian Ramadhan, belum pernah sekalipun kulihat Kak Kinan menangis. Sampai hari ini.

“Selama ini aku, Ayah dan Ibu sudah mengatakan pada Kakak bahwa Ramadhan sudah tiada. Jutaan kali. Tapi Kak Kinan tak pernah mau dengar. Maafkan aku, Kak. Sebenarnya aku tak tega membawa kakak kemari. Tapi ini yang terbaik bagi Kakak.”

Kak Kinan bersimpuh di atas tanah berumput itu. Matanya terbelalak tak percaya. Sesekali kepalanya menggeleng sedih. Air matanya jatuh tetes demi tetes. “Ramadhan... Maafkan aku.” bisiknya.

Tak banyak kata yang terucap dari bibirnya. Hanya isak tangis yang berlomba.

“Aku hanya tak siap untuk kehilangan dirimu secepat itu. Rencana kita terlalu sempurna, terlalu cemerlang hingga membutakan aku bahwa ada rencana-Nya Yang Maha Kuasa.”

                                                              ***


Ramadhan adalah pemuda pintar berwajah rupawan yang mencuri hati Kak Kinan sejak bangku kuliah. Buku harian Kak Kinan dipenuhi oleh nama itu, dan telingaku hampir tuli karena dijejali cerita-cerita konyol mereka berdua semasa pendekatan. Seperti cerita cinta kampus kebanyakan, mereka sama-sama tak mau mengakui isi hati sebenarnya sampai akhirnya lulus dan terpisah.

Ketika diterima kerja di sebuah perusahaan asing, Kak Kinan senang sekali. Bekerja sebagai asisten Public Relation, membuatnya sering bertemu dengan klien dari sana sini.

Suatu hari mereka bertemu lagi, seperti digariskan oleh suratan takdir. Ramadhan adalah salah satu klien Kak Kinan. Ramadhan bekerja sebagai Marketing Officer di perusahaan telekomunikasi.

Mereka mengawalinya dari kencan gaya anak ABG. Jalan-jalan ke Dufan dan nonton Harry Potter di bioskop. Makan es campur di pinggir jalan dan ber-photo box ria.

Kak Kinan semakin bersemangat menjalani hubungannya setelah Ramadhan memperkenalkan dirinya pada orang tuanya.

Ramadhan tahu benar apa yang bisa menjinakkan hati kakakku. Seminggu sekali sebuah buket bunga pasti mampir ke rumahku. Dilengkapi sebuah kartu berbentuk hati yang ditulisi kalimat-kalimat cinta. Walaupun sudah layu, tak ada satu kuntum pun yang dibuangnya. Semuanya disimpan dalam kotak besar warna pink.

Tepat di hari jadi mereka yang ke lima tahun, Ramadhan melamar Kak Kinan dengan cincin emas putih berhiaskan sebuah berlian.

Kak Kinan bersyukur dikaruniai cinta yang sesempurna cinta Ramadhan. Mereka merencanakan hari pernikahannya itu dengan canda tawa, riang gembira, semangat 45. Kak Kinan sibuk kesana kemari, pesan ini itu, melakukan perawatan diri siang malam, tanpa dia tahu bahwa sebenarnya Ramadhan memiliki jantung yang lemah.

Ramadhan tahun ini, aku harap Kak Kinan sudah bisa melupakan kekasihnya dan menjadi kakakku yang dulu. Semoga Allah mensucikan hatinya dan memberinya ketegaran. Untuk menyambut hari baru yang fitrah dan mulia. Karena aku sangat menyayanginya.


