“Mari kita menikah di bulan Ramadhan, sesuai dengan namaku.”
Bagi Kak Kinan, kalimat itulah yang selalu teringat setiap kali dia mendengar nama Ramadhan. Sampai kini aku belum pernah melihat cinta sebesar milik Kak Kinan kepada Ramadhan.
Kak Kinan merencanakan pernikahannya tepat pada hari kedelapan di bulan suci tahun lalu. Pernikahan itu hanya akad nikah sederhana yang dilangsungkan di kediaman kami di selatan kota Jakarta.
Tak banyak tamu yang diundang, hanya keluarga terdekat dari kedua mempelai saja. Kak Kinan bilang, resepsinya diselenggarakan sehabis Lebaran saja, supaya bisa tambah meriah. Kami sebagai keluarga hanya mengikuti kemauannya saja, karena waktu itu tak ada yang sanggup merenggut senyum Kak Kinan.
Selama bulan puasa itu Kak Kinan tak pernah absen untuk menyiapkan makanan sahur untuk lima orang. Ayah, Ibu, aku, dia dan suaminya. Ayah dan Ibu kaget dengan perubahan yang terjadi pada anak tertuanya itu. Biasanya, untuk shalat subuh saja dia susah sekali dibangunkan, apa lagi sahur?
Kak Kinan yang dulu cerewet kini lebih banyak diam. Setiap bangun pagi, dia langsung merapikan tempat tidurnya. Dia menyetrika semua pakaiannya dan mencuci sendiri baju-bajunya.
Awalnya, Ibu menganggap perubahan itu adalah perubahan yang positif pada diri anaknya. Kami semua belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada diri Kak Kinan.
Bulan Ramadhan berlalu, dan Kak Kinan berkata pada semua orang bahwa dia dan suaminya akan berbulan madu setelah resepsi digelar.
Hari Raya itu menjadi kelabu bagi Kakakku itu, karena Ayah dan Ibu menolak untuk mengadakan resepsi. Mereka bilang itu percuma dan sia-sia. Tapi Kak Kinan tidak menangis, dia menghadap pada Ayah menyetujui bahwa tak akan ada resepsi ataupun pesta.
Seminggu kemudian Kak Kinan berpamitan untuk pergi berbulan madu di Bali. Walau berat, Ayah dan Ibu tak mampu lagi melarangnya. Mereka pikir mungkin kepergian Kak Kinan akan menjadikannya lebih dewasa lagi.
Selama sebulan penuh handphone-ku dipenuhi SMS dari Kak Kinan. Semua menceritakan betapa gembiranya hari-hari mereka di Bali. Dia bilang suaminya itu sangat romantis dan memujanya bagai ratu. Aku hanya bisa tersenyum pahit sambil memberi selamat padanya.
Tak lama setelah pulang dari Bali, Kak Kinan memutuskan untuk berhenti kerja. Katanya suaminya tak suka kalau dia terlalu sibuk di kantor. Kontan Ayah dan Ibu meledak lagi. Karir yang dibangun Kak Kinan selama enam tahun itu ditinggalkan begitu saja tanpa pemikiran yang lebih matang. Padahal belum ada setahun sejak promosinya tahun lalu sebagai Public Relation yang baru.
Kak Kinan bersikeras, katanya hidupnya kini hanya diabdikan untuk suaminya saja. Aku tertegun melihat wajah kakakku yang cantik itu. Wajah itu berseri-seri, tak ada guratan kesedihan sama sekali.
Kali ini aku yang menangis.
Malam hari, aku mengunjungi kamar Kak Kinan. Dia sedang menyisir rambut panjangnya. Pilu hati ini melihatnya yang ceria tanpa beban sedikitpun.
“Kamila, mengapa kau menangis?” tanyanya ketika melihat pantulan diriku di cermin.
“Aku khawatir pada Kakak.” Jawabku.
“Kenapa harus khawatir? Hidupku begitu sempurna sekarang. Aku punya suami yang mencintaiku dan keluarga yang sangat aku sayangi. Apa lagi yang kurang?” katanya.
“Kakak harus sadar, menjadi Public Relation adalah cita-cita kakak dari SMA. Aku mohon Kak, hentikan sikap kakak ini.”