                                                             ***
                                                         The end

Orange Saltwater


Orange Saltwater
By Sally Ayumi
“Lihatlah mereka, yang pria sangat rupawan dan yang wanita sangat jelita.”
Kalimat itu yang sering aku dengar dari orang-orang yang berkerumun, setiap kali aku berjalan berdampingan dengan Karina. Sebuah anugrah yang luar biasa bagiku menjadi pria yang memenangkan hatinya.
Aku melirik cincin dengan batu rubi yang berkilat, terpasang mantap di jari manis kirinya. Dia selalu menutup mulutnya dengan tangan kiri tiap kali tertawa, secara tidak sengaja memamerkan lambang ikatan agung cinta kami berdua. Tercium aroma jeruk dari tubuhnya, segar dan khas. Bulan depan, aku akan meminangnya di Masjid Agung berkubah raksasa, menjadikannya ratu dalam hidupku. Aku menghela nafas sedih, merindukan kedua orang tuaku yang tak sempat menyaksikan kebahagiaan ini. Semoga mereka tenang di sisi-Nya.
                Satu hal yang membuatku berbangga hati, Karina bukan gadis biasa di Kampung kami, Kampung Bulan Gemintang di pelosok Jawa Barat. Kecantikan Karina yang membuatnya tersohor. Karina memiliki kulit yang putih mulus, sifatnya lembut dan sangat sopan dan santun. Sekali pandang semua pria pasti tergoda. Orang tuanya petani jeruk, sehingga sepanjang hari dia membantu orang tuanya di kebun. Mungkin kebiasaan itu yang membuatnya wangi jeruk, atau memang dia punya parfum aroma jeruk yang sangat kusuka.
                Sedangkan aku, aku juga bukan siapa-siapa. Namaku Dirga. Aku hanya seorang fotografer lepas. Aku menjual karyaku kepada media-media nasional, kolektor atau pecinta seni fotografi. Setahun yang lalu aku datang kemari bersama kawan-kawan dari Jakarta, untuk hunting foto di kebun jeruk milik Ayahnya. Namun aku malah terpesona dengan Karina. Aku memutuskan menetap disini sejak setahun yang lalu.
                Pagi itu aku dipanggil oleh Pak Zainal calon mertuaku, untuk membantunya menimbang jeruk. Kebetulan aku sedang tidak ada pekerjaan, jadi aku datang kesana. Sementara Karina sedang pergi ke pasar untuk membeli keperluan dapur dan sayur mayur.
                Di tengah hari,  seorang gadis pekerja Pak Zainal bekerja dengan sangat lambat. Namanya Tiwi. Dia bukan orang baru. Hari itu, tugas Tiwi adalah membungkus setiap satu kilo jeruk yang sudah kutimbang, dengan kardus kemasan khusus dengan logo perusahaan kecil Pak Zainal.
Dia tidak terlihat sakit, tapi gelagatnya menunjukkan dia malas-malasan dan ceroboh. Dia terlalu banyak merenung, pikirannya seperti melayang. Aku kesal dengan tingkahnya itu. Seandainya Karina sudah kembali dari pasar, setidaknya ada yang bisa ‘menyegarkan’ pikiranku saat itu. Sayangnya Karina masih berbelanja.
Aku sudah menimbang sampai sepuluh kilo jeruk, tapi Tiwi baru berhasil membuat tiga dus bungkusan. Apalagi dia berkali-kali salah menarik plastik dari kemasannya sehingga robek dan terbuang. Ketika dia memasukkan jeruk ke dalam kardus, kadang kardusnya belum terpasang dengan baik dan jeruk-jeruknya berjatuhan di lantai. Awalnya kubiarkan, namun lama kelamaan aku marah juga dengan ulahnya. Pada puncak emosi, aku membentaknya, “Kamu niat kerja atau tidak, sih?! Sudah hampir siang dan mana hasilnya??? Kamu jangan melamun terus, payah hasilnya!”
                Mendengar suaraku, Pak Zainal keluar dan menyadari kelakuan Tiwi. Ternyata ini bukan kali pertama dia begini. Kemarin dia juga salah memberi harga pada pembeli yang menyebabkan Pak Zainal rugi.