“Oh, soal itu.” Kak Kinan malah tersenyum cuek. “Kamila, Kau mau tahu sebuah rahasia? Tapi berjanjilah jangan cerita pada Ayah dan Ibu dulu, aku ingin membuat kejutan.”
“Apa, Kak?”
“Alasan sebenarnya aku berhenti kerja adalah, aku dan Ramadhan berencana memiliki bayi!”
Air mataku membanjir.
“Ha ha ha, sudah kuduga kau akan terharu mendengarnya. Tapi ini waktu yang tepat, semoga saja bayiku sudah lahir Ramadhan tahun depan, supaya kami bisa merayakannya dengan lebih meriah lagi!”
Aku kabur dari sana. Berlari ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Kak Kinan, apakah kau sudah gila?
Hari-hari berikutnya dilalui kakakku seperti ibu rumah tangga kebanyakan. Pagi hari bersih-bersih rumah, mencuci, belanja ke pasar, memasak, menyetrika sampai sore sambil menonton televisi.
Setiap makan malam, di meja makan dia menyiapkan sebuah piring kosong. Untuk suaminya, katanya. Aku melihat ekspresi wajah ibu yang terluka setiap kali Kak Kinan melakukannya. Bukan hanya ibu, tapi kami semua begitu.
Suatu hari Kak Kinan merasa sakit dan muntah-muntah. Dia pergi sendiri ke apotik membeli sesuatu. Beberapa jam kemudian dia masuk ke kamarku sambil melonjak girang.
“Aku hamil! Kamila, aku hamil!”
Lidahku kaku. Hatiku remuk. Semua ini harus berakhir.
Aku mengajak Kak Kinan pergi ke suatu tempat. Awalnya dia menolak. Katanya sebentar lagi suaminya pulang. Lalu aku bilang saja bahwa ini penting sekali, menyangkut hubungannya dengan Ramadhan. Kak Kinan pun langsung setuju.
Aku pergi dengannya naik mobil. Di perjalanan dia tak berhenti bilang bahwa dia ngidam makan es campur. Tapi aku tak peduli, aku tak berhenti.
Kami sampai disana, di sebuah bukit luas yang ditumbuhi rumput. Aku menggamit tangan kakakku dan membawanya ke bawah pohon terbesar di bukit itu.
“Kakak ingat sekarang?” tanyaku.
“Ingat apa?” dia balik bertanya.
“Lihat itu, Kak!” aku menunjuk sebuah makam di hadapan kami. “Itu Ramadhan. Disanalah dia berbaring selama ini. Dia meninggal pada hari pernikahan kalian. Sesaat setelah turun dari mobil, dia terjatuh. Serangan jantung. Kakak belum menikah dengannya. Kakak belum jadi istrinya! Yang Kakak lakukan selama ini adalah gila! Kakak pergi bulan madu sendirian, berhenti kerja, menjadi ibu rumah tangga, dan sekarang Kakak mengaku hamil? Mustahil!”
Kak Kinan terpaku. Matanya tak lepas dari batu nisan itu dan tangannya tak berhenti mengelus-elus perutnya. Padahal tadi dia merasakan ada bayi di dalam sana, tapi sekarang perutnya terasa kosong. Sejak kematian Ramadhan, belum pernah sekalipun kulihat Kak Kinan menangis. Sampai hari ini.
“Selama ini aku, Ayah dan Ibu sudah mengatakan pada Kakak bahwa Ramadhan sudah tiada. Jutaan kali. Tapi Kak Kinan tak pernah mau dengar. Maafkan aku, Kak. Sebenarnya aku tak tega membawa kakak kemari. Tapi ini yang terbaik bagi Kakak.”
Kak Kinan bersimpuh di atas tanah berumput itu. Matanya terbelalak tak percaya. Sesekali kepalanya menggeleng sedih. Air matanya jatuh tetes demi tetes. “Ramadhan... Maafkan aku.” bisiknya.
Tak banyak kata yang terucap dari bibirnya. Hanya isak tangis yang berlomba.
“Aku hanya tak siap untuk kehilangan dirimu secepat itu. Rencana kita terlalu sempurna, terlalu cemerlang hingga membutakan aku bahwa ada rencana-Nya Yang Maha Kuasa.”
***
Ramadhan adalah pemuda pintar berwajah rupawan yang mencuri hati Kak Kinan sejak bangku kuliah. Buku harian Kak Kinan dipenuhi oleh nama itu, dan telingaku hampir tuli karena dijejali cerita-cerita konyol mereka berdua semasa pendekatan. Seperti cerita cinta kampus kebanyakan, mereka sama-sama tak mau mengakui isi hati sebenarnya sampai akhirnya lulus dan terpisah.
Ketika diterima kerja di sebuah perusahaan asing, Kak Kinan senang sekali. Bekerja sebagai asisten Public Relation, membuatnya sering bertemu dengan klien dari sana sini.
Suatu hari mereka bertemu lagi, seperti digariskan oleh suratan takdir. Ramadhan adalah salah satu klien Kak Kinan. Ramadhan bekerja sebagai Marketing Officer di perusahaan telekomunikasi.
Mereka mengawalinya dari kencan gaya anak ABG. Jalan-jalan ke Dufan dan nonton Harry Potter di bioskop. Makan es campur di pinggir jalan dan ber-photo box ria.
Kak Kinan semakin bersemangat menjalani hubungannya setelah Ramadhan memperkenalkan dirinya pada orang tuanya.
Ramadhan tahu benar apa yang bisa menjinakkan hati kakakku. Seminggu sekali sebuah buket bunga pasti mampir ke rumahku. Dilengkapi sebuah kartu berbentuk hati yang ditulisi kalimat-kalimat cinta. Walaupun sudah layu, tak ada satu kuntum pun yang dibuangnya. Semuanya disimpan dalam kotak besar warna pink.
Tepat di hari jadi mereka yang ke lima tahun, Ramadhan melamar Kak Kinan dengan cincin emas putih berhiaskan sebuah berlian.
Kak Kinan bersyukur dikaruniai cinta yang sesempurna cinta Ramadhan. Mereka merencanakan hari pernikahannya itu dengan canda tawa, riang gembira, semangat 45. Kak Kinan sibuk kesana kemari, pesan ini itu, melakukan perawatan diri siang malam, tanpa dia tahu bahwa sebenarnya Ramadhan memiliki jantung yang lemah.
Ramadhan tahun ini, aku harap Kak Kinan sudah bisa melupakan kekasihnya dan menjadi kakakku yang dulu. Semoga Allah mensucikan hatinya dan memberinya ketegaran. Untuk menyambut hari baru yang fitrah dan mulia. Karena aku sangat menyayanginya.
***
The end
Setiap makan malam, di meja makan dia menyiapkan sebuah piring kosong. Untuk suaminya, katanya. Aku melihat ekspresi wajah ibu yang terluka setiap kali Kak Kinan melakukannya. Bukan hanya ibu, tapi kami semua begitu.
Suatu hari Kak Kinan merasa sakit dan muntah-muntah. Dia pergi sendiri ke apotik membeli sesuatu. Beberapa jam kemudian dia masuk ke kamarku sambil melonjak girang.
“Aku hamil! Kamila, aku hamil!”
Lidahku kaku. Hatiku remuk. Semua ini harus berakhir.
Aku mengajak Kak Kinan pergi ke suatu tempat. Awalnya dia menolak. Katanya sebentar lagi suaminya pulang. Lalu aku bilang saja bahwa ini penting sekali, menyangkut hubungannya dengan Ramadhan. Kak Kinan pun langsung setuju.
Aku pergi dengannya naik mobil. Di perjalanan dia tak berhenti bilang bahwa dia ngidam makan es campur. Tapi aku tak peduli, aku tak berhenti.
Kami sampai disana, di sebuah bukit luas yang ditumbuhi rumput. Aku menggamit tangan kakakku dan membawanya ke bawah pohon terbesar di bukit itu.
“Kakak ingat sekarang?” tanyaku.
“Ingat apa?” dia balik bertanya.
“Lihat itu, Kak!” aku menunjuk sebuah makam di hadapan kami. “Itu Ramadhan. Disanalah dia berbaring selama ini. Dia meninggal pada hari pernikahan kalian. Sesaat setelah turun dari mobil, dia terjatuh. Serangan jantung. Kakak belum menikah dengannya. Kakak belum jadi istrinya! Yang Kakak lakukan selama ini adalah gila! Kakak pergi bulan madu sendirian, berhenti kerja, menjadi ibu rumah tangga, dan sekarang Kakak mengaku hamil? Mustahil!”