                Setelah beberapa kesalahan lagi, seminggu kemudian Pak Zainal memecatnya. Meskipun keputusan beliau itu sempat menjadi polemik di kampung. Tetangga sekitar mengingatkan kami bahwa Tiwi adalah adik kandung dari Barong, preman kampung yang bertubuh besar dan terkenal ganas. Barong biasanya marah terhadap semua hal, apalagi yang ‘menggesek’ keluarganya. Waktu itu, Pak Zainal hanya bersikap tegas. Bagai wasit yang bijak, beliau kukuh pada pendiriannya memecat Tiwi, dan mempekerjakan seorang pemuda tanggung yang juga butuh pekerjaan.
                Tepat dua hari kemudian, Karina kekasihku berubah. Dia tak ingin lagi menemui aku, bahkan mengembalikan cincin rubi itu. Kami semua terkejut atas perubahan sikapnya. Karina mengunci diri di dalam kamar bila ada aku di rumahnya. Dia tak lagi bicara, apalagi tersenyum.  Aku pun sabar menanti apa yang menjadi penyebabnya. Aku berharap Karina tidak begitu terus, apalagi sudah dekat waktu pernikahan kami. Setiap hari aku datang mencarinya, namun aku hanya bisa bicara pada pintu kamarnya.
Kedua orang tuanya pun turut sedih, anaknya sudah hampir empat hari membisu. Pada tengah malam mereka bisa mendengar tangis Karina membuncah, membuat mereka makin sedih.
Pada malam kelima aku datang lagi ke rumahnya. Aku meminta izin pada Pak Zainal untuk bicara dengannya. Beliau mengizinkan aku masuk, masih optimis anaknya akan mau bekerja sama. Aku mendekati pintu kayu jati itu. Telapak tanganku merabanya. Pak Zainal melangkah pergi menemui istrinya yang sedang menangis terharu di teras depan.
“Karina, apa yang sedang meresahkanmu?” aku memulai kalimatku. Kini aku mendekatkan telinga kiriku ke pintu. Kupejamkan mata, berusaha mendengar suara di dalam, menantang imajinasiku untuk menerka apa yang sedang dilakukannya.
Hening.
Aku termenung sedih. “Ini aku, Sayang. Ini Dirga-mu. Kamu ingat pertama kali kamu memberiku jeruk? Kau mengambil jeruk itu dari keranjangmu, memintaku untuk mencicipinya. Tapi tahukah kamu? Saat itu aku hanya memandangi betapa lentiknya jemarimu, betapa indahnya senyummu.”
“Karina, bukalah pintunya. Sekali saja, izinkan aku mencoba mengerti.”
Masih hening. Aku menggedor pintu itu. Perlahan, kemudian menggila.
Tiba-tiba Bu Zainal menghentikan aku. Dia memaksa aku untuk pulang. Saat itu tangisku sudah pecah. Aku tidak sanggup diselimuti kesedihan seperti ini. Aku terus mencari dan menggali, tapi aku tak mampu menemukan kesalahanku pada Karina. Aku terlalu mencintainya.
Selasa pagi, aku datang lagi. Tapi rumah itu kini terkunci rapat. Entah kemana penghuninya. Aku kemudian bertanya-tanya kepada tetangga, mereka bilang keluarga Zainal pergi tak lama setelah waktu Subuh. Bahkan ketika pagi masih terlalu buta. Aku terkesiap dan mendadak merasa takut. Aku terpaku di depan gerbang rumah itu.
Sudah tiga hari. Di rumah itu hanya ada lima orang karyawan yang setia mengurus kebun, namun tidak ada petunjuk sama sekali mengenai keberadaan Karina. Tak ada yang tahu kemana mereka pergi. Aku berjalan terseok di kebun jeruk itu. Kakiku tidak sengaja menendang sebuah jeruk yang sudah busuk. Aku berjongkok dan memungutnya. Kupandangi kulit jeruk yang keriput dan menghitam, sarinya sudah kering terbuang percuma. Aku merinding. Mungkin seperti inilah rupaku nanti, jika keadaan tidak kunjung berubah.
Ternyata yang kutakutkan terjadi. Aku dan keluargaku meminta maaf kepada sanak saudara dan kerabat jauh mapun dekat, atas pembatalan pernikahanku dengan Karina. Sudah hampir dua bulan aku tidak mendengar suaranya. Aku sangat kehilangan, semangatku runtuh semuanya. Aku masih bertanya-tanya mengapa mereka mencampakkan aku.
Bulan ketiga, aku hampir gila. Teman-temanku mengajakku berlibur ke Bali. Disana, seperti sama saja. Bayangan Karina, senyumnya, dan wangi jeruk itu masih ada. Tapi ada satu hal yang mengobatiku. Air laut. Aku kecanduan berenang di Nusa Dua, dan merasa tidak ingin pergi lagi. Garam air laut seakan membiusku, melepaskan karina, merontokkan semua tentangnya dari dalam kepalaku. Aku tidak mau kembali ke Jakarta, tidak juga ke Kampung Bulan Gemintang.
Januari 2011, setahun dua bulan setelah tragedi itu. Kuhadapi tahun baru dengan semangat baru. Aku sudah punya banyak teman di Bali, menjalani kehidupan fotografi dan renangku dengan santai. Setiap hari serasa liburan yang menyenangkan. Sekarang aku punya hobi baru selain renang; selancar. Laut adalah tempat yang paling aku cintai sekarang.
Kamis siang itu mendung, kawanku Gilang dari Jakarta sedang berlibur di Bali. Aku menjadi tour guide-nya selama seminggu ini. Sore itu aku menemani Gilang pergi ke Pasar Sukawati untuk membeli oleh-oleh yang murah meriah. Kami sedang tawar menawar harga kaos Bali, ketika aku tidak sengaja melihat salah satu lukisan dari jajaran karya dagangan di dekat situ. Lukisan gadis kampung yang sedang menggendong keranjang berisi jeruk. Lukisan itu dipajang dan dijual seharga tiga ratus ribu Rupiah.
Aku merinding dan merasa ada perasaan aneh di dadaku. Perutku bergejolak, dan mendadak aku ingin mencicipi jeruk itu lagi. Aku ingin melihat senyuman itu lagi, mendengar suaranya memanggil namaku dan aku ingin melihat matanya mengerling ketika aku menyebut namanya. Aku merindukannya. Karina.
Mungkin aku butuh garam laut. Ternyata bukan. Aku butuh jeruk itu lagi.
Beberapa hari kemudian aku sudah mengemasi barangku, pulang ke kampung Bulan Gemintang. Aku mendadak cengeng, air laut sudah tak mampu lagi membendung perasaanku. Aku merasa cemas dan khawatir selama di perjalanan. Lagi-lagi imajinasiku terlalu liar, membuatku berpikir ke awang-awang.
Kakiku berpijak di tanah kampung itu, semua orang menyambutku rindu dan berkomentar bahwa kini kulitku tidak seputih dahulu. Tapi bukan itu yang aku harapkan dari mereka, aku menunggu orang-orang kampung menyebut nama Karina, atau Pak Zainal, kepadaku. Bercerita padaku tentang kabar mereka.
Tidak sabar, hari itu juga aku datang ke perkebunan jeruk. Ternyata semuanya berubah. Kini makin banyak saja pohonnya, makin banyak karyawannya. Tempat itu lebih ramai dari pada dulu. Aku melangkah lebih jauh, menuju rumah itu. Rumah dengan pintu kayu jati. Aku meremas saku celanaku, gugup. Di dalamnya masih kusimpan cincin rubi Karina.
Aku terdiam di depan pintu ketika seorang perempuan keluar dari rumah itu. Dia menggendong seorang bayi. Perempuan itu menunduk, menyanyikan lagu “Nina Bobo” dengan merdu. Suaranya yang merdu membuatku ingin menangis. Tapi aroma jeruk dari tubuhnya yang selalu ada, kini memudar, berganti dengan aroma minyak telon. Perempuan itu mengangkat kepalanya, pandangan mata kami beradu. Dia tampak terkejut ada laki-laki berkulit gelap di depan rumahnya. Dan aku terkejut melihat dia menimang bayi.
“Karina?” aku menerka. Dia tambah gemuk sedikit, tapi tetap cantik. Karina mengenakan selendang panjang untuk mengerudungi kepala sekenanya, rambutnya diikat tinggi-tinggi. Seperti None Betawi. Kulitnya masih mulus, kerlingan matanya masih sama cantiknya.
“Mas Dirga?” sahutnya. Ketika mengucapkan namaku, nafasnya tertahan menahan emosi jiwa. Dia betul-betul Karina.
Kekakuan kami berlanjut. Kami duduk di kursi teras rumah itu, berhadapan. Karina menunduk, diam dan hanya tersenyum pada bayi itu saja.
“Apa kabarmu?” Tanyaku memecah kesunyian.
“Jangan tanya kabar.” Sahutnya dingin. Bibirnya bergetar, matanya berkaca menatap nanar sang bayi.