Kak Kinan terpaku. Matanya tak lepas dari batu nisan itu dan tangannya tak berhenti mengelus-elus perutnya. Padahal tadi dia merasakan ada bayi di dalam sana, tapi sekarang perutnya terasa kosong. Sejak kematian Ramadhan, belum pernah sekalipun kulihat Kak Kinan menangis. Sampai hari ini.
“Selama ini aku, Ayah dan Ibu sudah mengatakan pada Kakak bahwa Ramadhan sudah tiada. Jutaan kali. Tapi Kak Kinan tak pernah mau dengar. Maafkan aku, Kak. Sebenarnya aku tak tega membawa kakak kemari. Tapi ini yang terbaik bagi Kakak.”
Kak Kinan bersimpuh di atas tanah berumput itu. Matanya terbelalak tak percaya. Sesekali kepalanya menggeleng sedih. Air matanya jatuh tetes demi tetes. “Ramadhan... Maafkan aku.” bisiknya.
Tak banyak kata yang terucap dari bibirnya. Hanya isak tangis yang berlomba.
“Aku hanya tak siap untuk kehilangan dirimu secepat itu. Rencana kita terlalu sempurna, terlalu cemerlang hingga membutakan aku bahwa ada rencana-Nya Yang Maha Kuasa.”
***
Ramadhan adalah pemuda pintar berwajah rupawan yang mencuri hati Kak Kinan sejak bangku kuliah. Buku harian Kak Kinan dipenuhi oleh nama itu, dan telingaku hampir tuli karena dijejali cerita-cerita konyol mereka berdua semasa pendekatan. Seperti cerita cinta kampus kebanyakan, mereka sama-sama tak mau mengakui isi hati sebenarnya sampai akhirnya lulus dan terpisah.
Ketika diterima kerja di sebuah perusahaan asing, Kak Kinan senang sekali. Bekerja sebagai asisten Public Relation, membuatnya sering bertemu dengan klien dari sana sini.
Suatu hari mereka bertemu lagi, seperti digariskan oleh suratan takdir. Ramadhan adalah salah satu klien Kak Kinan. Ramadhan bekerja sebagai Marketing Officer di perusahaan telekomunikasi.
Mereka mengawalinya dari kencan gaya anak ABG. Jalan-jalan ke Dufan dan nonton Harry Potter di bioskop. Makan es campur di pinggir jalan dan ber-photo box ria.
Kak Kinan semakin bersemangat menjalani hubungannya setelah Ramadhan memperkenalkan dirinya pada orang tuanya.
Ramadhan tahu benar apa yang bisa menjinakkan hati kakakku. Seminggu sekali sebuah buket bunga pasti mampir ke rumahku. Dilengkapi sebuah kartu berbentuk hati yang ditulisi kalimat-kalimat cinta. Walaupun sudah layu, tak ada satu kuntum pun yang dibuangnya. Semuanya disimpan dalam kotak besar warna pink.
Tepat di hari jadi mereka yang ke lima tahun, Ramadhan melamar Kak Kinan dengan cincin emas putih berhiaskan sebuah berlian.
Kak Kinan bersyukur dikaruniai cinta yang sesempurna cinta Ramadhan. Mereka merencanakan hari pernikahannya itu dengan canda tawa, riang gembira, semangat 45. Kak Kinan sibuk kesana kemari, pesan ini itu, melakukan perawatan diri siang malam, tanpa dia tahu bahwa sebenarnya Ramadhan memiliki jantung yang lemah.
Ramadhan tahun ini, aku harap Kak Kinan sudah bisa melupakan kekasihnya dan menjadi kakakku yang dulu. Semoga Allah mensucikan hatinya dan memberinya ketegaran. Untuk menyambut hari baru yang fitrah dan mulia. Karena aku sangat menyayanginya.
***
The end


2 comments
maaf ya De..penasaran liat blognya, baca-baca jg..dan buat Cerpen yang ini..duh bagusnyaaaa..alur yang pintar, tak terduga, mengingatkan Aa akan film six sense-nya Bruce willis..TOP ! perasaan jd kebawa gmanaaa gt :)
Makasih banyak Aa Budi udah disempetin baca :) Nanti dibikinin lagi cerpen "tak terduga"nya ya. hehehe
Post a Comment