“Dia anakmu?” aku bertanya lagi.
Karina mengangkat kepalanya, wajahnya sedih. “Mas Dirga, kamu bau laut.”
“Kamu seharusnya bau jeruk.” Aku menjawab.
Kami berdua tersenyum. Namun kemudian hening lagi.
“Waktu itu…” aku bersuara lagi.
“Jangan tanya masa lalu.” Cegahnya.
Aku kemudian mendapat gambaran bahwa kini dia sudah menikah dan memiliki anak itu. Dia pasti bingung menghadapi aku dan hanya ingin berlaku sopan. Terluka perih hati ini. Maka aku bangun dari kursi itu.
“Aku pergi dulu.” Pamitku, menahan luka hati.
Karina tidak menjawab. Dia tetap bermain mata dengan bayi lelaki itu. Aku beranjak melangkah.
“Jangan pergi lagi.” Karina bersuara kecil. Aku berhenti.
“Aku senang kamu baik-baik saja. Aku sangat mencemaskanmu. Sampai detik ini, aku hanya cinta Mas Dirga.” Gumamnya.
Aku menoleh, kesal. Aku mengeluarkan cincin rubi dari saku, meletakkannya di atas meja.
“Kalimat selanjutnya, pasti diawali dengan kata ‘tapi’.” Aku menebak. Aku mengatur nafasku, berusaha mempraktekkan seni yoga. Aku ingin terlihat tenang, meski dadaku bergemuruh.
“Karina, siapa nama anak itu?” Terpancing juga rasa penasaranku.
Karina ikut berdiri menghadapi aku, “Kudengar dari tetanggamu, kamu pergi ke Bali. Aku jadi terobsesi dengan tempat itu. Maka kunamai dia Bali.”
Aku merengut, “Apa sebenarnya maksudmu? Bagaimana dengan suamimu?”
Karina melirik ke kebun jeruk, “Selama ini aku selalu sendirian. Aku merindukanmu. Waktu itu aku tidak sabar menjadi istrimu. Sampai takdir berkata lain.”
Sesuatu meyakinkan aku, bahwa dugaanku salah. Hatinya tidak terbagi dua. Ada alasan lain.
“Kenapa kamu pergi meninggalkan aku?” tanyaku akhirnya.
Ia mendesah, menimang Bali dan memberanikan diri menatapku. “Karena cintamu terlalu suci untukku, aku yang sudah terhina.” Jawabnya.
Aku merengut tidak mengerti.
 “Waktu itu menjelang maghrib, aku sedang berjalan pulang dari pasar. Barong ada disana. Membabi buta. Marah karena adiknya, Tiwi, dipecat disaat anaknya sakit keras. Dia membenciku. Dia, menginggalkan luka yang teramat dalam.”
Aku terbelalak.
“Meskipun aku terhina, tapi Bali tidak berdosa. Maka aku akan tetap menjadi ibu dan ayah baginya.”
Aku menangis. Tak kuasa lagi aku bendung. “Karina… bodohnya aku. Oh, Sayang… Aku akan membunuhnya!”
“Tidak perlu, dia sudah mati.” Karina menjawab datar. “Dia jatuh ke jurang, waktu sedang balapan motor di gunung.”
Tangisku semakin pecah. Aku tidak tahu lagi apa yang kurasakan. Seperti mimpi, seperti semuanya ini tidak nyata.
Aku memeluknya dan Bali, sambil sesungukan aku mengambil cincin rubi itu dan berlutut dihadapannya.
“Tidak ada yang bisa menghinakanmu di mataku.” Kataku.
“Tetaplah menjadi Karina-ku, akan kujaga kau dan Bali dengan segenap tenaga. Terimalah aku lagi untuk menjadi suami bagimu.”
Karina diam saja. Berjalan menjauh, tapi ikut menangis, memeluk Bali. Ada sedikit senyum di wajahnya. Ada kebahagiaan yang terpancar disana.
Karina lalu ikut berlutut, matanya menatap langsung menembus korneaku.
Jemari mungil milik bayi Bali menggapai-gapai, aku menyambut dan mencium tangan kecil itu. Wangi telon. Aku memandangi bayi itu, matanya besar dan polos. Dia tersenyum melihatku. Aku mendadak sayang padanya. Hatiku bergetar.
Karina melepaskan kain selendang di kepalanya, membasuh airmatanya, mengusap pipiku yang juga basah dengan kain itu.
“Ketika aku sudah yakin untuk berdiri sendiri, Tuhan mengembalikanmu padaku.” Dia berkata lirih.
Tangan Karina menjulur, aku pun tahu apa yang harus kulakukan.
Cincin rubi itu kini kembali tersemat di jari manisnya, seperti sedia kala. Selamanya akan kujaga, tidak akan terlepas lagi.
The end

Brighter than The Sky


Siang itu begitu kering. Ruki mengayuh sepedanya dengan payah. Titik-titik air keringat keluar dari pori-pori dahi dan pelipisnya, turun ke pipi dan akhirnya menetes ke jalan aspal yang membara. Aku duduk termangu di jok belakang, memeluk pinggang Ruki erat-erat. Menahan sakit yang kurasa makin menyengat di kaki kananku. Perban yang membalutnya sudah ada yang terlepas, berkibar-kibar tertiup angin. Aku khawatir kain perban itu bisa menyangkut di jari-jari roda sepeda, apalagi ban sepeda yang berputar rasanya sudah oleng tak kuat menahan beban kami berdua. Tapi bagaimanapun aku memang sudah celaka.

 “Kamu haus, Yuna?” Tanya Ruki di sela nafasnya yang tak beraturan. Memang, matahari telah membakar kami sampai ke tenggorokan. Rasanya segelas air putih dingin akan membawa kami segera ke surga.
  
“Tidak juga, kecuali kamu yang haus.” Jawabku. Aku meringis lagi, menggigit bibir bawahku. Tulang kaki kananku rasanya ngilu dan berdenyut-denyut. Hanya kebohongan itu yang bisa kuberikan padanya, supaya dia bisa lebih cepat membawaku pergi.
  
“Nanti kalau ada penjual minuman kita berhenti dulu ya…” kata Ruki. Rambutnya yang dipotong pendek seperti lelaki, jabrik tertiup angin. Ruki menoleh sebentar, menengok padaku untuk melempar senyum. “Bertahanlah, Yuna.”
Sebuah padang rumput membentang asri menyambut kami. Ruki menghentikan sepedanya, mengacungkan telunjuknya pada sebuah pohon yang amat besar. “Kita istirahat dulu di sana.”

Ruki menggendongku di punggungnya, berjalan terseok sampai ke bawah pohon rindang itu. Aku duduk, menahan tangis. Menghirup udara bersih sebanyak mungkin yang bisa masuk ke paru-paru. Ruki belum juga duduk. Sambil berlari menjauh dia berkata, “Aku akan cari minuman dulu!”

Mataku mengantar Ruki yang semakin menghilang di ujung jalan. Entah telah berapa jauh kami kabur.
  
Aku berbaring di atas rumput lembab itu, merasakan sedikit rasa nyaman ketika punggung akhirnya bisa lurus lagi setelah beberapa lama bersepeda. Angin menemaniku, mengurangi rasa sakitku.

                                                               ***
  
Ruki adalah sahabat terbaik dalam hidupku. Kami sama-sama berusia tiga belas tahun. Tapi nasib kami sangat jauh berbeda. Aku tidak pernah tahu siapa Ibu dan Ayahku. Aku besar di panti asuhan. Aku terbiasa memiliki saudara-saudara angkat, hidup disiplin dan teratur. Aku menyukai keindahan dan sangat suka tampil cantik. Tapi tidak bagi Ruki. Dia adalah anak tunggal yang tadinya, sangat manja dan nakal. Orang tuanya adalah petani yang kaya di desa kami. Ruki tomboy dan membenci warna pink. Ia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya dengan mudah, sehingga dia sangat keras kepala.
  
Kami bertemu di sekolah. Bu Guru memasangkan aku dengannya di penataan tempat duduk yang baru. Kami jadi dekat dan mulai bersahabat sejak duduk sebangku. Ruki sering menginap di asramaku, begitupun aku yang sering menginap di rumahnya. Semua orang heran kenapa dua pribadi yang bertolak belakang seperti kami bisa sangat akur. Mungkin karena itulah kami saling melengkapi.
  
Kami sering membahas cita-cita kami jika sudah besar. Cita-citaku sederhana, aku ingin memiliki banyak anak dan menjadi ibu yang baik. Aku terobsesi pada sosok seorang Ibu yang tak pernah kumiliki, maka aku berniat menemukan laki-laki terbaik yang bisa menjadi ayah bagi anak-anakku, aku ingin menikah dengan gaun putih dan sepatu hak tinggi. Sementara Ruki  ingin menjadi pilot. Dia mengagumi langit, katanya satu-satunya tempat paling damai di bumi ini adalah langit. Tiap kali aku merasa sedih, Ruki membawaku ke padang rumput untuk berbaring memandang langit. Selalu ampuh. Hati kami menjadi jauh lebih lega. Katanya kelak dia akan mengajak keluarga besarku naik ke pesawatnya, berkeliling dunia.
  
Ah, Ruki. Bagaimana lagi aku menggambarkannya?

Jika ada bajak laut yang menyanderaku untuk diumpankan pada buaya, Ruki adalah tipe sahabat yang rela menggantikan posisiku. Dia rela berkorban demi aku.

Cerita ini mungkin adalah puncak dari semua pengorbanannya.

Waktu itu aku dan Ruki sedang berada di ruang toilet sekolah, mencuci tangan sehabis makan siang. Kami tidak langsung keluar, kami mengobrol dulu tentang Gio, anak baru dari kelas A yang sangat lucu dan tampan. Ketika asik bercakap-cakap, Ruki tiba-tiba berteriak, menunjuk asap yang mengepul dari balik pintu. Alarm kebakaran mulai terdengar, seketika itupun kami panik. Baru kali itu aku melihat si Tomboy Ruki ketakutan, namun dia masih mau menyelamatkan nyawa kami berdua. Dia tidak bisa berhenti berceloteh tentang mencari pintu keluar lain. Tapi nihil. Ah, kami tidak pernah tahu apa yang menyebabkan kebakaran itu. Kami terkunci ruangan itu, udara semakin panas dan berasap, kami kekurangan oksigen.

Kemudian ada seorang pemadam kebakaran berbaju kuning yang menyelamatkan kami. Tubuhnya besar, dia menyelimuti Ruki dengan kain seperti selimut basah dan menggendongnya keluar. Tapi Ruki malah berontak, di saat genting seperti itu dia malah berteriak, “TOLONG SELAMATKAN YUNA!!”

Aku merinding mendengar teriakan Ruki, tapi Paman pemadam itu tidak menggubrisnya. Diantara kepulan asap aku melihat Ruki dibawa keluar di antara kobaran api dan reruntuhan kayu yang membara.

Aku menunggu, menunggu dan menunggu. Aku tak kuasa lagi bernafas, aku panik. Sekelebat aku melihat Paman petugas itu kembali untukku, aku melihat jas kuningnya. Tapi kali ini dia terlihat sangat panik, dia berlari dan langsung memasang badannya di atasku.
Dia melindungi tubuhku, kecuali kaki kananku. Pintu yang terbakar jatuh menimpa kami berdua, dan membakar kaki kananku sampai ke betis. Aku tidak sadarkan lagi, kukira aku sudah mati.

Tapi ketika tersadar, aku tidak merasa senang sama sekali. Aku melihat kakiku terluka parah dan tidak bisa disembuhkan lagi. Dokter bilang kaki kananku harus diamputasi sampai ke betisnya.

Aku menangis, menangis dan menangis.

Sampai Ruki datang untuk mengingatkan aku pada keindahan langit. Waktu itu sudah malam, dan ada bulan purnama. Kami berdua melihat langit malam itu, mencoba mendapat pencerahan. Tangan Ruki selalu menggenggam tanganku lembut. Aku meliriknya, dia menangis untukku.

“Jangan menangis, Ruki.” Aku berkata.

“Tapi ini tidak adil, seandainya waktu itu kamu yang diselamatkan lebih dulu, ini tidak akan terjadi.” Isaknya.

“Paman itu tidak bisa menggendong kita berdua, ‘kan?” aku mencoba tersenyum.
Ruki meringis, “Mengapa harus Yuna?? Mengapa harus Yuna sahabatku, ya Tuhan?” Dia menangis sangat deras. Aku ikut menangis bersamanya. Tidak ada yang bisa kukatakan.

“Padahal kau ingin memakai baju pengantin dan sepatu hak tinggi….” Isak Ruki lagi.

Semalaman kami menangisi takdir.

Kicau burung esok paginya, tidak menghibur sama sekali. Ini adalah hari dimana kakiku akan diamputasi, dipotong, dibuang. Dan Ibu Panti-ku sudah menyetujuinya, karena jaringan organku sudah rusak, kalau tidak dibuang akan membusuk. Begitu perihnya derita ini, dan aku masih tidak ingin menerima kenyataan.

“Yuna… apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanya Ruki.

Aku menggenggam tangan Ruki.

“Kumohon, bawa aku pergi dari sini. Aku tidak ingin kehilangan kakiku…. Tidak mau..” Aku berkata.

                                                             ***


Keringat dingin mulai keluar, angin terasa semakin menusuk kulit. Rumput yang tadinya sejuk berubah menyiksa. Kepalaku pusing dan rasa sakit di kakiku tidak tertahankan. Aku menjerit dan menangis.
        
Lama sekali sampai akhirnya Ruki kembali. Pandanganku buram dan badanku bergetar, tapi aku bisa melihat dia membawa keranjang besar menghampiriku.
        
Ruki memberiku minum, terasa sekali mengalir di tenggorokanku. Dia tahu infeksi lukaku semakin parah.  Badanku lemas luar biasa, kaki kananku seperti mau copot.
       
“Yuna, Yuna… sadarlah.” Panggilnya. Aku terlalu lemas untuk menjawab. Ruki mengeluarkan sesuatu dari keranjang itu.
        
Selendang putih. Ruki membantuku duduk dan menyampirkan selendang itu di bahuku. Dia mengeluarkan lagi sekuntum mawar putih dan disematkan di atas telinga kiriku.
        
Terakhir, Ruki mengeluarkan sepatu hak tinggi. Dia memasangkan sepatu itu di kaki kiriku saja. Sambil mena
han beban tubuhku, Ruki berbisik.
       
"Yuna, jika aku bisa menukar tubuh, akan kulakukan. Jika aku bisa memutar waktu, akan kulakukan. Namun kenyataannya kita hanyalah makhluk lemah. Aku tahu kamu sedih. Maka aku akan mewujudkan mimpimu. Hari ini kamu sudah menjadi pengantin.”
         
Aku menarik nafas panjang sambil tersenyum haru.
         
“Ruki… kalau kaki ini tidak dipotong, aku bisa mati.” Bisikku lirih.
         
Ruki memeluk tubuhku semakin erat.
         
“Aku memang sangat takut menghadapi hari esok. Tapi…”
         
“Aku lebih baik kehilangan sebelah kakiku, dari pada meninggalkan sahabat sepertimu, Ruki. Aku akan bertahan hidup, meski cacat. Aku ingin terus bersama-sama denganmu, Ruki.”
        
“Yuna…” Ruki menangis.
         
“Ketahuilah, meskipun tubuhmu tidak sempurna, hati dan jiwamu tetap utuh bagiku. Aku akan menggendongmu jika kau tak sanggup berjalan. Meski ke ujung langit sekalipun.”
         
“Ruki, kamu lebih terang dari pada cahaya langit itu.”
          
Ruki menggendongku, kembali memboncengku dengan sepedanya. Kami kembali ke rumah sakit dengan tergopoh-gopoh.

“Terima kasih, Ruki.” Kataku.

Angin menampar wajahku, aku tersenyum pahit.

Selamat tinggal kaki kananku.

                                                          ***
© Sally Ayumi
Maira Gall